Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Aku tidak bisa berhenti


__ADS_3

Setelah bergulat di atas ranjang selama beberapa menit dan membuat berantakan sprei, pasangan suami istri yang sudah dipenuhi peluh setelah olahraga pagi tersebut masih berusaha untuk menormalkan deru napasnya yang memburu. Sabrina yang saat ini masih memejamkan kedua matanya, merasa sangat malu, karena berhasil ditaklukkan oleh Dave yang selalu memaksanya bercinta ketika sedang marah.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu selalu dikalahkan oleh Dave yang sangat licik. Suamiku benar-benar sangat licik sekali karena memanfaatkan kelemahanku dengan bercinta. Aku memang sudah gila, karena selalu lemah dan terbuai dengan kegilaannya," batin Sabrina yang masih belum membuka matanya karena malu.


Sementara itu, Dave yang sudah berhasil menormalkan napas yang memburu, melirik sekilas ke arah Sabrina yang masih terdiam dan memunggunginya. Ia pun langsung bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring telentang di atas ranjang sebelah sang istri dan melihat wajah cantik Sabrina yang terlihat sangat cantik saat dipenuhi wajah yang memerah setelah dikuasai oleh gairah.


"Sayang."


Hening beberapa saat dan membuat Dave mengarahkan tangannya pada pipi putih Sabrina. "Bukalah matamu, Sayang. Kamu masih marah? Aku minta maaf dan jangan marah lagi, ya. Baiklah, aku akan menarik kata-kataku. Nanti aku akan bilang pada Desy agar tidak ke sini."


Awalnya, Sabrina masih merasa kesal sekaligus malu. Akan tetapi, begitu mendengar perkataan dari Dave yang mulai mengerti dengan kekhawatirannya, hatinya pun mulai luluh dan juga merasa sangat lega. Ia pun perlahan membuka kedua matanya dan langsung ber-sitatap dengan netra pekat milik sang suami yang berada di depannya.


"Benarkah yang kamu katakan itu?"


Dave tersenyum tipis dengan sebuah anggukan kepala, "Tentu saja benar. Memangnya suamimu yang sangat tampan ini pernah berbohong? Bukankah selama ini aku selalu menuruti apapun keinginanmu?"


Sabrina yang membenarkan perkataan dari Dave karena semenjak menikah, apapun yang dimintanya, selalu dituruti. Pernah ia asal meminta untuk dibelikan mobil dan beberapa hari kemudian, mobil sedan Honda jazz berwana merah sudah terparkir rapi di depan rumah.


Semenjak saat itu, ia berhati-hati saat meminta sesuatu karena tidak ingin membuang-buang uang. Tentu saja pada akhirnya, mobil yang dibelikan oleh Dave tidak bisa ia pakai karena hamil. Selain untuk kebaikannya, sang suami pun sangat over protective, karena tidak mengijinkannya untuk mengemudikan mobil sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Akan tetapi, jangan mengulang kembali kesalahan ini. Sebagai seorang istri, aku harus waspada pada setiap wanita yang berada di sekitar suami. Karena jika aku lengah sedikit saja, pelakor akan memanfaatkan hal itu dan mungkin akan menghancurkan keutuhan rumah tangga kita," ucap Sabrina yang masih terus berusaha untuk mendoktrin pikiran Dave agar lebih berhati-hati terhadap para wanita di sekitarnya.


Dave tidak membuang waktu karena langsung mengiyakan perkataan dari sang istri dengan sebuah anggukan kepala. "Iya, Sayang. Aku akan selalu mengingatkannya. Melihatmu seperti ini, aku jadi teringat dengan sikap nona muda pada tuan muda yang over possesive. Aku mencium ada bau-bau posesif di sini. Sepertinya tadi kamu merasa cemburu padaku."


Sabrina hanya tersenyum kecut saat Dave tersenyum menyeringai ke arahnya. "Terserah apa yang kamu pikirkan, karena aku hanya ingin mengingatkanmu."


"Ternyata seperti ini rasanya dicemburui oleh istri sendiri. Ada senang, kesal dan marah. Semuanya bercampur menjadi satu dan terasa nano-nano. Akan tetapi, aku sangat suka. Karena itu menandakan bahwa kamu sangat mencintaiku. Bukankah begitu, Sayang. Ah ... sudahlah, aku tidak akan berharap kamu menyatakan cinta padaku, karena dari dulu tidak pernah terjadi. Sebaiknya kita mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke acara syukuran, sekaligus pemberian nama putri nona muda."


Dave berniat untuk mandi terlebih dahulu. Akan tetapi, saat ia baru berjalan beberapa langkah, suara dari Sabrina, membuatnya menghentikan langkahnya.


"Dasar suami bodoh!" ujar Sabrina dengan sangat kesal setelah mendengar kalimat terakhir dari Dave.


"Iyalah, kamu bodoh. Jika aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku tetap berada di sisimu sampai sekarang. Mungkin aku sudah menuntut cerai. Cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi bisa ditunjukkan dengan perbuatan. Apakah sikapku yang dari selalu berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik, tidak membuatmu menyadari bahwa aku mencintaimu?" Sabrina tak kalah mengeraskan nada suaranya untuk menyadarkan Dave yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


Dave yang tadinya merasa sangat kesal, mendadak merasa senang begitu mendengar kalimat terakhir yang lolos dari bibir Sabrina. Sehingga ia langsung berjalan mendekati wanita yang sudah duduk di tepi ranjang dengan menutupi tubuh polos memakai selimut.


"Apa, Sayang. Coba katakan sekali lagi pada kalimat terakhir, aku ingin mendengarnya lagi."


Sabrina hanya menatap kesal sosok pria yang sudah berjongkok di bawahnya dan menahan pahanya. "Tidak ada siaran ulang. Aku mau mandi dulu, kamu belakangan saja karena lady first."

__ADS_1


Dave menggelengkan kepala dan tidak melepaskan tangannya pada paha Sabrina. "Aku tidak akan melepaskanmu jika kamu tidak mengatakannya sekali lagi. Ayolah, Sayang. Katakan padaku sekali lagi, ya."


"Astaga!" Sabrina yang merasa sangat geram, refleks mencubit pipi putih Dave yang mengarahkan tatapan penuh permohonan. "Aku mencintaimu. Sudah, apa kamu puas?"


Lagi-lagi Dave menggelengkan kepala, "Belum, lagi!"


Sabrina sudah menepuk jidatnya menanggapi Dave yang seperti mengerjainya. Namun, ia sangat suka saat melihat ekspresi wajah tampan itu saat berjongkok di bawah kakinya. Wajah dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam berhasil membuatnya memiliki rasa cinta yang lama-lama tumbuh dan berkembang di dalam hatinya seiring dengan perlakuan manis dari Dave setiap hari saat menghujaninya dengan cinta.


"Aku mencintaimu ... aku mencintaimu, Suamiku. Bagaimana, apa kamu sudah puas?" Baru saja Sabrina menutup mulutnya, Dave sudah beranjak dari posisinya dan membungkam mulutnya.


Karena merasa sangat senang dan bahagia, Dave yang gemas pada Sabrina refleks langsung mengarahkan bibirnya untuk mencium bibir sang istri. Tentu saja bukan hanya sebuah kecupan ringan. Akan tetapi, penuh dengan sebuah sesapan dengan lidah yang sudah saling membelit karena Sabrina langsung membalas perbuatannya.


Beberapa saat kemudian, keduanya melepaskan pagutannya karena kehabisan pasokan oksigen di dalam paru-parunya. Dengan tatapan parau dan gelap dari masing-masing yang menandakan bahwa saat ini, mereka sama-sama kembali dibakar gairah yang sudah menyeruak memenuhi jiwanya.


Dave membersihkan sisa perbuatannya dengan ujung jarinya, "Apakah ronde kedua bisa dimulai sekarang, Sayang?"


Sabrina yang merasa sangat malu, hanya mencubit perut sixpack pria yang sudah mengedipkan mata ke arahnya. "Dasar suami nakal, selalu membuatku gila. Aku tidak bisa berhenti dan ingin melanjutkannya."


Dave hanya terkekeh mendengar jawaban dari Sabrina yang menatapnya dengan tatapan parau. "Aku pun bisa gila jika tidak melanjutkannya, Sayang." Dave kembali membuai sang istri dengan sentuhan dan belaian untuk kembali mencapai puncak kenikmatan menuju surga dunianya dan ruangan kamar berukuran luas tersebut sudah dipenuhi oleh desahan dan lenguhan panjang dari keduanya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2