Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Siapa wanita itu?


__ADS_3

Aditya mencoba untuk menghentikan perdebatan dari 2 wanita yang sama-sama merasa paling benar tersebut dengan suara tegasnya. Dengan posisi bangkit berdiri, ia menatap ke arah Queen dan Sabrina secara bergantian. "Sudah ... sudah! Lebih baik hentikan perdebatan ini dan lanjutkan makannya. Dilarang berbicara saat makan, karena itu merupakan adab saat makan dan minum."


Kemudian ia kembali duduk dan meraih makanan miliknya yang ada di atas meja. Tanpa menatap ke arah sang istri, Aditya mulai melanjutkan menikmati mie Aceh yang sudah dingin dan terasa tidak nikmat lagi. Ia sengaja tidak menatap ke arah wanita yang berada di sebelahnya, agar sang istri menyadari kesalahannya. Karena tidak menepati janji untuk tidak bertengkar dengan Sabrina.


Baru pertama kali, Queen melihat wajah masam dari pria yang saat ini tengah marah dan tidak mau menatapnya. Sehingga ia merasa bersalah, karena membuat pria yang sudah sibuk makan itu kesal. Saat ini Queen menatap tajam ke arah Sabrina yang duduk di depannya.


"Gara-gara Sabrina, membuatku merasa emosi. Ditambah lagi dengan penelfon rahasia tadi, menyebalkan," gumam Queen yang masih menatap tajam wanita di depannya.


Akhirnya, Queen mengikuti sang suami yang menikmati kuliner khas Aceh tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sementara itu, Sabrina yang merasa sangat kesal karena ikut dimarahi oleh mantan kekasih, membuat ia merasa dongkol. Bukan tanpa alasan, tetapi karena faktanya selalu merasa kalah jika berdebat dengan sang nona muda yang punya banyak uang tersebut. Akan tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantah dan harus pasrah ketika masa depannya dipertaruhkan saat tiba-tiba keluarga Raharja datang ke rumah untuk melamar.


"Sabar ... sabar, Sabrina. Jalani saja semuanya seperti air yang mengalir. Ini semua demi nama baik keluargamu, ingat itu. Dave tidak akan macam-macam padamu, karena dia akan kehilangan semua hartanya jika sampai itu terjadi. Tidak mungkin ia rela kehilangan hasil jerih payahnya, bukan?" gumam Sabrina.


Suasana penuh keheningan di ruangan presiden direktur tersebut selama beberapa menit saat 4 orang tersebut menikmati makanannya masing-masing. Beberapa menit kemudian, Aditya dan Dave sudah menyelesaikan ritual makan siang. Sedang 2 wanita yang tadi bersitegang itu masih belum selesai.


"Biar saya saja, Tuan muda," seru Dave yang berniat membuang bekas makanan setelah membereskannya.


"Terima kasih," jawab Aditya yang tidak jadi berjalan keluar untuk membuang bekas bungkus makanan. "Oh ya, Dave." Aditya berusaha menghentikan langkah kaki Dave yang sudah hampir sampai di depan pintu.


Dave langsung berbalik menatap ke arah Aditya dengan mengehentikan langkahnya. "Iya, Tuan muda. Apa Anda membutuhkan sesuatu?"


"Tidak, bukan itu. Bukankah kamu membutuhkan bantuanku untuk membuat laporan dari divisi yang aku pegang dulu?" tanya Aditya yang sudah bangkit berjalan mendekati Dave.


"Iya, Tuan muda," jawab Dave yang tak lupa sudah menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu kita kerjakan saja sekarang, aku buru-buru soalnya. Jadi, kita ke ruanganmu!" seru Aditya yang sudah mengarahkan tangannya ke pundak Dave dan menghelanya agar segera keluar dari ruangan tersebut.


Sejujurnya ia saat ini sedang membutuhkan udara segar di luar, karena merasa sesak saat berada di dekat sang istri yang dari tadi tidak berhenti marah-marah. Kemudian keduanya mulai berjalan ke arah pintu meninggalkan 2 wanita tersebut.


Sementara itu, Queen hanya menatap kepergian dari sang suami yang jelas-jelas sedang menghindar darinya. Namun, menyadari kesalahannya yang sama sekali tidak menuruti perintah dari pria yang baru saja meninggalkannya.


"My hubbiy sepertinya sangat marah. Karena itulah tidak mau melihatku dan juga pergi begitu saja. Ternyata bisa marah juga dia. Aku pikir dia selamanya tidak akan pernah marah dan selalu bersabar atas perbuatanku. Sepertinya aku harus menyusun rencana untuk membuatnya tidak marah lagi," gumam Queen di dalam hati.


Sabrina baru saja selesai menikmati makanannya, sekilas ia melirik ke arah Queen yang terlihat tengah melamun. Senyuman penuh kemenangan terbit dari wajahnya saat merasa senang ketika Aditya sudah meninggalkan Queen.


"Rasain, itulah hukuman untuk istri durhaka yang selalu membantah apa kata suami. Semoga setiap hari mereka bertengkar dan mas Aditya lama-lama akan ilfil pada nona muda arogan itu dan memilih menceraikannya. Kemudian mereka bercerai dan mas Aditya akan menyadari bahwa Queen sangat tidak pantas untuknya," gumam Sabrina.


Queen yang sudah selesai berkutat dengan pikirannya, sekilas menatap ke arah Sabrina. Bisa dilihatnya senyuman mengembang tampak dari sana. Tentu saja ia merasa sangat kesal melihat senyuman dari mantan kekasih suaminya.


Karena saat ini bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Sabrina. Sebenarnya ingin sekali tangannya menjambak rambut panjang wanita tersebut, tetapi ia mengingat bahwa pria yang sangat dicintainya akan semakin kesal padanya. Sehingga dengan sekuat tenaga, ia menahan diri agar tidak membuat kesalahan lagi.


"Lihatlah."


"Apa?" tanya Sabrina dengan mengerutkan kening.


"Orang tuamu terlihat sangat bahagia," ujar Queen dengan tersenyum menyeringai penuh kemenangan. "Mereka pasti merasa senang saat orang tuaku datang untuk melamarmu. Selamat," ucap Queen dengan mengulurkan tangan ke arah Sabrina.


"Anda tidak perlu repot-repot mengucapkan selamat pada saya, Nona muda. Akan tetapi, terima kasih." Sabrina dengan terpaksa menjabat tangan dari Queen, karena ia tidak ingin mencari masalah saat wanita di depannya itu sudah tidak mencari gara-gara lagi dengannya.


"Aku tidak ingin membuat mas Aditya ilfil padaku. Jadi, aku harus bersikap baik. Sepertinya aku harus beralih strategi untuk mendapatkan kembali hatinya," gumam Sabrina.

__ADS_1


Queen menaikkan kedua alisnya begitu melihat sikap manis dari Sabrina yang sudah tidak marah-marah lagi seperti beberapa saat yang lalu. "Ternyata kamu bisa bersikap baik juga. Akan tetapi, kenapa aku malah merasa curiga kamu mempunyai sebuah rencana licik." Menatap tajam seolah ingin membaca apa yang ada di pikiran mantan kekasih dari suaminya.


"Ternyata sikap baik malah selalu berakhir dicurigai. Terserah Anda saja, Nona muda. Mau menilai aku baik atau buruk pun terserah Anda. Jika tidak ada yang ingin Anda katakan, saya permisi." Sabrina bangkit dari sofa setelah sebelumnya membereskan bekas makanannya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Sementara itu, Queen yang berniat untuk menghentikan langkah kaki dari Sabrina, tidak jadi melakukannya karena mendengar dering ponsel milik sang suami. Karena sangat hafal dengan nomor asing yang beberapa saat lalu menelfon, membuat ia langsung mengangkat panggilan dan mengeluarkan umpatannya.


"Halo, assalamualaikum. Lebih baik kamu berbicara sekarang atau aku akan menjebloskanmu ke penjara karena mengganggu ketenangan orang lain."


Hening untuk beberapa saat, hingga suara dari seorang wanita mulai terdengar.


"Halo, wa'alaikumsalam. Ini benar nomor Mas Aditya, kan? Kamu siapa?"


"Konyol sekali pertanyaanmu, seharusnya aku yang bertanya padamu. Siapa kamu sebenarnya, kenapa dari tadi menghubungi suamiku. Cepat katakan!"


"Oh ... maaf, mungkin saya salah orang."


"Apa maksudmu? Bukannya tadi kamu bilang nama Aditya? Jangan mencoba berbohong padaku."


"Iya, memang saya bilang Mas Aditya tadi, tetapi dia mengaku belum menikah. Mungkin lain orang, kalau begitu saya tutup telfonnya, Nona."


Queen baru saja membuka mulutnya untuk menghentikan wanita tersebut agar tidak menutup telfon. Namun, sudah terlambat, karena panggilan sudah terputus.


"Berengsek, aku belum selesai berbicara, tetapi dia sudah menutup panggilan secara sepihak. Sebenarnya siapa wanita itu? Konyol sekali perkataannya tadi yang mengatakan bahwa My hubbiy belum menikah. Tidak mungkin suamiku berbicara seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus menyelidiki hal ini," ujar Queen yang masih mengamati ponsel pintar suami di tangan kanannya.


Tanpa Queen sadari, ada sosok wanita yang dari tadi berada di depan pintu mendengar pembicaraannya. Yaitu, Sabrina yang sudah tidak jadi pergi begitu mendengar suara teriakan Queen saat berbicara di telefon.

__ADS_1


"Wanita? Memangnya siapa wanita yang menghubungi mas Aditya? Kenapa rasanya sangat aneh? Bahkan saat bersamaku dulu, tidak ada 1 wanita pun yang menghubunginya. Karena ia tidak menyimpan nomor wanita lain selain aku," lirih Sabrina yang berlalu pergi meninggalkan ruangan presiden direktur dengan berbagai macam pertanyaan di pikirannya.


TBC ...


__ADS_2