
"Apakah kamu tidak mencintai putriku, Menantu? Apakah pernikahan kalian ini hanyalah sebuah kebohongan?" tanya Aryani yang menatap tajam ke arah calon menantunya.
Refleks Sabrina dan Dave ber-sitatap dan saling memberi kode dengan sebuah tatapan mata. Kemudian buru-buru Sabrina membuka suaranya untuk menghilangkan kecurigaan dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Pertanyaan konyol macam itu, Ma. Mana ada sebuah kebohongan dalam pernikahan. Ada-ada saja Mama ini," sahut Sabrina dengan terkekeh. "Lihatlah, calon menantu mama sudah kebingungan saat mendapat pertanyaan konyol itu."
Merasa tidak puas dengan jawaban dari putrinya, Aryani masih menatap menelisik ke arah calon suami dari putrinya. "Aku ingin menantu yang menjawabnya, bukan kamu."
Dave berusaha bersikap setenang mungkin untuk menutupi kegugupannya, bahkan ia sudah melangkahkan kaki panjangnya untuk mendekati wanita paruh baya yang akan menjadi mertuanya tersebut.
Seulas senyuman terbit dari wajahnya saat ia meraih pergelangan tangan dari wanita itu, "Percayalah padaku, Ma. Aku mempunyai orang tua yang sangat luar biasa. Mereka selalu berpesan padaku, agar aku tidak mempermainkan perasaan seorang wanita."
Kalimat bernada manis dari sosok pria yang menurutnya adalah calon menantu idaman, membuat Aryani akhirnya bernapas lega dan menyunggingkan senyuman. Kemudian langsung mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut kepala pria tersebut.
"Syukurlah, ternyata kamu adalah sosok menantu idaman yang akan membahagiakan putriku. Mama benar-benar merasa sangat khawatir tadi saat mendengar perkataan konyol dari Sabrina. Akan tetapi, begitu mendengar jawabanmu, Mama sudah merasa lega sekarang. Baiklah, lebih baik kalian berdua saja yang membereskan semua barang-barang ini. Mama mau membantu bibik menyiapkan makan malam. Kamu pulang nanti malam saja dan sekalian makan di sini, sambil menunggu papamu kembali dari hotel Raharja."
Aryani menepuk bahu kokoh Dave dan berjalan keluar meninggalkan 2 anak manusia yang sebentar lagi akan resmi menjadi suami istri tersebut tanpa terlebih dahulu mendengarkan jawaban dari keduanya.
"Mamaa!" teriak Sabrina yang berusaha untuk menghentikan langkah kaki Mamanya agar tidak keluar dari ruangan kamar dan meninggalkannya sendirian bersama dengan Dave. Namun, rasa kecewa dirasakan olehnya saat teriakannya sama sekali tidak diperdulikan.
"Mama bagaimana sih, bisa-bisanya meninggalkan anak gadisnya yang masih perawan bersama dengan seorang pria," keluh Sabrina yang merasa sangat kikuk karena berada tak jauh dari pria dengan postur tinggi tegap di sebelahnya.
__ADS_1
Dave hanya terkekeh geli menanggapi rengutan dari sosok wanita yang sudah terlihat sangat kebingungan saat berdua dengannya di dalam kamar. "Tenang saja, aku tidak akan memperkosa anak gadis orang. Memangnya aku pria berengsek, apa."
Sabrina hanya tersenyum mengejek saat mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang berada di depan meja riasnya. "Sadarlah Dave, bukankah kamu sudah 2 kali ...." Sabrina tidak melanjutkan perkataannya karena merasa sangat malu jika mengingat momen paling menyebalkan. Yakni, sebuah ciuman dari pria yang dianggapnya sangat kurang ajar tersebut.
"Maaf, bukankah sudah aku bilang jika kamu juga turut andil dalam masalah itu? Makanya, kalau punya mulut tuh dijaga. Jangan sampai membuat pria merasa kesal, ingat itu! Jika kamu bertemu dengan pria lain dan menyinggung perasaan mereka, kamu bisa berakhir diperkosa. Masih untung kamu hanya aku cium," ujar Dave yang sudah berlalu pergi meninggalkan Sabrina dengan membawa seserahan di tangannya.
"Sialan," sarkas Sabrina yang merasa sangat kesal mendengar kalimat ejekan bernada penghinaan tersebut. "Bahkan majikanmu lebih parah dariku, tetapi dia tidak mengalami masalah sama sekali. Hidupnya malah berakhir bahagia setelah menikah dengan mas Aditya."
Sabrina menundukkan kepala setelah kedua tangannya ia letakkan di atas meja riasnya. Ia menyembunyikan wajahnya di atas lengannya yang menopang di sebelah peralatan make up-nya sambil bergumam lirih di dalam hati untuk mengungkapkan kegelisahannya.
"Ya Allah, kenapa sampai sekarang aku masih tidak bisa mengikhlaskan mas Aditya. Aku masih sangat mencintainya. Ampunilah dosaku ya Allah, karena mencintai suami orang."
Lamunan Sabrina seketika buyar seketika saat mendengar suara bariton dari pria yang sudah menepuk pundaknya.
Refleks Sabrina mengangkat kepalanya dan mulai menoleh ke belakang, "Aku tidak apa-apa. Kamu bereskan saja semuanya, karena aku sangat lelah dan tidak akan membantumu."
"Baiklah, kalau begitu, aku keluarkan dulu semuanya agar kamu bisa beristirahat di atas ranjangmu," ujar Dave yang kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sorot matanya menatap ke arah ranjang berukuran sedang dengan penutup berwarna biru dan gambar bunga tulip tersebut. Sesaat pikiran kotor kini memenuhi pikirannya.
"Apakah nanti aku akan tidur di ranjang ini setelah menikah dengan Sabrina? Tidur bersama, tidak mungkin. Kami hanya sedang melakukan perjanjian pernikahan semata. Kenapa aku bisa berpikir jauh ke sana. Konyol sekali, tidak ada yang akan berubah dari kami meski telah menikah nanti. Sadar Dave, ini hanya sebuah sandiwara semata," gumam Dave yang sudah sibuk memindahkan semua hantaran lamaran.
Sedangkan Sabrina hanya mengamati perbuatan dari pria yang berjalan keluar masuk kamarnya. Sejujurnya ia merasa iba saat melihat Dave terlihat sibuk atas perintahnya. Namun, ia gengsi untuk mengatakannya karena tidak ingin membuatnya merasa besar kepala atas rasa kasihan yang dirasakannya.
__ADS_1
"Dave benar-benar apes karena dikerjai mama dan juga aku. Akan tetapi, aku jadi tidak repot kan. Salah sendiri ia tadi mengiyakan perintah dari mama," batin Sabrina di dalam hati.
********
🍃 Mansion keluarga Raharja 🍃
Aditya dan Queen baru saja tiba di Mansion mewah keluarganya. Saat keduanya berjalan masuk ke arah pintu utama, mereka berpapasan dengan sosok wanita dengan tubuh mungil yang terlihat memakai pashmina berwarna merah dengan celana panjang dan kemeja berwarna hitam tengah membawa kantong plastik berisi benih bunga tulip yang baru saja dikirim dari Belanda.
"Mommy, mau menanam bunga? Serahkan saja pada para pelayan, buat apa repot dengan tangan kotor saat menyentuh tanah yang banyak kumannya," ucap Queen saat menatap sesuatu yang ada di tangan mommy-nya.
"Sudahlah, jangan berisik. Sana masuk dan istirahat di kamar. Jangan mengganggu hobi mommy," jawab Qisya dengan mengibaskan tangannya dan berlalu pergi setelah menyunggingkan senyumnya pada menantu kesayangan.
"Mommy, aku belum selesai bicara," teriak Queen untuk menghentikan langkah kaki dari wanita yang sudah berdiri di antara pintu utama. "Bagaimana acara lamarannya, Mom?"
Refleks Qisya menghentikan langkahnya begitu mendengar teriakan dari putri satu-satunya. Kemudian ia berbalik badan dan menatap ke arah pasangan suami istri yang berdiri tak jauh darinya. "Oh ya, Mommy sampai lupa. Satu Minggu lagi acara resepsi pernikahan kalian diadakan dan sekalian tadi mommy usul agar Dave dan calon istrinya mengadakan resepsi bersama kalian. Tidak apa-apa kan Aditya?" tanya Qisya yang sudah menunggu jawaban dari menantu kesayangan.
Aditya merasa terharu karena mertuanya tersebut malah lebih dahulu meminta pendapatnya, bukan putrinya. Ia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, "Tentu saja tidak apa-apa Ma." Baru saja bibirnya tertutup setelah menyelesaikan ucapannya, Aditya refleks menutup daun telinganya begitu mendengar suara lengkingan suara dari wanita yang berdiri di sebelahnya.
"What? Resepsi pernikahan bersama dengan mantan kekasih My hubbiy? Tidak salah? Gila apa! Nggak ... nggak, aku sangat tidak setuju. Itu akan mencemarkan nama baikku saat semua orang tahu kalau wanita itu adalah mantan dari suamiku. Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh," sarkas Queen dengan wajah kesal dan juga kecewa.
"Apa kata para awak media nanti yang akan datang meliput berita terbaru dariku. Tidak boleh, apapun yang terjadi, aku tidak mau satu ruangan dengan wanita menjengkelkan itu," gumam Queen yang sudah memikirkan rencana untuk menggagalkan rencana dari orang tuanya.
__ADS_1
TBC ...