
Dengan perasaan tidak menentu, Dave terlihat berjalan menuju ke arah ruangan pribadi yang menjadi tempat paling favorit nona mudanya setelah menikah. "Makanannya sudah siap Tuan muda," ucap Dave dari luar sambil membawa nampan berisi makanan.
Beberapa saat yang lalu, pasangan suami istri yang sedang bermesraan dan asyik bercanda tawa di ruangan pribadi dalam pesawat, langsung menghentikan kegiatan mereka. Tentu saja suara dari Dave mengalihkan perhatian Aditya dan Queen. Lalu, Aditya hendak bangkit dari ranjang untuk membuka pintu. Namun, suara teriakan dari istrinya benar-benar memekakkan telinganya.
"Langsung masuk saja Dave!" teriak Queen yang beralih menatap ke arah pria yang ditahan tangannya. "Tidak perlu keluar My hubbiy." Queen menarik pergelangan tangan sang suami agar kembali duduk di atas ranjang, karena ia ingin memakai paha pria itu untuk bantalan kepalanya.
Akhirnya Aditya hanya menuruti perintah dari wanita yang sudah berubah seperti anak kecil itu. Tentu saja pahanya sudah di pakai untuk bantal sang istri yang terlihat sangat manja padanya dari tadi.
Sementara itu, Dave yang berada di luar ruangan pribadi merasa sangat tidak enak karena harus masuk ke ruangan pasangan suami istri yang tentunya akan membuat hatinya perih saat melihat kemesraan dari wanita yang selama ini dicintainya.
"Astaga, apa aku harus masuk ke dalam? Bagaimana jika mereka sedang berpelukan atau berciuman?" batin Dave dengan perasaan tidak menentu.
"Saya masuk Nona muda." Dave dengan penuh keraguan membuka pintu di depannya dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan. Dan seperti yang sudah diduganya, kemesraan dan keromantisan yang terlihat dari pasangan suami istri di depannya itu berhasil meremukkan hatinya.
"Nona, hatiku sangat sakit melihatmu tersenyum ceria dengan posisi tangan memeluk pinggang suamimu. Entah kenapa aku bisa sebodoh ini menyukaimu Nona muda Queen," batin Dave.
"Letakkan saja di meja Dave! Maaf merepotkanmu," ucap Aditya yang merasa sangat tidak enak.
"Tidak apa-apa Tuan muda," jawab Dave yang sudah meletakkan nampan di atas meja. "Kalau begitu saya permisi, silahkan dinikmati makanannya Tuan dan Nona muda." Dave berniat berjalan keluar, namun baru beberapa langkah ia melangkah, suara dari tuan mudanya membuatnya berbalik badan.
"Dave, tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu!"
"Ya Tuan muda," ucap Dave seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Queen yang dari tadi asyik dengan kegiatannya memeluk sang suami tanpa memperdulikan Dave, membuatnya ikut mengerutkan keningnya saat mendengar suara dari pria yang dicintainya. "Kamu mau bertanya apa pada Dave, My hubbiy?"
Aditya menatap intens Dave tanpa berniat menjawab pertanyaan dari wanita yang terlihat sangat penasaran itu, karena ia masih menatap ke arah pria kepercayaan istrinya. "Dave, kamu sudah punya pacar atau belum?"
Ekspresi dari wajah Queen terlihat sangat terkejut sekaligus menatap curiga pada suaminya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu pada Dave?"
"Tunggu sebentar Sayang!" Aditya beralih menatap ke arah pria yang terlihat kebingungan itu. "Kenapa tidak dijawab Dave?"
"Eh .... itu Tuan muda, sebenarnya saya tidak memikirkan tentang wanita, karena saya cuma fokus bekerja. Jadi, tidak ada waktu untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita."
"Akan tetapi, saya sangat mencintai seorang wanita yang berada di pelukan Anda Tuan muda," batin Dave.
"Kebetulan sekali," jawab Aditya.
Merasa sangat tidak sabar, Queen langsung segera bangkit dari posisinya yang dari tadi berbaring di paha suaminya. Tentu saja masih mengarahkan tatapan menusuknya pada pria yang menatap ke arah suaminya.
"Sebenarnya apa maksudmu bertanya pada Dave, My hubbiy? Cepat katakan padaku!"
"Aku ingin menjodohkan Dave dengan Sabrina. Menurutmu bagaimana Sayang?" tanya Aditya pada sang istri dengan wajah tenangnya.
"Tidak boleh! Aku tidak setuju," jawab Queen dengan bersungut-sungut.
Aditya merasa sangat terkejut dengan respon dari sang istri yang terlihat sangat kesal begitu mengetahui niatnya. "Kenapa kamu tidak setuju Sayang? Bukankah Dave belum mempunyai pasangan?"
__ADS_1
"Pasti kamu mau bertemu dengan Sabrina melalui Dave kan? Dengan beralasan menjodohkan mereka. Nggak ... nggak ... nggak, pokoknya aku nggak setuju, titik!" Dengan wajah masam dan emosi, Queen beralih menatap ke arah pria yang dari tadi diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dave, lebih baik kamu sama Dewi saja! Nanti, aku akan mengurus kepindahannya dari Bali ke Jakarta dengan memberikan dia posisi di perusahaan Raharja. Biar Brother yang mengurusnya. Lagipula, dia sangat berjasa pada suamiku. Menurutmu bagaimana? Kamu lebih menyukai Dewi kan?"
Dave menelan salivanya begitu mendengar perkataan dari wanita yang selama ini sangat dipujanya. Tentu saja ia merasa sangat bingung karena bila boleh berkata jujur, ia sama sekali tidak tertarik dengan 2 wanita yang ditawarkan oleh pasangan suami istri di depannya.
"Aku sama sekali tidak menyukai Dewi, Nona muda. Akan tetapi, aku sangat menyukaimu. Takdir macam apa ini Tuhan, bahkan wanita yang aku cintai malah berniat menjodohkan aku dengan wanita lain. Miris sekali hidupku," batin Dave.
"Saya masih belum memikirkan untuk dekat dengan wanita, Nona muda." Dave mencoba berbohong untuk menghindari perjodohan itu.
"Lebih baik kamu mencobanya Dave, siapa tahu cocok dan kalian berdua menikah. Pokoknya, aku adalah orang pertama yang mendukungmu dengan Dewi." Queen beralih menatap ke arah suaminya yang asyik geleng-geleng kepala. "Kenapa My hubbiy, kamu kesal karena rencanamu tidak berhasil?"
Aditya refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Buat apa aku kesal Sayang? Aku sama sekali tidak kesal, kita serahkan saja jodoh Dave pada Allah SWT. Karena kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan mengenai hasilnya, Allah SWT yang menentukan."
Kalimat skak mat dari pria yang bersikap sangat tenang dalam menanggapi ucapannya, membuatnya hanya bisa tersenyum kecut. "Iya ... iya, aku mengerti Pak Ustadz." Queen membuat gerakan hormat dengan tangannya pada pria yang malah tertawa melihatnya.
"Aku bukan Pak Ustadz, tapi kamu lucu sekali Sayang." Aditya sudah mencubit dengan gemas pipi putih sang istri seraya terkekeh.
"Iish ... apaan sih, risih aku! Nih rasakan!" Queen ikut membalas perbuatan suaminya dengan melakukan hal yang sama, yakni mencubit kedua sisi pipi pria yang dicintainya.
Dan keduanya sama-sama terlihat saling tertawa. Tentu saja pemandangan itu membuat Dave hanya bisa menahan rasa sakit di hatinya. Tanpa permisi, ia berjalan keluar karena tidak sanggup untuk lebih lama melihat kemesraan dari pasangan suami istri itu yang terlihat sangat bahagia di depannya.
"Aku tidak mau melihatmu tersenyum bahagia Nona muda. Karena senyummu itu membawa petaka bagiku," batin Dave yang sudah memegangi dadanya yang terasa sesak begitu berada di luar ruangan pribadi nona mudanya.
__ADS_1
TBC ...