
Awalnya Boby Syaputra merasa sangat tidak enak saat seorang Nona muda mau menyuapinya. Namun karena calon menantunya itu memaksanya, membuatnya mau tidak mau menurutinya.
Kini mulutnya telah mengunyah makanan yang baru saja di suapkan oleh sang menantu, dengan sangat berhati-hati ia mengunyah. Karena tidak ingin membuat wanita yang berada di depannya itu merasa ilfill padanya.
Seolah ia ingin membuat citra yang baik di mata calon menantunya yang menurutnya mempunyai wajah sangat cantik dan imut itu.
Aku harus membuat menantuku tidak Ilfiil padaku, karena itu akan mempermalukan putraku sendiri. Putraku harus terlihat berwibawa di depan Istrinya yang merupakan wanita hebat, dan bukan orang sembarangan itu. Istrinya harus menghormatinya dan tidak menganggapnya remeh, karena berasal dari keluarga biasa. Puteraku harus hidup berbahagia, jangan sampai dia sepertiku.Nasib burukku di masa lalu tidak boleh terulang kembali pada putraku.
Sedangkan Queen yang sebenarnya sangat dongkol masih terus menyuapi calon mertuanya yang bisa di lihatnya sangat gugup saat di suapinya.
Pria tua ini terlihat sangat gugup saat aku suapi. Apa wajahku semenakutkan itu sih? Hingga pria ini sangat takut padaku. Memangnya aku syetan apa, hingga dia terlihat sangat ketakutan. Lihatlah tangannya yang bergetar itu. Astaga, bahkan wajahku sangat cantik seperti ini. Akan tetapi, calon mertuaku ini malah ketakutan melihatku.
Aditya yang merasa ada aura kegugupan dari sang Ayah, membuatnya mencoba memecahkan keheningan di ruangan tersebut dengan mengeluarkan suaranya.
"Queen, terima kasih."
Merasa tidak mengerti dengan ucapan terima kasih dari Aditya, membuat Queen langsung mengungkapkan pertanyaannya, "Terima kasih? Maksudnya terima kasih untuk apa? Aku tidak mengerti."
"Tentu saja terima kasih untuk kebaikanmu hari ini yang sudi menyuapi Ayahku. Seorang Nona muda yang terbiasa hidup di layani oleh banyak pelayan di Mansion, kini mau melayani seorang Ayah dari pria miskin sepertiku. Terima kasih!!"
"Tidak perlu berterima kasih, karena aku sudah menganggap Ayahmu seperti Ayahku sendiri. Bukankah setelah menikah nanti, Ayahmu akan menjadi Ayahku juga? Jadi aku ingin belajar menjadi seorang menantu yang baik, seperti yang di katakan oleh Daddy dan Mommy ku."
Astaga Queen, kamu benar-benar sangat pandai berakting. Mungkin kamu akan menjadi aktris profesional jika mendaftar sebagai seorang aktris yang sangat pintar berakting di depan kamera.
Mendengar perkataan dari calon menantunya itu, membuat Boby Syaputra tersenyum. "Terima kasih Nak, aku sama sekali tidak menyangka jika kamu ternyata adalah seorang wanita yang sangat baik, meskipun berasal dari keluarga konglomerat. Karena yang Ayah tahu, banyak anak-anak dari keluarga berada yang bersikap seenaknya dan sangat tidak sopan pada orang tuanya."
"Akan tetapi, ternyata kamu tidak sama seperti mereka. Karena kamu adalah seorang wanita yang sopan, pintar dan tahu cara menghormati orang tua. Aku pun mengucapkan terima kasih padamu Nak."
Queen yang merasa tersindir dengan perkataan dari pria yang saat ini tengah menatapnya, membuatnya terlihat sangat kikuk. Karena merasa bingung untuk menjawab apa, akhirnya dirinya mulai menanggapi perkataan dari pria yang akan menjadi Ayah mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu Yah, aku jadi merasa bersalah jika membuat Ayah merasa sungkan padaku."
Ya ampun, aku bahkan keceplosan menanggil dia Ayah. Sebenarnya ada apa dengan lidahku? Sepertinya lidahku sudah ketularan keseleo, seperti yang di katakan oleh pria miskin ini.
"Kamu memang pantas mendapatkannya Nak, kamu adalah seorang gadis yang sangat luar biasa. Semoga pernikahan kalian nanti mendapatkan Rahmat dari yang Maha Kuasa."
"Aamiin ...."
Aditya menjawab doa dari sang Ayah dan mulai mengusap tangannya ke wajahnya. Seolah ingin menunjukkan bahwa sebuah doa dari orang tua yang penuh dengan ketulusan akan di kabulkan oleh Tuhan.
Queen langsung menatap ke arah Aditya, dan mengumpat pria tersebut di dalam hati.
Kenapa dia? Sok mengaminkan lagi. Padahal dia jelas-jelas sudah tahu bahwa doa dari Ayahnya tidak akan pernah di kabulkan oleh Tuhan. Karena pernikahan ini adalah sebuah sandiwara saja. Dasar pria aneh.
Saat Queen tengah mengumpat kebodohan dari pria yang berada di depannya, lamunannya buyar saat mendengar suara ketukan pintu dari luar dan beberapa saat kemudian masuk seorang pria yang merupakan pengawal dari Mansion berjalan mendekat ke arahnya.
"Maaf Nona, saya mendapatkan perintah untuk menemani Tuan Boby Syaputra saat Nona dan Tuan Aditya pulang ke Mansion."
"Saya akan berusaha Nona," jawab pria bernama Andi.
"Bukankah tadi Daddy bilang perawat khusus? Akan tetapi, kenapa malah kamu yang datang? Biar aku telfon Daddy dulu untuk memastikan."
Queen menaruh piring yang di bawanya dan berniat mengambil ponsel miliknya di dalam tasnya, namun suara dari Ayah mertuanya itu membuatnya menghentikan perbuatannya.
"Tidak perlu Nak, Ayah tidak masalah bersama pria ini. Menurut Ayah malah merasa nyaman bersama dengannya, daripada bersama dengan seorang perawat."
Aditya menimpali perkataan dari sang Ayah yang menurutnya sangat benar, "Ayah memang benar Queen, jadi tidak perlu menelfon Tuan Abymana. Mungkin Daddy mu sudah tahu seperti apa Ayah, karena itulah menyuruh pengawal untuk menemani Ayah daripada seorang perawat yang malah membuat tidak nyaman Ayah."
Queen menganggukkan kepalanya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas miliknya, "Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
"Lebih baik kalian sekarang pulang saja! Lagipula Ayah pun juga mau istirahat, kalian berdua juga butuh istirahat, agar acara besok bisa berjalan dengan lancar. Pulanglah Nak."
"Benar Ayah tidak apa-apa kami pergi?"
"Iya, tidak apa-apa. Kalian pulang saja, lagipula hari sudah malam."
"Baiklah Yah, kalau begitu kami pergi dulu," jawab Aditya dan mulai mencium punggung tangan dari pria yang di sayanginya.
Melihat Aditya yang sudah berpamitan dan mencium punggung tangan dari Ayahnya yang seolah ingin memberikan contoh kepadanya, membuat Queen pun melakukan hal yang sama, "Kami pergi dulu Yah!" Menbungkuk untuk mencium punggung tangan dari pria yang berbaring di atas ranjang.
Boby Syaputra yang merasa sangat terharu, mulai menyunggingkan senyumannya. "Baiklah, kalian berdua hati-hati."
"Baiklah Yah, kami pergi," beralih menatap pria yang akan menjaga sang Ayah, "Tolong jaga Ayah saya!"
"Baik Tuan, siap laksanakan!"
Queen menepuk jidatnya begitu melihat tingkah konyol dari pengawal Mansion itu, "Astaga kau ini konyol sekali."
"Tidak apa-apa Queen, Ayah malah sangat senang ada yang akan di ajaknya untuk bercerita hal-hal yang lucu." Aditya yang sudah berjalan bersama Queen membuka pintu dan menyuruh wanita itu untuk keluar lebih dulu.
Queen langsung melangkah keluar dan mulai mengipasi wajahnya seraya menghembuskan nafasnya. "Aaarrh ... akhirnya aku bisa bernafas dengan normal di sini."
Aditya mengerutkan keningnya begitu mendengar perkataan dari wanita yang tidak di mengertinya itu. "Bernafas dengan normal? Apa maksudmu Queen?"
Queen yang saat ini tengah menatap dengan jengah ke arah pria yang sangat tidak di sukainya itu mengarahkan tangannya ke depan, "Diamlah!! Aku sedang malas berbicara denganmu, jangan ganggu ketenanganku. Aku daritadi bersandiwara dan sekarang sudah bisa kembali menjadi diriku sendiri, rasanya sangat damai. Jadi jangan mengusik kedamaianku dengan suaramu yang berisik itu!"
Mengerti dengan apa yang di maksud oleh wanita yang berada di depannya itu, membuat Aditya hanya tersenyum tipis. "Baiklah, aku tidak akan mengusik kedamaianmu."
Sementara itu di tempat yang tidak jauh dari mereka, ada seorang pria yang sedang mengintai. Kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Bos, target sudah keluar dan sekarang turun ke bawah."
__ADS_1
Bersambung ...