Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Janji dengan 2 wanita


__ADS_3

Dave yang baru saja mendapatkan telepon dari suami majikannya, hanya bisa menebak-nebak kira-kira hal apa yang ingin dibicarakan oleh majikannya yang tengah malam ingin menemuinya untuk membahas urusan pribadi seperti yang tadi dibilang di telepon.


"Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Tuan Aditya? Sepertinya ini sangat penting, karena itulah Tuan muda tidak bisa menunggu hingga esok hari. Lebih baik aku tunggu saja di depan," ucap Dave yang melangkahkan kaki panjangnya ke arah pintu dan dengan hati yang berdebar-debar, ia menunggu sang tuan muda. Dan tak perlu lama menunggu, akhirnya orang yang dinantikannya tiba.


Dengan membungkuk hormat, Dave menyuruh pria yang seumuran dengannya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan karena ia merasa sangat penasaran, membuatnya langsung mengungkapkan pertanyaannya yang dari tadi mengganggu pikirannya.


"Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan pada saya? Apa maksud urusan pribadi tadi?"


Aditya yang masih sibuk menatap ke arah sekeliling kamar berukuran 2 kali lipat dari ruangan kamarnya itu bisa menilai bahwa Dave adalah seorang pria yang sangat rajin dan selalu menjaga kebersihan. Karena ruangannya terlihat sangat rapi, dan semua barang-barangnya tertata dengan apik.


"Oh ... itu, sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk mengatakan sesuatu. Sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa kamu memiliki perasaan pada Queen." Aditya mengamati ekspresi terkejut dari Dave yang sudah membulatkan matanya.


"A-apa Tuan muda? Apa yang Anda katakan? Mungkin Anda salah mengartikan sikap saya pada Nona muda Queen." Dave mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan kegugubannya agar tidak sampai terlihat oleh pria yang seolah melucuti pakaiannya.


"Astaga, bagaimana bisa Tuan Aditya mengetahui rahasia besar yang selama ini aku simpan rapat-rapat di dalam hatiku? Apa jangan-jangan nona muda juga mengetahuinya. Sepertinya aku harus mencari tahu apakah nona mengetahui bahwa aku mencintainya," gumam Dave.


Aditya masih belum menanggapi perkataan Dave yang mengelak dari kenyataan yang sebenarnya. Ia melangkah beberapa langkah untuk bisa mendekati pria yang dilihatnya sedang menutupi rasa gugupnya. Tangannya menepuk bahu kokoh Dave. "Aku adalah seorang pria, Dave. Jadi, sebagai sesama pria pasti akan bisa merasakan bagaimana sikap seseorang yang mencintai seorang wanita."


"Tenanglah, aku tidak marah atau pun akan menghajarmu. Karena aku sadar diri tidak akan pernah menang jika berduel denganmu, meskipun aku tahu kalau kamu hanya akan diam tanpa melawan saat aku menghajarmu. Akan tetapi, itu malah akan semakin menghina harga diriku. Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya ingin mengatakan ini, buanglah cinta terlarang itu dan bukalah hatimu untuk wanita lain, Dave."


"Tuan muda ...." Dave tidak bisa melanjutkan perkataannya karena langsung dipotong oleh majikannya.


"Sabrina adalah seorang wanita yang sangat baik, Dave. Aku tidak bermaksud untuk memaksamu menerima Sabrina, tapi aku tulus ingin melihatmu hidup berbahagia bersama dengan wanita yang tidak membuatmu bertepuk sebelah tangan. Entah itu adalah Sabrina atau Dewi yang sebentar lagi akan pindah ke Jakarta, semoga kamu hidup bahagia. Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri, karena itulah aku tidak ingin kamu terus tersiksa dengan perasaanmu yang mempunyai cinta terlarang."

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan muda." Dave sudah tidak bisa lagi mengelak setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Aditya. Sehingga ia lebih memilih untuk mengakuinya seraya membungkukkan badannya. Karena merasa sangat malu pada majikannya tersebut. Tidak ada kata-kata lain selain permintaan maaf, menurutnya hanya hal itulah yang mewakili kesalahannya.


Aditya menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi menepuk pundak Dave. "Jangan meminta maaf padaku. Karena bagiku, kamu sama sekali tidak bersalah. Cinta adalah sebuah rasa yang tiba-tiba muncul begitu saja tanpa meminta ijin terlebih dahulu atau pun melihat situasi dan kondisi. Dan tanpa kita sadari atau pun tanpa bisa kita hindari."


"Akan tetapi, meskipun begitu, kamu harus bisa berpikir sesuai realitanya. Jangan sampai rasa cinta itu malah membuatmu terpuruk dari kenyataan. Lupakan istriku, oke! Aku pergi dulu, dan jangan menganggap perkataanku adalah sebuah beban untukmu." Berjalan keluar dari ruangan kamar berukuran 6 meter itu tanpa menoleh lagi ke arah belakang untuk berniat melihat wajah kusut dari pengawal pribadi istrinya.


Tentu saja petuahnya yang panjang kali lebar itu diharapkannya bisa menyadarkan Dave agar bisa move on dari istrinya.


Sementara itu, Dave mengamati siluet dari majikannya yang baru saja menghilang di balik pintu. Refleks ia mengacak frustasi rambutnya hingga membuat penampilannya terlihat sangat berantakan. "Astaga, rasanya aku sangat malu sekali di depan Tuan Aditya. Hingga aku sampai tidak bisa mengeluarkan suaraku tadi. Bahkan seharusnya aku menanyakan padanya, apakah nona muda juga mengetahui bahwa aku sangat mencintainya."


Dengan penampilan yang sangat kacau, Dave mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan terdiam di sana. "Seumur-umur, baru kali ini aku seolah tidak mempunyai muka di depan orang lain. Shit ...!"


Saat Dave sibuk berkutat dengan pikirannya, suara dering ponselnya membuyarkan lamunannya. Ia merogoh kantong celana pendeknya untuk meraih ponselnya. Ia melihat nomor asing yang ada di sana seraya mengerutkan keningnya. "Siapa orang yang tidak tahu diri, menghubungiku di tengah malam begini. Apakah orang iseng atau penipu online yang suka menghipnotis lewat suara."


"Halo, apa kau tidak tahu jam berapa ini haah! Kalau mau melakukan penipuan, lihat-lihat jam berapa ini, bego!"


"Halo, Tuan Dave. Maafkan saya jika mengganggu Anda malam-malam begini."


Dave merasa terkejut dengan suara seorang wanita yang meneleponnya. Ia melihat benda pipih tersebut untuk melihat sekali lagi daftar kontak, tapi masih sama karena tidak ada dalam daftar nama di ponselnya.


"Kau siapa? Kenapa bisa mengenalku bahwa aku adalah Dave."


"Saya Dewi, Tuan Dave. Nona muda yang telah memberikan saya nomor Anda dulu. Maafkan saya jika mengganggu waktu istirahat Anda. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya besok pagi pukul 7 pagi sudah tiba di Jakarta. Bisakah Anda untuk menjemput saya, karena saya tidak pernah ke Jakarta dan takut tersesat. Atau Anda bisa menyuruh orang untuk menjemput saya, maafkan saya jika merepotkan."

__ADS_1


"Besok pagi? Baiklah ... baiklah, besok aku akan menjemputmu di Bandara. Sekarang aku mau tidur dan jangan menggangguku lagi!"


"Baik Tuan Dave, sekali lagi maafkan saya jika sudah merepotkan Anda. Karena saya hanya memiliki nomor Anda, kalau begitu selamat malam dan semoga tidur Anda nyenyak, serta mimpi indah."


Tanpa menjawab perkataan dari Dewi, Dave mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di atas nakas yang berada di sebelah ranjangnya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Namun, baru beberapa detik ia memejamkan matanya, suara dering ponselnya kembali mengganggunya dan membuatnya merasa jengkel.


Karena merasa sangat kesal, ia meraih ponsel pintar miliknya dan langsung menjawab panggilan telepon tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Karena ia merasa sangat yakin bahwa yang menelfonnya adalah Dewi.


"Apa lagi? Apa penjelasanku tadi masih kurang jelas?"


"Halo, penjelasan apa maksudmu?"


Dave refleks membuka matanya dan melihat nama wanita di daftar ponselnya yang menghubunginya.


"Wanita bar-bar? Ngapain kamu malam-malam menghubungiku? Tidak ada kerjaan apa?"


"Sialan, aku menghubungimu karena masalah pekerjaan, jadi jangan kegeeran. Ini tentang pekerjaan yang tadi. Aku benar-benar pusing, mana besok pagi harus diserahkan laporannya pada presdir lagi. Aku ingin meminta bantuanmu, apakah besok pagi-pagi sekali kamu bisa datang ke rumah untuk membantuku? Bukankah tadi presdir bilang kalau aku bisa meminta bantuanmu jika mengalami kesulitan?"


"Baiklah ... baiklah, aku mengantuk dan mau tidur. Besok pagi aku akan datang ke rumahmu. Bye!"


Dave langsung menutup panggilannya dan menaruh ponselnya di samping bantal. Karena merasa sangat mengantuk, ia langsung terlelap dalam alam bawah sadarnya. Seolah melupakan bahwa ia sudah memiliki janji dengan 2 wanita tadi. Suara napas teratur sudah terdengar jelas memenuhi ruangan kamar tersebut.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2