Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kedua kalinya


__ADS_3

Suasana di sebuah ruangan cukup luas, lengkap dengan meja dan kursi kerja, serta furniture yang melengkapi ruangan seorang asisten presiden direktur yang tak lain adalah ruang kerja Dave, terlihat sangat sepi. Karena hanya ada 2 orang yang saat ini tengah duduk bersebelahan di sofa dengan fokus menatap ke arah laptop. Keduanya terlihat sangat berkosentrasi untuk mengerjakan laporan yang dibebankan oleh presdir kepada mereka.


Karena saat ini Dave sudah diangkat menjadi asisten pribadi presdir yang baru, sehingga membuatnya kalang kabut begitu kemarin selesai meeting. Tentu saja karena presiden direktur sama sekali tidak puas dengan laporan dari semua divisi mengenai hasil kerja mereka masing-masing. Sehingga membuat semua staf perusahaan menjadi kalang kabut saat diberikan sebuah tugas untuk memperbaiki hasil kerja mereka oleh pemilik perusahaan yang baru.


Seperti Dave dan Sabrina yang saat ini tengah memeriksa hasil kerja dari semua divisi. Bahkan dari tadi mereka sama sekali tidak membahas apa-apa selain masalah pekerjaan yang membuat kepala keduanya pusing. Mulai start jam masuk kantor hingga jam makan siang. Namun, keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan jam makan siang karena sibuk dengan pekerjaan.


Akan tetapi, suara dari perut yang berbunyi, membuat keduanya saling ber-sitatap. Yang menandakan nada protes dari cacing-cacing di perut sudah meminta jatah masing-masing.


"Ternyata kamu sudah lapar, kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Dave yang sudah melihat mesin waktu di pergelangan tangan kirinya. Hingga ia sedikit menaikkan kedua alisnya ketika menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. "Tinggal setengah jam lagi, lebih baik kita makan dulu. Kita lanjutkan saja nanti, karena pekerjaan memang tidak akan pernah ada habisnya."


"Aku pun tidak sadar kalau waktu bisa berjalan secepat ini," jawab Sabrina yang bangkit dari tempat duduknya. "Kalau begitu, aku ke kantin dulu." Berjalan meninggalkan pria yang masih sibuk mematikan laptopnya. Namun, langkah kakinya berhenti saat tangannya ditahan oleh Dave.


"Tunggu aku," ujar Dave yang buru-buru menutup laptopnya. "Aku belum kenal perusahaan ini dan masih merasa asing. Jadi, temani aku makan!"


Sabrina menunjuk ke arah dirinya, "Aku? Menemanimu makan?" Menggelengkan kepalanya, "Nggak ... nggak, nanti dikira aku ada main gila denganmu lagi. Karena gosip di perusahaan cepat menyebar jika ada staf pria dan wanita yang makan bersama. Lebih baik kamu makan sendiri saja. Jangan membuntuti aku!" hardik Sabrina.


Setelah mengungkapkan ancamannya, Sabrina berjalan keluar ruangan kerja Dave. Tentu saja ia buru-buru, agar tidak di ikuti oleh pria yang menurutnya sangat dingin itu. Kaki jenjangnya sudah sampai di depan lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar, di mana ada kantin yang disediakan perusahaan bagi para staf perusahaan menikmati makan siangnya.

__ADS_1


Begitu pintu lift terbuka, ia langsung melangkah masuk ke dalam. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, pria yang tadi diancamnya sudah mengikutinya memasuki ruangan kotak tersebut.


"Sudah aku bilang jangan membuntuti aku!" teriak Sabrina dengan sangat kesal.


Dave sama sekali tidak pernah memperdulikan ancaman dari Sabrina. Karena itulah, ia hanya berjalan mengikuti wanita yang seperti menghindarinya tersebut. Dan ia refleks langsung menutup telinganya saat mendengar teriakan dari wanita yang terlihat bersungut-sungut di depannya.


"Jangan kepedean, aku tidak mengikutimu. Karena aku kebetulan ingin pergi ke kantin untuk makan. Bukankah kita searah? Jadi, tidak ada salahnya untuk pergi bersama-sama," ujar Dave dengan sangat santai.


"Aku sama sekali tidak tertarik untuk pergi bersama-sama. Apalagi jika sampai Mas Aditya melihatku dekat dengan pria lain. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku akan selamanya setia menunggunya," sahut Sabrina dengan wajah penuh pengharapan.


"Aku tidak menginginkan pria lain, karena di dunia ini, hanya mas Aditya yang aku inginkan. Hanya dialah satu-satunya imam terbaik di dunia ini," jawab Sabrina dengan wajah sendu. "Meski bibirku bilang kalau aku akan melupakannya, tetapi hatiku masih menginginkannya."


Entah mengapa, mendengar perkataan dari pria di depannya itu membuat Dave merasa terhina. Meskipun ia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh wanita yang berakhir tragis dalam perjalanan cintanya, tetapi harga dirinya sebagai laki-laki seolah terhina saat mendengar wanita di depannya itu mengatakan tidak ada 1 pria pun yang lebih baik dari suami nona mudanya.


Karena merasa geram dan kesal, ia berjalan semakin mendekati Sabrina. "Apa kamu bilang tadi? Kenapa aku merasa sangat tersinggung dengan ucapanmu itu? Seolah aku adalah pria hina yang tidak pantas bersanding dengan wanita begitu mendengar kata-katamu barusan."


Sabrina menelan salivanya begitu mendapat tatapan membunuh dari pria yang perlahan-lahan mendekatinya, sehingga ia berusaha mendorong dada bidang di depannya. "Dasar bodoh, kenapa malah kamu marah padaku? Menjauhlah!" Sabrina melangkah mundur beberapa langkah hingga tubuhnya terhempas di sudut ruangan lift karena Dave sudah mengungkungnya.

__ADS_1


Dave sudah berhasil mengunci posisi Sabrina dengan mengarahkan tangannya di kedua sisi wajah yang terlihat ketakutan itu. "Jaga bicaramu saat berbicara dengan seorang laki-laki. Karena aku sangat terhina dengan kalimatmu barusan. Aku ingin melihat, sampai dimana kamu bertahan dengan prinsip konyol dan bodohmu itu!"


Manik bening Sabrina ber-sitatap dengan netra pekat penuh dengan sorot ketajaman tersebut. Entah mengapa ia merasa sangat gugup berada pada posisi intim dengan pria yang hanya berjarak beberapa centi di depannya.


"Apa-apaan ini, kenapa dia malah marah. Itu kan urusanku, mau aku menikah atau menjadi perawan selamanya. Menyebalkan sekali," gumam Sabrina di dalam hati.


Di saat yang bersamaan, suara denting lift tertangkap indera pendengarannya. Dan ia mulai berteriak dengan suaranya yang kencang. "Cepat menjauh dariku! Aku tidak ingin ada yang salah paham dengan posisi kita ini."


"Jangan sampai mas Aditya melihat posisi kita yang seperti ini, karena nanti dia akan berpikir aku sudah jatuh cinta padamu. Padahal aku sama sekali tidak mempunyai rasa padamu," ujar Sabrina mengungkapkan kekhawatirannya. Karena ia tahu bahwa mantan kekasihnya akan datang ke perusahaan.


Dave hanya tersenyum menyeringai, hingga rasa kesalnya semakin bertambah besar dan membuatnya kehilangan kesabaran dalam menghadapi wanita di depannya. Tanpa membuang waktu, ia meraup bibir merah merekah yang pernah diciumnya tersebut dan menyesapnya. Seolah ia melupakan dirinya ada di mana dan tidak menyadari bahwa pintu lift mulai terbuka.


Sedangkan Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari pria yang sudah menguasai bibirnya, benar-benar sangat shock saat dicium kedua kalinya.


Namun, belum berhenti rasa terkejutnya, indera pendengarannya menangkap suara dari wanita yang sangat dikenalnya. Sehingga ia mendorong sekuat tenaga dada bidang pria yang tidak mau melepaskan pagutannya tersebut, untuk melihat nona muda yang sudah mengeluarkan lengkingan suaranya. Dan ia pun merasa yakin bahwa mantan kekasihnya sudah melihat semuanya.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2