
Qisya yang berada di area depan Mansion untuk memeriksa para pekerja yang sedang sibuk menyirami tanaman di taman depan saat sore hari. Dan saat ia hendak kembali masuk ke dalam area Mansion untuk memeriksa para pelayan yang sibuk berkutat di dapur memasak untuk acara makan malam bersama keluarga besar nanti, suara teriakan dari putri satu-satunya itu tertangkap indera pendengarannya. Tentu saja keributan yang diciptakan oleh Queen, membuatnya ingin langsung melerai pertengkaran dari pasangan suami istri baru itu.
"Sebenarnya apa yang kalian ributkan?" tanya Qisya yang berjalan semakin mendekati putrinya yang wajahnya sudah berubah merah padam karena dikuasai oleh amarah.
Refleks Queen yang berdiri membelakangi arah sumber suara, menoleh ke belakang. Dan ia pun sangat terkejut begitu melihat pemandangan luar biasa yang sama sekali tidak pernah disangkanya.
"Mommy, kenapa ...." Belum sempat Queen melanjutkan perkataannya, suara dari sang suami yang mengungkapkan kalimat syukurnya terdengar jelas.
"Subhanallah, alhamdulillah," ucap Aditya yang berjalan ke arah mertuanya dan tak membuang waktu lama, ia langsung mencium punggung tangan wanita yang sudah memutuskan untuk berhijab. Karena melihat mertuanya saat ini tengah memakai gaun syar'i modern berwarna merah maroon dengan kerudung berwarna senada yang menutupi auratnya.
Qisya mengusap punggung lebar sang menantu kesayangannya. "Bagaimana penampilan Mama, Aditya? Apakah Mama masih terlihat cantik memakai hijab?"
"Subhanallah, tentu saja sangat cantik. Bahkan Mama sudah seperti seorang bidadari dan Mansion ini sudah dipenuhi oleh para wanita muslimah dan shalihah. Alhamdulillah, tidak ada kata yang paling indah untuk mengungkapkan semua berkah ini selain Subhanallah dan terima kasih pada Allah SWT karena telah memberikan sebuah hidayah pada istriku dan juga Mama."
__ADS_1
"Semua ini lewat perantara dirimu, Aditya. Apalagi saat Papanya Queen bilang kalau putri satu-satunya telah memutuskan untuk berhijrah menutup auratnya. Sejak saat itu, Mama tidak bisa tidur dan selalu gelisah memikirkan itu," ucap Qisya yang sudah membuka tangannya lebar-lebar pada putri kesayangannya. "Kemarilah, Sayang. Mommy sangat merindukanmu."
"Mommy," teriak Queen dengan wajah berkaca-kaca penuh haru dan menghambur langsung memeluk tubuh wanita yang sangat disayanginya. "Aku juga sangat merindukan Mommy. Queen sangat bahagia Mommy memutuskan untuk berhijab seperti ini. Alhamdulillah, ternyata aku membawa pengaruh yang baik untuk Mommy."
Qisya mengusap punggung putrinya yang memakai hijab simpel dan modern itu, lalu ia menatap ke arah sang menantu yang terlihat sangat bahagia melihat interaksinya bersama Queen. "Sepertinya keluarga Raharja mendapatkan sebuah berkah setelah Aditya masuk dalam keluarga ini. Alhamdulillah, Sayang." Beralih menatap ke arah sang menantu, "Terima kasih Aditya. Segala hal baik dan positif menghampiri keluarga ini semenjak kamu datang."
"Saya hanya perantara saja Ma, karena semuanya berasal dari Allah SWT. Alhamdulillah." Aditya tidak berhenti mengucap syukur melihat pemandangan yang menurutnya paling indah di depannya tersebut dan sangat menyejukkan mata. Belum selesai rasa kagumnya, ia kembali dikejutkan dengan pemandangan lain dari beberapa pelayan Mansion wanita yang semuanya kini memakai hijab.
Queen yang masih memeluk erat sang mommy pun ikut merasa terkejut saat melihat para pelayan wanita yang berlalu lalang di sekitar area depan Mansion, semuanya terlihat memakai hijab. Refleks ia melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah para pelayan tersebut. "Mom, itu ...."
"Aku ikut senang Ma, saat melihat sebuah kebaikan mengelilingi Mansion ini. Kalau begitu, aku temui Ayah dulu, Ma," ucap Aditya dengan tersenyum tipis seraya berjalan masuk ke dalam meninggalkan 2 wanita luar biasa yang sama-sama memiliki arti penting di dalam hidupnya.
Sementara itu, Queen yang ikut merasakan aura kebahagiaan saat melihat sang mommy dan para pelayan wanita di Mansion mengikuti jejaknya, terlihat tidak berhenti tersenyum dan melupakan pertengkarannya dengan sang suami beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Daddy kemana, Mom?"
"Sedang mengurus perusahaan yang baru di ambil alih bersama dengan Dave. Entahlah, kenapa sampai sekarang mereka belum pulang juga. Atau mungkin ada banyak hal yang perlu diurus juga mengenai pengangkatan dari beberapa orang baru. Mungkin sebentar lagi mereka pulang. Ayo, kita masuk ke dalam. Sebentar lagi Arthur dan keluarganya mungkin tiba. Mommy kangen cucu-cucu yang sangat menggemaskan itu, seandainya mereka semua tinggal di sini, pasti Mansion akan semakin ramai," ucap Qisya dengan wajahnya yang sedikit muram.
"Bukankah Mommy yang mendukung mereka untuk pindah ke rumah baru yang tidak ada tangganya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan? Padahal kalau menurut aku sih para pelayan di Mansion ini cukup untuk membantu mengawasi 5 anak Brother." Queen berjalan menuju ke arah pintu masuk utama Mansion dan mengekor sang mommy yang berada di depannya.
"Akan tetapi, Mommy tetap tidak mau mengambil resiko, Queen. Lebih baik cari aman agar cucu-cucuku aman. Tidak apa-apa Mommy tiap hari datang ke rumah mereka untuk melihat para Quint A. Oh ya, kamu mandi sana, Mommy mau ke dapur dulu untuk memeriksa para pelayan yang sedang memasak." Qisya mengibaskan tangannya pada putrinya seraya menutup hidungnya, "Bau dan ada banyak bakteri yang menempel di tubuhmu karena seharian berada di rumah sakit dan memeriksa pasien."
"Iya ... iya, aku akan pergi mandi, Mom. Aku tidak ingin menularkan virus di rumah ini," ucap Queen yang berlalu meninggalkan wanita yang sangat disayanginya itu menuju ke arah lift untuk menuju ke lantai 3, dimana ruangan pribadinya berada. "Aah ... aku sangat merindukan kasurku yang empuk. Semalaman tidur di ranjang tipis dan berdecit itu membuat tubuhku sakit semua. Apalagi My hubbiy selalu menggangguku."
Queen melangkah keluar dari lift begitu pintu besi tersebut terbuka. Refleks ia yang mengingat sesuatu, langsung menepuk jidatnya. "Astaghfirullah, aku bahkan sampai lupa untuk memberitahu pada Mommy kalau saat ini aku sedang hamil. Pasti Mommy akan merasa bahagia mendengar kabar gembira ini. Atau lebih baik nanti saja aku beritahukan saat acara makan malam, karena semua orang akan berkumpul nanti. Ya, begitu saja."
Setelah sibuk berbicara sendiri, Queen yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan kamarnya, langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ritual rutinnya setelah pulang dari rumah sakit adalah ia harus mandi untuk menghilangkan bakteri maupun kuman yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, ia sudah melepaskan semua penutup tubuhnya hingga tanpa tersisa dan berdiri di bawah guyuran air shower.
TBC ...