
Flashback on ....
Pukul 06.30 WIB, para MUA yang akan merias Sabrina untuk acara ijab kabul yang akan dilaksanakan pukul 10 pagi sudah datang. Sementara itu, Sabrina baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan melihat mama dan orang-orang suruhan dari keluarga Raharja itu sudah datang.
Semalaman ia bahkan tidak bisa tidur saat memikirkan akan melepaskan status lajangnya. Meskipun baginya ini hanyalah sebuah sandiwara saja bersama dengan Dave, tetapi entah mengapa ia merasa deg-degan dan menganggap hari ini adalah hari yang mengubah seluruh dunianya.
Sabrina menghampiri para MUA yang sudah sibuk mengeluarkan semua perlengkapan untuk meriasnya. Ia tahu bahwa keluarga Raharja benar-benar sudah mengurus semuanya, sehingga ia dan keluarganya sama sekali tidak berbuat apa-apa atau pun mengeluarkan sepeser pun.
Ia bahkan sudah mendengar bahwa acara resepsi pernikahannya akan dilaksanakan malam hari dan yang lebih membuatnya merasa kesal adalah tempat itu adalah bekas dari mantan kekasih dan wanita yang sangat tidak disukainya. Sejujurnya ia sudah menolak mentah-mentah, tetapi kedua orang tuanya benar-benar murka dan membuatnya tidak punya pilihan dan terpaksa menyetujuinya.
Sabrina sudah mendaratkan tubuhnya di sofa dan membiarkan para MUA itu sibuk merias wajahnya. Setelah 2 jam setengah berlalu, kini make up artis tersebut telah menyelesaikan tugasnya. Wajah Sabrina telah berubah menjadi sangat cantik.
MUA tersebut telah merubah wajahnya terlihat natural meski memakai make up yang tebal, serta rambutnya yang telah disanggul keatas dengan hiasan roncean bunga melati yang telah dibawa oleh make up artis tersebut.
"Sudah selesai, Nona Sabrina, sekarang saya akan membantu memakai kebaya pengantinnya," ucap salah satu wanita dengan tubuh tinggi nan langsing tersebut.
Salah satu wanita lainnya telah membawa kebaya berbahan brokat Perancis yang memiliki tekstur lembut, serta dihiasi beberapa Payet yang membuat kebaya tersebut terlihat indah dan pastinya sangat mewah.
Sabrina hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia seperti mayat hidup yang sama sekali tidak memiliki semangat hidup. Hari yang seharusnya merupakan hari paling bersejarah dan juga paling membahagiakan bagi seorang wanita yang akan menikah, tidak berlaku baginya.
Karena menurutnya, ini adalah hari paling terkutuk sepanjang sejarah hidupnya. Sehingga ia hanya menuruti keinginan dari semua orang dan tidak memperdulikan apapun lagi.
"Tenanglah Sabrina, anggap saja ini hanyalah sebuah syuting film dan kamu adalah artis utamanya. Kamu harus berakting secara totalitas agar semua orang percaya. Astaga, tetapi aku sangat muak sekali dengan hari ini dan ingin hari paling memuakkan ini cepat berlalu," gumam Sabrina yang asyik merengut di dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Sabrina terlihat sangat mempesona dengan penampilannya yang memakai kebaya pengantin lengkap dengan hiasan bunga melati di rambutnya.
"Sudah selesai, Nona Sabrina. Anda terlihat sangat cantik dan menjadi wanita paling berbahagia di dunia," seru wanita dengan name tag putri tersebut.
Sementara itu, Sabrina yang dari tadi asyik merengut di dalam hati, terpaksa menyunggingkan senyum penuh keterpaksaan saat mendengar ucapan dari wanita di depannya. "Terima kasih, Mbak."
__ADS_1
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu kami semua permisi dulu. Sekali lagi selamat atas pernikahannya. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan cepat dikaruniai momongan." Menepuk pundak mempelai wanita dengan seulas senyum sebelum berlalu pergi bersama para anak buahnya.
Deg ...
Jantung Sabrina seolah langsung dihunus sebilah pedang yang tajam saat mendengar doa penuh ketulusan dari wanita yang sudah berjalan ke arah pintu keluar. "Seharusnya doa yang baik untuk diaminkan, tetapi hari ini aku tidak akan pernah mengaminkannya. Karena ini hanyalah sebuah kebohongan dan hanya sandiwara yang penuh dengan ilusi."
Sabrina kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan sibuk mengumpat di dalam hati. Bahkan ia sudah mengepalkan kedua tangannya saat membayangkan duduk di singgasana yang merupakan bekas dari kekasihnya.
"Tuhan, kenapa nasibku bisa seburuk dan senista ini. Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku pasrahkan saja semuanya padamu," lirih Sabrina yang sudah berkaca-kaca bola matanya dan sekuat tenaga menahan kesedihan yang menyeruak memenuhi jiwanya. Ia mengambil tisu dan buru-buru menghapus bulir bening yang menetes di pipinya. Hingga beberapa saat kemudian, suara dari mamanya membuyarkan lamunannya.
"Sudah saatnya, Sayang. Ayo, kita turun. Menantu sudah bersiap di depan penghulu. Nanti kamu menunggu di ruang tamu, saat menunggu Dave melaksanakan ijab kabul di halaman depan rumah," ucap mama Sabrina.
"Iya, Ma," jawab Sabrina tak bersemangat dan dengan sangat malas bangkit dari sofa dan berjalan mengekor wanita yang sudah berjalan di depannya. "Seandainya aku bisa menghentikan waktu. Mungkin aku kan kabur saja dari sini," batin Sabrina yang menatap siluet mamanya dari belakang.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di ruang tamu dan menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Bahkan ia bisa mendengar suara dari penghulu yang menjelaskan tentang pernikahan dan juga akad nikah.
Sementara itu, Dave yang sudah memakai setelan jas lengkap dengan songkok di kepalanya, saat ini sudah mendengarkan perkataan penghulu yang saat ini berada di depannya dan menjelaskan mengenai lafal Ijab kabul dalam akad nikah.
Setelah itu, ia dengan lantang mengucapkan kalimat sakral yang akan menegaskan dirinya sah menjadi suami wanita yang akan sah menjadi istrinya.
"Saya terima nikahnya Sabrina Anggraini binti Ahmad Dahlan dengan mas kawin uang sebesar 20 juta rupiah dan satu set perhiasan emas dibayar tunai!" Dengan satu kali tarikan napas, Dave mengucapkan kalimat ijab kabul dengan suaranya yang tegas dan lancar.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu bertanya pada beberapa orang saksi yang berada di depannya.
Para saksi yang juga duduk di sebelah kanan dan kiri pengantin pria serempak semua orang menjawab.
"Saahhh!"
"Alhamdulillah, sekarang Tuan Dave sudah sah menjadi suami dari Nona Sabrina. Sekarang Nona bisa dipanggil ke sini untuk menandatangani surat nikah," ucap pak penghulu yang berumur lebih dari 45 tahun itu menatap ke arah pengantin pria.
__ADS_1
"Alhamdulillah," jawab Dave yang sudah merasa lega di dalam hatinya. Karena semenjak pagi, ia merasa sangat deg-degan saat memikirkan akan melakukan ijab kabul.
Karena ia sudah dinasehati oleh tuan mudanya agar tidak menganggap sebuah pernikahan adalah sebuah sandiwara. Penjelasan panjang lebar dari majikannya benar-benar sudah terekam jelas di otaknya. Yang menjelaskan bahwa perkawinan adalah merupakan ibadah dan merupakan sebuah janji kepada Tuhan. Sehingga ia bertekad tidak berniat bermain-main dengan janji di depan Tuhan yang barusan diucapkannya.
Sabrina sudah berjalan bersama mamanya dan kini telah duduk disebelah pria yang telah benar-benar sah menjadi suaminya di mata agama dan hukum. Dengan perasaan tak menentu, ia mulai duduk di sebelah Dave.
Keduanya mulai menandatangani buku nikah yang disodorkan oleh pria yang berada didepannya. Setelah itu, penghulu tersebut mulai membacakan doa untuk mendoakan mempelai. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menengadahkan kedua tangannya sambil mengamininya.
Begitu selesai, Sabrina berakting mencium punggung tangan dari pria yang dari tadi bisa dilihatnya, sudah mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun, ia merasa sangat terkejut saat tiba-tiba Dave mendekat dan melabuhkan ciuman di keningnya.
"Astaga, apa-apaan dia. Ngapain juga pakai cium-cium segala. Awas saja kamu, Dave. Sepertinya kamu lupa pada perjanjian yang telah kamu buat sendiri, bahwa tidak ada sentuhan fisik di antara kita. Lihat saja nanti, aku akan menghabisimu," geram Sabrina dengan perasaan yang membuncah karena sudah dikuasai oleh amarah.
Dave menjauhkan wajahnya setelah selesai melabuhkan bibirnya di kening wanita cantik yang menurutnya sudah seperti bidadari tersebut. Karena menurutnya balutan kebaya pengantin modern yang berwarna putih yang berarti suci itu benar-benar membuat Sabrina seperti seorang ratu. Sehingga ia tadi tidak bisa mengalihkan pandangannya pada wajah wanita yang berjalan mendekat ke arahnya beberapa saat yang lalu.
Sehingga begitu Sabrina mencium punggung tangannya, ia merasa seolah seorang raja yang baru saja mendapat kemenangan setelah berperang dan melupakan sesuatu hal yang pernah dijanjikannya.
"Sekarang kamu telah sah menjadi istriku, Sabrina. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Karena semalam tuan Aditya sudah menyuruhku untuk berjanji bahwa aku harus membahagiakanmu dan memenuhi janjiku di hadapan Tuhan," batin Dave yang menatap bola mata penuh kilatan api dari wanita yang baru saja diciumnya.
Acara ijab kabul telah selesai dan fotografer menyuruh pasangan suami istri yang baru sah tersebut sama-sama menunjukkan buku nikahnya kehadapannya dan ia mulai melakukan tugasnya untuk mengabadikan momen paling sakral tersebut.
"Pengantin wanita, tolong senyumnya agak lepas dan jangan kaku begitu ya."
Sabrina yang saat ini sudah berdiri berdekatan dengan pria yang ingin dihabisinya, hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar perkataan dari fotografer tersebut.
"Astaga, bagaimana aku bisa tersenyum lepas di situasi aku ingin memakan kalian semua, terutama kamu, Dave. Aku ingin menghabisimu," batin Sabrina yang berusaha sekuat tenaga untuk memberikan senyuman terbaiknya. Meskipun di hatinya sangat dongkol dan sudah dipenuhi oleh emosi.
"Tersenyumlah Istriku," ucap Dave yang berbisik di telinga Sabrina. Sejujurnya ia sangat tahu bahwa saat ini wanita yang berdiri di sampingnya itu sangat murka. Namun, ia berpura-pura bersikap biasa di hadapan semua orang.
Flashback off ...
__ADS_1
TBC ...