
Suara ketukan pintu dari arah luar, membuat Queen dan Aditya menghentikan pembicaraannya yang membahas tentang Dewi dan sahabatnya yang besok akan bekerja di perusahaan Raharja. Aditya bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu keluar. Sedangkan Queen pun ikut mengekor di belakangnya.
Aditya membuka pintu dan melihat 2 staf hotel yang sudah membawa troli berisi makanan. "Kenapa kalian membawa makanannya ke sini?"
Queen mengerutkan kening saat melihat 2 staf wanita yang tadi disuruhnya untuk mengantarkan makanan untuk Dave dan Sabrina. "Iya, kalian dari tadi belum mengantarkan sarapan untuk mereka?"
"Maaf Tuan dan Nona muda, sepertinya di dalam kamar tidak ada orang. Kami dari tadi sudah mengetuk pintu, tetapi sama sekali tidak ada jawaban," ucap pegawai wanita dengan name tag Riris.
"Benarkah? Aneh sekali, ini baru jam 8. Tidak mungkin mereka keluar dari kamar. Apakah mereka masih tidur karena kelelahan setelah semalaman berperang?" ujar Queen yang sudah terkekeh geli membayangkan wajah 2 pasangan suami istri yang seperti Tom and Jerry saat bertemu.
"Tidak mungkin jika mereka tidur, tetapi tidak mendengar suara ketukan pintu berkali-kali. Coba kamu hubungi Dave, Sayang." Aditya meraih ponsel yang ada di saku celananya dan menyerahkannya pada sang istri.
Queen yang sudah menerima ponsel Aditya, langsung mencari daftar panggilan untuk mencari nomor Dave dan mengarahkan tombol panggil. Namun, sama sekali tidak ada jawaban. Sehingga ia mengembalikan ponsel tersebut pada suaminya.
"Biar aku cek saja sendiri. Siapa tahu suara kalian tadi kurang keras, sehingga tidak bisa membangunkan mereka," ucap Queen yang berjalan masuk ke dalam untuk mengambil hijabnya.
Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri yang terlihat sangat bersemangat untuk pergi ke kamar Dave dan Sabrina. "Sayang, sudahlah. Biarkan saja. Nanti jika mereka lapar, pasti akan menghubungi staf hotel untuk mengantarkan makanan. Kamu kenapa jadi repot-repot begini?"
"Aku hanya ingin memastikan sebentar, My hubbiy. Memangnya kamu tidak penasaran dengan mereka? Aku sangat ingin melihat wajah Sabrina. Apakah dia masih terlihat seperti singa betina, atau sudah berubah seperti seekor siput," ujar Queen dengan tersenyum geli.
__ADS_1
Aditya lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar perkataan dari Queen. Tentu saja ia masih berusaha untuk menghentikan keinginan dari sang istri, agar mau mengurungkan niatnya. Karena ia merasa tingkah Queen sangat kekanak-kanakan.
*********
Suara desahan dan lenguhan dari 2 insan yang sedang mereguk asmara di dalam bathtub, seolah tidak ada puasnya saat menggapai puncak kenikmatan yang menjadi surga dunia bagi pasangan suami istri yang saat ini sibuk bercinta di ruangan kamar mandi. Hingga setelah beberapa menit berlalu, keduanya mencapai klimaks dengan diiringi lenguhan panjang yang keluar dari mulut mereka.
Dengan diiringi deru napas yang memburu, Sabrina dan Dave masih sama-sama mencoba menormalkan pernapasannya. Hingga beberapa detik kemudian, keduanya yang masih dalam posisi cukup intim karena saling berpelukan dengan mata terpejam, membuka kelopak mata dan saling ber-sitatap.
Dave terlihat menyunggingkan senyuman saat melihat wajah Sabrina yang terlihat merona. "Sabrina, kamu benar-benar sudah membuat aku gila. Aku tidak bisa berhenti menyentuhmu." Mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi putih wanita yang terlihat masih seperti orang yang belum sadar sepenuhnya. Ia pun merapikan anak rambut yang menutupi kecantikan wanita yang terlihat sangat kelelahan tersebut.
"Aku lelah," jawab Sabrina yang masih tidak bisa berpikir jernih dengan apa yang barusan terjadi.
"Baiklah, setelah mandi, kamu bisa beristirahat sepuasmu. Sekarang kamu diam saja, biar aku yang memandikanmu." Dave yang merasa sangat puas karena berhasil melepaskan hasratnya tanpa harus menahannya, membuat ia ingin membantu Sabrina yang terlihat seperti orang linglung. Sehingga ia kini sudah sibuk membersihkan tubuh sang istri dan segera menyuruhnya untuk beristirahat.
Sementara itu, Sabrina sudah seperti seorang bayi yang sama sekali tidak bergerak saat jemari kuat dari Dave sudah sibuk membersihkan tubuhnya. Seolah ia sudah pasrah dengan apapun yang dilakukan oleh pria yang bisa dilihatnya sibuk membantunya mandi.
Beberapa menit kemudian, keduanya telah selesai melakukan ritual mandinya. Dave sudah menggendong Sabrina ala bridal style dan menurunkannya di atas ranjang king size.
"Kamu tunggu di sini, aku akan menyuruh staf hotel untuk mengantarkan makanan. Setelah sarapan, kamu bisa tidur lagi." Dave berjalan ke arah telepon yang ada di atas meja. Namun, suara ketukan pintu, membuatnya tidak jadi melakukannya. Bahkan indera pendengarannya sudah menangkap suara dari seseorang yang sangat dihafalnya.
__ADS_1
Sementara itu, Queen sudah mengarahkan tangannya untuk mengetuk pintu di depannya, "Dave. Apa kamu di dalam? Buka pintunya, cepat!"
Sedangkan Aditya yang dari tadi sudah menahan sang istri agar tidak mengganggu pasangan suami istri yang sedang honeymoon, sama sekali tidak berhasil. Sehingga di sinilah ia berada, di depan kamar pasangan pengantin baru dan berbuat hal konyol.
"Sayang, kamu malu-maluin. Kenapa kamu kepo banget dengan mereka? Sepertinya mereka tidak ada di kamar." Aditya sudah memegang pergelangan tangan dari Queen, berniat untuk mengajaknya segera pergi dari sana. Namun, pintu terbuka dan terlihat Dave berdiri menjulang di balik pintu dengan hanya menggunakan jubah handuk.
Sabrina mengamati penampilan Dave yang hanya memakai jubah handuk dan bisa ditebaknya bahwa mantan pengawalnya itu baru saja selesai mandi. Senyum smirk kini terpancar jelas dari wajah Queen.
"Sepertinya kamu sukses menaklukkan singa betina, Dave. Dimanakah si singa yang sudah berubah menjadi seekor siput? Apakah dia masih tidur karena efek kecapekan?" tanya Queen yang melongok ke arah dalam kamar hotel untuk mencari sosok Sabrina.
Dave refleks langsung menutup pintu, karena tidak ingin membuat Sabrina mendengar perkataan dari majikannya. "Sekarang aku tahu kado spesial yang Tuan dan Nona muda maksud. Terima kasih. Berkat itu, istriku sudah berhasil aku taklukkan."
Queen refleks tertawa terbahak-bahak, "Hadiahku belum apa-apa, Dave. Karena kado utama dari kami bukan itu, tetapi rumah baru yang akan kalian tempati nanti. Akan tetapi, sebelum itu, aku ingin melihat wajah si singa betina itu dulu. Bagaimana tampangnya saat ini? Dia sudah tidak garang lagi, kan? Panggil dia ke sini, aku ingin dia yang menerima ini." Queen mengeluarkan kotak kecil dengan pita berwarna merah di atasnya. "Kemarin aku lupa memberikannya."
"Sayang, sudahlah. Berikan saja itu pada Dave dan kita pergi dari sini," ucap Aditya yang sudah berusaha untuk menghentikan tingkah kekanakan dari Queen. Namun, baru saja ia menutup mulutnya, pintu di depannya terbuka dan bisa dilihatnya wajah dari sosok wanita yang terlihat sangat pucat.
"Sabrina!" teriak Aditya yang langsung menghambur menahan tubuh Sabrina yang jatuh terhuyung setelah membuka pintu.
Sementara itu, Queen merasa sangat murka karena melihat suaminya sudah menopang tubuh Sabrina. "My hubbiy, lepaskan tanganmu dari tubuh keong racun!" teriak Queen dengan tatapan penuh kemurkaan.
__ADS_1
TBC ...