
Aditya hanya bisa diam saat mendengar perkataan dari Queen yang mengeluarkan kalimat pedasnya dan menghinanya habis-habisan. Seperti saat ini dirinya dan Queen sudah berada di dalam mobil duduk bersebelahan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Seolah dua orang yang yang duduk berdampingan itu kini tengah sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mobil pengantin itu sudah tiba di area hotel Raharja dan sudah terparkir rapi di tempatnya. Queen langsung keluar dari mobil dan berniat berjalan masuk ke dalam lobby hotel, namun menyadari bahwa dirinya saat ini sedang memakai kebaya pengantin, membuatnya tidak jadi melangkahkan kakinya.
Tentu saja dirinya menunggu Aditya turun dari mobil, lalu dirinya kembali bersungut-sungut pada pria yang menurutnya terlihat sangat lambat itu.
"Astaga ... kenapa lama sekali sih kamu! Ayo cepat kita masuk!"
Aditya yang sudah turun dari mobil itu langsung berjalan menghampiri wanita yang terlihat bermuka masam padanya, "Jadi kamu menungguku, Queen? Aku pikir kamu akan langsung masuk ke dalam hotel."
"Jika aku tidak memakai kebaya pengantin ini, aku pasti akan langsung masuk sendiri tanpa menunggumu. Akan tetapi, jika aku masuk ke dalam hotel sendirian dengan kebaya pengantin ini, semua orang akan menatapku dengan tatapan aneh. Seorang mempelai wanita berjalan sendiri tanpa pengantin prianya."
"Apakah kamu ingin aku merasa malu?" ucap Queen dengan bersungut-sungut.
"Iya ... iya, aku mengerti. Maafkan aku Queen! Aku tidak akan mempermalukanmu, sekarang kita masuk saja ke dalam!" ucap Aditya yang mulai berjalan memasuki lobby hotel setelah Queen berjalan duluan meski sangat lambat.
Queen melirik ke arah Aditya yang ia tahu sengaja berjalan lambat untuk menyeimbangkan langkah kakinya, "Ternyata kamu cerdas juga!"
Aditya mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti dengan kalimat ambigu dari wanita yang terlihat menatap sinis ke arahnya. "Apa maksudmu Queen? Aku tahu bahwa kamu tidak akan memujiku, dan itu adalah kalimat ejekan bukan?"
Refleks Queen terbahak begitu mendengar perkataan dari pria yang menurutnya terlihat sangat bodoh, "Iya, kamu benar. Aku memang tidak mudah memuji orang. Akan tetapi, hari ini aku benar-benar tengah memujimu."
"Benarkah? Memangnya aku cerdas dalam hal apa Queen?" tanya Aditya dengan wajah penuh dengan sorot pertanyaan.
"Kamu berjalan seperti seekor siput, karena itulah aku memujimu. Bukankah kamu sengaja berjalan lambat untuk menungguku?" ucap Queen yang saat ini berwajah datar saat semua staf hotel membungkuk hormat padanya.
Sedangkan Aditya menyunggingkan senyumnya pada beberapa staf yang menyapanya dan membungkukkan badannya, "Jadi hanya masalah kecil itu yang membuatmu memujiku Queen? Padahal aku banyak melakukan hal yang besar, tapi kamu tidak memujiku."
__ADS_1
Queen sudah menekan tombol pada lift khusus yang ada di depannya, lalu mulai melangkah masuk ke dalam ruangan kotak tersebut. Setelah menekan tombol pada sisi kanan pintu lift, Queen beralih menatap ke arah pria yang sudah berada di sebelahnya.
"Apakah kamu sangat berharap aku selalu memujimu atas setiap hal yang kamu lakukan? Sepertinya kamu adalah tipe pria yang haus akan pujian. Jauh dari tipe pria yang aku sukai, karena aku lebih menyukai pria yang tidak suka dipuji. Seperti My d**addy Azriel. Dia adalah tipe pria yang tidak suka dipuji, meskipun banyak hal yang bisa dipuji dari dirinya."
Aku pun bukan orang yang haus akan pujian Queen, tapi aku sangat menyukai jika istriku memujiku, gumam Aditya.
"Apakah aku setiap hari harus mendengarkan ceritamu tentang hot daddy-mu itu Queen?" tanya Aditya dengan wajah yang terlihat kecewa.
Bunyi denting lift menandakan pintu kotak besi tersebut akan terbuka, dan begitu pintu terbuka, Queen mulai melangkah keluar dari lift tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Aditya. Dan dilihatnya beberapa staf hotel sudah berdiri di depan pintu lift menyambutnya.
Salah satu pria yang tak lain adalah manager hotel Raharja langsung menyunggingkan senyumannya, dan mulai menyapa cucu dari pemilik hotel. "Selamat datang Nona muda Queen. Selamat atas pernikahan Nona dan Tuan
Selamat menempuh hidup baru dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."
Queen berusaha menampilkan senyuman palsunya pada beberapa staf hotel yang menyambutnya, "Terima kasih, sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot untuk menyambutku seperti ini."
"Kami hanya ingin menanyakan apakah Nona muda Queen dan juga Tuan membutuhkan sesuatu?"
"Baik Nona muda Queen, saya akan menyuruh staf hotel untuk segera mengantarkan minuman untuk Anda," ucap sang manager dan beralih menatap ke arah suami dari sang nona muda, "kalau Anda bagaimana Tuan? Apakah Anda membutuhkan sesuatu, atau minuman seperti Nona muda, dapat muda?"
Aditya menganggukkan kepalanya dan mulai menjawab pertanyaan dari pria dengan name tage Andi Prasaja, "Saya jeruk hangat saja, mungkin sementara itu saja dan terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama Tuan, kalau begitu kami permisi!" ucap sang manager dan mengarahkan stafnya untuk berjalan meninggalkan pasangan suami istri tersebut untuk menuju ke arah lift.
Sedangkan Queen langsung melangkahkan kakinya yang jenjang memasuki presidential suite room, dan dilihatnya ruangan nomor satu itu telah dihiasi sedemikian apik dengan rangkaian bunga. Begitu pun dengan ranjang king size sudah dihiasi dengan taburan kelopak bunga mawar yang membentuk simbol hati.
"Astaga ... kenapa mereka sangat berlebihan sekali! Bahkan ini hanya sebuah pernikahan palsu, buang-buang tenaga saja."
__ADS_1
Puas merungut setelah melihat apa yang ada di depannya, Queen langsung berjalan ke arah walk in closet untuk mencari pakaian ganti untuknya sebelum ke kamar mandi membersihkan diri. Namun dirinya membulatkan matanya begitu melihat hanya ada lingerie seksi berwarna mencolok yang memenuhi lemari kaca berukuran besar tersebut.
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengatur semuanya ini? Apa ini Mommy yang mengaturnya? Ini gila, tidak mungkin aku akan memakai lingerie seksi ini di depan Aditya. Yang ada nanti dia malah bernafsu dan berbuat gila padaku. Sialan, mana kami berdua harus tinggal dalam satu kamar lagi. Menyebalkan sekali, karena aku tidak mungkin mengusirnya dari sini. Yang ada nanti malah menimbulkan kecurigaan oleh semua staf hotel."
"Jika itu sampai terjadi, maka mereka pasti akan melaporkannya pada Daddy. Karena aku sangat yakin bahwa mereka adalah mata-mata dari Daddy. Lalu aku harus pakai apa sebagai baju ganti? Yang ada di sini hanya gaun malam dan juga lingerie seksi.
"Atau aku meminta tolong saja pada Aditya untuk pergi keluar membelikan aku baju ganti, sepertinya itu adalah ide yang bagus!"
Setelah menemukan sebuah ide brilian di kepalanya, Queen keluar dari walk in closet untuk menemui Aditya. Dan dilihatnya Aditya tengah menikmati minumannya, "Kebetulan sekali, aku sangat halus sekali!" Queen meraih gelas berisi jus jeruk yang tadi dipesannya dan langsung meneguknya hingga habis.
Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat Queen minum sambil berdiri, jauh dari kata layaknya seorang nona muda.
"Queen, ada baiknya kamu minum dalam posisi duduk! Karena itu termasuk adab dalam makan dan minum yang tidak membenarkan posisi berdiri saat makan dan minum. Semoga kamu bisa merubah kebiasaan kecil ini, agar kamu bisa menjadi seorang nona muda yang lebih baik dari sebelumnya."
"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menggurui, namun aku hanya memberikan sebuah saran yang baik. Semoga kamu bisa menerima saranku ini, Queen."
Rasa haus yang dirasakannya telah berkurang, namun rasa panas di dalam dirinya seolah membakar jiwanya begitu mendengar ceramah dari Aditya, "Aku sudah sangat bosan mendengarkan petuahmu. Jadi jangan buat aku semakin marah, lebih baik kamu keluar dari hotel ini untuk membelikan aku baju casual."
"Jadi tidak ada baju di dalam sana?" tanya Aditya pada Queen.
"Astaga ... kalau ada, aku tidak akan menyuruhmu untuk membelikan aku baju ganti. Aku tidak mungkin untuk kembali ke Mansion hanya untuk sekedar mengambil pakaian ganti, yang ada nanti Mommy malah curiga lagi," ucap Queen sambil membuat gerakan mengipasi wajahnya.
Aditya yang merasa sangat sejuk karena AC di dalam ruangan kamar Presidential suite room tersebut menyala dan tidak merasakan panas sama sekali pada tubuhnya, membuatnya mengerutkan keningnya.
"Benarkah kamu kepanasan Queen, kenapa aneh sekali, karena aku sangat kedinginan."
"Astaga ... dasar norak dan kampungan banget." Queen yang merasakan tubuhnya semakin panas, langsung meraih gelas minuman milik Aditya untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering. Namun perbuatannya yang berusaha untuk menghilangkan rasa dahaganya itu sama sekali tidak berhasil.
__ADS_1
'Kenapa saat ini tubuhku terasa panas? Ada Apa denganku? Apa yang sebenarnya terjadi padaku," gumam Queen."
TBC ...