Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kenapa aku sangat marah?


__ADS_3

Aditya yang sudah menerima martabak manis kesukaan Queen mulai membayar pesanannya dengan mengeluarkan satu lembar uang seratus ribuan, "Ini uangnya Bang. Untuk kembaliannya ambil saja Bang, buat jajan anak Abang di rumah."


Dengan raut wajah yang berbinar, pria yang memakai celemek di badannya itu langsung menyahut, "Waah ... terima kasih Tuan, semoga hubungan Anda dan Nona muda Queen berjalan dengan lancar."


"Aamiin, terima kasih atas doanya Mas. Semoga doa-doa tulus dari semua orang bisa membuat keluarga kami sakinah mawadah warahmah. Saya pergi dulu Mas."


"Iya Tuan, terima kasih."


Aditya mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan itu. Dan saat dirinya berniat membuka pintu mobil, dari arah belakangnya terlihat mobil yang melaju cukup kencang.


Aditya yang awalnya akan membuka pintu mobil, merasa silau dan melihat mobil melaju ke arahnya. Secepat kilat dirinya langsung melangkah mundur, ke arah belakang mobil untuk melindungi diri. Dan di lihatnya mobil yang melaju dengan sangat kencang yang hampir saja menabraknya itu sudah melintas dan menghilang di balik kemacetan jalan.


Aditya memegangi dadanya, dan bisa di rasakannya suara degup jantungnya yang berdebar sangat kencang. "Astaghfirullah ... mobil yang tadi ugal-ugalan sekali, dan hampir saja menabrakku. Ulah pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab yang seperti inilah yang merugikan orang lain, dan membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya."


"Alhamdulillah Engkau masih melindungiku ya Allah."


Queen terlihat turun dari mobil saat melihat Aditya hampir saja tertabrak mobil yang melintas, dan menghampiri pria yang sudah berada di belakang mobilnya. "Apa kamu tidak melihat ada mobil yang ugal-ugalan tadi saat akan masuk ke dalam mobil? Untung saja kamu selamat, kalau kamu sampai mati, maka aku akan kebingungan saat di tanya oleh Ayahmu."


"Astaghfirullah ... jadi hanya itu yang ada di pikiranmu Queen? Bahkan nyawa orang lain tidak begitu penting di matamu."

__ADS_1


"Astaga ... berisik sekali, mengenai masalah nyawamu memang bukan urusanku. Itu adalah urusanmu sendiri, jadi jangan menyalahkan aku jika tidak memikirkan masalah nyawamu itu. Jadi jaga nyawamu baik-baik, agar aku tidak perlu repot-repot menjelaskan pada Ayahmu jika kamu sampai kenapa-kenapa!"


"Oh ya ... apa kamu tadi melihat plat nomor kendaraan yang hampir saja menabrakmu? Biarkan orang-orang dari Daddy yang mencari pengemudi ugal-ugalan itu. Mereka harus di beri pelajaran, agar tidak menambah korban lagi. Orang-orang seperti itu harus menanggung akibat dari perbuatannya, jadi mereka harus segera di kirim ke bui."


Aditya langsung menggelengkan kepalanya, "Kejadiannya sangat cepat, jadi mana mungkin aku sempat melihat plat nomor kendaraan itu. Aku hanya fokus untuk menghindari mobil itu. Sudah biarkan saja, mungkin saja mereka terburu-buru. Kita berpikir positif saja!" Aditya menyerahkan martabak manis yang telah dibawanya. "Ini pesanannya!"


Queen menerima kantong plastik yang berisi lima kotak martabak manis tersebut, dan mengarahkan tatapannya ke arah tangan kiri Aditya. "Kamu juga membeli martabak? Apakah kamu berpikir aku akan menghabiskan martabak ini sendirian? Sehingga kau membelinya sendiri, karena takut tidak kebagian? Apakah kau pikir makanku sebanyak ini?"


Aditya mengarahkan tangannya ke depannya, "Tentu saja aku tidak berpikir seperti itu, karena aku berpikir martabak itu sudah ada tuannya. Lagipula aku memang ingin membelinya, tidak perlu memikirkan aku. Aku sudah membelinya, jadi jangan di bahas lagi hal yang tidak penting ini. Lebih baik kita segera pulang, karena hari sudah malam!" Melangkahkan kakinya menuju ke mobil dan masuk ke dalamnya.


Queen yang merasa sangat kesal karena di tinggalkan, membuatnya buru-buru mengikuti Aditya yang sudah masuk ke dalam mobil, "Sialan, aku malah di tinggalin. Padahal aku belum selesai berbicara." Queen membuka pintu mobil dan segera duduk di sebelah pria yang terlihat tengah menatap serius ponselnya.


"Aku belum selesai berbicara padamu Aditya!!"


Queen yang merasa semakin kesal karena di cueki, dan pria yang di ajaknya berbicara tengah fokus menatap ke arah ponselnya, membuatnya langsung merebut ponsel itu dari tangan Aditya. Ia pun mulai melihat ponsel itu, menatapnya dengan intens, karena membaca isi pesan di dalamnya.


*Mas Aditya, aku tahu kalau Mas terpaksa menikahi wanita yang sangat arogan itu. Karena itulah, aku ingin mengatakan padamu sekali lagi Mas, aku akan menunggumu. Aku yakin kamu akan bercerai dengan Nona muda Queen, karena dia tidak pernah mencintaimu.


Hanya aku satu-satunya wanita yang mencintaimu dengan sangat tulus Mas. Dan aku pun sangat yakin bahwa perasaanmu juga sama sepertiku. Jadi aku akan menunggu dudamu Mas. Aku tidak akan mempermasalahkan statusmu yang duda, aku hanya akan menikah denganmu Mas Aditya. Aku sangat mencintaimu*.

__ADS_1


Selesai membaca pesan dari wanita yang merupakan mantan kekasih dari pria yang berada di sebelahnya, membuat Queen langsung mengepalkan tangannya. Karena saking kesalnya, ia membuka jendela kaca mobilnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung membuang ponsel tersebut.


Karena mobil yang sudah melaju sangat kencang, ponsel milik Aditya sudah jatuh ke aspal dan mungkin sudah hancur terlindas kendaraan yang melintas.


Melihat perbuatan dari Queen yang sudah membuang ponselnya sembarangan, membuat Aditya yang sangat terkejut itu langsung memegangi dadanya, lalu berkali-kali beristighfar. "Astaghfirullah ... Queen, apa yang kamu lakukan? Ponselku masih bisa di gunakan, bahkan ada daftar nama orang-orang yang aku kenal Queen. Bagaimana mungkin kamu membuang barang milik orang lain sesukamu?"


Queen merasa sangat kesal, lalu menatap jengah ke arah pria yang terlihat memijat pelipisnya, "Aku tidak ingin kau membawa barang murahan ke Mansion. Kamu tenang saja, aku akan mengganti ponselmu dengan harga yang sepuluh kali lipat lebih mahal. Jadi tidak perlu membuat hal yang sepele ini menjadi masalah."


"Bukan masalah ponselnya Queen, tapi yang paling penting adalah kontak dari para kenalanku. Bagaimana jika ada yang menghubungiku untuk membicarakan hal yang penting?"


Queen menatap tajam Aditya, "Sudahlah, jangan beralasan! Aku tahu bahwa kamu saat ini tengah memikirkan mantan kekasihmu itu. Apakah kamu merasa kebingungan karena tidak bisa menghubungi wanita itu? Tunggu, kamu tadi ingin membalas pesan dari wanita bernama Sabrina itu bukan? Kamu ingin mengatakan apa? Apakah kamu ingin mengatakan bahwa kamu menerimanya? Dan akan kembali padanya setelah kita bercerai?"


Aditya mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Queen, "Berhentilah mengatakan kata bercerai Queen!! Aku berjanji padamu, bahwa aku tidak akan pernah kembali pada Sabrina. Aku tadi hanya ingin mengatakan untuk menyuruhnya melupakan aku, dan menyuruhnya untuk menikah dengan pria lain. Apa kamu puas? Apakah aku bisa mengartikan kemarahanmu ini adalah karena kamu cemburu padaku?"


Sontak perkataan dari Aditya yang mengatakan dirinya cemburu, membuatnya merasa sangat marah. "Apa, cemburu? Aku? Astaga ... aku sama sekali tidak merasa cemburu, apalagi pada pria sepertimu."


"Lalu kenapa kamu membuang ponselku tadi? Bukankah kamu marah karena aku tadi ingin membalas pesan dari Sabrina?"


"Tentu saja karena aku tidak suka pada ponsel murahanmu itu! Karena itulah aku membuangnya."

__ADS_1


Iya juga ya, kenapa tadi aku sangat marah dan langsung membuang ponsel milik Aditya?


Bersambung ...


__ADS_2