Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Aku yang menghabisimu


__ADS_3

Lagi dan lagi, suara riuh tangisan dari Aryasatya sudah memecah suasana di area taman tersebut. Sabrina menatap tajam ke arah Dave karena selalu ceroboh saat menjaga putranya. "Astaga, Sayang. Bukankah tadi sudah dibilang main mobil-mobilan, kan. Kenapa juga ke sini?"


Dave yang sedang berusaha meredakan tangis dari putranya, menatap ke arah Sabrina. "Aku mau mengajakmu pulang, karena hari sudah hampir sore, Sayang."


Queen yang melihat perdebatan dari Dave dan Sabrina gara-gara putrinya, merasa tidak enak. Sehingga saat ini ia yang tengah menggendong putrinya, menatap ke arah bocah laki-laki tersebut.


"Maafin, Princess, ya Sayang. Sebagai permohonan maaf, Arya bawa mobil-mobilan itu pulang saja untuk main di rumah nanti, ya." Beralih menatap ke arah putrinya, "Princess minta maaf, ya sama Arya." Membantu putrinya untuk mengulurkan tangan mungil itu ke arah Arya."


Seolah mengerti dengan perkataan dari Queen, Arya tidak lagi menangis. Karena saat ini, ia tengah memandang ke arah mobil yang ditunjuk.


Sementara itu, Dave pun membantu putranya untuk menyambut uluran tangan Princess. "Arya maafin, Princess. Arya dan Princess sekarang berteman, ya."


Semua orang refleks menatap ke arah Princess yang sudah menggelengkan kepala, seolah menegaskan bahwa bocah perempuan itu tidak menyetujui perkataan dari orang tua.


"Astaga, kenapa Princess tidak mau?" tanya Queen pada putrinya yang terlihat sangat rewel dalam gendongannya. "Tidak boleh begitu, Sayang."


Aditya yang baru saja kembali karena setelah membuatkan susu untuk putrinya, melihat interaksi dari semua orang. "Ada apa, Sayang? Apakah Princess memukul Arya lagi?" Menyerahkan botol susu kepada putrinya dan langsung dinikmati oleh bocah perempuan itu.


"Iya, My hubbiy. Princess lagi-lagi memukul kepala, Arya. Kasihan sekali dari tadi Arya disiksa oleh putri kita. Sepertinya saat besar nanti, dia akan mewarisi sifatku yang arogan," ucap Queen dengan terkekeh.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Aditya sudah mengarahkan tangannya pada putrinya agar mau digendongnya. Saat Princess sudah ada dalam gendongannya, ia merapal sesuatu dan meniupkannya ke ubun-ubun putri kesayangannya.


Semua orang yang melihat perbuatan dari Aditya yang seperti seorang dukun saja, mengernyitkan keningnya masing-masing. Begitu juga dengan Queen yang merasa sangat penasaran dengan hal yang dilakukan sang suami pada putrinya.


"Apa yang My hubbiy lakukan pada Princess? Kayak dukun saja."

__ADS_1


"Iya, seperti dukun yang menyembur pasiennya," ucap Sabrina yang menyahuti pertanyaan dari Queen barusan.


Aditya hanya terkekeh geli menanggapi kalimat dari 2 wanita yang menyalahartikan kegiatannya. "Aku bukan dukun, ini hanya sebuah doa dari ayah yang mendoakan putrinya saja. Agar suatu saat nanti, Princess menjadi anak shalihah dan membanggakan orang tuanya. Itu, saja."


"Aamiin ya rabbal alamin." Semua orang mengaminkan doa dari seorang pria sholeh luar biasa tersebut.


Beberapa saat kemudian, Dave dan Sabrina berpamitan pada tuan rumah setelah melihat orang tuanya keluar dari pintu utama Mansion.


********


🍃 Kediaman Sabrina 🍃


Suasana malam hari di kediaman pasangan suami istri yang tak lain Dave dan Sabrina, terlihat sudah sangat sepi setelah orang tuanya kembali ke rumah. Sementara itu, asisten rumah tangganya pun sudah beristirahat di dalam kamarnya setelah tidak ada lagi pekerjaan.


"Sayang, kamu sudah tidur atau sedang berpura-pura tidur? Aku ingin membahas tentang Leo!"


Awalnya, Sabrina berpikir bahwa masalahnya sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas. Namun, begitu ia mendengar suara bariton dari sang suami yang menyebut nama pria tidak penting baginya, membuatnya langsung membuka kelopak mata dan menatap menelisik pada Dave.


"Apa lagi? Bukankah masalahnya sudah selesai dari tadi? Kami hanya berteman dan sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa, Sayang. Astaga, jangan membuat hal sepele menjadi besar dan kita berakhir ribut."


Dave refleks bangkit dari posisinya yang awalnya berbaring, kini menjadi duduk bersila. "Aku tahu itu, tetapi aku ingin meminta penjelasanmu tentang perbuatanmu tadi yang asyik bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimmu. Padahal kamu sudah mempunyai seorang suami dan aku ada di sana tadi. Bisa-bisanya kamu bersentuhan secara fisik dengan pria lain. Astaga, bahkan rasanya aku tadi ingin menyeretmu agar menjauhi pria yang bilang kamu adalah cinta pertamanya."


Sabrina menelan salivanya dan merasa kebingungan saat menyadari kebodohan yang ia lakukan. "Itu refleks terjadi, Sayang. Karena efek aku sangat kesal padanya. Kamu tahu, kan kalau saat aku kesal, selalu tidak bisa menahan diri. Kalau tidak mengomel, aku memukul dan meninju. Bukankah kamu tahu itu?"


"Oh ... jadi seperti itu? Apakah aku boleh melakukan hal yang sama pada Desy? Padahal saat itu, aku hanya berbicara saja dengan dia, tetapi kamu malah marah-marah tidak jelas dan mengancamku. Kenapa malah sekarang kamu dengan mudahnya berbicara seperti ini? Ini namanya tidak adil dan wajar sekali jika aku marah padamu." Dave yang sudah terbakar amarah, masih mengunci tatapan Sabrina yang saat ini terlihat sangat kebingungan setelah mendengar perkataannya.

__ADS_1


Karena merasa kalah telak dengan kalimat menohok yang diungkapkan oleh sang suami, Sabrina yang merasa sangat bersalah, akhirnya memilih menyerah karena tidak ingin pertengkarannya semakin besar. Sehingga ia memilih untuk mengakhiri adu mulut bersama pria yang masih dikuasai oleh api cemburu pertanda cinta.


"Baiklah ... baiklah, aku mengaku salah. Memang aku tadi tidak bisa mengontrol diri. Akan tetapi, kamu jangan pernah berbuat hal yang sama dengan Dessy! Karena hubungan kalian berbeda."


"Maksudmu? Berbeda apanya?" tanya Dave dengan tegas.


"Leo kan tergila-gila padaku dan kami merupakan teman baik dulu. Sedangkan kamu dan Desy hanya teman biasa, kan!" Sabrina melihat reaksi dari sang suami yang sudah mengeratkan rahangnya hingga berbunyi saat gemeretak giginya saling beradu.


"Oh ... jadi kamu merasa karena Leo mencintaimu dan kalian adalah teman dekat, jadi kamu menganggap berbeda dengan hubunganku bersama Desy? Menurutmu apa yang membuat dia tidak menikah hingga saat ini?" Dave bersedekap di dada dan melihat ekspresi wajah Sabrina yang terlihat mengerutkan kening.


"Jangan bilang kalau Desy seperti Leo," seru Sabrina yang merasa kesal.


"Ya iyalah, dia dulu juga mencintaiku karena aku termasuk salah satu pria paling populer di sekolah. Jadi, jangan menganggap suamimu ini pria tidak laku karena tidak pernah berpacaran." Dave tersenyum menyeringai pada Sabrina yang saat ini tengah mengepalkan tangannya.


Sabrina yang merasa telah dibohongi, refleks langsung mengarahkan tangannya yang mengepal ke arah perut berotot sang suami yang telah membodohinya selama ini. Karena tidak jujur dari awal dan memilih untuk menyembunyikan sebuah kenyataan penting.


"Dasar suami pembohong! Aku habisi, kamu sekarang!"


Dave yang malah terkekeh melihat kemurkaan sang istri saat memukulinya, refleks langsung membalik keadaan dengan membuat Sabrina telentang di ranjang dan mengunci posisi dengan menahan kedua tangan itu. Ia mengarahkan tatapan tajam seperti seekor harimau yang ingin memangsa tangkapannya.


"Bukan kamu yang menghabisiku, tetapi aku yang menghabisimu, Sayang."


Tanpa membuang waktu atau menunggu jawaban dari sosok wanita yang terdiam saat berada dalam kuasanya, Dave sudah membungkam bibir sensual itu dan menjelajahi setiap inchi tubuh seksi yang memakai lingerie tipis tersebut.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2