Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Mengidam


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Dave berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil jaketnya. Ia memang tetap berencana untuk pergi ke apotik 24 jam meskipun Sabrina saat ini tengah marah padanya. Tanpa berpamitan, ia mengambil kunci motor yang ada di laci dan berjalan keluar dari ruangan kamar. Meninggalkan sosok wanita yang terlihat tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi memunggunginya.


Sementara itu, Sabrina yang mendengar pintu ditutup, langsung memiringkan tubuhnya dan bangkit dari posisinya. Kini, ia duduk di pinggir ranjang dengan manik bening yang mengamati bocah laki-laki di sebelahnya. Melihat malaikat kecilnya yang saat ini tengah tertidur dengan pulas itu, membuat ia merasa gelisah.


"Putraku," lirih Sabrina yang tengah mengusap lembut rambut malaikat kecilnya. "Jika mama hamil lagi, pasti kasih sayang untukmu berkurang. Karena mama akan lebih repot mengurus adikmu." Mengusap perutnya yang masih datar, "Semoga aku tidak hamil. Aku belum siap." Meremas piyama tidurnya hingga kusut dengan perasaan yang sangat kacau dan gelisah.


Saat merasa sangat gelisah, Sabrina tiba-tiba merasa sangat lapar. Sehingga ia berjalan keluar untuk menuju ke ruang makan. Namun, saat ia membuka kulkas, refleks menepuk jidatnya berkali-kali.


"Dasar bodoh, aku bahkan sampai melupakan bahwa buah-buahan sudah habis. Tiba-tiba aku ingin makan salad buah, tetapi stok buah telah habis tanpa tersisa. Bagaimana ini? Apakah aku tengah mengidam? Malam-malam begini, di mana yang menjual salad buah?"


Sabrina masih berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya. Namun, lagi-lagi ia merutuki kebodohannya sendiri saat menemukan jawabannya. "Buat apa kamu pusing-pusing memikirkan tentang hal ini? Bukankah ini adalah ulah pria berengsek itu? Jadi, biarkan dia yang memikirkannya."


"Anggap saja ini adalah sebuah hukuman untuk suami karena sudah menghamili istrinya yang belum siap."


Akhirnya dengan langkah kaki gontai, Sabrina berjalan naik ke lantai atas untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Tanpa membuang waktu, ia menghubungi ponsel Dave. Namun, suara dering ponsel yang ada di atas sofa dengan beberapa mainan putranya, membuat ia merasa sangat kecewa karena Dave keluar tidak membawa benda paling penting tersebut.


"Astaga, ceroboh sekali dia. Harusnya kan membawa ponsel saat keluar dari rumah. Aku jadi makin kesel, kan jadinya." Sabrina yang semakin merasa sangat kesal, berjalan mondar-mandir sambil menunggu kepulangan pria yang ia tahu tengah membeli testpack.


Selama 20 menit, ia merengut dan mengumpat, karena hari ini emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Hingga saat indera pendengarannya menangkap suara kenop pintu yang dibuka dari luar, membuat ia langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sosok suami yang menenteng kantong plastik di tangan kanan.


"Kenapa lama sekali, sih! Sebenarnya tadi dari mana saja? Apa kamu janjian bertemu dengan wanita yang bernama Desy itu dan berpura-pura keluar ke apotik?"

__ADS_1


Dave yang baru saja kembali, hanya bisa mengusap dada untuk meredam emosinya agar tidak terpancing saat melihat Sabrina yang mengomel kesana-kemari.


"Sabar ... sabar, Dave. Ini karena istrimu tengah hamil. Sehingga membuat perasaannya sangat sensitif dan sering marah-marah. Namanya bumil memang seperti ini, jadi harap maklum," lirih Dave yang saat ini sibuk mengendalikan diri.


"Aku tadi pulang dari apotik, mampir ke lapak pedagang kaki lima untuk membeli nasi goreng dan bakmie kuah untukmu, Sayang. Jangan menuduh yang aneh-aneh." Dave mengangkat kantong plastik yang berisi makanan itu ke arah sang istri.


Ia memang sengaja membawanya ke kamar untuk merayu Sabrina, agar kemarahannya bisa reda setelah melihat dan mencium aroma makanan yang merupakan favorit istrinya tersebut. "Ayo, kita makan, Sayang."


Awalnya Sabrina menelan salivanya begitu mencium aroma bakmie kuah kesukaannya. Akan tetapi, begitu ia mengingat ingin makan salad buah, membuat ia tidak tertarik lagi dengan makanan kesukaannya tersebut.


"Aku sedang tidak berselera makan."


Dave menghela napas berat karena merasa kecewa telah gagal merayu sang istri. Padahal tadi yang dipikirkannya adalah ia bisa meredakan kemarahan Sabrina dengan makanan favorit dan akhirnya sang istri berterima kasih. Saat hati istrinya senang, ia bisa menyalurkan hasratnya yang sudah memuncak karena sudah lebih dari 1 minggu tidak bercinta. Efek Sabrina sering mengeluh capek dan tidur awal terus seminggu belakangan ini.


"Baiklah, aku akan makan sendiri jika kamu tidak mau." Berbalik badan dan berjalan keluar. Namun, suara dari Sabrina, membuat ia mendadak lemas dan tidak berkutik di tempatnya.


"Aku lapar, tetapi ingin makan salad buah. Jadi, belikan aku itu," ucap Sabrina dengan suaranya yang tegas. "Aku sedang mengidam. Jadi, cepat belikan."


"Malam-malam begini mau cari salad di mana, Sayang. Astaga, kenapa tidak menunggu besok saja mengidamnya," keluh Dave yang merasa sangat kesal.


Dengan kilatan api di matanya, Sabrina semakin merasa marah, karena Dave malah mengeluh dan tidak mau menuruti permintaannya.

__ADS_1


"Aku mengidamnya sekarang, bukan besok. Memangnya siapa yang membuat aku begini. Kamu, kan! Kalau aku tidak hamil, mana mungkin aku mengidam aneh-aneh begini."


Dave lagi-lagi memijat pelipisnya mendengar teriakan dari Sabrina, sehingga ia mencoba untuk menyerah dan mengalah. Karena tidak ingin membuat masalah sepele menjadi besar.


"Baiklah ... baiklah, aku akan membelinya sekarang. Entah di mana aku harus membelinya, semoga bisa memenuhi keinginan anak kita. Baiklah, aku pergi dulu, Sayang." Dave menaruh kantong plastik yang berisi makanan di atas meja dan berlalu pergi setelah Sabrina menganggukkan kepala.


Sementara itu, Sabrina melirik ke arah kantong plastik yang berisi bakmie kuah kesukaannya. Saat ia fokus menatap ke arah makanan tersebut, di saat yang bersamaan, perutnya berbunyi dan menandakan cacing-cacing di sana meminta untuk diisi.


"Aku sangat lapar, lebih baik aku makan itu dulu sambil menunggu salad buah datang." Berjalan ke arah meja dan membawa makanan kesukaannya itu ke ruang makan.


Tentu saja ia menikmati bakmie kuah yang telah dibeli oleh Dave dengan lahap. Bahkan selera makannya bertambah 2 kali lipat, karena biasanya ia tidak pernah menghabiskannya. Akan tetapi, kali ini ia sudah menghabiskannya tanpa tersisa.


Kini, perutnya terasa kenyang dan ia yang baru saja selesai meneguk minumannya, merasa kekenyangan. "Alhamdulillah, aku kenyang. Aku tunggu saja Dave di kamar." Berjalan ke kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang karena setelah kekenyangan, ia merasa sangat mengantuk.


Begitu memejamkan kedua matanya, beberapa saat kemudian, Sabrina sudah terlelap dan terbuai dalam alam bawah sadarnya.


Setengah jam kemudian, Dave yang baru saja tiba di rumah setelah membeli buah dan bahan-bahan untuk membuat salad. Karena tengah malam, hanya ada minimarket waralaba yang buka. Sehingga ia yang tadi menghubungi mertuanya untuk meminta saran, diberitahu untuk membeli bahan-bahan membuat salad.


Namun, saat ia baru masuk ke dalam kamarnya untuk memberitahu Sabrina, ia membulatkan kedua matanya begitu melihat sosok sang istri sudah tertidur dengan pulasnya.


"Astaga, aku yang kebingungan di luar untuk memenuhi mengidamnya yang aneh-aneh, tetapi dia malah tertidur dengan pulas di atas ranjang.

__ADS_1


"Sial betul aku hari ini," ucap Dave dengan tidak bertenaga.


TBC ...


__ADS_2