Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Resepsi pernikahan


__ADS_3

Selama di dalam perjalanan menuju ke rumahnya, Sabrina hanya diam membisu karena sibuk berkutat dengan segala pertanyaan yang ada di kepalanya. Mengenai tentang kalimat ambigu dari pria yang saat ini tengah fokus menatap ke arah depan saat mengemudikan mobil.


"Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Dave tadi? Apakah keluarga Raharja sudah mengatur dan mengurus soal pernikahannya sekalian? Lebih baik aku tanyakan ini nanti pada papa dan mama," gumam Sabrina yang menatap ke arah kiri dimana lalu lalang kendaraan melintas.


"Kenapa kamu diam saja dari tadi? Rasanya aneh sekali saat suasana penuh keheningan seperti ini, karena biasanya kamu bawel banget," ujar Dave yang melirik sekilas ke arah wanita di sebelahnya.


Tanpa berniat untuk menolehkan kepala, Sabrina hanya menjawab pertanyaan dari Dave dengan malas. "Aku sedang pusing, jadi jangan mengajakku berbicara." Berpura-pura memejamkan mata dan bersandar di punggung jok mobil, berharap pria tersebut tidak banyak bertanya lagi. Karena ia sedang tidak mood untuk berbicara.


Dave hanya diam dan tidak menanggapi perkataan dari Sabrina, karena ingin menuruti permintaan dari wanita tersebut. Sehingga ia akhirnya hanya fokus mengemudikan mobil menuju ke rumah Sabrina. Namun, saat melintasi apotik, ia menepikan mobil dan mematikan mesin. Kemudian membuka pintu dan keluar dari mobilnya untuk berjalan memasuki apotik.


Sabrina langsung membuka kedua matanya begitu mendengar pintu mobil yang ditutup, "Ngapain dia ke apotik? Dave tidak berniat membelikan aku obat sakit kepala, kan? Issh ... dasar kepedean kamu Sabrina. Memangnya kamu siapa, hingga Dave repot-repot membelikan obat untukmu. Lagipula aku tidak sakit kepala, karena hanya berpura-pura saja."


Beberapa saat kemudian, Sabrina bisa melihat sosok pria yang baru saja keluar dari pintu kaca apotik. Sehingga ia kembali berpura-pura memejamkan matanya lagi. Bahkan bisa didengarnya suara pintu mobil yang dibuka dan pergerakan dari Dave duduk di sebelahnya. Namun, ia masih berpura-pura tidur.


Dave menatap wajah cantik wanita yang tengah bersandar di jok mobil dengan posisi mata yang tertutup dengan tanpa berkedip. Bahkan ia saat ini tengah memiringkan tubuhnya ke arah sosok wanita di sebelah ia duduk, agar bisa dengan leluasa mengamati pahatan sempurna di depannya sambil bergumam di dalam hati.


"Kalau sedang tertidur seperti ini, wanita ini cantik juga. Seperti bayi suci tanpa dosa ketika ia sedang memejamkan kedua matanya."


Dave mengarahkan tangannya untuk merapikan anak rambut Sabrina yang menutupi sebagian wajah cantik itu. "Berantakan begini."


Sementara itu, Sabrina yang tidak berkutik atas perbuatan dari Dave yang menyentuh rambutnya, membuat ia merasa kebingungan. Akan tetapi, masih tidak berani membuka kedua matanya dan hanya bisa bergumam di dalam hati.


"Ya ampun, ngapain sih dia pakai pegang-pegang rambutku segala? Apa dia sedang mencuri kesempatan dalam kesempitan?"


Dave yang sudah selesai merapikan anak rambut Sabrina, mengarahkan tangannya ke arah pundak wanita di depannya. "Sabrina, bangunlah."

__ADS_1


Sabrina masih terdiam beberapa saat dan berpura-pura menggerakkan tubuhnya sebelum membuka mata. Kemudian ia mengucek kelopak mata dan berpura-pura menguap. "Kenapa kamu membangunkanku? Bukankah sudah kubilang jangan menggangguku!" ujar Sabrina dengan kesal.


Tanpa memperdulikan perkataan dari wanita yang sudah mengerucutkan bibirnya, yang ada ia mengarahkan tangannya untuk mengambil kantong plastik berisi obat yang baru dibelinya dan menyerahkan pada Sabrina.


"Minumlah obat sakit kepala ini, siapa tahu bisa meringankan rasa sakitmu. Ada roti juga sebagai pengganjal perut sebelum minum obat," sahut Dave yang sudah mengarahkan kantong plastik di pangkuan Sabrina, karena wanita itu tidak kunjung menerimanya. Sehingga ia memilih untuk meletakkannya di pangkuan Sabrina karena merasa capek ketika tangannya menggantung ke atas dari tadi.


Sabrina sudah mengarahkan tangannya untuk memeriksa kantong plastik di atas pahanya. Bisa dilihatnya ada obat sakit kepala, roti dan air mineral. "Komplit banget ini."


"Iya, aku beli roti dulu tadi di toko sebelah apotik. Bukankah minum obat tidak diperbolehkan saat perut kosong? Cepat minum?" titah Dave yang sudah kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan area apotik.


Sabrina hanya menganggukkan kepalanya, "Terima kasih. Sebenarnya tidak perlu repot-repot begini."


"Karena aku tadi hanya berpura-pura saja. Apakah aku harus minum obat sakit kepala saat tidak apa-apa. Senjata makan tuan ini namanya. Akan tetapi, Dave perhatian juga. Baru aku bohongi saja percaya," gumam Sabrina saat makan roti isi selai strawberry tersebut.


"Oh ... jadi seperti itu? Baiklah, aku anggap ini sebagai sebuah bentuk kepedulian terhadap sesama. Sebenarnya aku tidak suka rasa strawberry, karena asam. Aku lebih suka rasa coklat. Aah ... kenapa aku malah bercerita tentang makanan yang aku sukai. Konyol sekali," ucap Sabrina yang menepuk jidatnya.


"Oh ... aku kira kamu seperti nona muda Queen yang menyukai strawberry. Karena kalian berdua mempunyai beberapa kemiripan. Yakni, sama-sama garang saat marah."


Refleks wajah Sabrina terlihat masam karena merasa mood-nya kembali berantakan saat mengingat wanita yang sangat dibencinya. "Jangan pernah menyamakan aku dengan majikanmu itu, karena aku berbeda dengan dia. Seandainya dia bukan terlahir dari keluarga berada, apakah dia masih bisa bersikap arogan?"


"Sepertinya tetap saja, karena itu sudah merupakan watak dari seseorang. Lagipula sifat nona muda Queen menurun dari daddy-nya. Jadi, bukan karena ia berasal dari keluarga Raharja. Sama sepertimu yang terlihat tidak merasa takut pada apapun meski tidak sebanding dengan nona muda. Akhirnya kita sampai juga. Oh ya, papa dan mamamu tidak garang sepertimu kan?" Dave menepikan mobilnya dan juga mematikan mesin.


"Kamu lihat saja sendiri," jawab Sabrina yang sudah membuka pintu dan keluar dari mobil. Namun, sebelum ia berjalan masuk ke dalam pintu gerbang rumahnya, sebuah ancaman keluar dari bibirnya.


"Aku tidak sama dengan nona mudamu itu, jadi jangan lagi menyamakan aku dengannya. Oh ya, nanti bantu aku berbicara dengan papa dan mama, bahwa kita mempunyai keinginan menikah sederhana saja, tanpa pesta yang meriah. Ingat itu, oke!" Sabrina menutup pintu mobil dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke pintu gerbang utama.

__ADS_1


"Kamu saja yang bilang, aku ikuti permainanmu," jawab Dave yang sudah berjalan mengekor di belakang Sabrina.


"Dasar laki-laki tidak punya pendirian," ejek Sabrina yang memasang wajah masam saat masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum."


Dave hanya tersenyum kecut menanggapi ejekan dari wanita yang sudah masuk ke dalam rumah dan bisa didengarnya suara dari sosok wanita paruh baya yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Wa'alaikumsalam. Kamu sudah pulang, Sayang," ucap mama Sabrina yang juga menatap ke arah pria di belakang putrinya.


"Iya, Ma." Sabrina mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya.


"Ini calon menantuku ya? Ternyata kamu sangat tampan dan juga gagah. Pantas saja Sabrina langsung bisa melupakan mantan kekasihnya yang sudah menikah dengan putri dari keluarga Raharja."


Dave berjalan ke arah wanita dengan tubuh agak sedikit gemuk tersebut. Kemudian mencium punggung tangan calon mertuanya, "Terima kasih atas pujiannya, Ma."


Refleks Sabrina menatap tajam ke arah Dave yang baru saja memanggil mama. Sebenarnya ia ingin protes, tetapi tidak jadi melakukannya saat melihat ekspresi dari mamanya yang terlihat sangat berbinar dan sudah menyuruh Dave untuk duduk di sofa


"Duduklah, menantu. Kamu pintar sekali, sudah memanggil mama tanpa disuruh. Oh ya, Mama mau membahas tentang resepsi pernikahan kalian yang diadakan di Ballroom Hotel Raharja bersama dengan putri kedua keluarga terkenal itu. Sebuah kehormatan bagi keluarga biasa seperti kami yang menggelar acara resepsi bersamaan dengan acara dari nona muda Queen itu. Terima kasih menantu, karena mendadak keluarga kami menjadi sorotan para awak media."


Tentu saja reaksi dari Sabrina sudah terlihat sangat terkejut begitu mendengar cerita panjang lebar dari mamanya yang terlihat sangat antusias tersebut.


"Apa, Ma? Resepsi pernikahan kami akan diadakan bersama dengan resepsi dari nona arogan itu? Gila apa," teriak Sabrina dengan wajah penuh dengan kemarahan.


"Ini benar-benar sangat konyol. Nasib tragis percintaanku masih terus berlanjut. Apakah ini masuk akal, aku menikah dengan pegawai dari wanita yang telah merebut kekasihku dan resepsi pernikahan kami dilakukan secara bersama-sama? Astaga, aku benar-benar bisa gila," rengut Sabrina dengan sangat kesal.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2