
Abymana dan Arthur hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan dari Queen. Sedangkan sang suami terlihat sangat penurut seperti kerbau yang di cucuk hidungnya karena tidak berani membantah atau pun memarahi sang istri yang jelas-jelas salah.
"Sepertinya kamu Susis pada adikku ya Aditya? Nona muda arogan ini benar-benar sangat menyebalkan bukan?" tanya Arthur yang sudah tersenyum smirk.
Queen menatap kesal ke arah saudara laki-lakinya yang mengejeknya. "Mana ada, My hubbiy sangat mencintai istrinya yang sangat cantik dan manis ini." Queen beralih menatap ke suaminya yang hanya diam membisu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. "Bukankah seperti itu My hubbiy?"
Aditya lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak bisa banyak berbicara menanggapi pertanyaan dari wanita yang terlihat seperti anak kecil itu.
Queen merasa sangat tidak puas dengan jawaban dari pria yang dari tadi hanya asyik menganggukkan kepalanya. "Kenapa daritadi My hubbiy tidak berbicara? Malah asyik mengangguk saat aku bertanya."
"Karena dokter tidak mengijinkan suamimu banyak bicara Queen. Aditya harus banyak beristirahat, jadi jangan ganggu suamimu! Biarkan dia tidur agar bisa segera pulih dan kalian bisa melanjutkan bulan madu kalian yang gagal," ucap Abymana dengan wajah datarnya.
"Jadi begitu ya Daddy? Semuanya kacau gara-gara si Reynaldi sialan itu!" Queen terlihat mengepalkan tangannya saat membayangkan wajah dari pria yang merupakan otak di balik penusukan suaminya.
Abymana mengarahkan tatapan tajam pada putrinya karena menyebutkan nama saudara dari menantunya. "Queen!" Mengarahkan dagunya pada Aditya yang sudah terlihat seolah banyak beban pikiran.
Queen yang sama sekali tidak paham dengan kode dari sang Daddy hanya menatap penuh kebingungan.
"Daddy pergi dulu Queen. Kamu juga banyak istirahat saja Aditya," ucap Abymana yang mengarahkan dagunya ke arah pintu seolah ingin memberikan sebuah kode pada putrinya agar keluar untuk mengantarkannya.
"Hati-hati di jalan Pa, Abang. Maaf tidak bisa mengantarkan ke depan," ucap Aditya dengan penuh penyesalan.
"Istirahatlah Aditya, jangan pikirkan apa pun. Biar kami yang menyelesaikan semuanya," Arthur menepuk lengan kekar adik iparnya.
"Iya Abang," jawab Aditya dengan suaranya yang seolah kehilangan tenaga.
Queen mengusap lembut punggung tangan suaminya. "Aku antarkan Daddy dan Brother dulu My hubbiy." Berlalu pergi meninggalkan pria yang sudah menganggukkan kepalanya untuk menyetujui perkataannya.
__ADS_1
Aditya mengamati siluet dari 3 orang yang sudah menghilang di balik pintu. Pikirannya dari tadi benar-benar merasa sangat bingung karena mengetahui kenyataan bahwa ia telah merebut calon istri dari adiknya sendiri. Sehingga membuat adiknya sangat membencinya hingga berakhir ingin membunuhnya.
"Ya Allah, apakah aku berdosa karena telah merebut Queen dari adikku? Seandainya aku tidak masuk ke dalam keluarga Raharja, mungkin aku tidak akan membuat Rey tersesat dan jatuh ke dalam lembah dosa ini."
Aditya memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing dengan beban pikiran yang dirasakannya. Perasaan berdosa yang amat sangat dirasakannya saat mengetahui misteri penusukannya. Dengan sangat percaya dirinya aku mengatakan tidak mempunyai musuh dan merasa tidak ada yang membenciku. Namun, pada kenyataannya malah adikku sendiri yang memusuhiku."
Sementara itu, di luar ruangan perawatan, Queen sudah berkali-kali mendapatkan sentilan di dahinya dari Daddy dan Brother-nya. Tentu saja terlihat ekspresi wajahnya yang kini tengah meringis memegangi dahinya.
"Apa-apaan sih Dad, Brother?" rengut Queen dengan sangat kesal.
"Jangan menyebut nama Rey di depan suamimu, Queen. Karena Daddy tadi sudah menceritakan semuanya tentang jati dirinya yang sebenarnya, jadi dia tahu bahwa Rey adalah adiknya." Abymana mulai menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan oleh putrinya.
"Memangnya kenapa Dad? Bukankah itu malah baik, sehingga suamiku bisa langsung menuntut hukuman yang seberat-beratnya pada adik tirinya yang seperti iblis itu?"
"Dasar gadis bodoh! Sudah beberapa hari hidup bersama suamimu, tapi kamu tidak bisa mengerti bagaimana wataknya? Kenapa dalam urusan yang mudah begini, otak pintarmu tidak kamu pakai Queen!" ejek Arthur yang sudah bersedekap di dada.
"Aditya pasti saat ini sedang asyik menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Reynaldi." Abymana mulai menjelaskan kepada putrinya yang sangat lugu dan tidak pandai dalam hal menilai orang. "Masuklah, hibur suamimu dan jangan marah padanya jika dia tidak bisa membenci adiknya."
Queen mulai mengerti dengan perkataan dari 2 pria yang sangat disayanginya itu. "Kalau soal itu, sepertinya aku harus mencuci otak suamiku agar tidak bersikap bodoh. Baiklah, Daddy dan Brother hati-hati di jalan. Aku mau masuk dulu untuk melihat suamiku." Memeluk Daddy dan Brother-nya, lalu langsung masuk ke dalam ruangan perawatan karena merasa sangat khawatir dengan keadaan dari pria yang terlihat tengah memejamkan kedua matanya.
Bisa dilihatnya bahwa pria yang terlihat sangat pucat itu bernafas tidak teratur yang menunjukkan beban yang dipikirkannya. Queen berjalan ke arah suaminya dan mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang. Tangannya terangkat ke atas untuk merapikan rambut acak-acakan dari pria tampan yang sangat dicintainya.
"Rambutmu berantakan My hubbiy, aku tidak membawa sisir pula."
Tanpa berniat membuka mata, Aditya memegang tangan Queen dan menaruhnya di pipinya. "Aku ingin membuat sebuah pengakuan dosa padamu istriku."
Merasa sangat terkejut mendengar perkataan dari suaminya yang masih tidak mau membuka matanya, tentu saja membuat Queen merasa kebingungan. "Pengakuan dosa apa My hubbiy? Bukankah yang berdosa adalah si Reynaldi sialan itu?"
__ADS_1
Aditya refleks langsung membuka netra pekatnya dan langsung mengarahkan jari telunjuknya ke bibir tipis sang istri. "Jangan bicara kasar lagi Sayang! Belajarlah sedikit demi sedikit untuk merubah cara bicaramu karena kamu sudah memutuskan untuk memakai hijab. Jadi, ada baiknya kamu juga merubah akhlakmu."
"Karena seorang wanita yang sudah memutuskan untuk memakai hijab, setidaknya harus merubah akhlaknya mulai dari yang pertama tutur katanya. Agar mencerminkan dari pakaian yang kamu pakai ini!" Memegang gaun yang dipakai oleh sang istri.
"Aku sampai lupa Sayang untuk menanyakan alasanmu memutuskan untuk merubah penampilan. Katakan padaku, apa yang membuat bidadari surgaku ini memutuskan untuk menutup aurat." Aditya mengarahkan tatapan penuh cinta seraya menautkan jemarinya ke jemari lentik sang istri.
"Memangnya apa lagi alasanku jika bukan karena kamu My hubbiy. Aku tadi benar-benar sangat takut kamu akan meninggalkanku, karena dokter mengatakan kalau kamu kritis. Apalagi golongan darahmu termasuk langka dan jarang orang mempunyai golongan darah yang sama denganmu."
Queen menggenggam erat tangan suaminya. "Aku benar-benar sangat takut My hubbiy, bahkan apa pun akan aku lakukan untuk membuatmu selamat dari maut."
"Apa pun?" tanya Aditya dengan sorot penuh pertanyaan.
"Iya, apa pun. Karena aku tadi hampir terjebak dengan ulah licik dari Rey yang menyuruhku untuk bercerai denganmu dan menikah dengannya. Maafkan aku My hubbiy, karena aku hampir saja terjebak dengan permainan licik adikmu yang seperti iblis itu." Queen mengepalkan kedua tangannya karena merasa sangat emosi saat mengingat pria yang tak lain adalah adik iparnya.
"Tahan emosimu Sayang! Istighfar agar tidak ada syetan yang mengelilingimu. Aku tidak pernah menyalahkanmu, tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya aku tidak hadir di antara kalian, mungkin aku tidak akan membuat adikku membenciku."
"Ngomong apa sih kamu My hubbiy? Kamu tidak salah, tapi si Rey yang harus di salahkan. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri karena aku sangat tidak menyukainya."
"Sayang, kenyataannya adalah Rey tetap adikku. Darah yang sama mengalir di tubuh kami, aku tidak mungkin bisa melihat adikku mendekam di penjara. Jadi, aku ingin mencabut laporannya. Bilang pada Papa untuk membebaskan adikku!" ucap Aditya dengan tegas.
Sontak saja Queen membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan dari suaminya yang langsung membuatnya murka.
"Apaaaaaaaa? Mencabut laporan dan membebaskan Rey? Kamu gila My hubbiy? Sampai mati pun aku tidak akan pernah melepaskan iblis itu!"
"Sayang ...."
"Diaaaam!" Queen mengeluarkan teriakannya karena merasa sangat kesal suaminya terlalu lemah.
__ADS_1
TBC ...