
Flashback on ...
Dave langsung ber-sitatap dengan Sabrina begitu mendengar suara teriakan dari nona mudanya yang terdengar sangat murka, karena langsung menutup sambungan telepon tanpa mendengarkan jawabannya. Kemudian ia memasukkan kembali benda pipih tersebut ke saku celananya. "Sepertinya aku harus segera mengantarmu pulang, karena aku harus buru-buru kembali menemui nona muda. Ayo, kita pergi dari sini! Bukankah kamu tadi sudah mau pulang?"
Sabrina hanya tertawa sinis menanggapi ajakan dari Dave yang sudah berdiri dari kursi dan menghadap ke arahnya. "Aku bisa pulang sendiri, lebih baik kamu balik sana! Sebelum nona arogan itu memecatmu, pergilah!" Mengibaskan tangannya dan bangkit dari kursi. Niatnya adalah ingin meninggalkan Dave dan pulang sendiri, tapi suara bariton dari pria yang berada di belakangnya, membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"Sepertinya kamu belum sadar juga," ejek Dave dengan tersenyum menyeringai dan berjalan mendekati Sabrina, lalu ia berbisik di telinga wanita itu. "Sepertinya Haris masih mengincarmu, karena aku bisa melihat dia dari tadi bersembunyi di balik outlet souvenir dan memperhatikanmu."
"Benarkah? Dimana dia?" tanya Sabrina yang hendak menolehkan kepalanya untuk mencari pria yang sangat tidak disukainya. Namun, wajahnya langsung ditahan oleh Dave yang merangkum kedua sisi pipinya.
"Jangan menolehkan kepalamu untuk mencarinya, bodoh! Nanti si Haris curiga dan mengetahui kalau kita melihatnya," sahut Dave yang sudah mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang berada di depannya.
Perbuatan Dave yang masih menahan wajahnya, otomatis membuat Sabrina bisa menatap dengan jelas wajah pria yang berdiri menjulang di depannya. Karena Dave yang sangat tinggi, membuatnya agak sedikit mendongak saat mengamati wajah dengan rahang tegas, alis hitam tebal, mata agak sipit nan tajam yang dipadukan dengan hidung mancung dan bibirnya yang tebal. Semua itu bisa terlihat dari jarak sedekat itu.
"Pria ini sebenarnya sedang berkata sebenarnya, atau hanya mencari kesempatan untuk menyentuhku? Lihatlah wajahnya yang menyebalkan itu, rasanya aku ingin sekali menampar wajahnya. Akan tetapi, aku tidak mau mengambil resiko. Bisa-bisa nanti aku dicium lagi, bisa gawat nanti," gumam Sabrina.
"Iya ... iya, aku tidak akan menoleh ke belakang. Jadi, singkirkan tanganmu dari wajahku! Dasar pria yang suka mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan," rengut Sabrina dengan bersungut-sungut.
"Astaga, aku bukan pria seperti yang kamu sebutkan. Karena ini refleks, sebuah gerakan alami, yang tidak aku sengaja." Dave refleks mengangkat kedua tangannya ke atas. "Lebih baik kamu menurut saja saat aku mengantarkanmu pulang. Ayo, kita segera pergi dari sini! Lady first," ucap Dave seraya mengarahkan tangannya ke arah depan dan sedikit membungkukkan badannya. Sikapnya sudah seperti seorang jongos yang menghormati majikannya saja.
"Iish ... apa-apaan sih!" sahut Sabrina yang langsung tersenyum tipis menanggapi perbuatan Dave yang menurutnya sangat konyol.
__ADS_1
"Ini untuk membuat cecunguk yang mengejarmu itu tidak lagi berani mendekatimu karena berpikir aku adalah kekasihmu. Jadi, kamu akan aman saat bekerja di kantor besok. Harusnya kamu berterima kasih, bukannya malah mentertawakan aku. Dasar wanita tidak tahu terima kasih." Dave hanya geleng-geleng kepala saat berjalan di sebelah Sabrina yang kini terlihat tengah menoleh ke arahnya. "Jangan memandangku seperti itu, karena aku tidak mau kamu sampai jatuh cinta padaku begitu menyadari pesonaku."
Sabrina refleks tersenyum kecut saat mendengar kalimat bernada ejekan dari pria yang sudah membuatnya kesal dari semenjak pertama bertemu sampai sekarang. Meski ia menyadari bahwa pria itu sempat menolongnya keluar dari masalah, tapi ia menganggap itu adalah sebuah bentuk permintaan maaf atas pelecehan yang diterimanya tadi.
"Meskipun di dunia ini hanya tersisa 1 pria, yaitu dirimu, aku tidak akan pernah menyukaimu. Jadi, kamu tidak perlu merasa khawatir itu akan terjadi. Pria sepertimu mungkin akan selamanya menjomblo, apalagi nona mudamu itu sepertinya sangat mengekangmu. Terbukti kamu langsung di suruh kembali karena dia mengetahui kalau kita sedang bersama. Astaga ... bahkan tingkahnya sudah seperti ibu yang melindungi anaknya, konyol sekali," ejek Sabrina dengan tersenyum mengejek.
"Dasar bodoh!" Dave menyentil kening wanita yang tengah mentertawakannya.
"Aaarrh ...." Sabrina mengusap keningnya yang terasa panas seraya meringis," Sakit, tahu! Menyebalkan."
"Jangan pernah menghina nona muda, atau pun mengejeknya! Karena nona muda tidak seperti yang kamu bilang, dia melakukan ini karena tidak ingin aku dekat denganmu. Menurutnya, aku lebih pantas dengan wanita lain yang ia pilihkan untukku. Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga."
Dave menahan pintu mobil saat Sabrina hendak menutup pintu, kemudian ia langsung masuk ke dalam dan duduk di sebelah wanita yang tengah menatapnya tajam.
"Ngapain kamu duduk di belakang? Kenapa tidak duduk di depan?" Menatap tajam ke arah pria yang sudah duduk di sebelahnya dengan sangat santai.
"Suka-suka aku mau duduk dimana, lagipula aku yang membayarnya. Sudah, diamlah dan jangan berisik!" Dave mengarahkan jari telunjuknya di bibirnya dan mengarahkan tatapan mautnya pada wanita yang sudah menekuk wajahnya tersebut.
Sabrina yang sudah malas untuk berdebat dengan Dave, akhirnya memilih memalingkan wajahnya ke arah samping kiri dan menatap ke arah lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang di depan matanya.
Suasana keheningan tercipta di dalam mobil saat keduanya sama-sama berkutat dengan pikirannya masing-masing. Seolah mereka saat ini sama-sama sedang menanggung beban berat. Bahkan selama 20 menit berlalu, tidak ada suara dari Sabrina maupun Dave. Hingga suara dari sang supir membuyarkan lamunan mereka.
__ADS_1
"Apakah gang depan itu, Tuan?"
Dave yang dari tadi memikirkan wanita yang dicintainya, refleks tersadar dari lamunannya. Karena tidak mengetahui lokasi tepatnya rumah dari Sabrina, ia mengarahkan dagunya ke depan setelah menatap wanita yang duduk di sebelahnya. Seolah memberikan sebuah kode, agar Sabrina yang menjawab pertanyaan dari sang supir.
Sabrina langsung mengeluarkan suaranya begitu mendapatkan perintah dari pria yang mendadak berubah menjadi pendiam, karena tidak mengeluarkan sepatah kata pun. "Iya Pak, gang depan belok kanan dan rumah nomor 5."
"Baik Nona," jawab sang supir dan mengikuti petunjuk dari penumpangnya.
Sedangkan Sabrina sudah bersiap-siap turun, "Terima kasih sudah mengantarku, Dave. Semoga kita tidak bertemu lagi dan juga semoga kamu cepat menikah dengan wanita pilihan dari nona mudamu itu."
Di saat yang bersamaan, mobil berhenti dan Sabrina membuka pintu mobil untuk langsung melangkah turun begitu taksi sudah ada di depan rumahnya.
"Aku akan menyampaikan terima kasihmu itu pada tuan muda. Dan juga, aku akan mengaminkan doa-doamu itu. Semoga ini adalah hari terakhir kita, karena aku pun tidak tertarik untuk bertemu denganmu lagi," jawab Dave dengan datar.
Merasa sangat kesal, Sabrina yang sudah berada di luar mobil, refleks langsung menutup pintu dengan sangat keras karena merasa sangat kesal mendengar perkataan dari pria yang sudah seharian menemaninya.
"Sialan, kenapa Tuhan bisa menciptakan pria yang sangat menyebalkan sepertinya. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutnya. Aaarrhh ... aku benci Dave!" batin Sabrina yang sudah sangat kesal seraya mengepalkan kedua tangannya.
Flashback off ..
TBC ...
__ADS_1