
Sabrina saat ini tengah sibuk menata meja di taman belakang. Sebenarnya ia tadi sudah menyuruh pelayan untuk memasak makanan kesukaan dari sang suami tercinta untuk memberikan sebuah kejutan sebagai ungkapan rasa terima kasih. Karena memiliki sosok suami pengertian dan penyayang.
Namun, ia mendapat kabar bahwa Dave lembur. Sehingga ia mempunyai rencana untuk mengatur dinner romantis di taman belakang dan mengatur semuanya seperti di restoran mewah. Karena menyuruh orang untuk memasang lampu remang-remang agar terlihat romantis. Bahkan ia sudah memesan wine mahal untuk ia nikmati bersama sang suami yang sangat dicintainya.
Sabrina terlihat mengamati meja berbentuk persegi yang sudah ia tata sedemikian rupa hingga terlihat seperti meja di restoran mewah. Tidak lupa ada vas bunga dan wine yang berada di sana.
"Sudah beres semuanya, tinggal menunggu suamiku pulang. Aku tidurkan dulu Arya, untung tadi dia tidak tidur siang. Jadi, bisa tidur awal." Berjalan menghampiri putranya yang tengah menonton film kartun di depan tv dan langsung memangkunya setelah duduk di sofa. dan beralih menatap ke arah wanita paruh baya yang sudah bekerja untuknya selama beberapa hari.
"Bik, tolong buatkan susu untuk putraku. Sudah saatnya dia tidur karena tadi tidak tidur siang."
"Baik, Nyonya."
Wanita paruh baya tersebut sudah berjalan menuju ke dapur, meninggalkan ibu dan anak yang sudah sibuk bercanda tawa di ruang santai.
Sementara itu, Sabrina sudah melirik jam di dinding menunjukkan waktu pukul 19.30 WIB. "Arya, ayo kita tidur. Sudah malam ini. Kita ke kamar setelah film Upin Ipin selesai, ya! Besok pagi nonton lagi."
Tentu saja bocah laki-laki itu hanya merengek dan mengoceh tidak jelas, menegaskan bahwa tidak menyetujui perintah dari sang mama. Seolah masih ingin melihat film kartun kesukaannya.
Akhirnya Sabrina yang tidak bisa merayu Arya, hanya mengikuti keinginan dari putranya. Ia hanya menemani bocah berusia 2 tahun itu yang sangat suka menonton film kartun sambil menikmati susunya setelah pelayannya datang.
"Bibik istirahat saja, biar aku yang menemani putraku di sini." Sabrina sudah sibuk mengusap lembut rambut putranya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya pun belum mengantuk dan masih ingin menemani, den Arya," jawab wanita paruh baya yang sudah mendaratkan tubuhnya di sofa tak jauh dari majikannya.
"Oh ... aku pikir, Bibik sudah capek karena seharian bekerja. Kalau mau di sini, tidak apa-apa. Lagipula aku pun jadi ada teman mengobrol."
Awalnya Sabrina hanya mengobrol santai dengan wanita paruh baya tersebut, tetapi lama-kelamaan, cerita dari wanita paruh baya tersebut membuatnya semakin merasa tertarik saat membahas tentang anaknya yang merupakan lulusan S1 dan kini tengah bekerja di sebuah perusahaan kontruksi sebagai seorang arsitek.
"Benarkah, Bik? Jadi, putra Bibik sekarang bekerja di perusahaan yang ada di Papua? Karena Bibik merasa bosan di rumah sendirian, sehingga mencari pekerjaan tanpa sepengetahuan dari putra Bibik. Wah ... benar-benar sangat luar biasa. Bahkan hanya makan tidur pun dapat uang jatah dari anak Bibik. Bagaimana kalau anak Bibik mengetahuinya?"
Wanita paruh baya tersebut hanya menggelengkan kepalanya, "Sepertinya tidak akan ketahuan, Nyonya. Lagipula dia pulang 4 bulan sekali. Jadi, saya ijin cuti saat anak saya nanti pulang selama 2 minggu di rumah."
Dengan kepala manggut-manggut tanda mengerti, Sabrina yang dari tadi asyik mendengarkan cerita dari pelayannya, tidak menyadari bahwa putranya sudah tertidur. Hingga saat botol susu di tangan Arya terjatuh, baru disadarinya. Sehingga ia langsung memegangi kuat putranya agar tidak sampai terjatuh dari pangkuannya.
"Tentu saja, Bik. Aku tidak masalah itu, Bibik bisa pulang. Oh ya, ngomong-ngomong, apa putra Bibik sudah mempunyai calon istri?"
"Bagaimana kalau dijodohkan saja, Bik. Aku ada kenalan, dia cukup cantik dan merupakan seorang wanita karir yang sangat awet menjomblo karena belum bisa move on dari suamiku. Siapa tahu berjodoh dengan putra, Bibik. Jika Bibik setuju, aku akan bilang pada suamiku nanti agar berbicara pada wanita itu."
Sabrina terlihat sangat bersemangat karena mendapat sebuah ide untuk menyingkirkan kekhawatirannya. Bahkan ia sudah merancang sebuah rencana untuk membuat Desy tidak menjadi ancaman di rumah tangganya. Karena semenjak Dave mengakui bahwa wanita yang merupakan tetangganya itu pernah sangat mencintai suaminya, tentu saja sebagai seorang istri, membuat ia merasa was-was.
Sehingga di pikirannya selalu terbit rasa takut jika Desy menjadi pelakor dalam rumah tangganya.
Sementara itu, wanita paruh baya tersebut pun merasa sangat antusias begitu mendengar tawaran dari majikannya. "Baiklah, Nyonya. Saya sih setuju-setuju saja, karena ingin putra saya menikah secepatnya. Siapa tahu jodoh, namanya juga usaha. Untuk selanjutnya, kita serahkan saja pada Tuhan."
__ADS_1
Sabrina menyunggingkan senyumannya dan merasa sangat senang karena rencananya berhasil mendapatkan persetujuan. "Kalau begitu, aku akan berbicara pada suamiku nanti, Bik. Oh ya, jangan panggil aku nyonya. Rasanya aku sangat tidak enak, setelah mendengar cerita tadi."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Santai saja." Bangkit dari sofa, "Arya biar saya tidurkan, den Arya ke kamar. Nyonya menunggu di sini saja. Siapa tahu sebentar lagi, tuan pulang."
Sabrina akhirnya memberikan putranya ke gendongan wanita yang sudah berdiri di depannya. "Terima kasih, Bik."
Wanita paruh baya yang sudah menggendong bocah laki-laki di lengannya, hanya tersenyum simpul dan mulai berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar yang ada di lantai atas.
Sementara itu, Sabrina yang sudah bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu depan dan membuka pintu untuk menunggu sosok pria yang sangat dicintainya pulang dari kantor.
"Suamiku pasti sangat capek setelah seharian di kantor. Baiklah, hari ini aku akan menjadi istri yang baik. Nanti, aku akan pijitin dia biar capeknya sedikit berkurang."
Baru saja Sabrina menutup mulutnya, dilihatnya security membuka pintu gerbang rumah dan terlihat mobil sedan berwarna hitam sudah masuk ke pelataran halaman depan. Tak lama berselang, sosok pria dengan tubuh tinggi tegap sudah keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya sambil menyunggingkan seulas senyuman.
"Wah ... senang sekali rasanya saat pulang kerja disambut istri tercinta seperti ini. Ada angin apa ini?" tanya Dave yang merasa sangat terkejut saat Sabrina sudah menghambur memeluknya hingga ia mundur ke belakang untuk menyeimbangkan diri, agar tidak terjatuh.
Sabrina yang merasa sedikit melow hari ini karena perbuatan pria yang sudah dipeluknya sangat erat itu, kini mendongak menatap wajah tampan dengan rahang tegas di depannya.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Terima kasih atas segalanya." Tanpa bisa ditahannya lagi, Sabrina sudah menangis tersedu-sedu di dada bidang pria yang mengenakan setelan 3 potong tersebut.
Sementara itu, Dave merasa sangat kebingungan saat sang istri malah tidak menjawab pertanyaannya dan mengucapkan kalimat ambigu, serta berakhir dengan tangisan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa malah menangis seperti ini?" Dave sudah sibuk mengusap lembut punggung Sabrina untuk menenangkan wanita yang masih belum berhenti menangis tersebut.
TBC ...