Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tundukkan kepala


__ADS_3

Satu jam setelah acara mengungkapkan kekaguman dan rasa cinta di kamar hotel, Queen dan Aditya kini sudah berada di sebuah butik yang merupakan milik Emily. Yaitu sepupu dari Queen yang merupakan putri dari kakak mommy-nya. Banyaknya pakaian kantor yang sudah disiapkan oleh para pegawai butik, membuat Aditya membulatkan kedua matanya.


Aditya menoleh ke arah sang istri yang berdiri di sampingnya, "Sayang, kamu tidak akan menyuruhku untuk mencoba satu-persatu pakaian ini, bukan?"


"My hubbiy bagaimana sih, ya dicoba satu-satu lah. Biar aku bisa memutuskan mana pakaian yang cocok untukmu. Ayo, coba dulu. Aku akan duduk di sini dan menjadi juri dalam menilai penampilanmu. Cepat masuk!" seru Queen yang beralih menyuruh pegawai butik untuk membantu membawakan beberapa potong setelan jas tersebut.


"Padahal aku akan membeli semua pakaian itu, tetapi aku lebih suka jika kamu mencoba dulu pakaiannya, My hubbiy. Aku sepertinya sudah mengerjaimu," gumam Queen yang tertawa di dalam hati.


"Astaghfirullah." Aditya berkali-kali memijat pelipisnya karena merasa seperti boneka yang harus menuruti keinginan dari sang istri. "Ini ada 20 potong pakaian kantor dan kamu menyuruhku untuk mencobanya satu-persatu, Sayang?"


"Iya, tinggal coba saja, My hubbiy. Apa susahnya, sih," seru Queen yang sudah merasa sangat kesal karena sang suami sangat lambat dan membuatnya mendorong tubuh kekar tersebut untuk segera pergi ke ruang ganti. "Cepat laksanakan perintah dari tuan putrimu ini." Queen beralih menatap ke para pegawai pria yang ada di butik. "Kalian bantu suamiku."


"Baik, Nona muda," jawab 3 pegawai pria berseragam hitam itu dengan membungkuk hormat.


Queen menyunggingkan senyuman saat kembali ke tempatnya. Ia kini sudah mendaratkan tubuhnya di sofa dan menunggu sang suami keluar untuk dinilai penampilannya.


Sementara itu, Emily yang daritadi hanya diam mengamati tingkah dari Queen, terlihat bersedekap dada dan geleng-geleng kepala.


"Queen ... Queen, kamu memang tidak akan pernah bisa berubah meskipun sudah berhijrah. Masih tetap arogan dan suka memaksakan kehendak. Aku kasihan sekali pada Aditya, karena dia sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya ketika berhadapan denganmu. Dia termasuk suami takut istri," ujar Emily dengan terbahak.


Queen hanya tersenyum kecut saat mendengar sindiran dari Emily yang sudah duduk di sebelahnya. "Diamlah, Emily. Bukankah aku adalah pelanggan VVIP, harusnya kamu melayani dengan baik. Bukan malah mengejek pelanggan yang datang memborong. Oh ya, My hubbiy bukan 'SUSIS', tetapi SSI."


"Baiklah ... baiklah, tidak ada yang bisa mengalahkan pelanggan VVIP ini. Akan tetapi, apa itu SSI?" tanya Emily yang sudah mengangkat kedua alisnya.


"Suami Sayang Istri lah, memangnya apa lagi. Suamiku sangat mencintaiku, karena itulah menuruti semua keinginanku. Jadi, jangan salah mengartikan sikap suami luar biasaku," ujar Queen yang sudah mengeluarkan ponselnya. "Aku akan memotret suami tampanku saat keluar dari ruang ganti."

__ADS_1


Emily menepuk pundak Queen, "Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu bisa berubah sebucin ini setelah menikah dengan Aditya. Padahal dulu kamu sangat tergila-gila dengan hot daddy-mu yang sudah 20 tahun kamu cintai. Ternyata cintamu kandas di tangan pria seperti Aditya, dia sepertinya memang sangat luar biasa seperti yang kamu bilang."


"Jangan sebut daddy Azriel lagi, karena aku masih sangat menyayanginya, tetapi bukan lagi seperti seorang pria. Sekarang aku menyayanginya seperti daddy kandungku sendiri. Rencana Tuhan lebih indah dan wanita baik akan mendapatkan jodoh yang baik juga. Begitu juga sebaliknya, wanita yang jahat akan mendapatkan pria yang jahat. Ada satu hal lagi, pacaran halal itu ternyata jauh lebih indah dari apapun. Seandainya aku jadi ustadzah, mungkin aku akan menyerukan pada generasi muda agar fokus belajar dan memilih pacaran setelah menikah." Queen membuka ponselnya dan mengetik sesuatu di sana, kemudian mempostingnya di akun sosial media miliknya.


#Pesan untuk para generasi muda. Pacaran halal setelah menikah, jauh lebih indah dari segalanya. Fokus kejar masa depanmu, setelah menikah, baru pacaran#



Queen memilih foto di mana tangannya berada dalam genggaman Aditya dan terlihat jarinya melingkar sebuah cincin bertatahkan berlian. "Bukankah ini termasuk ilmu yang bermanfaat? Siapa tahu para anak muda yang mengidolakan aku, mengikuti apa yang aku katakan ini."


Emily mengarahkan jari jempolnya pada Queen, "Sekarang kamu berubah menjadi bijak, Queen. Ternyata suamimu membawa pengaruh yang baik. Syukurlah, aku pun ikut senang melihatmu jadi sosok wanita shalihah. Ya, meskipun sifat arogan masih mendarah daging pada dirimu."


"Aku sudah berusaha sedikit demi sedikit menghilangkannya," jawab Queen yang langsung menoleh ke arah ruang ganti begitu indera pendengarannya menangkap suara dari sosok pria yang saat ini sudah terlihat sangat tampan dan gagah mengenakan setelan jas berwarna biru.


Queen yang merasa terpesona dengan penampilan rapi dari Aditya yang memakai setelan jas yang sangat pas membalut tubuh kekar suaminya, langsung bangkit dari sofa dan berkali-kali mengarahkan kamera dengan jepretan berkali-kali.


"Coba senyum, My hubbiy."


"Astaghfirullah, lebay sekali istriku ini," lirih Aditya yang terpaksa menuruti perintah dari Queen dengan menyunggingkan senyuman. "Apa kamu mau memotret setiap kali aku keluar dari ruang ganti, Sayang?"


"Iya, memangnya kenapa, My hubbiy?" tanya Queen dengan tatapan menyelidik.


"Tidak apa-apa, Sayang." Aditya hanya bisa mengungkapkan perasaannya dengan bergumam di dalam hati. "Kalau sedang lebay begini, istriku seolah meninggalkan kesan nona arogan dari keluarga Raharja."


"Pakaian itu sangat cocok, jadi aku ambil. Sana, coba lagi yang lain, My hubbiy." Queen berniat mengibaskan tangannya, tetapi suara tidak asing terdengar di telinganya. Sehingga ia menoleh untuk melihat sosok yang menyapanya.

__ADS_1


"Nona muda Queen, kebetulan sekali," sapa Dewi yang berjalan mendekat ke arah pasangan suami istri tersebut. Kemudian ia membungkukkan badan, yang merupakan bentuk penghormatannya.


Queen mengamati Dewi dan sosok wanita yang berada di sebelahnya. Yaitu wanita dengan tubuh seksi yang memakai gaun selutut berwarna merah menyala yang menampilkan lekuk tubuh dan kaki jenjang putih mulus. Tak lupa rambut panjang hitam legam terurai di bawah bahu dan wajah dengan make up tebal, serta lipstik berwarna merah menggoda.


Entah mengapa melihat penampilan sosok wanita tersebut, membuat Queen merasa sangat mual dan refleks ia melirik ke arah sang suami yang masih berdiri tak jauh darinya. "My hubbiy, cepat ganti pakaian selanjutnya." Mengibaskan tangannya agar sang suami segera masuk ke ruang ganti dan tidak melihat penampilan seksi wanita yang datang bersama Dewi.


"Baiklah, Sayang," jawab Aditya yang langsung berbalik badan dan berjalan masuk ke ruang ganti. "Istriku pasti sebentar lagi memanggil wanita yang datang bersama Dewi adalah keong racun."


Sementara itu, Queen yang masih terus mengamati penampilan dari wanita dengan gaun merah menyala itu, langsung mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya.


"Kamu datang ke butik ini untuk mencari pakaian kerja buat kamu?" Melirik sinis pada wanita yang tersenyum ke arahnya. "Kamu?"


"Iya, Nona muda. Saya belum punya pakaian kantor sama sekali, termasuk sahabat saya ini. Jadi, saya datang ke sini setelah melihat di sosial media yang merekomendasikan tempat ini. Dia Ririn, sahabat saya yang kemarin datang ke acara resepsi pernikahan, Nona muda," ucap Dewi yang mengarahkan tangannya pada sahabatnya agar berbicara.


Ririn menyunggingkan senyuman termanisnya dan menyapa ke arah nona muda di depannya yang terlihat sangat sinis padanya. "Selamat siang, Nona muda. Saya Ririn sahabatnya Dewi," sapa Ririn yang sudah mengulurkan tangannya.


"Turunkan tanganmu, daripada capek menggantung di udara. Aku tidak suka bersalaman dengan orang-orang. Termasuk suamiku, jadi jangan berharap mendapatkan balasan. Oh ya, ada 1 peraturan yang harus kamu ketahui sebelum kamu bekerja di perusahaan Raharja. Kalau tidak, kamu akan dipecat sebelum bisa bekerja."


Ririn menelan salivanya saat mendapat tatapan membunuh dari Queen. "Iya, Nona muda. Saya mendengarkan."


"Jangan pakai pakaian ketat di kantor, apalagi make up tebal dan lipstik yang seperti baru saja makan ayam mentah itu." Tunjuk Queen pada bibir wanita di depannya. "Oh ya, ada 1 lagi poin utama yang paling penting. Jangan pernah memandang presdir dan wakil presdir. Jadi, tundukkan kepala saat mereka berdua lewat di depanmu. Cam kan itu baik-baik, oke!"


Dewi dan Ririn buru-buru menganggukkan kepala, "Baik, Nona muda."


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2