
Abymana terlihat tengah duduk di dekat ranjang menantunya yang masih belum sadarkan diri. Netra pekatnya mulai menatap ke arah wajah tampan pria yang terlihat sangat pucat di atas ranjang dengan selang oksigen yang berada di hidungnya.
"Cepatlah sadar Aditya dan lihat istrimu yang berhasil kamu rubah menjadi seorang istri yang Sholihah dengan kebaikanmu. Meski harus kamu bayar dengan musibah ini, tapi di balik semua kejadian, ada hikmah yang bisa kita petik. Dan hikmah dari kejadian buruk yang menimpamu adalah, kamu berhasil mengubah seorang nona muda arogan berubah menjadi seorang istri yang Sholihah. Terima kasih Aditya, cepatlah bangun untuk melihat bidadarimu!"
Setelah mengungkapkan perasaannya, Abymana berniat untuk menghubungi kepala kepolisian yang merupakan sahabat baiknya. Karena dirinya ingin membuat Reynaldi menerima hukuman yang seberat-beratnya untuk membayar perbuatannya karena telah melakukan rencana pembunuhan.
Namun, saat dirinya menunduk untuk mencari daftar kontak sahabatnya, indera penglihatannya bisa melihat jemari tangan dari menantunya mulai sedikit demi sedikit bergerak. Refleks ia langsung menatap ke arah wajah Aditya dan mengeluarkan suaranya.
"Aditya," ucap Abymana dengan posisi bangkit dari kursi. Kemudian ia menyuruh pengawal untuk memanggil dokter. "Panggil dokter untuk mengecek kondisi menantuku, Dave!"
"Baik Tuan besar," ucap Dave yang buru-buru berjalan keluar dari ruangan perawatan terbaik di rumah sakit itu.
Aditya sesekali mengerjapkan kedua matanya dan menatap ke arah mertuanya serta ke sekeliling ruangan kamar. Dan saat dirinya mulai mengingat tentang kejadian terakhir dari peristiwa penusukannya dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya, membuatnya langsung menanyakan hal yang menjadi pertanyaannya.
"Papa juga di sini? Lalu, di mana istriku? Kenapa dia tidak ada di sini?" Aditya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan dari wanita yang sangat dicintainya. Namun merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan sang istri.
"Queen sedang keluar sebentar dengan abangnya. Sebentar lagi juga akan kembali? Bagaimana perasaanmu? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Abymana seraya memegangi lengan kekar menantunya.
"Insya Allah sudah tidak apa-apa Pa, meski agak nyeri di bagian perut. Hanya saja, aku merasa sangat bingung Pa. Apakah ada orang yang memusuhiku sehingga menginginkan aku meninggal?" Aditya menatap mertuanya untuk mencari tahu kebenaran yang sangat ingin diketahuinya.
Tentu saja dirinya sangat tahu bahwa sebuah perkara yang gampang bagi keluarga Raharja untuk mencari tahu siapa dalang di balik penusukannya. Sehingga ia yang merasa sangat penasaran ingin sekali segera mengetahui siapa yang menginginkan kematiannya.
Abymana merasa sangat tidak enak untuk mengatakan kebenaran yang sebenarnya kepada menantunya yang menatapnya penuh dengan sorot permohonan. Saat dirinya hendak menceritakan tentang perihal pelaku penusukan, suara dari dokter membuatnya tidak jadi mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan langsung berjalan mendekat ke arah pria yang sudah tersadar dari obat biusnya. Kemudian sang dokter mulai memeriksa bagian-bagian vital dari pasien dan menanyakan beberapa pertanyaan. Setelah dirasa semuanya baik-baik saja, sang dokter mulai mengeluarkan suaranya.
"Syukurlah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya normal dan Tuan Aditya tidak mengalami traumatis dari kejadian buruk ini. Hanya tinggal masa pemulihan yang mungkin memerlukan waktu cukup lama karena efek tusukan yang cukup dalam dari pelaku."
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya Dokter," ucap Aditya dengan menganggukkan kepalanya sedikit.
"Sama-sama Tuan Aditya, jangan lupa nanti minum obatnya. Saya permisi dulu, dan Anda harus banyak beristirahat. Jangan banyak berbicara," ucap pria berseragam putih tersebut.
"Baik Dokter, saya yang akan memastikan dia banyak beristirahat." Abymana bangkit mengantarkan sang dokter ke depan karena ingin berbicara secara pribadi. Dan begitu sampai di depan ruangan, ia langsung menanyakan hal yang ingin ditanyakannya.
"Dokter, apakah tidak apa-apa saya mengatakan tentang pelaku yang menusuknya adalah saudaranya sendiri? Maksudku, dia tidak akan mengalami syok kan? Dan tidak akan berpengaruh pada kesehatannya?"
"Sepertinya tidak masalah Tuan Abymana, karena luka Tuan Aditya tidak berpengaruh pada otaknya. Menurut saya tidak masalah, Anda boleh mengatakannya. Mungkin Tuan Aditya juga sangat ingin mengetahui siapa yang telah menusuknya," jawab sang dokter pada pria yang sangat dihormatinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Abymana!" Membungkuk hormat dan mulai berjalan meninggalkan orang yang dihormatinya.
Abymana menganggukkan kepalanya dan mulai menatap kepergian dari dokter yang sudah semakin menjauh. Lalu, ia mulai mengambil ponselnya di saku jasnya untuk mengirimkan pesan pada putranya agar segera membawa putrinya kembali karena sudah dicari oleh suaminya.
Kemudian, ia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan menantunya dan mulai mendaratkan tubuhnya di samping ranjang menantunya. Abymana mencoba untuk menetralkan suaranya yang agak sedikit gugup.
"Ehem ... Aditya."
"Iya Pa, saya akan mendengarkan," ucap Aditya dengan perasaan yang penuh penasaran sekaligus agak deg-degan.
__ADS_1
"Sebenarnya Papa tidak pantas membuka tentang jati dirimu yang sebenarnya, tapi karena kamu sangat merasa penasaran, jadi aku ingin menceritakan tentang siapa sebenarnya dirimu." Abymana menepuk lengan kekar dari menantunya.
"Papa semakin membuat aku penasaran. Apalagi Papa menyebutkan tentang jati diriku yang sebenarnya, aneh sekali. Memangnya jati diri apa? Saya hanyalah seorang putra dari Ayah saya dan almarhumah ibu yang telah meninggal. Tidak ada yang istimewa sama sekali dari jati diri saya Pa," ucap Aditya dengan sedikit terkekeh.
Dan hal itu membuatnya merasakan nyeri pada perutnya karena tertawa, sehingga ia langsung memegangi perutnya. "Astaghfirullah, aku sampai lupa kalau baru saja di operasi."
"Saat kamu mendengar cerita dari Papa, jangan menganggapnya sebagai sebuah beban di pikiranmu Aditya! Sebenarnya Ayahmu lah yang lebih berhak menceritakannya, tapi karena tadi Papa sudah meminta ijin padanya untuk menceritakan tentang perihal dirimu yang sebenarnya, jadi Papa akan mulai mengatakannya padamu!"
"Baiklah Pa, aku akan mendengarkan," ucap Aditya dengan wajahnya yang serius.
Abymana pun mulai menceritakan tentang perihal jati diri sebenarnya dari menantunya dan juga mengenai pelaku dari penusukannya adalah suruhan dari adik tirinya sendiri.
"Jadi, seperti itulah kejadian yang sebenarnya Aditya. Mengenai tentang perihal Ibu kandungmu, lebih baik nanti kamu tanyakan sendiri pada Ayahmu. Jangan anggap kenyataan ini adalah sebuah beban untukmu, tapi anggap sebuah berkah karena ternyata kamu masih memiliki seorang Ibu."
"Mendengar cerita dari Papa, memang di balik semua kejadian buruk, ada sebuah hikmah yang bisa kita ambil pelajaran. Akan tetapi, aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau kami akan berakhir seperti cerita anak Adam yang bernama Qabil yang membunuh Habil. Akan tetapi, nasibku lebih baik dari Habil. Sungguh menyakitkan mendengar kenyataan pahit ini Pa!"
Aditya memejamkan kedua matanya untuk sesaat menenangkan pikirannya yang terasa kacau dan juga merasa shock. Namun, saat ia mencoba menenangkan perasaannya, indera pendengarannya menangkap suara dari seseorang yang sangat dihafalnya tengah mengucapkan salam. Ia langsung menjawab salam dan langsung membuka matanya untuk melihat seseorang yang sangat dirindukannya.
Dan pemandangan di depannya langsung membuatnya seolah terpesona saat melihat wanita secantik bidadari tengah berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Subhanallah, Alhamdulillah ya Allah," ucap Aditya yang sudah mengeluarkan air matanya.
TBC ...
__ADS_1