
Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi dari 2 orang, tak lain adalah Dave dan juga Sabrina yang terlihat seperti anjing dan kucing saat bertemu. "Astaghfirullah, Kalian tidak takut dosa? Bukankah kalian berdua tadi sudah berciuman?"
"Yang terjadi bukan seperti itu. Semuanya tidak seperti yang Mas Aditya lihat," ucap Sabrina dengan sangat tegas. Bahkan ia sudah melirik sinis ke arah pria yang berada tak jauh darinya. "Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi tadi, kalau kamulah yang kurang ajar tadi dan tiba-tiba melakukan pelecehan padaku."
"Bahkan bukan hanya 1 kali, tetapi sudah 2 kali, bukan?" sarkas Sabrina dengan tatapan yang penuh dengan kilatan amarah. Seolah-olah ia ingin menghancurkan seseorang yang tak lain adalah Dave.
"Jangan panggil suamiku dengan sebutan mas lagi, karena dia bukan kekasihmu lagi, Sabrina!" hardik Queen dengan sangat tegas.
"Aah ... terserah, aku pusing lama-lama mendengarkanmu berbicara." Sabrina mengerucutkan bibirnya seraya mengarahkan dagunya ke arah Dave untuk meminta sebuah jawaban.
"Dasar wanita yang tidak tahu malu," ujar Dave dengan santainya. Ia saat ini terlihat menyilangkan kaki kanannya dan tangannya sudah bersedekap di dada sambil tersenyum menyeringai. "Jika kamu tidak memancing amarahku, aku tidak mungkin akan menciummu. Semua pria akan bersikap sepertiku jika sedang marah, karena tidak mungkin seorang laki-laki menghajar seorang wanita. Jika ada, itu berarti adalah seorang pengecut namanya."
Emosi Sabrina semakin meledak begitu mendengar kalimat bernada ejekan dari seorang pria yang membuatnya merasa tidak mempunyai muka lagi di depan mantan kekasihnya. Hingga ia kini terlihat mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali meninju wajah paling menyebalkan itu.
"Dasar pria berengsek! Jadi, kamu menganggap pelecehan yang kamu lakukan padaku adalah sebuah hal yang wajar? Begitu?"
"Entahlah." Dave hanya mengendikkan bahunya saat menjawab pertanyaan dari Sabrina yang ia sendiri pun sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa. Karena itulah, ia hanya menjawab singkat dengan bahu terangkat ke atas. Kemudian ia beralih menatap ke arah tuan mudanya untuk menanyakan hal yang mengganjal di pikirannya. Yaitu, mengenai tentang hal yang dilakukannya pada Sabrina adalah sebuah ketidaksengajaan.
Queen dan Aditya yang dari tadi hanya diam mengamati interaksi perdebatan dari Dave dan Sabrina, masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hal itu dikarenakan masih ingin mengamati sampai sejauh mana kedekatan di antara 2 orang yang seperti anjing dan kucing itu saat bertengkar. Terlihat keduanya sama-sama bersandar di punggung sofa dengan posisi tangan bersedekap di dada masing-masing.
Akan tetapi, keduanya sama-sama ber-sitatap saat mendengar rengutan dari Sabrina yang mengatakan bahwa hari ini bukan pertama kali ia berciuman.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan pada Anda Tuan muda," tanya Dave dengan wajahnya yang terlihat jauh lebih serius daripada berbicara dengan Sabrina tadi.
Aditya mengarahkan tangannya ke depan, seolah memberikan sebuah kode bahwa ia ingin mempersilakan Dave melanjutkan perkataannya.
Sementara itu, Queen yang merasa sangat penasaran, refleks langsung mengeluarkan suaranya. "Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan pada suamiku, Dave? Apakah soal dosa?"
"Ehm ...." Dave merasa sangat tidak nyaman untuk mengatakannya di depan nona mudanya. Akan tetapi, karena rasa penasarannya jauh lebih besar, membuatnya bertekad untuk mengakhiri rasa ingin tahunya. "Itu Nona, saya ingin bertanya tentang hal yang merupakan sebuah ketidaksengajaan."
"Sejujurnya, saya sama sekali tidak sengaja mencium Sabrina. Semua itu bermula dari dia yang menghina saya habis-habisan. Karena itulah saya marah dan menciumnya. Jika dia laki-laki, mungkin saya sudah membuatnya babak belur. Bukankah dia yang salah, karena pada awalnya menghina saya habis-habisan," ujar Dave yang menunjuk ke arah Sabrina.
"Aku yang jadi korban, tapi kamu malah seenak jidat mengatakan bahwa akulah yang bersalah! Terbuat dari apa sebenarnya hatimu hah ....!" Lagi-lagi emosi Sabrina langsung tersulut begitu mendengar perkataan dari Dave. Sehingga ia tidak bisa menahan diri lagi dan mengungkapkan kemarahannya.
Reaksi dari Aditya adalah beberapa kali memijat pelipisnya melihat kegaduhan di ruangan mertuanya. Sedangkan reaksi Queen adalah ia langsung bertepuk tangan sambil sesekali tertawa. Bukan tanpa alasan ia melakukannya, tapi karena mengingat masa-masa dulu dimana ia sangat membenci pria yang saat ini tengah berada di sampingnya.
Refleks Aditya menggelengkan kepalanya, "Tentu saja sangat jauh berbeda, Sayang. Apa kamu tidak bisa membedakan bahwa sifatku sangat berbeda dengan Dave?" Aditya mendekatkan wajahnya untuk bisa berbisik di dekat daun telinga sang istri. "Bahkan saat aku sudah sah menjadi suamimu, aku tidak pernah menciummu. Bahkan saat kamu telanjang pun dulu, kamu masih tetap perawan, bukan?"
Queen menatap ke arah Aditya yang sudah menjauhkan wajahnya dan bisa dilihatnya dan bisa diingatnya bahwa sang suami jauh lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Dave. Dan ia tidak bisa menyamakan 2 pria yang sangat jauh berbeda sifat tersebut.
"Oh iya, ternyata kamu benar, My hubbiy. Kalian seperti bawang putih dan bawang merah di cerita dongeng," ucap Queen dengan terkekeh.
"Karena di dunia ini tidak ada orang yang memiliki sifat yang sama persis, Sayang. Karena pasti ada perbedaannya," jawab Aditya yang saat ini memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah Dave. "Seperti yang aku katakan padamu tadi, Dave. Bahwa pada dasarnya, kalian berdua sama-sama bersalah. Tidak ada yang benar di antara kalian."
__ADS_1
"Mana bisa, itu namanya tidak adil!" teriak Sabrina. "Apakah wanita harus selalu mengalah di depan laki-laki? Apalagi laki-laki kurang ajar seperti dia." Menunjuk ke arah pria yang paling dibencinya.
"Sekarang Tuan muda bisa melihatnya sendiri, kan? Kalau wanita ini sangat bar-bar dan tidak bisa bersikap lemah lembut seperti layaknya wanita pada umumnya," sahut Dave dengan tatapan kesal.
"Kenapa aku juga ikut tersinggung dengan perkataanmu itu, Dave. Atau kamu sengaja mengingatkan bahwa aku adalah seorang wanita yang tidak feminim?" tanya Queen dengan tatapan tajam mengarah lurus, tepat pada sasaran yang ia tuju.
Merasa hawa-hawa di ruangan kerja itu semakin panas, tentu saja membuat Aditya ingin segera mengakhiri perselisihan yang malah meluber kemana-mana. Bahkan hingga sang istri pun ikut marah dan merasa tersinggung.
"Sudah-sudah, lebih baik kalian semua berhenti berdebat! Terutama untuk kalian berdua, Dave dan Sabrina!"
"Lalu pertanyaan saya tadi, Tuan muda?" tanya Dave dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Kamu dan Sabrina sama-sama salah, karena tidak bisa menahan amarah. Dan sebuah amarah itu berasal dari godaan nafsu syetan. Karena itulah kalian berdua dengan mudahnya terbujuk godaan syetan. Dan akhirnya, membuat kamu dan Sabrina khilaf. Untuk menghilangkan itu, ada baiknya kalian berdamai dan memilih untuk menyelesaikannya dengan kepala yang dingin," jawab Aditya dengan panjang lebar.
"Satu-satunya cara untuk mensucikan diri kalian yang berdosa adalah dengan menikah. Karena menikah itu adalah ibadah. Sebelum terjadi kasus pemerkosaan yang mungkin akan kamu lakukan, lebih baik kamu menikahi Sabrina, Dave."
"Tidak!" teriak Dave dan Sabrina secara bersamaan. Dan membuat mereka berdua refleks saling ber-sitatap.
"Kalian berdua akan menikah 1 Minggu dari sekarang, karena semuanya sudah diurus!" hardik Queen dengan sangat tegas, seraya menatap tajam ke arah Dave dan Sabrina.
"Apa?" tanya Dave dan Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan perkataan dari sang nona muda.
__ADS_1
TBC ...