
Setelah berbicara panjang lebar dengan abang iparnya, Aditya bangkit dari sofa dan langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk melakukan ritual mandi. Dirasanya otaknya saat ini terasa panas, karena berjuang keras untuk menahan nafsunya saat sang istri dengan liar menyerangnya di atas ranjang.
Saat dirinya berjalan melewati ranjang dimana Queen terlihat masih tertidur, untuk sesaat dirinya berhenti dan dengan tatapan intens menatap wajah cantik yang menghadap ke arahnya.
"Padahal aku pernah bilang padamu Queen, kalau aku tidak akan pernah bisa menahan diriku jika kamu telanjang di depanku saat kita sudah sah menjadi pasangan suami istri. Ternyata akal sehatku masih bisa mengalahkan nafsuku, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa selamanya menahan nafsuku, Queen."
"Semoga Tuhan selalu melindungiku, agar aku bisa Istiqomah memegang janjiku padamu istriku. Insya Allah aku tidak akan pernah menyentuhmu tanpa persetujuanmu. Aku ingin kita melakukan malam pertama atas dasar sama-sama ikhlas, bukan atas dasar keterpaksaan. Apalagi seperti tadi di bawah pengaruh obat perangsang, karena aku bukanlah pria yang suka mencari keuntungan dari seseorang yang sedang mengalami kemalangan."
"Semoga Arthur sadar bahwa perbuatannya itu salah dan tidak akan mengulanginya lagi setelah aku tadi bicara panjang lebar dengannya. Apa semua keturunan konglomerat memang selalu tengil seperti itu pada saudaranya sendiri?"
"Bisa-bisanya dia bercanda seperti ini, mengerjai adiknya sendiri dengan obat perangsang. Jika Arthur adalah adikku, mungkin aku sudah memberinya pengertian tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan seperti mengajari seorang anak kecil. Karena semua perbuatannya memang masih seperti seorang anak kecil."
Setelah puas mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, Aditya langsung berjalan masuk ke kamar mandi. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi bisa terdengar dari luar bahwa Aditya tengah melakukan ritual mandi di bawah guyuran air shower.
Aditya memejamkan kedua matanya saat air dingin yang keluar dari shower itu membasahi wajahnya dan tubuhnya. Namun bayangan dari tubuh telanjang Queen yang sangat indah membuatnya sontak langsung membuka matanya. Kini degub jantungnya berdebar sangat kencang begitu pikiran kotor memenuhi otaknya.
Aditya menggelengkan kepalanya dan terlihat sesekali mengetuk-ngetuk kepalanya. "Astaghfirullah ... otakku kini dipenuhi dengan bayangan tubuh istriku yang telanjang tadi. Buang pikiran kotor ini dari otakmu Aditya, istighfar ... istighfar ...."
"Astaghfirullah ... aku harus membersihkan pikiran kotor ini dengan melakukan sholat Dzuhur, semoga pikiran kotor ini hilang setelah aku berserah diri kepada-Nya."
Akhirnya Aditya buru-buru membersihkan diri dan langsung mengambil air wudhu. Setelah selesai dengan kegiatannya, Aditya yang sudah memakai jubah handuknya mulai berjalan keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah walk in closet. Karena dirinya pergi ke hotel tidak membawa baju ganti sama sekali, sehingga dirinya yang sedikit kebingungan langsung memeriksa apakah mertuanya itu menyiapkan baju ganti untuknya.
__ADS_1
Tangannya mulai membuka lemari kaca berukuran raksasa yang ada di hadapannya, dan dilihatnya beberapa potong lingerie seksi yang tergantung di sana. Serta ada beberapa gaun malam yang sangat indah. Tangan Aditya menyentuh lingerie seksi di depannya.
"Astaghfirullah ... pakaian apa ini? Ini bukan pakaian, tapi lebih seperti saringan tahu saja. Karena sangat tipis dan menerawang, yang tentu saja tidak bisa menutupi tubuh. Pantas saja Queen tadi menyuruhku untuk membelikan piyama, pasti dia jijik dengan pakaian ini."
"Bahkan aku pun sangat tidak menyukai pakaian model begini. Apalagi jika sampai ada pelayan yang sampai melihat tubuh istriku saat mereka nanti mengantarkan makanan. Akan tetapi, pakaian seperti ini halal dipakai Queen di depanku. Karena aku adalah suaminya dan sudah bukanlah hal yang haram saat melihat apapun dari Queen. Kenapa sekarang aku berubah jadi laki-laki yang mesum?"
Sekali lagi Aditya langsung menepuk jidatnya seraya menggelengkan kepalanya. "Sadar Aditya ... sadar. Buang pikiran mesum dari otakmu!"
Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Aditya menutup lemari kaca di depannya. Lalu beralih membuka lemari yang satunya lagi untuk memeriksa apakah ada baju yang bisa dipakainya. Dan sudut bibirnya terangkat ke atas begitu melihat ada pakaian pria yang bisa dipakainya.
"Alhamdulillah, aku jadi tidak repot-repot memanggil pelayan hotel untuk membelikan aku pakaian. Ternyata semuanya sudah tersedia di sini."
Selama setengah jam dirinya masih terlihat bersimpuh setelah selesai sholat, tentu saja dirinya sibuk merapalkan doa untuk berserah diri pada yang Maha Kuasa. Seolah rasa khusyuknya itu membuatnya sama sekali tidak memperdulikan sekitarnya. Hingga dirinya yang saat ini memunggungi Queen tidak menyadari pergerakan dari wanita yang saat ini sudah mulai mengerjapkan kedua matanya dan sesekali memijat pelipisnya.
Queen yang baru saja terbangun dari tidurnya, mengamati suasana sekitarnya dan mulai bisa mengerti dimana dirinya berada. Namun rasa pusing yang dirasakannya, membuatnya tidak berhenti memijat kepalanya. Dirasakannya tenggorokannya yang terasa kering karena efek sangat haus, membuatnya langsung bangkit posisinya yang berbaring.
Kemudian ia menatap ke sekeliling untuk mencari air minum, dan apa yang dicarinya dilihatnya ada di atas meja. Sontak saja dirinya langsung bangkit dari ranjang, berniat untuk berjalan mengambil air minum. Namun, kepalanya yang sangat pusing dan berkunang-kunang, membuatnya kembali mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aaaaaaarrrh ... kenapa kepalaku terasa sangat pusing seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
Sontak teriakan dari Queen membuat Aditya menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan dari wanita yang sudah tersadar dari efek pingsannya. Aditya bangkit berdiri dan berjalan mendekati wanita yang duduk di pinggir ranjang sambil memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun Queen? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Refleks Queen langsung mengangguk perlahan, lalu mulai mengungkapkan keinginannya. "Aku haus, tapi kepalaku pusing dan tidak bisa mengambil air di meja itu."
Aditya langsung berjalan menuju ke arah meja dan menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu dirinya berjalan menghampiri Queen. Lalu menyerahkan gelas kaca berukuran sedang yang dibawanya pada Queen.
"Ini, minumlah!"
Sedangkan Queen yang daritadi menatap siluet Aditya saat berjalan mengambil air minum dan kembali berjalan menghampirinya membawa air di tangannya, Queen langsung menerima gelas itu dan berniat meminumnya. Namun dirinya samar-samar mengingat kejadian yang dialaminya setelah sampai di kamar hotel.
Mulai dirinya merasakan panas di tubuhnya, lalu mandi di bawah guyuran air shower. Namun sama sekali tidak mampu menghilangkan rasa panas yang dirasakannya dan malah membuatnya semakin merasa ingin bercinta. Saat dirinya mengingat kejadian dimana dirinya membuka handuk yang dipakainya dan berlari menyerang Aditya yang sudah dihempaskannya ke atas ranjang.
Sontak Queen langsung melepaskan genggaman tangannya dari gelas yang dipegangnya. Tentu saja gelas kaca itu langsung hancur berkeping-keping dan bahkan ada pecahan kaca yang saat ini menancap di kakinya.
Tanpa merasa kesakitan ada pecahan gelas yang menancap di kakinya, Queen yang saat ini sudah dikuasai oleh amarah, menatap tajam ke arah pria yang ada dihadapannya seraya berteriak dengan sangat keras.
"Kau ... apa kau sudah memperkosaku? Apakah aku sudah tidak perawan? Cepat jawab!!"
Teriakan Queen yang sangat memekakkan telinga, membuat Aditya langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya.
TBC ...
__ADS_1