
Aditya yang saat ini tengah menutup telinganya dengan kedua tangannya karena merasa sangat bising dengan suara teriakan dari wanita yang sudah menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kilatan api. Karena dilihatnya kaki wanita yang saat ini sudah sangat murka itu keluar darah akibat tertancap pecahan gelas kaca, membuat Aditya langsung berjongkok untuk memeriksa luka di kaki Queen.
"Queen, kakimu terluka. Ini harus segera diobati, aku akan menyuruh pegawai hotel untuk menyiapkan obat untuk lukamu itu!" Aditya bangkit dari posisinya yang awalnya berjongkok untuk segera menelfon staf hotel.
Namun belum sampai dirinya melangkah, Queen langsung menarik pergelangan tangannya.
"Apa kau sedang berusaha melarikan diri seperti seorang pengecut! Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat jawab pertanyaanku sekarang! Luka di kakiku ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan luka yang menganga di hatiku akibat perbuatanmu yang licik."
"Aku sangat yakin pasti kau yang telah memberikan obat perangsang padaku bukan? Kau membuatku hilang kendali dan berbuat hal diluar nalar. Ternyata kau benar-benar pria yang sangat licik dan munafik. Kau bersembunyi di balik sikap polos agar semua orang mengagumimu, padahal sebenarnya hatimu sangat busuk."
"Dasar pria kurang ajar, brengsek, pergi dari hadapanku sekarang! Aku muak melihatmu, cepat pergi!"
Aditya yang melihat wajah penuh kemurkaan Queen yang sudah habis-habisan menghina dan menuduhnya tanpa mendengarkan penjelasannya, membuatnya merasakan sesak di dadanya. Tentu saja dituduh oleh istri sendiri atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya, membuat jantungnya seolah ditusuk tombak yang tajam dan membuatnya seolah seketika berdarah.
Dirinya berkali-kali hanya bisa mengungkapkan kesedihannya dengan berbicara pada penciptanya.
'Subhanallah ... cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku ya Allah! Apakah hamba mampu menjalani ujian dari-Mu? Hamba sangat takut akan suudzon pada-Mu ya Allah. Disaat hamba benar-benar sangat tulus pada istri hamba dengan tidak menyentuhnya, disaat yang bersamaan dirinya menuduhku dan berkeyakinan bahwa akulah yang memberinya obat perangsang.'
'Apa yang harus hamba katakan pada Queen? Apakah dia akan mempercayai apa yang aku katakan jika abangnya sendirilah yang telah memberinya obat perangsang.'
"Baiklah, tenangkan dirimu Queen! Aku akan pergi seperti yang kamu inginkan, tapi ijinkan aku mengobati kakimu dulu sebelum aku pergi."
Queen yang saat ini meremas pinggiran ranjang karena merasa sangat emosi langsung berteriak. "Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu, karena aku tidak sudi! Pergi dari sini sekarang juga! Aku benar-benar sangat muak melihat pria munafik sepertimu."
"Hanya my hot daddy Azriel satu-satunya pria yang tidak munafik. Kalian semua para lelaki membuatku merasa mual dan ingin muntah. Semua lelaki hanyalah memikirkan nafsu semata tanpa pernah memperdulikan perasaan wanita."
__ADS_1
"Queen, aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini! Jadi dengarkan penjelasanku dulu! Sebenarnya yang memberikan obat perangsang ...."
"Aku mau kita bercerai," ucap Queen yang saat ini mengarahkan tatapan penuh kilatan amarah.
Sontak saja perkataan dari wanita yang terus menatapnya dengan sangat tajam itu langsung membuatnya refleks mundur satu langkah. Raut wajah tampan Aditya seketika berubah pias, seolah dirinya saat ini tidak sanggup untuk berbicara lagi. Namun dirinya mencoba menguatkan hati setelah berkali-kali mengucap istighfar.
Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah.
”Queen, cobalah untuk beristighfar dan ambillah air wudhu. Karena amarahmu itu seperti sebuah api yang berasal dari pengaruh syetan, dan hanya bisa padam dengan siraman air wudhu."
Queen seketika tertawa terbahak-bahak begitu mendengar tanggapan dari Aditya. "Dasar pria yang munafik, kau masih berpura-pura sok bijak dan sok alim di depanku. Sungguh sangat luar biasa kau Aditya, pantas saja semua orang menyukaimu. Ternyata karena sifat munafikmu itulah yang membuatmu disukai banyak orang, tapi aku bukanlah wanita yang bodoh."
"Karena aku tidak akan pernah percaya pada kata-katamu yang hanyalah sebuah kebohongan. Dan aku sama sekali tidak tertarik mendengarkan perkataan bulshit-mu itu."
"Apa maksudmu tidak bisa memenuhinya? Jangan bilang kau tidak mau tanda tangan saat aku menyuruh pengacara untuk mengurus perceraian ini," ucap Queen dengan tatapan mendelik tajam.
"Queen, kita bahkan baru beberapa jam yang lalu menikah. Apakah kamu tidak memikirkan keluargamu sama sekali saat kamu mengatakan hal itu? Aku bahkan tidak ingin membuat malu papa dan mama mertua."
"Lebih baik dinginkan dulu kepalamu dengan sedikit merenung dan instrospeksi diri. Setelah kamu merasa tenang, kita akan berbicara lagi! Karena kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku, maka aku akan pergi."
Queen langsung mengeluarkan umpatannya. "Pergilah, aku pun sudah sangat muak melihatmu dan aku pun tidak sudi berbicara denganmu pria munafik!"
"Baiklah, aku pergi," ucap Aditya yang langsung berbalik badan meninggalkan wanita yang masih duduk di pinggir ranjang king size tersebut.
Melihat sikap sangat tenang dari pria yang baru saja keluar dari ruangan itu, membuat Queen yang merasa kesal langsung berteriak.
__ADS_1
"Aaaaaaarrrh ... Aditya brengsek!"
Queen meringis kesakitan saat menyadari luka di kakinya yang daritadi sudah mengeluarkan darah. "Aaarrggh ... kenapa baru sekarang terasa sakitnya. Karena merasa sangat kesal dan murka, membuatku tidak menyadari rasa sakit dari luka ini. Ini semua gara-gara Aditya sialan."
Saat Queen ingin berjalan menuju telfon yang berada di atas meja untuk memanggil staf hotel, bunyi ketukan pintu, membuatnya tidak jadi melakukannya. Setelah ia berhasil mencabut pecahan gelas kaca di kakinya, Queen yang terlihat sedang meringis kesakitan, berjalan agak tertatih menuju ke arah pintu untuk memeriksa siapa yang mengetuk pintu.
Saat Queen membuka pintu kamar, bisa dilihatnya ada dua staf hotel yang berdiri di hadapannya dan salah satu dari wanita tersebut membawa kotak obat.
"Selamat siang Nona muda Queen, saya datang untuk membersihkan pecahan gelas dan teman saya ini akan mengobati luka di kaki Nona. Bolehkah kami masuk," ucap pegawai wanita berseragam merah itu.
"Siapa yang memberitahu kalian?" tanya Queen dengan raut wajah penuh dengan rasa penasaran.
"Tuan muda Aditya yang memberitahu kami sebelum pergi tadi, Nona muda Queen."
"Memangnya dia bilang mau pergi kemana?"
Aditya sialan itu memangnya berbicara apa pada mereka? Aku harus mencari tahu, sebelum semuanya tahu kalau aku akan bercerai dengan Aditya.
"Tadi Tuan Aditya mau keluar sebentar, ada urusan penting katanya. Karena tadi Tuan Aditya terlihat terburu-buru."
"Baiklah, aku mengerti. Lakukan saja tugas kalian!" ucap Queen seraya membuka pintu dan berjalan ke arah sofa. Lalu ia mulai mendaratkan tubuhnya di sana untuk membiarkan salah satu wanita staf hotel tersebut mengobati kakinya. Dengan posisi menyandarkan kepalanya karena efek masih pusing, Queen memejamkan kedua matanya dan bergumam di dalam hati.
Karena sangat emosi, membuatku tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Sialan!
TBC
__ADS_1