Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Benar-benar gila


__ADS_3

Refleks Sabrina langsung bangkit dari sofa dan menatap tajam ke arah pasangan suami istri di depannya begitu mendengar kalimat sangat mengejutkan yang membuat ia semakin tersudut dan juga merasa dirugikan. "Tunggu, sebenarnya apa hak kalian berdua mengatur hidupku? Memangnya kalian siapa? Aku memang hanya seorang staf rendahan di perusahaan ini, tetapi bukan berarti aku tidak mempunyai hak untuk menentukan hidupku. Apalagi pasanganku, itu merupakan hakku sendiri."


Dave hanya mengamati kemurkaan dari Sabrina yang wajahnya sudah berubah merah padam. Entah mengapa ia malah sangat tertarik begitu melihat penolakan dan kemarahan dari wanita yang sudah 2 kali diciumnya. Sehingga saat ini ia terlihat tidak berkedip saat menatap wajah Sabrina yang menurutnya malah semakin cantik ketika sedang marah.


"Kalau diperhatikan, ternyata wanita ini lumayan juga. Apalagi saat sedang marah, terlihat lebih menarik. Aku suka saat dia menolakku mentah-mentah seperti ini. Jadi, aku bisa semakin mengerjainya. Apa reaksinya jika aku berpura-pura menerima perintah dari nona muda? Akan tetapi, apa maksudnya yang mengatakan bahwa kami akan menikah 1 Minggu lagi? Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh nona muda?" gumam Dave.


Saat Dave tengah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, indera pendengarannya menangkap suara dari Sabrina yang memekakkan telinga. Bahkan ia sampai refleks menutup kedua daun telinganya.


Awalnya Sabrina menatap tajam Queen dan Aditya yang menurutnya terlalu mencampuri urusan pribadinya. Kemudian ia ingin membuat Dave juga mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan tidak akan mau menerima titah konyol dari sang nona muda.


"Hei, pria berengsek!" teriak Sabrina yang menatap tajam ke arah Dave.


Dave yang masih dalam posisi menyilangkan kaki kanannya dan bersedekap di dada, masih bersikap datar. "Apa?"


"Apa? Dasar bodoh! Cepat katakan bahwa kamu juga tidak tertarik dengan rencana konyol dan gila ini," hardik Sabrina dengan sangat geram.


"Siapa bilang aku tidak tertarik," jawab Dave dengan tersenyum *smirk.


"What*?" ujar Queen dengan sangat terkejut pada jawaban Dave. "Jadi, kamu menerimanya?"


Bersamaan dengan Sabrina yang bola matanya sudah membulat sempurna begitu mendengar jawaban dari Dave. "Apa kamu bilang tadi? Apa maksud jawabanmu?"


Dave sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan dari Sabrina yang sangat terkejut, karena saat ini ia fokus menatap ke arah wanita cantik yang memakai hijab berwarna putih dan terlihat seperti bidadari. "Bukankah aku tidak boleh menolak perintah dari Anda, Nona muda? Akan tetapi, sebenarnya apa rencana Anda?"

__ADS_1


Queen tersenyum tipis dan mengeluarkan ponsel pintar miliknya dari dalam tas selempang berwarna senada dengan gaun syar'i yang dipakainya. Yaitu, biru muda. "Kamu dengar saja semuanya sendiri?" Menekan tombol panggil pada ponselnya dan meloudspeaker, agar semua orang mendengarkan percakapannya.


Sementara itu, Aditya yang masih belum paham dengan perkataan ambigu dari sang istri yang mengatakan bahwa 1 Minggu lagi Dave dan Sabrina akan menikah, membuat ia mengeluarkan pertanyaannya. "Sebenarnya kamu sedang menghubungi siapa, Sayang? Apa rencanamu?"


"Ssst ...." Queen yang masih menunggu panggilannya dijawab, mengarahkan jari telunjuknya pada bibirnya. Seolah ingin memberikan sebuah kode agar suaminya tersebut diam dulu. Hingga suara dari seseorang yang sangat disayanginya sudah menjawab panggilannya.


"Halo, Dad? Bagaimana dengan permintaanku yang tadi? Apakah sudah beres?"


"Kamu selalu saja merepotkan Daddy, Queen. Padahal Daddy baru saja kembali dari pengadilan, setelah bertemu dengan papa Reynaldi. Dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Sabrina."


"Oke, Dad. I love you, my Daddy. Bye."


Queen mematikan sambungan telepon dan menatap ke arah Dave dan Sabrina. "Daddy saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Sabrina untuk melamar atas namamu, Dave. Mewakili orang tuamu yang ada di Bandung, tetapi tenang saja karena mereka sudah diberi tahu dan sudah setuju."


"Astaga, takdir macam apa ini? Wanita yang sangat aku cintai malah merencanakan untuk menikahkan aku dengan mantan kekasih suaminya," gumam Dave.


"Iya, 1 Minggu lagi kalian akan menikah, titik!" ujar Queen dengan sangat tegas.


"Ini benar-benar gila dan tidak masuk akal," teriak Sabrina yang bangkit dari sofa dan buru-buru berjalan keluar dari ruangan presiden direktur tersebut. "Aku tidak akan membiarkan hal konyol ini terjadi."


"Berhenti, Sabrina!" teriak Queen dengan suaranya yang sangat tegas. Kemudian melanjutkan perkataannya, "Orang tuamu sudah menyetujuinya, Sabrina. Karena tadi para pengawal sudah membawa seserahan untuk acara lamaran tanpa calon pengantin."


Sabrina yang saat ini sudah berada di depan pintu dan hendak membukanya, refleks berbalik badan untuk menatap ke arah wanita yang menjadi penyebab dari kehancurannya. "Bukan orang tuaku yang akan menikah, tetapi aku. Dan aku tidak menyetujuinya."

__ADS_1


"Aku akan memecatmu dan juga papamu yang bekerja di perusahaannya. Karena perusahaan tempat papamu bekerja adalah milik dari sahabat daddy. Apa kamu mau menjadi anak yang durhaka, karena menjadi penyebab papamu dipecat?" ejek Queen dengan tersenyum menyeringai.


"Astaga," Sabrina merasa sangat frustasi dengan wajah merah padam yang dipenuhi amarah. Kemudian ia menatap ke arah mantan kekasih yang masih diharapkannya. "Apa Mas Aditya tidak bisa mendidik seorang wanita untuk bersikap baik dan tidak suka mengancam."


"Maafkan aku Sabrina, karena meskipun awalnya pemaksaan, tetapi tujuan istriku baik. Daripada kalian berbuat dosa, lebih baik disahkan saja. Jika sudah halal, kamu dan Dave boleh berbuat apa saja. Mau berciuman atau bercinta. Karena khilaf bermula dari sebuah sentuhan fisik," ujar Aditya yang panjang lebar. Ia berusaha untuk menjelaskannya pada wanita yang pernah dicintainya.


Queen terlihat berbinar dan mengarahkan ibu jarinya pada sang suami. "Itu benar sekali, My hubbiy. Seharusnya mereka berdua berterima kasih pada kita. Bukan malah marah-marah, bukan?"


"Akan tetapi, aku tidak sepenuhnya membenarkan perbuatanmu, Sayang. Kamu pun sebenarnya bersalah, karena melakukan sebuah pemaksaan. Aku akan memikirkan sebuah hukuman untukmu nanti saat kita pulang ke Mansion," sahut Aditya dengan tatapan penuh ketegasan.


"Oke, aku tidak sabar menantikan hukuman dari My hubbiy," jawab Queen dengan terkekeh. Karena ia sangat hafal dengan sang suami yang tidak akan berbuat macam-macam padanya.


"Baiklah, aku setuju, Nona muda," jawab Dave dengan tersenyum tipis.


"Benarkah?" tanya Aditya dan Queen bersamaan.


"Iya, Nona muda. Saya merasa sadar dan sangat yakin," jawab Dave seraya melirik ke arah majikannya.


"Kamu benar-benar sudah gila, Dave. Aku tidak menyukaimu sama sekali. Bagaimana mungkin aku menikah denganmu," teriak Sabrina.


"Aku akan membuatmu mencintaiku, tenang saja," jawab Dave dengan tersenyum smirk.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2