
Saat Queen sedang asyik mengejek dan memancing amarah dari Sabrina. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Aditya, ia kini dengan penuh ketulusan mengucapkan selamat kepada Dave. Tangannya tidak berhenti menepuk bahu kokoh pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.
"Selamat, Dave. Semoga rumah tangga kalian mendapatkan ridho Ilahi. Oh ya, nona mudamu sudah memberikan sebuah kado spesial untuk kalian. Jadi, berbahagialah. Sepertinya aku dan istriku tidak bisa lama-lama di sini, Dave. Karena istriku sudah cukup lelah dan harus beristirahat."
Dave lagi-lagi merasa sangat penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh tuan mudanya tersebut, "Terima kasih, Tuan muda. Anda sukses membuat saya tersiksa dari semalam. Sebenarnya apa hadiah yang Anda maksud?"
Seulas senyuman terbit dari wajah Aditya, "Tanya saja sendiri pada nona mudamu itu." Aditya melirik ke arah sang istri yang terlihat baru saja selesai untuk mengucapkan selamat kepada Sabrina. "Sayang, Dave merasa sangat penasaran dengan kado darimu."
Queen yang sudah selesai urusannya dengan Sabrina, refleks terkekeh saat mendengar perkataan dari sang suami. "Itu adalah sebuah surprise. Jadi, tidak boleh dikasih tahu, oke. Sabarlah menanti, Dave. Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Aku yakin kamu pasti akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab pada istrimu. Kalau ada pertanyaan, kamu bisa berkonsultasi dengan My hubbiy."
Dave menggaruk tengkuknya dan tersenyum tipis begitu mendengar tawaran dari majikan yang sekaligus wanita yang diam-diam dicintainya. "Terima kasih atas semuanya, Nona muda. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan dari Anda dan juga keluarga Raharja."
Queen mengarahkan tangannya pada pundak kokoh Dave, "Jangan berkata seperti itu, karena kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Jadi, lupakan perasaanmu dan mulailah membuka hidup yang baru, oke!"
Dave terlihat membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan ambigu yang bisa dimengerti olehnya, "Nona muda ... a-aku ...."
"Sudahlah, aku lelah dan ingin beristirahat. Nikmati saja hari kalian, kami pergi!" Queen kembali bergelayut manja pada Aditya dan langsung mengajaknya untuk pergi dari singgasana yang tadi pagi ia gunakan.
Aditya hanya tersenyum tipis saat menatap ke arah Sabrina, ia sama sekali tidak bisa mengucapkan selamat kepada wanita yang merupakan mantan kekasihnya itu. Karena sebelum memasuki ballroom hotel, Queen sudah memberikan sebuah ultimatum padanya bahwa ia sama sekali tidak diijinkan untuk berbicara dengan Sabrina. Dengan alasan tidak ingin membuat galau pengantin wanita yang jelas-jelas masih mempunyai perasaan cinta padanya.
Sehingga ia sudah berjalan bersama sang istri untuk menghampiri keluarganya yang sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnis. Sedangkan ayahnya sudah pulang karena merasa kecapekan setelah berdiri seharian saat acara resepsi pernikahan.
Di sisi lain, Dave masih berkutat dengan pikirannya yang merasa sangat penasaran dengan hadiah dari majikannya. Sedangkan Sabrina merasa kesal karena sama sekali tidak bisa berbicara dengan Aditya.
"Nona muda arogan itu benar-benar over possesive pada mas Aditya. Aku benar-benar sangat geram melihat sikap wanita itu," gumam Sabrina yang sudah sibuk meremas gaun pengantinnya. Hingga suara dari Dave, membuyarkan lamunannya.
"Apakah kamu capek, Sabrina?" tanya Dave yang berusaha mengalihkan pikiran dari wanita yang diketahuinya sudah diliputi emosi itu.
"Tidak, ini bukan apa-apa bagiku. Akan tetapi, aku ingin segera meninggalkan tempat ini. Berendam di dalam air hangat di bathtub yang merupakan fasilitas dari hotel mewah ini, menjadi impian bagi semua wanita miskin sepertiku. Jadi, aku akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin dan tidak akan menyia-nyiakannya." Sabrina berusaha meredam emosinya dengan cara mengatakan hal yang jauh dari sisi dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Satu jam lagi, kamu bisa berbuat apa saja di kamar. Kamu istirahat saja di dalam kamar, aku akan menghabiskan malam dengan para sahabatku. Jadi, kamu bisa beristirahat dengan tenang. Tidak apa-apa kan kamu tidur sendirian?" tanya Dave yang sudah berbisik di dekat daun telinga Sabrina. Karena tidak ingin ada orang yang mendengarnya, yaitu mertuanya sendiri.
Hembusan napas dari Dave, berhasil membuat tubuh Sabrina meremang dan mengepalkan kedua tangannya. "Iissh ... kenapa harus bisik-bisik segala sih!"
Dave mengarahkan tatapannya pada sosok mertuanya, untuk menyadarkan Sabrina yang terlihat bersungut-sungut.
Sabrina pun mulai menyadari kebodohannya setelah mengerti kode dari Dave, "Aku malah senang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Baiklah," jawab Dave yang sudah mengarahkan tangannya pada para sahabatnya yang bilang ingin membuatnya tersiksa.
Satu jam kemudian, tamu-tamu udangan satu persatu mulai meninggalkan ruangan berukuran sangat luas dengan dekorasi sangat luar biasa indah yang menghabiskan banyak uang tersebut. Sabrina akhirnya merasa sangat lega karena akhirnya bisa bebas dengan ritual memuakkan yang menurutnya sangat menyiksanya. Setelah itu ia berpamitan dengan semua orang, termasuk orang tuanya.
"Aku antar kamu ke kamar dulu, nanti aku baru kembali ke sini untuk menemui para sahabatku," ucap Dave yang sudah berjalan dan mengulurkan tangannya. Karena ia tidak ingin membuat semua orang merasa curiga, jika sampai ia bersikap cuek atau datar pada wanita yang kesusahan berjalan saat mengangkat gaun pengantin panjang menjuntai yang dikenakannya.
Sabrina terpaksa menyambut uluran tangan itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk mengangkat sebagian gaunnya. Kemudian mulai berjalan mengikuti langkah kaki Dave menuju ke kamar yang akan menjadi tempatnya menginap malam ini.
Beberapa saat kemudian, Dave sudah mengarahkan guest key pada mesin yang ada di pintu dan otomatis mulai terbuka. Ia melangkah ke dalam kamar dan menyuruh Sabrina masuk.
Sabrina menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Ya sudah, kamu pergi saja. Nanti teman-teman kamu nungguin, lagi."
"Oke, selamat bersenang-senang. Kebetulan sekali, aku sangat haus," ucap Dave yang menatap ke arah air minum di atas meja dan mulai menuangkannya ke atas gelas kaca. Kemudian meneguknya hingga habis. Dave beralih menatap ke arah Sabrina yang masih menatap pergerakannya, "Kamu mau minum?"
"Tidak, nanti saja," jawab Sabrina yang ingin segera melihat Dave pergi dari ruangan kamar.
"Iya ... iya, aku pergi. Kamu sedang mencoba untuk mengusirku, kan?" Dave bangkit dari sofa dan berlalu pergi meninggalkan Sabrina. Karena tidak ingin membuat wanita itu merasa sangat tidak nyaman berada di depannya.
Sementara itu, Sabrina yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya bisa bersorak kegirangan saat melihat siluet Dave sudah menghilang di balik pintu. Bahkan ia sudah berjingkrak-jingkrak karena merasa sangat lega dan senang.
"Aah ... akhirnya dia pergi juga."
__ADS_1
Puas mengungkapkan rasa bahagianya, Sabrina yang merasa sangat haus, berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana. Kemudian menuangkan air ke dalam gelas yang baru karena tidak ingin memakai bekas dari Dave dan meneguknya hingga tanpa tersisa.
Setelah rasa kering di tenggorokannya hilang, Sabrina menatap ke arah ranjang king size yang sudah dihiasi bunga mawar merah tersebut. Ia merengut dan merutuki nasibnya. "Aku akan menghancurkan ini." Merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang dan berhasil membuat hiasan itu berantakan.
Sabrina menatap ke arah langit-langit kamar hotel yang diketahuinya tidak murah harganya saat menginap satu malam di sana. "Nikmati saja semuanya Sabrina. Hanya satu malam saja." Sabrina menggerak-gerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Seperti orang yang sedang melakukan gerakan berenang di air.
"Nyaman sekali tidur di atas ranjang empuk ini."
Untuk beberapa saat, Sabrina masih memejamkan kedua matanya dan saat merasa gerah dan tenggorokannya kembali kering, ia bangkit dari atas ranjang. Kembali mengambil air minum dan meneguknya hingga habis. Namun, rasa panas masih menjalar di sekujur tubuhnya.
"Kenapa panas sekali, ya. Bukankah ruangan ini sudah ada fasilitas AC-nya? Akan tetapi, kenapa tubuhku rasanya seperti terasa terbakar."
Sabrina yang sudah tidak mampu menahan rasa panas di tubuhnya, kini mulai sibuk melepaskan gaun pengantin yang dipakainya. Hingga beberapa saat kemudian, gaun indah itu sudah lolos dari tubuhnya dan membuatnya hanya memakai pakaian dalam.
Di saat yang bersamaan, Sabrina mendengar suara pintu yang terbuka dan membuatnya membulatkan kedua matanya saat melihat sosok pria yang sudah sangat berantakan dengan jas yang sudah berada di pundak sebelah kiri. Sementara kancing kemeja bagian atas terbuka beberapa dan rambut ber-pomade yang sudah sangat berantakan. Namun, tetap tidak meninggalkan kesan maskulin dan tampan dari pria tersebut.
Refleks ia meraih gaun yang teronggok di lantai untuk menutupi sebagian tubuhnya. "Dasar pria kurang ajar!"
Dave yang wajahnya sudah berubah merah padam, tentu saja langsung membulatkan kedua matanya begitu melihat tubuh putih mulus yang berdiri menjulang dengan hanya memakai pakaian dalam. Hingga gairahnya yang dari tadi seperti sudah menggedor-gedor jiwanya, refleks seperti ingin segera meloloskannya.
"Sabrina, a-aku ...."
"Keluar, Dave! Aku mau mandi, karena sangat panas."
"Aku pun juga ingin mandi karena merasa tubuhku seperti sudah terbakar," ucap Dave dengan suara serak dan tatapan parau.
"Tunggu giliran, aku mau mandi dulu. Laki-laki belakangan, jadi keluarlah dulu," ucap Sabrina yang sudah bergerak seperti cacing kepanasan karena merasakan seluruh urat syarafnya berdenyut. Bahkan ia merasa gila saat menatap dada bidang yang sedikit terekspos karena kancing yang terbuka dari Dave.
"Aku tidak bisa keluar," ucap Dave yang sudah melepaskan satu persatu kancing kemejanya dan melepaskan dari tubuhnya. "Sabrina, rasanya aku butuh pelepasan." Dave berjalan menuju ke arah Sabrina yang masih melindungi sebagian tubuhnya agar tidak kelihatan olehnya.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Dave sudah merampas paksa gaun yang dipegang oleh Sabrina dan membuangnya ke sembarang arah dan langsung meraup bibir sensual dari wanita yang tidak berkutik di depannya.
TBC ...