
Queen masih terus berusaha memukul Reynaldi berkali-kali dengan tas miliknya. Bahkan wajahnya yang sudah beringas tampak jelas saat merasakan amarah begitu mendengar perkataan dari Reynaldi yang dianggapnya hanyalah sebuah omong kosong belaka dan penuh tipu muslihat saat bilang menyesali perbuatannya. Karena ia tidak melihat kesungguhan dari wajah Reynaldi.
"Kamu pikir suamiku akan semudah itu memaafkanmu setelah apa yang kamu lakukan Rey. Jika kamu mati, mungkin itu masih belum cukup untuk menebus perbuatanmu pada keluargaku. Jangan bermimpi di siang bolong, karena tidak semudah itu aku memaafkanmu. Begitu pun dengan suamiku yang tak lain adalah abangmu." Queen sudah berteriak dengan suaranya yang sangat keras dan berhasil membuat bising di dalam ruangan tersebut.
Bahkan semua orang sudah menutup telinganya masing-masing saat Queen murka dan mengamuk histeris. Tidak ada orang yang berani menghentikan aksi bar-bar sang nona muda tersebut.
Sementara itu, Aditya yang merasa sangat terkejut dengan kemurkaan dari istrinya, berniat untuk menghentikan aksi Queen yang seperti orang kesetanan. Akan tetapi, saat ia ingin melangkah mendekati wanitanya, ayahnya menahan tangannya untuk menghentikan langkahnya.
"Biarkan menantu melampiaskan amarahnya, putraku. Karena menurut Ayah, dia sudah menahannya terlalu lama untuk memberikan sebuah pelajaran pada adik iparnya. Lagipula, sepertinya Queen ingin membalas rasa sakit hatinya saat ia dipaksa untuk menandatangani surat perjanjian untuk mau bercerai denganmu dan menikah dengannya. Jadi, jangan menghentikan istrimu jika tidak ingin semakin menambah kemurkaannya," ujar Boby yang sangat mendukung perbuatan dari menantunya.
Karena jauh di dalam hatinya, ia sendiri pun ingin sekali untuk menghajar habis-habisan pria yang telah membuat putra satu-satunya meregang nyawa di ruangan operasi. Akan tetapi, ia tidak mungkin bisa melakukannya karena menyadari posisinya. Bahwa ia hanyalah pria miskin yang tidak selevel dengan keluarga dari mantan istrinya tersebut.
Sehingga saat melihat menantunya menghajar Reynaldi, membuatnya bersorak kegirangan dan mencoba menghentikan putranya yang berniat melerai. Karena tidak ada yang berani menghentikan seorang nona muda yang sedang murka. Bahkan orang tuanya pun hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.
"Astaghfirullah Yah, tapi lihatlah!" Aditya menunjuk ke arah Queen yang beralih menarik rambut Reynaldi dan masih tidak berhenti mengumpat. "Istriku sedang hamil, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka berdua akibat ia banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran saat murka pada adik tirinya. Kemudian ia beralih menatap ke arah mertuanya, "Bagaimana Pa, Ma? Apakah aku boleh menghentikan istriku?"
Awalnya Abymana hanya diam saja, seolah belum bisa mengambil keputusan karena mendukung perbuatan bar-bar dari putrinya. Akan tetapi, ia sedikit meringis kesakitan saat merasakan tangan sang istri sudah mendarat di pinggangnya.
"Cepat hentikan istrimu, Aditya. Bahkan dia sedang hamil, tapi malah berbuat bar-bar seperti itu. Bukankah wanita yang hamil harus sangat berhati-hati dalam berbicara, bersikap? Kamu pun juga begitu sebagai calon ayah, jadi hentikan Queen," tegas Qisya saat geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.
"Baik Ma," jawab Aditya yang buru-buru berjalan mendekat ke arah istrinya terlihat masih menjambak rambut Reynaldi.
Sementara itu, Reynaldi terlihat meringis kesakitan saat wanita yang sangat diinginkannya untuk menjadi miliknya tidak berhenti menarik rambutnya. "Arrhh ... sakit, Queen! Lama-lama aku bisa botak ini," teriak Reynaldi yang berusaha memegangi rambutnya. Bahkan kulit kepalanya sudah terasa sangat panas dan sakit.
__ADS_1
"Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keadaan dari suamiku yang berjuang antara hidup dan mati di ruangan operasi. Bahkan jika kamu mati sekali pun, tidak akan bisa membayar dosamu! Karena jiwamu yang kotor ini tidak bisa dibandingkan dengan jiwa suci dari suamiku yang barusan kamu panggil Abang itu. Mulut kotormu itu seolah tidak pantas menyebut nama suamiku," sarkas Queen dengan kilatan amarah dan suara teriakannya terdengar sangat jelas menghiasi ruangan berukuran cukup luas tersebut.
"Jika kamu laki-laki, aku akan mengajakmu duel, Queen." Reynaldi dengan sangat kesal menjawab kemurkaan dari wanita yang masih tidak melepaskan rambutnya. Hingga ia bisa bernapas lega saat mendengar suara dari Aditya yang mencoba menghentikan perbuatan dari Queen.
Aditya menarik tangan Queen, agar mau melepaskan Reynaldi. "Sudah cukup, Sayang. Jaga sikapmu dan perkataanmu. Ada anak kita yang ada di dalam rahimmu, ingat itu!" hardik Aditya yang mencoba bersikap tegas pada sang istri. Dan perbuatannya itu berhasil membuat Queen menghentikan aksi liarnya dengan cara memeluknya sangat erat untuk mengunci posisinya.
"Astaghfirullah ... astaghfirullah," jawab Queen seraya berusaha menetralkan deru napasnya yang memburu karena merasa amarahnya masih berada di ubun-ubun.
Aditya tidak berhenti mengusap lembut lengan wanita yang masih merasakan amarah di dalam dirinya, "Sabarlah Sayang, dan jangan mengandalkan emosi pada setiap hal yang kamu lihat. Lebih baik kamu menenangkan diri dulu di luar dan biarkan aku berbicara 4 mata dengan Reynaldi, oke!"
"Aku tidak akan pernah mengijinkanmu berbicara berdua dengan adik tirimu yang tidak tahu diri ini," sarkas Queen dengan tatapan mata penuh kilatan api.
"Apa kamu takut aku akan kembali menyakiti Abangku, Queen? Apakah suamimu selemah yang kamu pikirkan?" ejek Reynaldi dengan terkekeh. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kamu boleh memeriksaku. Apakah aku membawa senjata tajam atau sesuatu yang akan mengancam keselamatan suamimu. Lakukanlah!" ucap Reynaldi seraya tersenyum menyeringai.
Awalnya Queen hanya diam saja dan tidak menanggapi perkataan dari Rey, tapi karena ia merasa sangat mencurigai pria di depannya, membuatnya ingin melakukannya dengan menyuruh pengawal untuk memeriksa. Akan tetapi, raut kesal tampak jelas di wajahnya begitu melihat sang suami menggelengkan kepala.
Kali ini Queen benar-benar merasa sangat diuji oleh pria yang merupakan imamnya tersebut. Sejujurnya jika dia disuruh memilih, tentu saja ia tidak ingin membiarkan suaminya hanya berbicara berdua dengan adik tirinya. Akan tetapi, ia juga tidak ingin membuat pria yang sangat dicintainya itu seolah tidak mempunyai harga diri di depan semua orang, karena harus menuruti perintahnya. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya ia berat hati menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, masih ada waktu 10 menit. Kamu berbicara saja dengan adik tidak tahu diri ini," sarkas Queen dan berlalu pergi meninggalkan 2 bersaudara tersebut.
Sedangkan Nayla dan suaminya yang dari tadi diam seperti patung, menganggukkan kepalanya saat putranya menyuruh mereka keluar. Namun, sebelumnya Nayla menepuk bahu kokoh Aditya. "Apa pun yang terjadi, kalian berdua memiliki darah yang sama. Ingatlah itu, Aditya."
"Aku selalu mengingat hal itu, Bu." Aditya menatap sekilas ke arah wanita yang telah melahirkannya. Entah mengapa perkataan dari ibu kandungnya tersebut seolah menyayat hatinya. Akan tetapi, ia benar-benar sekuat tenaga mencoba mengerti dan memahami sikap dari wanita yang sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Dan suasana hening tercipta di ruangan yang hanya ada 2 pria kakak beradik tersebut. Hingga suara dari Reynaldi memecahkan keheningan.
"Sekarang hanya ada kita berdua di ruangan ini. Jadi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu Abangku yang tersayang," ucap Reynaldi dengan tatapan penuh permohonan.
"Baiklah, aku akan mendengarkan," sahut Aditya dengan wajahnya yang tenang. Seolah ia sangat siap untuk mendengarkan apa pun dari saudara tirinya tersebut.
"Jika dulu aku tahu bahwa kamu adalah Abangku, mungkin aku tidak akan berniat untuk membunuhmu."
"Alhamdulillah," ujar Aditya dengan wajah yang berbinar menunjukkan rasa syukurnya begitu mendengar perkataan bernada positif dari Reynaldi. Akan tetapi, ia merasa sangat terkejut begitu melihat adik tirinya tersebut berlutut di bawah kakinya.
"Maafkan aku, karena telah menyuruh orang untuk menusukmu dulu. Aku benar-benar merasa sangat berdosa karena membuatmu terluka, padahal dulu aku hanya menyuruh orang untuk memberikan sebuah luka kecil sebagai ancaman saja, tapi malah mereka kebablasan."
"Aku sudah memaafkanmu, Rey. Berdirilah, jangan begini!" Aditya membantu Reynaldi yang bersujud di kakinya agar berdiri.
Reynaldi refleks memeluk tubuh kekar Aditya, "Terima kasih, ternyata kamu benar-benar sangat baik, Abangku."
"Terima kasih atas pujiannya. Apakah hanya itu yang ingin kamu katakan padaku?"
Reynaldi melepaskan pelukannya, "Iya, hanya itu. Kenapa?"
Aditya menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa-apa, berarti sekarang giliranku untuk mengatakan hal yang selama ini ingin aku katakan padamu, Rey."
"Katakan saja, aku akan mendengarkan," jawab Reynaldi dengan tatapan intens pada Aditya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh pria bodoh ini? Aku harus membuatnya percaya padaku. Jadi, aku bisa mendapatkan hatinya saat ia mempercayaiku. Dan dia sendiri yang akan membebaskan aku nanti saat mengajukan banding. Karena melihat aku sudah menyesali perbuatanku. Untuk sementara, aku akan berpura-pura menerima vonis hukuman dari hakim. Ide Mama benar-benar sangat brilian," gumam Reynaldi.
TBC ...