
Flashback on ...
Setelah mendapat perintah dari tuan mudanya untuk menemani Sabrina yang baru saja ia beri hukuman dengan sebuah ciuman kasar, Dave berjalan keluar halaman rumah dengan tidak berhenti merengut dan mengumpat. Bahkan ia terlihat berkali-kali menghempaskan tangannya ke arah samping sebagai bentuk ungkapan sebuah kekesalan dan juga rasa frustasi.
"Sial, kenapa aku harus berakhir menyedihkan seperti ini? Suami dari wanita yang sangat aku cintai malah menyuruhku untuk menghibur mantan kekasihnya yang baru saja aku kasari tadi saat ia menyulut amarahku dengan menghinaku anjing peliharaan. Aku tidak salah kan menciumnya dengan kasar? Karena dia tidak bisa menjaga mulutnya, lagipula tidak mungkin aku menampar atau pun menonjok wajahnya. Jika aku sampai melakukannya, berarti aku adalah seorang laki-laki pengecut."
"Di mana lagi dia," ucap Dave dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari wanita yang diketahuinya memakai celana panjang berwarna biru dan atasan berwarna putih.
"Tadi kata Tuan muda, wanita bar-bar itu pasti sedang menangis di tempat sepi. Sepertinya aku harus mencari tempat sepi dulu, jika tidak ketemu, baru aku menghubunginya. Astaga, sebenarnya aku sangat malas sekali untuk melihatnya lagi, apalagi harus menghubunginya. Mimpi apa aku semalam, sehingga bisa berurusan dengan wanita bar-bar itu."
Dave masih terus melangkahkan kaki panjangnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kampung padat yang penuh dengan rumah-rumah yang berjejer penuh sesak karena berdekatan dan tanpa jarak. Bisa dilihatnya banyak anak-anak yang berlarian saat bermain dengan teman-teman sebayanya.
"Siapa tahu anak-anak itu melihat wanita bar-bar yang tadi menangis. Pasti dia membuat perhatian semua orang tertuju padanya saat berurai air mata." Dave berjalan mendekati salah satu dari anak-anak yang sedang bermain itu. Lalu, ia menepuk pundak anak laki-laki yang paling besar. "Dik, apakah kamu tadi melihat seorang wanita menangis lewat sini?"
Anak laki-laki berusia 12 tahun itu seketika menoleh ke belakang dan menjawab pertanyaan dari pria yang tidak dikenalnya. "Oh ... Kakak cantik tadi?"
"Iya, kamu melihatnya?" tanya Dave dengan tatapan penuh pertanyaan. "Mana ada cantik, anak kecil ini tidak bisa membedakan mana wanita cantik dan jelek," gumam Dave.
"Iya, tadi aku melihatnya berjalan ke arah gang sempit itu, Om. Itu adalah tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah di sini." Menunjuk ke arah sebuah gang sempit yang tak jauh dari tempatnya. "Mungkin kakak itu mau membuang sampah."
"Oh ... baiklah." Dave mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan memberikannya pada anak laki-laki tersebut. "Nih, buat jajan bersama teman-temanmu."
__ADS_1
Dengan wajah berbinar, anak laki-laki itu langsung menerima uang yang diberikan oleh pria dewasa tersebut. "Wah ... terima kasih Om."
"Sama-sama, Om juga berterima kasih padamu." Dave menepuk pundak anak laki-laki yang tidak ia ketahui namanya tersebut dan berjalan meninggalkan segerombolan anak-anak yang terlihat sangat senang begitu melihat uang seratus ribu.
"Apakah Sabrina sedang menangis di tempat pembuangan sampah? Jika itu benar, tragis sekali nasibnya, karena harus berakhir di tempat sampah setelah mengetahui kenyataan dari pria yang dicintainya sudah hidup berbahagia bersama istrinya."
Dengan langkah kaki panjangnya, Dave semakin mendekat ke arah area pembuangan sampah umum tersebut. Samar-samar ia bisa mendengar suara tangisan lirih dari wanita yang dicarinya. "Ternyata benar apa yang dikatakan oleh anak kecil itu."
Dave bisa melihat di sudut tempat penuh dengan sampah itu, terlihat Sabrina tengah berjongkok dan membenamkan wajahnya di antara lututnya. Hanya suara tangisan yang jelas terdengar, sedangkan wajahnya tidak terlihat karena hanya rambut panjang dibawah bahu yang bisa dilihatnya.
Tangisan itu terdengar sangat menyedihkan, sehingga ada rasa iba di lubuk hatinya yang paling dalam. Untuk sesaat ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, karena ingin membiarkan wanita yang tengah patah hati tersebut meluapkan kesedihannya dengan cara menangis.
"Kasihan sekali nasibmu Sabrina, bahkan kamu berakhir di tempat sampah saat menangis. Aku bisa mengerti perasaanmu yang merasa sangat terluka setelah mengetahui bahwa pria yang kamu cintai sudah hidup dengan bahagia," batin Dave.
Selama beberapa menit, Dave hanya diam di tempatnya dan tatapannya masih fokus pada satu titik, yaitu wanita yang sedang berjongkok menangis itu.
Sabrina yang dari tadi sudah lama menangis, mulai mengangkat kepalanya. Ia merapikan anak rambutnya yang menutupi wajahnya, dan saat ia hendak menghapus bulir bening yang sudah memenuhi wajahnya, manik bening miliknya langsung ber-sitatap dengan netra pekat pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya, tengah menutupi hidungnya.
Dengan wajah yang terlihat sangat mengenaskan karena efek menangis, ia langsung berdiri dan menatap tajam penuh kebencian pada pria yang beberapa saat yang lalu telah menciumnya dengan sangat kasar.
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini pria berengsek!" sarkas Sabrina dengan lengkingan suaranya yang cukup keras.
__ADS_1
Dave yang awalnya menutup hidungnya karena bau sampah yang menyengat di tempat itu, refleks menutupi kedua daun telinganya karena efek teriakan yang memekakkan gendang telinganya. "Astaga, kau ini wanita atau bukan haah ...."
"Aku tanya padamu kenapa kau bisa ada di sini? Kau sengaja membuntutiku?" teriak Sabrina dengan sangat kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh pria yang sudah mendapatkan catatan hitam baginya. Bahkan ia tadi sempat mengumpat tidak ingin bertemu lagi dengan pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya. "Pergi dari hadapanku! Aku sangat membencimu!"
Dave memijat pelipisnya beberapa kali saat mendapatkan sebuah pengusiran dari wanita yang sebenarnya tidak ingin ditemuinya, tapi malah berakhir ia temui gara-gara mendapatkan sebuah perintah dari majikannya yang tidak mungkin bisa ia tolak.
"Dengarkan aku wanita bar-bar, aku ke sini bukan mengikutimu seperti tuduhanmu tadi. Akan tetapi, aku mendapatkan perintah dari Tuan muda Aditya untuk mengajakmu bersenang-senang di Mall untuk meluapkan kesedihanmu yang merasa sangat hancur akibat mengetahui kehamilan Nona muda. Jadi, jangan kepedean dengan berpikir aku mau melakukannya dengan senang hati. Aku terpaksa harus menuruti perintah dari majikan. Sekarang berdirilah, aku akan mengantarkanmu kemana pun kamu ingin pergi!"
Sabrina hanya menatap jengah ke arah pria di depannya yang terlihat sangat santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka berdua. "Tidak perlu, aku tidak tertarik untuk pergi bersama pria berengsek sepertimu. Katakan saja pada majikanmu kalau aku baik-baik saja. Sekarang pergilah, aku mau pulang!" Mengibaskan tangannya dan berlalu pergi meninggalkan pria yang masih berdiri di depannya.
Tentu saja Dave merasa sangat kesal karena melihat wanita di depannya sangat menjengkelkan. Sehingga ia langsung berlari untuk mengejar Sabrina dan menahan pergelangan tangannya. "Lebih baik kau menuruti perintahku, karena aku tidak ingin mendapatkan masalah dari Tuan muda."
Sabrina mengarahkan pandangannya pada tangannya yang dipegang oleh Dave. Tatapan penuh kebencian ia arahkan pada pria yang membuatnya semakin membencinya. "Lepaskan tanganku pria berengsek!"
"Aku baru akan melepaskannya jika kamu menuruti perintahku!" sahut Dave dengan wajah datarnya. Dan di saat yang bersamaan, bunyi dering ponselnya mengalihkan perhatiannya. Masih memegang tangan Sabrina, ia meraih ponsel miliknya di saku celana dengan tangan kiri. Bisa dilihatnya ada nomor dari nona mudanya yang telah menghubunginya.
"Lebih baik kau diam dan jangan bersuara jika masih ingin hidup," ancam Dave dengan tatapan tajam.
Flashback off ...
TBC ...
__ADS_1