Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Apa lagi rencanamu?


__ADS_3

Akhirnya Aditya tidak mampu menolak keinginan dari wanita cantik nan seksi yang terlihat sangat liar hari ini. Bahkan ia seperti tidak mengenali sang istri yang sangat agresif saat berusaha keras untuk membangkitkan gairahnya kembali. Sehingga hasratnya pun kembali bangkit saat bibir sensual dari sang istri sudah menyesap dan memainkan lidahnya di bagian inti miliknya.


Tentu saja ruangan kamar mandi berukuran cukup luas itu dipenuhi suara dari wanita yang sudah menjerit, melenguh dan mendesah saat menikmati setiap perbuatan dari pria yang kembali membuatnya mencapai klimaks hingga berkali-kali.


Tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah berjalan keluar dari kamar mandi dengan sama-sama memakai jubah handuk dengan rambut basahnya.


Queen berjalan menuju ke arah ranjang dan mendaratkan tubuhnya di sana, "My hubbiy, aku capek. Pijitin aku." Meluruskan kakinya yang putih setelah bersandar di punggung ranjang. "Oh ya, pinggangku juga ya. Karena rasanya mau patah."


Queen sudah mengarahkan tatapan mata penuh permohonan pada pria dengan wajah tampan yang terlihat sangat berantakan rambutnya, karena belum disisir. Akan tetapi, pemandangan itu malah membuatnya semakin terpesona dengan ketampanan dari pria yang sudah berjalan mendekat ke arahnya.


Aditya mendaratkan tubuhnya di sebelah kaki yang sudah siap untuk meminta pijatannya. "Rasanya aneh sekali, seharusnya aku yang capek. Karena 2 kali bekerja keras untuk memuaskanmu, Sayang. Bukankah kamu hanya diam saja di bawah tadi?" Mengarahkan tangannya untuk memijat kaki jenjang nan putih bersih tersebut.


Queen hanya terkekeh menanggapi perkataan dari pria yang sangat memanjakannya tersebut. Ia bahkan tidak berkedip saat menatap wajah tampan dengan rahang tegas di depannya. "My hubbiy, kamu sangat tampan."


"Sekarang istriku mulai pintar melancarkan kalimat rayuan maut. Sepertinya kamu mau lari dari tugasmu, kan. Pasti saat ini kamu takut bila aku memintamu untuk memijatku, bukan?" ucap Aditya dengan geleng-geleng kepala. Seolah menegaskan bahwa ia saat ini bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh sang istri.


Tanpa mengeluarkan suara, Queen hanya mengarahkan ibu jarinya ke arah sosok pria mempesona yang sudah membuatnya semakin gila hari ini.


Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala saat melihat reaksi dari sang istri yang sama sekali tidak mengeluarkan suara.


"Bagaimana caranya membahas tentang acara resepsi? Seharusnya ini saat yang paling tepat, karena hati istriku sedang merasa bahagia," gumam Aditya yang mulai berdehem sejenak sebelum mengeluarkan suara untuk membahas tentang hal yang membuat emosi dari wanita yang terlihat tengah memejamkan kedua matanya.


"Sayang."


"Hem." Queen masih memejamkan kedua matanya dan sama sekali tidak berniat membukanya. Karena ingin menikmati sensasi nyaman dari tangan kekar yang sudah memijat kakinya.


"Aku ingin membahas tentang acara resepsi," ucap Aditya yang berhenti sejenak untuk melihat reaksi dari sang istri. Namun, tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari wanita yang masih memejamkan kedua matanya itu. Sehingga suasana hening mulai mendominasi ruangan pribadi dengan desain interior modern tersebut.


Suasana penuh hening itu berhasil membuat canggung Aditya, seolah ia saat ini tengah menunggu sebuah keputusan dari seorang hakim dan membuatnya sangat tidak nyaman. Akhirnya ia memilih untuk melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada salahnya untuk menggelar acara resepsi pernikahan bersama dengan Dave. Bukankah kamu pernah bilang, sudah menganggapnya seperti saudaramu sendiri? Jadi, tidak ada salahnya jika kita bersama-sama menggelar acara resepsi. Bukankah begitu, tuan putri," ucap Aditya yang masih menatap intens wajah dengan pahatan sempurna di depannya tersebut.


Hanya suara hela napas dari keduanya yang terdengar memenuhi ruangan kamar, karena Queen masih belum juga menanggapi perkataan dari pria yang tidak berhenti memijatnya. Karena saat ia merasa fokus ingin menikmati sensasi kenyamanan, Queen sama sekali tidak ingin merusak kenyamanan yang tengah dirasakan olehnya. Sehingga ia masih belum membuka suara untuk menanggapi perkataan dari sang suami.


"My hubbiy tidak akan pernah berubah. Dia akan selamanya jadi sosok malaikat berhati emas. Akan tetapi, kali ini aku tidak bisa. Jika istri Dave bukan Sabrina, aku pasti tidak akan merasa keberatan. Akan tetapi, yang jadi permasalahannya adalah wanita itu. Para awak media pasti sudah mengetahui bahwa Sabrina adalah mantan kekasih dari My hubbiy. Bisa-bisa, nama baikku akan tercoreng karena merebut kekasihnya. Tidak, ini tidak akan aku biarkan," gumam Queen di dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Aditya telah menyelesaikan kegiatan rutinnya untuk memijat kaki sang istri, ditambah pinggang ramping itu yang sudah menikmati pijatannya.


"Sudah selesai, Sayang. Sekarang giliran kamu yang memijatku. Aku juga capek," ujar Aditya yang berusaha membuka mata terpejam itu agar mau terbuka dan usahanya berhasil. Karena sang istri sudah mulai membuka kelopak mata indah yang dari tadi tertutup itu.


"Aku tidak bisa memijat, my hubbiy. Aku panggilkan orang yang akan memijatmu saja, ya?" ujar Queen yang sudah meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Aditya refleks langsung merampas benda pipih dari tangan sang istri. "Kamu mau menghubungi siapa, Sayang?"


"Salah satu pengawal, agar memijatmu," jawab Queen dengan wajah datarnya. "Sini ponselnya, My hubbiy."


Tanpa menuruti keinginan dari wanita yang sudah mengulurkan telapak tangannya, Aditya meletakkan benda paling penting bagi orang-orang jaman sekarang itu ke atas ranjang di sebelah kirinya. "Tidak jadi, Sayang. Aku hanya ingin menikmati sensasi kenyamanan dari tanganmu, bukan tangan pengawal."


Aditya meraih telapak tangan itu dan membawanya ke dekat bibir, kemudian mengecupnya dengan gerakan sensual. "Kamu salah, Sayang."


Queen mengangkat kedua alisnya, karena tidak memahami perkataan ambigu dari sang suami yang terlihat sudah tersenyum menyeringai ke arahnya. "Kenapa aku mencium sesuatu hal yang mencurigakan dari tatapan nakalmu itu, My hubbiy."


Hanya sebuah suara tawa dari Aditya saat menanggapi perkataan dari sang istri. "Karena kamu melupakan satu hal, Sayang. Aku hanya ingin sedikit membenarkannya."


"Memangnya apa yang aku lupakan?" Queen yang masih belum memahami apa maksud dari sang suami, masih menatap intens sosok di depannya. Seolah menanti penjelasan dari pria dengan paras tampan itu.


"Kamu tadi ngapain di kamar mandi dengan tanganmu?" tanya Aditya untuk mengingatkan perbuatan liar dari sang istri tadi saat berada di kamar mandi yang berubah sangat liar.


Queen refleks terlihat merona wajahnya begitu memahami apa yang dimaksud oleh sang suami yang sudah tersenyum nakal padanya. Sehingga ia menghambur ke arah pria itu dan mengarahkan tangannya untuk menggelitik pinggang kokoh di depannya.

__ADS_1


"Iiish ... dasar nakal," ucap Queen yang tidak mau menghentikan perbuatannya untuk membuat pria di depannya tertawa karena kegelian.


Aditya sudah bergerak kesana-kemari saat merasakan geli pada pinggangnya. "Sayang, geli. Hentikan!"


"Biar tahu rasa."


"Nanti suamimu mati karena kegelian bagaimana?"


Refleks Queen langsung menghentikan perbuatannya dan menatap tajam ke arah pria di depannya. "Astaghfirullah ... My hubbiy ngomong apaan sih. Jangan bawa-bawa kalimat buruk di antara kita, aku tidak suka."


"Kenapa, soal mati?"


"Jangan sebut itu lagi!" teriak Queen dengan sangat kesal.


"Sayang, semua manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Karena itulah kita harus siap kapan saja saat Allah SWT mengambilnya. Jadi ...." Aditya tidak bisa melanjutkan perkataannya saat bibirnya sudah dibungkam oleh jemari lentik sang istri yang sudah menatapnya dengan tajam.


"Aku bilang jangan lanjutkan, karena semua orang sudah tahu itu. Lebih baik kita membahas tentang acara resepsi kita," ucap Queen dengan mengarahkan tatapan mata penuh kilatan amarah. Hingga ia melihat sebuah anggukan kepala dari sang suami dan membuatnya menurunkan tangannya dari bibir sensual yang selalu membuatnya lupa daratan.


"Baiklah, Sayang. Lalu bagaimana, apakah kamu menyetujui acara resepsi pernikahan yang dilakukan bersama dengan Dave?"


"Jangan mimpi."


"Astaghfirullah, baiklah. Terserah apa maumu, Sayang."


"Akan tetapi, aku punya rencana."


"Rencana apa?"


"Nanti juga My hubbiy tahu," ucap Queen dengan tersenyum nakal. "Tunggu saja tanggal mainnya, oke."

__ADS_1


Sementara itu, Aditya hanya diam dan mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi putih sedikit tembam di depannya. "Kali ini apa lagi rencana yang akan dilakukan oleh nona arogan."


TBC ...


__ADS_2