
Saat ini, Aditya terlihat sangat serius saat menatap ke arah wanita yang duduk di sebelahnya mengatakan kalimat ambigu yang membuatnya bertanya-tanya tentang sebuah rencana dari keluarga istrinya.
Bahkan suara dari keramaian orang-orang yang berada di sana, seolah sama sekali tidak didengarnya. "Rencana apa, Sayang? Jangan membuat suamimu ini penasaran. Cepat katakan padaku!" titah Aditya yang merasa sangat ingin tahu dan khawatir pada rencana istrinya.
"Aku dan daddy mempunyai rencana untuk ...."
Queen menghentikan ucapannya dan melirik ke arah pria yang terlihat sangat penasaran dengan ceritanya. "Sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku mau bertanya padamu, My hubbiy. Apakah kamu mengetahui denda dalam perkara pidana?"
Aditya hanya menggelengkan kepalanya dan mengendikkan bahunya, "Aku cuma pernah mendengarnya dan tidak mengetahui lebih detail, Sayang."
Kalau begitu, suapi aku dulu. Baru aku akan mengatakannya padamu, My hubbiy." Queen mengarahkan tangannya yang sedang membawa potongan buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil ke tangan suaminya.
"Baiklah, Sayang." Aditya hanya mengiyakan perkataan dari sang istri yang memasang wajah manjanya.
Queen berdehem sejenak, "Denda adalah salah satu jenis sanksi Pidana Pokok berupa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim kepada seorang terpidana untuk membayar denda, yang nantinya denda tersebut akan masuk ke kas negara. Bukan untuk memperkaya negara atau mengembalikan kerugian yang ditimbulkan oleh pelaku terhadap negara atau korban."
"Jika terpidana tidak mau membayar denda, maka denda tersebut diganti dengan kurungan, namanya kurungan pengganti. Dan itu tidak mungkin terjadi, karena Reynaldi sudah mengajukan banding pada hakim untuk menolak putusan hari ini. Karena itulah, papa dari Rey tadi bilang pada daddy akan melakukan apapun, termasuk membayar berapa pun untuk bisa meringankan proses hukuman yang akan dijalani oleh putranya."
Aditya masih sibuk menyuapi Queen potongan buah segar yang disiram sambal gula merah dicampur kacang tanah tersebut. "Kalau masalah sepele seperti itu, aku sedikit tahu meski tidak semuanya. Yang ingin aku tanyakan adalah rencana jahatmu, bukan tentang cerita mengenai denda, Sayang."
__ADS_1
Queen terlihat meraih minuman yang tadi dipesannya pada pengawalnya. Kemudian ia menikmati menikmati minuman kekinian yang sekitar 2 sampai 3 tahun lalu trend di kalangan anak muda jaman sekarang. Yaitu, King Mango Thai asal Thailand. Yang terbuat dari buah mangga yang disajikan dengan potongan buah mangga yang disajikan dengan potongan buah mangga segar dan whipped creame.
Dan sukses membuat ratusan orang rela mengantre selama berjam-jam hanya demi bisa menikmati minuman kekinian yang harganya cukup merogoh kocek bagi orang-orang kalangan menengah ke bawah.
Sementara itu, Aditya masih mengamati wanita yang sudah sibuk menikmati minuman yang sangat menggoda iman bagi semua orang yang melihatnya. Karena melihat tampilan yang sangat menggoda mata orang yang memandang untuk bisa menikmatinya. Ia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat ada sisa whipped creame di bibir atas sang istri.
"Sayang, kamu nggak bawa tisu? Gara-gara sapu tangan milikku yang kamu ambil semua, membuatku kini tidak memiliki barang sakral yang berguna itu," ujar Aditya dengan kesal.
"Ada di tasku, My hubbiy. Kenapa?" Queen memberikan tasnya. "Jangan mengeluh hanya karena persoalan sepele! Nanti aku ganti, kalau perlu, aku beli sekalian pabriknya," ucap Queen dengan terkekeh.
Hanya sebuah gelengan kepala yang ditunjukkan oleh Aditya begitu mendengar perkataan yang bersifat sangat konyol dari sang istri dan terlihat tidak berhenti terkekeh. Tanpa menanggapi, ia mengambil tisu dari dalam tas branded yang ditebaknya seharga puluhan juta rupiah tersebut.
"Kalau makan hati-hati, bukan malah berantakan kayak gini." Membersihkan bekas whipped creame di atas bibir sang istri seperti orang tua pada anaknya. "Ayo, lanjutkan ceritamu yang tadi soal rencana."
Aditya menatap ke arah minuman berbahan dasar mangga tersebut yang tinggal separuh, "Ini kamu menyuruh suamimu makan bekasmu, Sayang?"
"Memangnya kenapa kalau itu adalah bekasku, My hubbiy? Kamu jijik?" ujar Queen dengan sangat kesal seraya menaikkan kedua alisnya.
"Bukan jijik, tapi lebih mengarah ke ...." Aditya tidak bisa melanjutkan perkataannya saat kalimatnya dipotong oleh sang istri.
__ADS_1
"Jangan mulai ceramah, karena aku sedang malas untuk mendengarnya. Lebih baik aku lanjutkan tentang yang tadi saja."
"Baiklah, lanjutkan saja ceritamu." Aditya menjawab perkataan dari Queen dan ia terlihat sibuk untuk menikmati sisa minuman di tangannya.
"Ternyata mudah sekali untuk membuatmu berubah pikiran, My hubbiy." Queen terkekeh, karena merasa di atas angin saat melihat ekspresi dari sang suami yang langsung berubah sikap. "Saat orang tua Rey sibuk mengurusi putra kesayangannya yang akan menghabiskan banyak uang yang jumlahnya cukup lumayan besar, maka daddy akan bertindak."
"Kenapa sekarang malah aku yang sangat deg-degan ya, Sayang? Kalian tidak akan membuat keluarga adikku berakhir di jalanan bukan? Karena jika itu benar, bukankah perbuatan tersebut adalah contoh perbuatan buruk?" tanya Aditya dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.
"Entahlah, jika nasib mereka baik, mungkin tidak akan berakhir di kolong jembatan," jawab Queen dengan ambigu.
"Mereka harus bersiap saat daddy mencabut sahamnya yang 40 persen di perusahaan yang susah payah dibangun oleh keluarga Reynaldi. Dan otomatis, pikiran dari mereka akan terpecah. Sekali hancur, maka akan benar-benar menjadi lebur. Itulah hukuman yang pantas bagi orang yang berani berbuat macam-macam pada keluarga Raharja. Karena bagi daddy, tidak ada ampun untuk seorang musuh. Bukan hanya Reynaldi yang akan merasakan hukuman, tapi keluarganya juga akan menanggungnya."
Penjelasan panjang lebar dari wanita yang terlihat sangat santai, tanpa merasa takut ataupun bersalah, membuat Aditya refleks menoleh ke arah sang istri yang terlihat mengeluarkan unek-unek di kepalanya selama ini.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka, kan? Jadi, mungkin ini adalah sebuah cerita yang hanya numpang lewat saja," jawab Aditya saat menatap dengan intens wajah wanita yang terlihat sedang membekap mulutnya. "Sayang, kamu mau muntah lagi?" tanya Aditya dengan wajah panik karena merasa sangat khawatir pada sang istri.
Tanpa bisa menjawab, Queen menganggukkan kepalanya dengan posisi tangan yang masih berada di mulutnya. Karena selalu saja ia muntah setelah makan.
Refleks Aditya langsung bangkit dari tempat duduknya dan membuka kantong plastik untuk tempat muntah sang istri. Muntah di sini saja, Sayang!" Namun, baru saja ia menutup mulutnya, hal amat luar biasa dirasakannya saat wanita yang tengah mengandung benihnya tersebut malah muntah di kaki dan juga mengenai celananya.
__ADS_1
"Hoek ... hoek!" Queen yang dari tadi ingin menahan sekuat tenaga agar tidak muntah, merasa sangat mual perutnya dan sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sehingga tanpa sengaja, ia sudah membuat celana yang dikenakan oleh suaminya kotor akibat perbuatannya.
TBC ...