Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Cinta berawal dari sebuah benci


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan kotak berukuran sedang dengan pintu besi tersebut sangat hening, karena 4 orang yang ada di sana terlihat diam dan berkutat dengan pikirannya masing-masing. Terlihat Queen yang masih bergelayut manja di lengan kekar Aditya dan menyandarkan kepalanya. Seolah saat ini ia benar-benar merasa sangat pusing hingga membuatnya beberapa kali memijat kepalanya.


Sementara itu, Sabrina berada di depan sendiri, karena tidak ingin menatap pria yang sangat dibencinya. Hingga suara denting lift yang terbuka, membuat mereka bersiap untuk melangkahkan kakinya keluar.


Benar saja, begitu pintu besi tersebut terbuka, Sabrina lebih dulu berjalan dan berhenti tepat di depan lift untuk membiarkan pasangan suami istri yang membuatnya semakin patah hati itu berjalan masuk ke ruangan presiden direktur terlebih dahulu.


Aditya mengarahkan tangannya untuk merangkul pinggang ramping sang istri, karena melihat wajah cantik itu sudah terlihat sedikit pucat. Karena sejujurnya ia tidak merasa nyaman saat bersikap mesra di depan wanita yang pernah berarti baginya. Hal itu disebabkan ia merasa berdosa saat melihat Sabrina sakit hati ketika melihat kebahagiaannya, sedangkan mantan kekasih masih belum menemukan tambatan hati.


"Kamu pucat, Sayang. Sebaiknya nanti kamu beristirahat. Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Aditya dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan langsung masuk ke ruangan presiden direktur yang diketahuinya. Membuka pintu dan melangkah masuk dan membawa sang istri agar duduk di sofa yang ada di sebelah kanan ruangan.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja ...." Queen tidak melanjutkan perkataannya karena sedang memikirkan sesuatu. Yakni, mengenai makanan yang ingin dinikmatinya. "Aku lapar, My hubbiy."


"Oh iya, kamu dan anak kita pasti sangat lapar karena ini pun sudah jam waktunya makan siang. Apalagi kamu tadi sudah mengeluarkan semua isi perutmu di kakiku," jawab Aditya yang beralih meraih ponsel di saku celananya. "Kita pesan lewat aplikasi online saja makanannya. Kamu mau makan apa, Sayang?"


Queen terlihat berbinar saat ditanya tentang makanan oleh pria yang sudah membuka aplikasi makanan tersebut. Dengan gerakan memegangi dagunya seraya berpikir, ia langsung membuka suaranya. "


"Aku ingin makan mie Aceh udang, kalau bisa yang pedas. Karena tiba-tiba ingin makan yang pedas-pedas, My hubbiy," ucap Queen dengan sangat bersemangat.


"Baiklah, kalau begitu aku ingin makan yang sama denganmu saja." Aditya beralih menatap ke arah pria yang masih berdiri menjulang di sebelah kanan sofa. Begitu juga dengan Sabrina yang terlihat meremas rok yang dipakainya. "Kenapa kalian berdua masih berdiri di situ? Duduklah. Oh ya, kalian berdua mau makan apa?"


Dave terlihat menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah sofa, untuk mendaratkan tubuhnya di sana. Ia sama sekali tidak memperdulikan Sabrina, karena masih merasa sangat kesal dan marah. "Saya nasi Padang dengan lauk rendang saja, Tuan muda." Menatap ke arah sang nona muda yang juga tengah melihatnya.


"Karena aku menyukai apapun yang kamu sukai nona muda. Termasuk nasi Padang dengan lauk rendang yang selalu menjadi menu andalan untukmu saat makan siang ketika berada di rumah sakit," gumam Dave di dalam hatinya.


"Baiklah, 2 mie Aceh dan 1 nasi Padang. Kalau kamu mau makan apa, Sabrina?" tanya Aditya yang sudah menatap mantan kekasihnya yang duduk menjauh. Yakni di sudut paling ujung, di bagian kiri sofa.

__ADS_1


"Ayam geprek dengan saus keju," jawab Sabrina tanpa berpikir panjang saat menjawab pertanyaan dari cinta pertama yang menurutnya sekaligus cinta terakhirnya.


Deg ...


Detak jantung Aditya seolah langsung berdetak lebih kencang dari sebelumnya begitu mendengar jawaban dari pertanyaannya. Bukan karena ia mengingat kenangan manisnya yang dulu sering memasak menu tersebut di rumah dan membawanya ke kantor sebagai bekal.


Namun, selalu dimakan oleh Sabrina, karena sangat menyukai masakannya. Sehingga ia lebih sering makan bekal kekasihnya dulu, seperti diibaratkan barter.


Saat ini, Aditya merasa sangat khawatir jika wanita yang duduk di sebelahnya akan merasa murka mendengar jawaban dari pertanyaannya pada Sabrina. Bahkan ia sama sekali tidak berani untuk menolehkan kepalanya dan berpura-pura mencari makanan yang akan dipesan di ponselnya.


Sedangkan Queen langsung berdiri dari tempatnya dengan mata penuh kilatan amarah, seolah bola matanya seperti mengeluarkan sebuah kilatan api yang akan menghanguskan orang yang ditatapnya.


"Apa kamu bilang tadi, Sabrina? Ayam geprek dengan saus keju?" sarkas Queen dengan sangat kesal. "Apa kamu sengaja ingin mencari gara-gara denganku?"


"Maksudnya?" tanya Sabrina yang berpura-pura tidak mengerti maksud dari pertanyaan sang nona muda yang telah merebut kekasihnya.


Aditya bangkit dari sofa dan menghela sang istri agar kembali duduk. "Kembali duduk, Sayang. Kamu nanti pingsan lagi, bagaimana? Ini hanya soal makanan, jadi jangan dibesar-besarkan, oke!"


"Ini bukanlah hal yang sepele, karena makanan itu adalah masakanmu yang menjadi menu favoritku. Jadi, Sabrina tidak boleh makan itu!" teriak Queen dengan sangat keras.


"Astaghfirullah ... sabarlah, Sayang. Baiklah, biar Sabrina makan yang sama dengan Dave. Yaitu, nasi Padang," jawab Aditya yang mencoba menuruti permintaan dari sang istri yang kekanakan.


"Tidak boleh!" Queen kembali berteriak. Karena itu adalah menu favoritnya dan tidak mau jika mantan kekasih dari suaminya ikut menyukainya.


"Tidak mau," sarkas Sabrina dengan suaranya yang tak kalah nyaring. "Kenapa aku yang harus selalu mengalah pada nona muda? Apa karena aku miskin? Sehingga aku tidak mempunyai hak sama sekali untuk makan apa yang aku sukai. Bahkan, kekasihku sudah direbut dengan tidak adil. Apakah untuk soal makanan favoritku pun harus direbut juga?"

__ADS_1


Refleks Aditya bangkit dari posisinya dan mengajak sang istri untuk berbicara, "Sayang, ini hanya soal makanan. Jangan terlalu membesar-besarkannya, ya!" ucap Aditya dengan memohon. Karena ia pun merasa terenyuh mendengar kalimat miris yang diungkapkan oleh Sabrina.


"Jadi, My hubbiy membela wanita itu?" Tunjuk Queen dengan sangat kesal dengan muka merah padam.


"Bukan seperti itu, tetapi apa yang dikatakan oleh Sabrina ada benarnya. Ini hanya soal makanan, masalah sepele tidak perlu dibesar-besarkan. Begini saja, kita cari jalan tengahnya. Aku tidak ingin semua orang kelaparan karena perdebatan ini. Aku akan memesan mie Aceh udang untuk semuanya." Aditya beralih menatap ke arah Dave dan juga Sabrina. "Lebih baik kalian berdua mengalah pada wanita yang tengah hamil dan mengidam."


"Baiklah, Tuan muda. Saya tidak masalah," jawab Dave dengan sangat santai tanpa beban.


Sementara itu, Sabrina hanya diam sambil merengut di dalam hati. "Lagi kan, aku harus mengalah lagi pada sang nona arogan yang memuakkan ini."


"Suatu saat kamu juga akan mengalami fase kehamilan yang membuat emosi naik turun, Sabrina. Jadi, aku harap kamu mau mengalah sebagai sesama wanita," ujar Aditya yang mengeluarkan suara baritonnya. Agar mantan kekasihnya tersebut tidak lagi membatah atau pun protes lagi.


"Memangnya aku boleh menolak? Jika tahu akan berakhir seperti ini, lebih baik tadi tidak usah bertanya padaku," ujar Sabrina dengan sangat kecewa.


Queen hanya tersenyum penuh kemenangan, karena sang suami lebih membelanya dan juga memaksa Sabrina untuk mengalah. "Tentu saja kamu tidak boleh menolak, karena selama berada di kantor ini, kamu harus mematuhi atasanmu dan bukankah aku termasuk atasanmu juga?"


Sabrina sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari sang muda yang seolah menyindir dan mengingatkan posisinya. Namun, saat ia mendengar perkataan dari mantan kekasihnya, membuatnya membulatkan kedua matanya.


"Sebaiknya kalian berdua segera menikah, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan dosa kalian. Khususnya kamu, Dave. Karena kamu sudah mencium wanita yang bukan muhrimmu, lebih baik kamu segera menikahi Sabrina. Daripada kalian berdua nanti sama-sama berdosa dan semakin diluar batas saat khilaf," ujar Aditya dengan suaranya yang tegas.


"Apa? Menikahi Sabrina?" tanya Dave dengan sangat terkejut.


"Aku tidak sudi menikah dengan pria datar dan kasar sepertinya," teriak Sabrina dengan sangat marah.


Sedangkan ekspresi berbeda tampak dari raut wajah Queen saat mempunyai sebuah ide di kepalanya.

__ADS_1


"Cinta berawal dari sebuah benci. Dan aku akan membuat kalian menikah dalam minggu ini. Serta membuat Tom and Jerry ini lengket seperti perangko setelah malam pertama. Lihat saja nanti, sepertinya aku butuh bantuan dari Brother untuk bisa mengurus semuanya ini," gumam Queen yang tertawa di dalam hati.


TBC ...


__ADS_2