Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kamu yang memancingku


__ADS_3

Sabrina masih mengamati pergerakan Dave yang saat ini masih sibuk memasukkan barang-barang pribadinya. Dimulai dari jam tangan, parfum, sisir, pomade dan pakaiannya. Ia berdehem , sejenak sebelum mengeluarkan suara.


"Ehem ... Dave ...."


Dave sama sekali tidak memperdulikan panggilan dari Sabrina, ia memang sengaja untuk bersikap tegas karena merasa sangat kesal dengan sikap Sabrina yang dianggapnya masih plin plan.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, Sabrina. Karena aku bukanlah tuan muda Aditya. Jika kamu berpikir aku sepertinya, kamu salah. Karena aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku ingin melihat apa keputusan yang akan kamu ambil," gumam Dave yang sudah menarik resleting koper berwarna hitam miliknya.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Dave bangkit dari posisinya yang tadinya berjongkok. Tanpa menatap ke arah Sabrina, ia berbalik badan dan melangkahkan kaki panjangnya. Namun, suara teriakan dari sosok wanita yang terdengar sangat murka, berhasil membuat langkah kakinya berhenti.


Sabrina yang tadinya sudah menyiapkan hati untuk mencoba berbicara dengan Dave, merasa sangat marah saat ia diabaikan oleh pria yang sudah berniat untuk pergi meninggalkannya. Sehingga ia mengepalkan kedua tangannya dan langsung berteriak dan mencerca Dave dengan banyak pertanyaan.


"Dave! Apakah kamu sudah puas menikmati tubuhku, lalu kamu pergi begitu saja dan menganggap uangmu bisa membeli keperawananku. Kamu benar-benar pria berengsek. Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku jika mereka bertanya? Dasar pria tidak bertanggungjawab. Pergilah jika kamu ingin pergi, aku tidak akan pernah menghentikanmu!"


Tentu saja kata-kata yang barusan didengarnya, berhasil membuat Dave yang masih pada posisi memunggungi Sabrina, refleks mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya seolah kini sudah sampai di ubun-ubun. Ia benar-benar ingin menghancurkan semua isi di ruangan kamar tersebut untuk melampiaskan rasa yang membuncah di dalam hatinya.


Refleks Dave langsung berbalik badan untuk menjawab perkataan dari Sabrina yang sudah menghinanya habis-habisan. "Sebenarnya apa maumu, wanita bar-bar? Apakah kamu berharap aku berlutut di kakimu karena sudah merenggut kesucianmu? Sekarang katakan!" teriak Dave dengan suaranya yang sangat kencang. Tak lupa netra dengan silinder hitam pekat itu sudah berubah merah karena menahan amarah.


Sabrina tak mau kalah karena ia pun langsung berteriak dengan lengkingan suara yang sangat keras. "Jangan berteriak padaku, pria berengsek! Aku tidak tuli, jadi jangan berteriak. Kamu tanya yang aku inginkan, bukan?"

__ADS_1


"Iya, katakan saja apa maumu," tegas Dave dengan wajah datarnya.


"Kita baru menikah semalam, jangan mempermalukan aku dengan pergi meninggalkanku. Akan tetapi, jangan salah paham dengan perkataanku karena aku ingin kita hanya bersandiwara di depan semua orang bahwa kita baik-baik saja," jawab Sabrina dengan suara tertahan.


Bunyi gemeretak gigi dari rahang tegas Dave terdengar sangat jelas. Seolah ia saat ini tengah berusaha mengendalikan diri sekuat tenaga, agar tidak berbuat di luar kendali.


"Aku tidak bisa, Sabrina." Dave menatap ekspresi dari wajah Sabrina. Tentu saja ia ingin melihat bagaimana reaksinya saat ia mengatakan hal itu.


Sabrina refleks langsung tersenyum kecut, "Aku sudah menduga bahwa kamu akan menjawab seperti itu, karena sudah berhasil mendapatkan kesucianku, kamu memilih pergi dan sama sekali tidak memperdulikan apa yang aku rasakan. Kamu bisa bebas mencari wanita lain, sedangkan aku, tidak akan ada pria yang mau dengan wanita bekas sepertiku," umpat Sabrina yang merasa sangat frustasi dengan nasibnya.


"Aku belum meneruskan kata-kataku, Sabrina. Jadi, jangan mengambil kesimpulan sendiri seenak jidatmu yang mengatakan aku bisa dengan mudah mencari wanita lain." Dave yang daritadi masih memegang kopernya, melepaskan jemarinya dari pegangan panjang koper miliknya.


Kemudian ia melangkah ke depan untuk semakin mendekati sosok wanita yang terlihat masih dikuasai oleh amarah. Kini, Dave sudah mendaratkan tubuhnya di sebelah Sabrina dan menatapnya dengan intens. Seolah ia saat ini tengah mengamati pahatan di depannya.


"Ngapain kamu melihatku seperti itu? Pergilah jika ingin pergi!"


"Bukankah kamu barusan mengatakan kepadaku agar jangan pergi?"


Sabrina menelan salivanya saat membenarkan perkataan dari Dave yang masih tidak mengalihkan pandangannya, "Aku memang mengatakan itu tadi. Bukankah itu ada penjelasannya?"

__ADS_1


"Sekarang aku yang akan menjelaskannya padamu tentang apa yang aku inginkan. Jadi, dengarkan baik-baik ini, karena aku membutuhkan jawabanmu iya atau tidak," ucap Dave dengan tegas.


"Katakan saja!" Sabrina mencoba menetralkan kegugupannya dan memasang indera pendengarannya.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, tetapi bukan untuk memenuhi rencana konyolmu tadi. Karena aku akan tetap tinggal sebagai suamimu yang sebenarnya, bukan suami yang berakting di depan semua orang. Aku bukan pria berengsek yang akan mencari wanita lain setelah berhasil menyetubuhimu. Karena aku hanya menginginkan tubuhmu, bukan tubuh wanita lain. Jadi, apa jawabanmu? Yes or no?" tanya Dave yang saat ini semakin mendekatkan wajahnya pada Sabrina.


Entah mengapa kalimat bernada vulgar dari pria yang berjarak hanya beberapa centi di depannya, berhasil membuat tubuh Sabrina meremang. Tentu saja ia merasa sangat bimbang dengan jawabannya, tetapi rasa gengsinya lebih besar dari apapun.


"Apa kamu berpikir aku adalah wanita pemuas nafsumu, Dave? Jangan pernah bermimpi aku akan mengiyakannya. Aku bukan budak nafsumu, jadi pergilah!"


Dave sudah tidak mampu lagi membendung amarahnya yang daritadi ia tahan sekuat tenaga, sehingga ia yang merasa sangat geram karena Sabrina tidak bisa melihat ketulusannya dan malah berakhir menuduhnya, tentu saja malah semakin menyulut api kemarahannya.


"Cukup sudah aku bersabar padamu, Sabrina," teriak Dave yang langsung mengarahkan tangannya untuk membuka paksa kimono handuk yang membalut tubuh ramping di depannya. "Bukankah kamu berpikir aku menganggapmu sebagai budak nafsuku? Jadi, aku akan mengabulkannya."


Sabrina masih berusaha untuk memegangi penutup tubuhnya, tetapi usahanya sia-sia karena Dave sudah seperti orang yang kesetanan karena telah melepas paksa kimono handuk yang dipakainya.


"Dave, kamu benar-benar gila!" teriak Sabrina yang berusaha untuk meraih selimut di bawah kakinya. Berniat untuk menutup tubuhnya yang sudah setengah telanjang karena saat ini hanya memakai pakaian dalam. Namun, belum sempat tangannya meraihnya, Dave semakin brutal menciumnya.


Dave sudah sibuk menyesap bibir sensual Sabrina yang diketahuinya sudah menjadi candunya. Bahkan tangannya sudah sibuk melepas paksa penutup terakhir dari wanita yang masih berusaha menolaknya. Karena ia sudah mengetahui kelemahan Sabrina, membuatnya langsung menyerang titik paling vital yang menjadi surga dunianya.

__ADS_1


"Kamu yang memancingku untuk melakukan ini, Sabrina," gumam Dave yang sudah sibuk mengarahkan bibirnya ke bagian paling sensitif sang istri yang sudah menarik rambutnya.


TBC ...


__ADS_2