Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tolong aku


__ADS_3

Di ruangan presidential suite room yang sudah dihiasi bunga mawar merah dengan lambang hati. Aditya sudah sibuk memijat kaki sang istri dengan telaten dan juga penuh kelembutan. Tentu saja ia merasa tidak tega saat melihat sang istri yang mengeluhkan pegal-pegal tubuh dan juga pada kakinya. "Bagaimana, Sayang? Apakah sudah agak berkurang capeknya?"


Queen yang sudah mengganti gaun pestanya dengan lingerie seksi berwarna pink, terlihat menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang dan menikmati pijatan dari tangan yang sudah naik turun di kakinya. Sedangkan tangannya sudah memainkan taburan kelopak bunga mawar itu dengan wajah yang berbinar.


"Iya, sudah agak berkurang, My hubbiy. Rasanya sangat nyaman sekali. Karena itulah aku selalu ketagihan dengan pijatanmu."


"Syukurlah, tetapi kamu sangat curang, Sayang." Aditya menghentikan perbuatannya dan menatap intens wajah cantik wanita dengan pakaian seksi yang dari tadi menggoda imannya.


"Curang? Maksudnya?" tanya Queen dengan menaikkan kedua alisnya.


"Kamu tidak pernah mau memijat suamimu, sedangkan kamu selalu meminta suami untuk memijatmu. Bukankah itu sangat curang? Oh ya, satu lagi. Aku tadi menahan diri sekuat tenaga saat melihat tubuhmu yang sangat menggoda iman itu. Sekarang berikan aku upah," ujar Aditya yang sudah mengarahkan telapak tangan kanannya kepada Queen.


"Upah? Berapa, My hubbiy?" tanya Queen yang berpura-pura tidak memahami perkataan dari pria yang sudah menggeser tubuhnya untuk semakin mendekat.


"Dua," jawab Aditya yang sudah menangkap kedua sisi pipi putih di hadapannya. Mengunci manik bening Queen yang tidak berkedip menatap ke arahnya, "Malam ini, aku mau dua ronde. Biar istriku tidak merasa iri lagi," ucap Aditya yang sudah menghembuskan napas sensual pada wajah yang sudah berubah merona itu.


Queen langsung memalingkan wajahnya saat wajah Aditya semakin mendekat untuk menciumnya. "Tinggu, My hubbiy. Apa maksudmu aku iri?"


"Bukankah istriku sedang merasa iri pada pasangan di kamar sebelah? Bahkan kamu sampai menyuruh staf hotel untuk mengawasi mereka. Apakah mereka sudah berada di dalam kamar atau belum. Bahkan kamu sudah seperti seorang penguntit, Sayang. Kurang kerjaan, karena menjadi mata-mata dari pasangan pengantin baru."


"Jadi, aku tidak akan membiarkan istriku melakukan hal yang sama sekali tidak penting." Aditya yang sudah tidak mampu menahan lebih lama gairah karena melihat tubuh seksi yang dari tadi seolah memintanya untuk membelainya, membuatnya ingin segera mencumbu sang istri.

__ADS_1


Queen yang ingin membantah perkataan dari Aditya, tidak berhasil melakukannya, karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir sensual yang mendarat dengan sempurna di bibirnya. Tentu saja ia sangat mendamba ciuman Aditya yang sudah sangat lihai. Tidak seperti awal-awal saat melakukannya, karena terlihat sangat kaku. Tentu saja hal itu disebabkan keduanya belum pernah berciuman sama sekali.


Tangan Aditya menuruni leher jenjang Queen dan sudah sibuk menjamah dua benda padat dan tidak menggunakan penutup yang berada di balik gaun tipis menerawang yang dikenakan oleh sang istri. Puncak yang mengeras, semakin membuatnya mengetahui bahwa wanitanya mulai bangkit gairahnya akibat sentuhan yang ia lakukan.


Tubuh Queen yang meremang saat Aditya menggoda sepanjang tubuhnya, tentu saja sudah membuat hasratnya bangkit. Seolah Aditya berhasil mengirimkan denyut kenikmatan yang menembus tubuhnya saat sensasi paling nikmat seolah berputar lepas kendali dari sekujur tubuhnya.


Sehingga ia sudah tidak mampu menahannya lagi dan mulai melepaskan satu persatu kancing kimono yang membalut tubuh kekar sang suami yang masih tidak melepaskan pagutannya. Queen mendorong dada bidang Aditya hingga pagutan mereka terlepas. Agar ia bisa leluasa untuk melucuti pakaian sang suami.


"My hubbiy, aku tidak mau berlama-lama melakukan foreplay. Langsung saja!" ucap Queen dengan tatapan parau yang menandakan dirinya sudah dikuasai oleh bara api yang membuatnya bergairah.


Aditya hanya terkekeh dan membiarkan ulah nakal sang istri yang selalu tidak sabar saat bercinta. Berbeda dengannya yang selalu ingin melakukannya dengan sebuah kelembutan intens. Namun, sangat berbanding terbalik dengan wanita yang menurutnya sangat liar dan terburu-buru itu.


"Sayang, sabar. Kenapa harus terburu-buru? Aku bahkan tidak akan kemana-mana, tetapi hanya akan di sini memuaskanmu."


"Lakukan sekarang, My hubbiy. Aku sudah tidak tahan," seru Queen yang sudah mengarahkan bibirnya pada roti sobek pria yang sangat digilainya.


Aditya melepaskan pagutannya, "Sayang, kamu memang lain dari yang lain. Sangat liar," ujar Aditya yang sudah mulai membaringkan Queen kembali dan menciuminya dengan sangat lembut. "Kamu harus tahu, Sayang, sesuatu yang terburu-buru itu tidak baik. Jadi, nikmati saja semua yang aku lakukan. Karena wanita diciptakan untuk dipuja dan diperlakukan dengan lembut."


Queen merasa sangat tidak puas karena sudah bergairah, membuat ia menarik kepala Aditya dan menciumnya dengan penuh gairah. Seolah sama sekali tidak menyetujui apa yang barusan dikatakan oleh sang suami. Karena saat ini, yang dibutuhkannya hanyalah sebuah momen utama yang akan membawanya untuk mencapai puncak sensasi kenikmatan.


Aditya akhirnya mulai menyatukan tubuh mereka saat melihat sang istri yang sudah tidak sabaran. Sehingga ia mulai bergerak teratur sesuai ritme dengan menempelkan dahinya ke dahi Queen yang sudah mencengkeramnya dengan sangat kuat. Seolah tidak akan pernah melepaskannya.

__ADS_1


Sementara itu, suara desahan lirih lolos dari bibir Queen yang sudah menikmati sensasi kenikmatan dari perbuatan Aditya yang membuainya mencapai nirwana untuk meraih puncak kenikmatan.


********


Suasana tak jauh berbeda, terlihat di ruangan kamar hotel di sebelah. Yaitu, Sabrina yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya begitu menghabiskan air minum yang diambilkan oleh Dave. Tubuhnya yang remuk redam, membuatnya ingin kembali tidur di atas ranjang empuk super empuk itu.


Sementara itu, Dave yang sudah kembali setelah menaruh gelas di atas meja, membaringkan tubuhnya di samping Sabrina yang sudah bersembunyi di bawah selimut tebal dan memejamkan kedua matanya. Ia hanya menunggu hingga obat itu bekerja dengan berpura-pura melakukan hal yang sama. Bahkan posisi keduanya kini terlihat saling membelakangi.


Detik demi detik berlalu, sebuah pergerakan kecil bisa dirasakan oleh Dave pada ranjang tersebut. Sudut bibirnya mulai melengkung ke atas saat merasakan suara parau dari Sabrina.


Sabrina merasakan seluruh tubuh tubuhnya berdenyut hebat dan membuatnya ingin menyalurkannya, hingga ia yang dari tadi bergerak seperti cacing kepanasan, kini sudah mengarahkan tangannya untuk menyentuh punggung kokoh pria yang memunggunginya.


"Dave ...."


"Hem ....." Dave berbalik badan untuk bisa menatap wajah Sabrina yang sudah berubah merah ketika menatapnya.


Merasakan tubuhnya yang panas, seperti terbakar, membuat Sabrina membuang selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Gerah. Rasanya sangat menyiksa, tolong aku!"


"Tolong apa?" tanya Dave yang berpura-pura tidak memahami apa yang dikatakan oleh Sabrina. Namun, matanya membulat sempurna saat Sabrina sudah beranjak dari tempatnya dan tiba-tiba naik ke atas tubuhnya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2