
Aditya membulatkan kedua matanya begitu melihat pemandangan di dalam lift, di mana pria yang tak lain adalah Dave tengah menunggunginya dan bisa terlihat berada pada posisi yang sangat intim dengan seorang wanita yang hanya terlihat kakinya. Namun, meskipun begitu, ia bisa mengetahui siapa sosok wanita yang sedang dicium oleh mantan pengawal pribadi, sekaligus pria yang mencintai istrinya.
"Sabrina ... benarkah apa yang aku lihat ini? Dia berciuman di kantor tanpa malu atau pun merasa berdosa?" gumam Aditya di dalam hatinya yang sibuk berkutat dengan banyaknya pertanyaan di kepalanya. Karena ia sama sekali tidak menyangka jika wanita yang diketahuinya selalu bisa menjaga diri itu berubah menjadi seorang wanita yang liar.
Lamunan Aditya seketika buyar saat mendengar lengkingan suara dari wanita yang berdiri di sebelahnya. Sehingga ia langsung menutupi kedua daun telinganya.
Queen yang melihat Dave sedang berciuman dengan seorang wanita di dalam lift, benar-benar membuatnya sangat murka. Bahkan tadi saat ia melihat pasangan muda yang berciuman di taman saja membuatnya serasa mau muntah, karena mengingat perbuatan seperti itu adalah sebuah dosa seperti apa yang diajarkan oleh suaminya.
Pikirannya sudah didoktrin oleh sang suami bahwa bersentuhan fisik dengan orang yang bukan muhrimnya adalah sebuah dosa. Apalagi jika sampai berbuat intim, yaitu berciuman. Sehingga saat ini ia sudah mengepalkan kedua tangannya dan kilatan amarah dari bola matanya seolah ingin menghanguskan mantan pengawal pribadinya yang diketahuinya menyimpan perasaan padanya.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di perusahaan!" teriak Queen dengan suaranya yang nyaring. Bahkan mungkin banyak staf perusahaan di sekitar yang berada di lobby bisa mendengar kemurkaannya.
Aditya yang masih menutupi kedua daun telinganya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri. Namun, ia tidak mencoba untuk menghentikannya. Karena tidak ingin membuat wanitanya semakin murka.
Sementara itu, Sabrina yang mendengar suara dari Queen, langsung mendorong Dave agar melepaskan pagutannya. Dan perbuatannya tidak sia-sia, karena pria yang sudah 2 kali menciumnya itu berbalik badan dan melepaskannya. Sehingga ia langsung ber-sitatap dengan pria yang masih belum bisa dilupakannya sampai sekarang.
Degub jantungnya berdetak lebih kencang saat merasa bersalah, seolah ia sudah ketahuan berselingkuh, padahal tidak dilakukannya. Sehingga ia merasa sangat bersalah, tetapi tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, mas Aditya pasti salah paham dan pasti berpikir aku adalah seorang wanita murahan yang berciuman dengan pria yang bukan muhrimku. Dave benar-benar sangat berengsek. Aku ingin membunuhnya," gumam Sabrina yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
Dave menggaruk tengkuknya begitu mendengar teriakan dari majikannya yang dicintainya. "Nona muda, Anda sudah datang?" Melangkah keluar dari lift yang sudah terbuka.
"Pertanyaan bodoh macam apa ini? Nona muda pasti salah paham padaku," batin Dave di dalam hatinya.
"Apa kamu sudah gila, Dave! Berciuman di perusahaan tanpa tahu malu. Apa kamu mau mempermalukan nama keluarga Raharja? Kenapa tidak pergi ke hotel saja sekalian!" teriak Queen dengan wajahnya yang memerah.
"Ini tidak seperti yang Anda pikirkan, Nona muda," jawab Dave yang berusaha ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Saya akan pergi ke kantin, Nona muda. Karena saya belum makan siang. Dan hal yang tadi kalian lihat hanyalah sebuah kesalahpahaman." Sabrina yang berwajah masam beralih menatap tajam ke arah Dave dengan jari telunjuk yang sudah diarahkannya pada pria yang sangat dibencinya. "Dialah yang harus Anda sidang dan marahi!"
Setelah mengungkapkan amarahnya, Sabrina menatap sekilas wajah tampan mantan kekasihnya yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian berniat berjalan meninggalkan lift yang memberikan sebuah kenangan buruk untuknya. Namun, baru 2 langkah ia berjalan, indera pendengarannya menangkap suara dari pria yang sangat dihafalnya.
"Lebih baik kalian berdua masuk, kita bahas ini di ruangan kerja. Untuk masalah makan, biar pengawal yang memesan makanan nanti. Karena aku dan istriku pun belum makan siang. Jadi, kita bisa makan bersama-sama setelah membicarakan tentang hal yang kalian berdua lakukan," ucap Aditya yang mencoba untuk berbicara pada wanita yang dulu sempat ingin dinikahinya.
Dave melirik sekilas ke arah Sabrina yang berada tak jauh darinya, "Kamu dengar itu? Cepat masuk! Karena di sini bukan aku saja yang bersalah, tetapi juga dirimu. Jadi, jangan kabur dari kesalahanmu. Karena kamu pun harus bertanggungjawab atas perbuatanmu yang sudah menyulut amarahku tadi," sarkas Dave yang sudah berjalan masuk ke dalam ruangan lift. Di mana pasangan suami istri yang merupakan anak dari pemilik perusahaan yang baru.
__ADS_1
Tentu saja mendengar perkataan konyol dari Dave, berhasil menyulut api kemarahannya. Sehingga Sabrina sudah tidak bisa menahan diri dan melayangkan tinjunya pada perut sixpack pria yang sudah menciumnya. "Dasar pria berengsek!" teriak Sabrina dengan wajah merah padam sambil sibuk mengarahkan pukulannya pada pria yang hanya diam dan tidak menghentikan aksinya. Sehingga ia semakin berkali-kali meninju dada bidang Dave.
Pintu lift pun sudah tertutup dan suasana berisik dari teriakan Sabrina yang murka pada Dave malah membuat Queen semakin merasa pusing. Sehingga ia mengeluarkan suaranya yang sangat nyaring.
"Stop! Kepalaku pusing mendengar suaramu yang sangat berisik itu, Sabrina. Lebih baik kamu diam dan berhenti saling menyalahkan. Karena menurutku, tidak ada yang benar dari kalian berdua. Karena salah semuanya," ucap Queen yang mengungkapkan kemarahannya.
Sedangkan Aditya masih diam saja tanpa berkomentar apa-apa, karena ia sudah memencet tombol 5 pada bagian kiri pintu lift. Di mana ruangan presiden direktur berada, karena sang istri yang tadi mengeluarkan titahnya untuk berbicara di ruangan mertuanya.
Benar saja, suara Queen berhasil membuat Sabrina menghentikan pukulannya. Meskipun kemarahannya masih memuncak dan berada di ubun-ubun. Akan tetapi, ia yang merasa posisinya ada dibawah sang nona muda, membuatnya sadar diri dan mematuhi perintah dari putri pemilik perusahaan. Sehingga ia memilih diam dan tidak lagi berbuat hal yang memancing amarah seorang nona muda arogan. Meskipun di dalam hati, ia mengumpat habis-habisan.
"Sialan, mimpi apa aku semalam. Hingga bisa apes banget seperti ini. Mas Aditya pasti berpikir aku adalah seorang wanita murahan karena berciuman dengan pria yang bukan muhrimku. Rasanya aku ingin menyembunyikan diriku di dalam goa yang tidak akan bisa terlihat olehnya. Tuhan, takdir macam apa ini? Apa salah dan dosaku, hingga nasibku bisa setragis ini," jerit batin Sabrina yang merasa sangat malu di depan mantan kekasihnya.
Sedangkan Dave yang dari tadi hanya diam saja saat mendapatkan pukulan dari Sabrina yang menurutnya tidak membuatnya merasa apa-apa. Namun, ia berpikir tentang hal yang barusan dilakukannya pada Sabrina. Yakni, mencium wanita yang menganggap bahwa tidak ada laki-laki yang baik selain tuan mudanya untuk menjadi suami dari Sabrina.
"Sebenarnya apa yang aku lakukan tadi? Kenapa aku sangat marah saat Sabrina menganggap tidak ada pria yang pantas bersanding untuknya? Seolah harga diriku sebagai laki-laki seperti diinjak-injak olehnya. Bukankah itu hak dia mau berpikir seperti apa dalam menilai semua laki-laki. Akan tetapi, kenapa aku malah merasa sangat tersinggung oleh perkataannya dan langsung menciumnya? Mana bibirnya terasa manis, lagi. Sial, seperti ada sebuah candu di bibirnya yang sangat sensual itu," gumam Dave di dalam hatinya.
TBC ...
__ADS_1