
Dave menutup kedua daun telinganya karena merasa sangat terganggu dengan suara teriakan dari wanita yang sibuk menutupi tubuh polos dengan menarik selimut. Refleks ia sudah mengarahkan tangannya pada Sabrina, berniat untuk menenangkan rasa emosi yang saat ini tengah dirasakan.
"Tenanglah, Sabrina. Jangan mengandalkan emosi. Coba ingat-ingat semuanya," seru Dave yang beranjak turun dari ranjang.
Sabrina refleks menutup wajahnya dan kembali berteriak, saat melihat tubuh polos tanpa penutup sehelai benang pun dari Dave. "Dasar pria tidak tahu malu! Cepat jelaskan padaku, karena aku tidak mengingatnya. Kenapa kamu merenggut kesucianku. Sekarang aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk dibanggakan."
Dave yang sudah selesai memakai kembali celana panjang berwarna hitam, membiarkan bagian atas tubuhnya yang terekspose. Seolah sengaja memamerkan dada bidangnya.
"Sabrina, kata-katamu itu sangat konyol. Pakai bilang aku merenggut kesucianmu, padahal kita sudah sah sebagai suami istri. Satu lagi, kamu mau membanggakan diri pada siapa? Apa kamu mau tebar pesona pada laki-laki lain?"
Kilatan api yang terpancar dari bola mata Sabrina sudah terlihat jelas saat mengarahkan tatapan tajam pada Dave yang berhasil menyulut api amarahnya, "Apa kamu bilang? Dengan entengnya kamu bilang kita suami istri. Apa kamu lupa kalau ini hanya sebuah pernikahan di atas surat perjanjian? Mau aku tebar pesona pada laki-laki lain, itu urusanku."
Bunyi gemeretak giginya yang menandakan rahangnya mengeras, tak lupa tangann sudah mengepal. Tentu saja perkataan dari Sabrina berhasil mengusik ketenangan jiwanya dan membuat amarah Dave memuncak.
"Aku akan menghancurkan surat perjanjian tidak penting itu, Sabrina. Karena aku mencabut kata-kataku, sekarang aku sudah menjadi suamimu dan selamanya akan begitu. Jadi, kamu tidak boleh berpikir menggoda pria lain selama aku masih hidup."
Tanpa membuang waktu, Sabrina sudah meraih bantal yang ada di sebelah kanannya dan langsung melemparkannya pada Dave yang menjulang di depannya. "Kamu gila, Dave! Kamu adalah pria paling berengsek yang pernah aku temui. Aku sangat membencimu," teriak Sabrina yang sudah berubah merah wajahnya. Bahkan ia sudah menarik rambutnya frustasi karena merasa sangat kesal dengan apa yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Dave hanya membiarkan Sabrina berteriak histeris di atas ranjang. Tentu saja ia ingin membiarkan wanita itu meluapkan amarahnya terlebih dahulu, sebelum ia mengatakan semuanya. Hingga beberapa menit kemudian, Sabrina yang dari tadi menunduk untuk berkali-kali meninju ranjang, dilihatnya sudah berhenti dan mengangkat muka untuk kembali menatapnya tajam.
"Sabrina, apa kamu sama sekali tidak ingat jika semalam kamu bahkan memperkosaku? Saat kamu bergairah, kamu bergerak liar di atasku, coba ingat kejadian semalam. Jangan asyik menyalahkan aku, bahkan kamu sangat menikmati semuanya dan berkali-kali menyebut namaku."
"Aku sama sekali tidak mengingatnya dan tidak ingin mengingatnya, karena aku tidak mungkin melakukannya dalam keadaan sadar. Itu ...." Sabrina yang menyadari ada satu keanehan, mencoba menelisik apa yang dialaminya. "Tunggu, bagaimana mungkin ini terjadi? Ada sesuatu yang tidak normal dan membuatku berubah gila. Sebenarnya apa yang kamu lakukan padaku, pria berengsek. Aku akan melaporkanmu pada polisi!" hardik Sabrina yang buru-buru turun dari ranjang dan melilitkan selimut pada tubuhnya.
"Laporkan saja, kalau aku dipenjara, apakah kamu merasa puas?" ucap Dave yang berlalu pergi meninggalkan Sabrina. Niatnya adalah ingin mendinginkan otaknya yang terasa panas di bawah guyuran air shower. Karena ia sadar, jika terus berada di dekat Sabrina, akan membuatnya selalu lupa diri dan mungkin akan menyalurkan kemarahannya dengan kembali memperkosa istrinya sendiri.
Kata-kata menohok dari Dave, semakin membuat amarah Sabrina memuncak. Sehingga ia bertekad untuk melaporkan pria yang baru saja menghilang di balik pintu itu pada polisi. Sabrina berjalan ke arah tas miliknya yang berada di sudut ruangan. Kemudian mencari ponselnya.
Sabrina meremas ponsel miliknya, sedangkan tangan kirinya sudah memijat pelipisnya yang terasa pusing dengan sesekali meringis saat merasakan sakit kepala. Dengan gerakan kasar, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan menyangga kepala dengan kedua tangan saat menunduk.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa benar yang dikatakan oleh si berengsek itu? Tidak ... tidak, itu tidak benar. Pasti ada sesuatu yang tidak beres," lirih Sabrina yang saat ini tengah menatap ke arah air minum yang ada di atas meja. Karena tenggorokannya yang sangat kering, membuat ia menuangkan air itu ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.
Sementara itu, Dave yang sudah terlihat fresh setelah mandi, baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tak lupa bulir air yang menetes di rambutnya berhasil membasahi sebagian wajahnya. Tentu saja ia bisa melihat apa yang barusan dilakukan oleh Sabrina saat menaruh gelas di atas meja.
"Astaga, dia minum itu lagi. Tahu begitu, aku tidak mandi dulu tadi. Pasti sebentar lagi dia akan kembali menyerangku. Karena marah, aku sampai lupa membuang air yang berisi obat perangsang itu dan menyuruh pegawai hotel menggantinya dengan air yang baru," gumam Dave di dalam hati.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menghubungi polisi yang akan menangkapku, Sabrina? Aku akan bersiap sebelum mereka datang," ejek Dave dengan tersenyum smirk.
Sabrina yang merasa sangat kesal, refleks bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Dave. Sehingga ia hanya melewatinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun saat masuk ke dalam kamar mandi.
Dave hanya terkekeh geli melihat ekspresi kemarahan dari wanita yang menurutnya semakin terlihat cantik saat sedang marah. "Sabrina ... Sabrina, kamu benar-benar sangat cantik saat sedang marah. Akan tetapi, lebih cantik lagi saat kamu bergerak liar seperti semalam. Sangat seksi dan membuatku gila, karena tidak ingin berhenti menyentuhmu."
Baru saja Dave menutup mulutnya, suara dari dalam kamar mandi, membuatnya merasa sangat khawatir. Karena indera pendengarannya sudah menangkap suara barang-barang yang terjatuh di dalam kamar mandi. Selain itu, suara teriakan dari Sabrina yang histeris bisa didengarnya.
"Apa yang terjadi denganku!" teriak Sabrina dengan berteriak.
"Sabrina, buka pintunya!" Dave sudah berkali-kali menggedor pintu kamar mandi, berharap Sabrina mau membuka pintu.
Namun, tidak ada jawaban dan suasana penuh keheningan terjadi. Dave menaruh kepalanya di samping pintu untuk mendengarkan suara dari dalam kamar mandi. "Sabrina, cepat buka pintunya!" Mengepalkan kedua tangannya dan mengetuk-ngetuk pintu.
Selama beberapa saat, Dave masih berusaha untuk mengetuk pintu, karena merasa sangat khawatir pada wanita yang masih tidak mengeluarkan jawaban saat dipanggil.
TBC ...
__ADS_1