
Para staf perusahaan baru saja keluar dari ruangan berukuran sangat luas tersebut, begitu meeting selesai. Sedangkan 3 orang yang merupakan orang penting di Perusahaan Raharja Group masih duduk di kursinya. Yaitu, Queen yang masih duduk di kursi yang berada di sebelah saudara laki-lakinya. Sedangkan Aditya terlihat sudah berjalan mondar-mandir seperti orang yang tengah kebingungan saja.
Sementara itu, Arthur tidak berhenti memijat pelipisnya dan geleng-geleng kepala saat menatap wajah yang seolah tak berdosa adik perempuannya.
"Astaga ... tingkahmu sudah benar-benar memalukan, Queen. Apa yang akan dipikirkan oleh para staf wanita di perusahaan ini. Seharusnya kamu tidak perlu memberikan sebuah pengumuman konyolmu itu, karena semua pegawai wanita di sini sudah tahu kalau wanita-wanita di keluarga Raharja bukanlah wanita sembarangan. Sudah cukup mama dari kelima anakku memberikan ancamannya pada semua wanita yang bekerja di sini."
"Kamu malah manambah lagi masalah untuk mempermalukan keluarga Raharja. Bahkan bisa dibilang ini lebih parah, karena kakak iparmu dulu hanya membuat sebuah pengumuman melalui grup chat perusahaan. Bukan mengumumkan lewat meeting konyol seperti ini."
Queen terlihat menutupi kedua telinganya saat mendengar celotehan panjang lebar dari saudara laki-lakinya. Begitu abangnya selesai berbicara, ia langsung mengeluarkan kekesalannya. "Aku hanya ingin melindungi suamiku dari bibit pelakor yang semakin merajalela di dunia ini, Brother. Jadi, jangan pernah melarangku atau mengejek apa yang aku lakukan! Ini adalah sebuah bentuk penjagaan ketat dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Para wanita yang ada di keluarga Raharja harus tegas pada bibit pelakor yang mengancam rumah tangga kita. Kalau aku tidak tegas pada para staf wanita di perusahaan ini, bisa-bisa mereka sering melirik dan mengincar suamiku yang merupakan pria idaman bagi semua wanita," sahut Queen dengan nada tegas.
"Astaga, kamu ini benar-benar lebay. Sudahlah, aku pusing jika terus-terusan berdebat denganmu." Arthur bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Aditya, "Ruangan kerjamu ada di lantai 10 yang bersebelahan dengan ruanganku. Jangan merasa kaget atau terkejut nanti, karena di lantai paling atas itu sama seperti kuburan. Sangat sepi dan hanya ada 3 pria yang berada di sana, yaitu aku, asistenku dan terakhir kamu. Tidak ada sekretaris seksi dan cantik karena ulah para wanita di keluarga Raharja. Jadi, jangan kecewa. Aku pergi," ucap Arthur yang sudah menepuk pundak dari adik iparnya.
Aditya menganggukkan kepalanya, "Baik Presdir, insyaallah saya tidak akan merasa kecewa karena malah tenang saat tidak zina mata jika melihat wanita berpakaian kurang bahan yang memamerkan auratnya di depan laki-laki."
"Ternyata kamu memang manusia yang berasal dari planet lain," sindir Arthur seraya berlalu pergi dari ruangan meeting, meninggalkan adik perempuan dan iparnya.
Aditya hanya diam saja saat dirinya disindir habis-habisan oleh abang dari sang istri, karena ia hanya mengamati siluet dari pria yang baru saja menghilang di balik pintu. Kemudian beralih menatap ke arah sang istri yang bangkit dari kursinya seraya menampilkan senyuman paling manis padanya.
"Setelah mengeluarkan ancamanmu pada semua pegawai wanita di sini, sekarang kamu tersenyum manis seolah tak pernah terjadi apa-apa saja. Padahal, baru beberapa menit yang lalu kamu mempermalukan suamimu, Sayang."
__ADS_1
Queen mengangkat kedua alisnya, "Mana ada, aku sama sekali tidak mempermalukanmu, My hubbiy. Hanya saja, aku ingin melindungimu dari para keong racun. Terkadang berjaga-jaga sebelum terjadi suatu hal buruk itu tidak ada salahnya bukan? Seharusnya begitu kan? Bahkan daddy dulu berjaga-jaga dengan cara tidak mengijinkan mommy keluar rumah sama sekali. Dan sampai sekarang, rumah tangga mereka aman, damai, sentosa. Aku hanya ingin mengikuti jejak dari daddy, tapi dengan cara yang berbeda."
"Jadi, seperti ini caranya? Karena tidak mungkin kamu mengurungku di Mansion. Sayang, rasanya sekarang aku ingin menyentil keningmu untuk memberikan sebuah hukuman. Akan tetapi, aku tidak ingin melihat tanduk keluar dari kepalamu." Aditya terlihat tidak berkedip menatap wajah sang istri dan di pikirannya kini membayangkan saat wanita di depannya murka dan seolah keluar tanduk berwarna merah di kepalanya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya saat membayangkan hal konyol.
"Ganti saja hukumannya," sahut Queen dengan tersenyum smirk. Tanpa menunggu jawaban dari sang suami yang mengerutkan keningnya seolah tidak memahami perkataannya, Queen langsung menghambur memeluk tubuh sixpack Aditya dan meraup bibir tipis di depannya. Ia mulai sibuk menyesap dan bermain-main di setiap sudut bibir suaminya.
Aditya yang sedikit terhuyung ke belakang karena serangan tiba-tiba dari Queen, sama sekali tidak pernah menyangka jika istrinya sangat berani menciumnya di tempat yang bukan merupakan area pribadi. Karena tidak ingin membuat malu keluarga Raharja saat ketahuan berbuat mesum di kantor, refleks ia menghindar dengan memegangi kedua sisi lengan Queen dan menatapnya intens.
"Sayang, jangan mengajakku main di kantor. Memalukan jika sampai ada staf perusahaan yang melihatnya. Nanti malam saja di Mansion, ya! Sekarang waktunya aku bekerja untuk memenuhi kewajibanku memberikan nafkah lahir untukmu. Meski sebenarnya kamu tidak membutuhkan uang, karena penghasilanmu pun lebih banyak dariku. Akan tetapi, aku harus tetap melaksanakan kewajibanku sebagai seorang suami."
"Aku tahu, karena itulah kamu tidak perlu memikirkan masalah uang karena aku tidak membutuhkannya. Yang aku butuhkan hanyalah cinta dan sebuah kesetiaan darimu, My hubbiy. Aku lupa kalau saat aku menciummu, hasrat dan gairahmu bangkit untuk bercinta. Baiklah, selamat bercinta ... eh salah ngomong lagi. Selamat bekerja, My hubbiy. Aku pun akan ke rumah sakit. Ini aku yang mencium atau kamu untuk kiss bye?" tanya Queen dengan terkekeh.
"Isssh ... aku tadi benar-benar salah ngomong karena keceplosan, My hubbiy. Bukannya sengaja," kesal Queen seraya bersungut-sungut.
"Benarkah?"
"Iya, My hubby. Aku tidak bohong," ucap Queen yang masih kesal.
"Baiklah, aku percaya padamu, Sayang. Ayo, aku antarkan kamu ke depan." Aditya mengarahkan telapak tangannya pada Queen.
Queen menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu My hubbiy. Aku akan berangkat bersama para pengawal, My hubbiy bekerja saja."
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Aditya dengan ragu-ragu.
"Sangat yakin. Oh ya, aku ingin saat pulang kerja nanti My hubbiy datang ke rumah sakit. Aku ingin memastikan apakah benar sekarang ada benihmu di sini." Queen mengarahkan tangan sang suami di perutnya yang rata seraya tersenyum manis.
"Tentu saja, Sayang. Aku pun juga tidak sabar untuk mengetahuinya. Semoga kamu benar-benar hamil dan rumah tangga kita akan semakin lengkap saat mempunyai seorang anak. Belum apa-apa saja sudah membuat aku merasa deg-degan saja. Rasanya aku sudah tidak sabar pulang kerja untuk melihatmu di USG," ujar Aditya dengan wajah berbinar dan penuh semangat.
"Sabar, My hubbiy. Nanti juga kamu melihatnya," jawab Queen yang sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit gemas pipi sang suami. "Rasanya aku sangat gemas sekali padamu, My hubbiy."
"Jangan suka mencubit pipiku, Sayang!" Aditya menahan tangan Queen yang berada di pipinya.
"Memangnya kenapa?" Queen mengerutkan keningnya mendengar perkataan ambigu dari pria tampan di depannya.
"Karena rasanya sakit," jawab Aditya.
"Sakit? Konyol sekali," jawab Queen dengan tertawa terbahak-bahak.
"Kalau kamu tidak percaya, nih rasakan!" Aditya mulai mencubit gemas pipi putih sang istri. Namun, saat ia asyik merasa gemas dengan pipi Queen, tiba-tiba suara bariton dari seseorang menggema di ruangan meeting.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
TBC ...
__ADS_1