
Aditya yang saat ini menopang tubuh Sabrina yang sudah pingsan, mendengar teriakan dari sang istri yang sudah terlihat sangat murka saat melihatnya. Refleks ia berteriak pada Dave yang terdiam di tempatnya, seperti orang yang baru saja mengalami shock.
"Dave, kenapa diam saja. Cepat bawa istrimu ke dalam kamar!" teriak Aditya yang mencoba untuk menyadarkan Dave dari lamunannya.
"Baik, Tuan muda," jawab Dave yang langsung mengarahkan tangannya untuk merengkuh tubuh Sabrina ke atas lengannya dan membawanya masuk ke dalam dan merebahkannya di atas ranjang. Ia tadi benar-benar merasa sangat shock saat melihat sang istri yang tiba-tiba pingsan dan sudah ditolong oleh tuan mudanya karena posisinya yang membelakangi, membuatnya tidak mengetahui bahwa Sabrina sudah berada di belakangnya.
"Istriku, kamu kenapa?" tanya Dave yang terlihat sangat khawatir karena melihat wajah pucat dari wanita yang sedang terbaring di atas ranjang.
Sementara itu, Aditya yang masih berada di depan pintu, merasa kebingungan karena sosok wanita di depannya tengah mengarahkan tatapan tajam seolah ingin memangsanya. Sehingga ia yang bisa membaca kecemburuan dari Quee. Ia saat ini tengah berpikir keras untuk mencoba memadamkan amarah dari sang istri.
"Sayang, jangan marah. Aku tidak dengan sengaja menyentuh Sabrina tadi. Kamu lihat sendiri kan, kalau dia pingsan. Jadi, aku hanya tidak ingin membuatnya jatuh terbentur lantai."
"My hubbiy!" Queen berteriak dengan lengkingan suaranya, bahkan tangannya sudah mengepal erat. "Keong racun bukan muhrimmu, bukankah itu yang selalu My hubbiy ucapkan setiap hari. Lalu kenapa malah memegang si keong racun. Mau dia jatuh di lantai, itu bukan urusanmu. Seharusnya Dave yang menolongnya, kenapa harus repot-repot segala. Pokoknya aku tidak mau tahu, cepat mandi dan buang bekas dari wanita itu dari tanganmu. Aku tidak mau kamu menyentuhku dengan tangan yang bekas dari wanita lain," sarkas Queen yang sudah berjalan meninggalkan Aditya dengan tangan yang masih mengepal menahan amarah.
Aditya melihat siluet Queen dari belakang yang berjalan dengan sesekali menghentakkan kakinya. Kini tangannya sudah memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing dengan sikap over possesive dari sang istri. Kemudian ia menatap ke arah Dave yang baru saja keluar dari kamar menghampirinya.
"Apakah kamu sudah menghubungi dokter, Dave? Sepertinya istrimu kecapekan."
Dave menggaruk tengkuk belakangnya karena merasa malu ketahuan terlalu memforsir tenaga sang istri hingga bisa pingsan. "Sudah, Tuan muda. Sepertinya yang Anda katakan, benar. Tadi aku lupa membuang air minumnya, jadi Sabrina sudah beberapa kali meminumnya. Sepertinya ini efek karena dia terlalu banyak minum."
"Jadi seperti itu, tetapi kamu tenang saja karena tadi istriku menyuruh staf hotel untuk memberikan dosis rendah yang tidak akan membahayakan kesehatan kalian. Baiklah, kamu tunggu dokter datang. Aku mau menemui nona mudamu yang sedang merajuk dan murka. Maaf jika tadi aku refleks menahan tubuh istrimu, aku tidak bermaksud apa-apa. Semoga kamu mengerti," ujar Aditya yang sudah menepuk bahu kokoh Dave.
__ADS_1
Dave mengangguk hormat, "Tidak apa-apa, Tuan muda. Aku bisa mengerti, karena tidak ada pria sebaik Anda yang berhati bersih. Selamat berjuang, Tuan muda. Taklukkan nona muda dengan ketulusan Anda, semoga masalahnya segera selesai."
"Aamiin ya rabbal alamin, terima kasih." Aditya berlalu pergi meninggalkan Dave menuju ke kamar sebelah. Untuk sesaat ia mengambil napas teratur dan mulai berjalan masuk setelah membuka pintu. Kaki panjangnya mulai melangkah ke dalam, mencari sosok wanita yang diketahuinya tengah merajuk. Bisa dilihatnya sang istri tengah berkemas, memasukkan pakaian ke dalam sebuah koper kecil.
"Sayang ...."
"Cepat mandi! Kita pulang sekarang, aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan Sabrina. Apalagi pasti sekarang kamu mengkhawatirkan siput itu kan?" sarkas Queen yang merasa sangat kesal saat membayangkan kejadian beberapa saat yang lalu di depan kamar pasangan suami istri di kamar sebelah
"Sayang, kamu sedang cemburu berlebihan. Tenanglah, jangan suka marah-marah. Bumil tidak boleh marah-marah, nanti anak kita jadi sepertimu, Sayang." Aditya berusaha menenangkan Queen dengan cara mendekatinya.
Queen refleks mengarahkan tangannya ke depan saat melihat tangan Aditya hendak menyentuh pundaknya. "Stop! Jangan sentuh aku dengan tangan itu, aku tidak ingin ada bekas Sabrina menempel di tubuhku. Bukankah aku sudah menyuruhmu mandi!"
"Iya ... iya, aku tidak akan marah. Sana, mandi!" Queen mengibaskan tangannya untuk segera mengusir pria yang membuatnya merasakan cemburu saat menyentuh Sabrina di hadapannya.
"Alhamdulillah," ucap Aditya dengan seulas senyum terbit dari wajahnya begitu mendengar jawaban dari Queen yang tidak memperpanjang masalah sepele tersebut. Kemudian ia melangkah menuju ke arah kamar mandi untuk mandi kedua kalinya.
Sementara itu, Queen yang sudah selesai berkemas, bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar untuk menemui mantan pengawalnya. Begitu sampai di depan pintu kamar Dave, ia mengetuk pintu.
"Dave."
Beberapa saat kemudian, pintu mulai terbuka dan Dave berada di balik pintu. "Nona muda."
__ADS_1
"Apakah si siput masih belum sadar?" tanya Queen dengan wajah datarnya. "Sepertinya kalian berdua terlalu memforsir tenaga kalian semalam. Biar aku periksa dulu."
Dave yang merasa malu, tidak berani membuka suara dan membiarkan nona mudanya masuk ke dalam kamar. "Sepertinya istriku memang kelelahan, Nona muda. Itu karena dia berkali-kali minum air itu."
Queen sama sekali tidak memperdulikan perkataan dari Dave yang mencoba menjelaskan, karena saat ini ia tengah fokus menatap ke arah sosok wanita yang terbaring di atas ranjang. Sejujurnya ia ingin memastikan sendiri keadaan dari mantan kekasih sang suami. Apakah benar-benar pingsan atau hanya sedang berpura-pura. Sehingga ia tidak akan merasa tenang jika tidak memastikannya sendiri.
"Sebenarnya si siput ini benar-benar pingsan atau hanya berpura-pura di depan My hubbiy? Jika sampai dia hanya berpura-pura, aku benar-benar akan menghabisimu, Sabrina," gumam Queen yang sudah mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang terbaring di atas ranjang.
Queen mulai memeriksa denyut nadi, mata dan mulut Sabrina untuk memastikan kecurigaannya. Hingga ia bernapas lega setelah mengetahui kesimpulannya.
"Apakah kamu sudah memanggil dokter, Dave?"
"Sudah, Nona. Akan tetapi, mungkin agak sedikit terlambat karena macet."
"Siputmu ini tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Aku akan memberikan resep untuk memulihkan staminanya. Suruh orang untuk membelinya di apotik. Oh ya, lebih baik kamu puasa dulu sampai istrimu, pulih. Jika dia yang menyerangmu, kamu jangan terlalu bersemangat hingga membuatnya kelelahan. Aku mau kembali ke Mansion sekarang, kalian bisa pulang ke rumah baru setelah berbulan madu. Aku pergi!" Queen berniat menepuk bahu kokoh Dave, tetapi ia mengingat tangan sang suami yang tadi menyentuh tubuh Sabrina dan membuatnya murka.
Sehingga ia mengurungkan niatnya, "Aku lupa kalau kita bukan muhrim. Hampir saja aku melakukan kesalahan, Dave. Sekali lagi selamat, semoga adonannya segera jadi," ucap Queen dengan terkekeh saat berjalan meninggalkan mantan pengawal pribadinya.
Sedangkan Dave hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal mendengar kalimat ambigu dari majikannya. "Adonan? Apa maksud nona muda? Siapa yang membuat adonan roti?"
TBC ...
__ADS_1