
Aditya dan Azriel langsung ber-sitatap saat mendengar pertanyaan konyol dari Queen. Sehingga keduanya pun langsung terkekeh geli. Kemudian Azriel sudah mengeluarkan suaranya untuk menanggapi Queen.
"Memangnya kami sumo? Hingga sampai bergulat segala. Lagipula buat apa kami berkelahi. Kamu pikir kami akan saling adu otot untuk memperebutkanmu? Seorang nona muda arogan terlalu percaya diri." Beralih menatap ke arah Aditya, "Istrimu sedang bertingkah impulsif."
Aditya menggeleng perlahan, "Bukan, tetapi istriku sedang mengkhawatirkanku. Jika sampai suaminya terluka, dia pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri." Aditya mengarahkan tatapan penuh kelembutan saat menatap wajah secantik bidadari tersebut, "Bukankah seperti itu, Sayang?"
Queen mengarahkan ibu jarinya pada sang suami, "My hubbiy, sangat cerdas, bisa membaca dan memahami apa yang aku rasakan. Ya sudah, kalian boleh berbicara empat mata. Sepertinya Daddy Azriel ingin memberikan petuah pada menantunya. Akan tetapi, jangan lama-lama. Nanti semua orang kelaparan, lagi."
"Tidak akan lama, cuma 10 menit. Aku pinjam hubbiy kesayanganmu dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Queen, Azriel sudah mengarahkan tangannya di pundak Aditya dan mengajaknya berjalan ke arah pintu keluar.
Sedangkan Aditya hanya mengikuti pergerakan dari pria yang masih terlihat tampan itu dengan pikiran yang bercabang, karena merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh seseorang yang pernah sangat dipuja-puja oleh istrinya.
Sedangkan semua orang berjalan ke arah sofa untuk menunggu hingga 2 pria berbeda generasi itu kembali. Tentu saja semuanya tengah menebak-nebak tentang apa yang akan dibicarakan oleh Azriel pada Aditya.
Sementara itu, Azriel sudah melepaskan tangannya dari pundak kokoh Aditya begitu tiba di teras depan dan mengarahkan tinjunya. "Selamat, Aditya. Kamu berhasil meluluhkan hati seorang nona arogan yang hatinya sedingin es itu. Terima kasih. Sekarang aku bisa bernapas lega setelah lebih 20 tahun merasa khawatir."
Aditya refleks mengerjapkan kedua matanya begitu mendengar ucapan terima kasih dari pria yang baru saja meninju ringan perutnya. Tadinya ia berpikir bahwa pria yang terlihat sangat mempesona itu akan mengeluarkan ceramah dengan petuah-petuah.
Namun, semuanya seolah langsung terpatahkan setelah mendengar perkataan dari pria yang terlihat tengah berdiri di depannya dengan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celana panjang berbahan katun berwarna hitam itu.
"Ternyata Anda adalah orang yang sangat bijak. Aku pun sangat berterima kasih pada Anda karena sudah menjaga istriku dengan sangat baik. Semoga aku bisa selamanya menjadi imam untuk Queen dan selalu membahagiakannya."
Azriel yang berdiri membelakangi sorot lampu, menyinari bagian belakang tubuhnya. Kemudian ia berjalan semakin mendekati Aditya. "Aku sudah mendengar semuanya tentangmu sebelum kalian menikah. Jadi, aku sangat percaya dan yakin bahwa kamu bisa membahagiakan Queen selamanya. Aku sudah menganggap Queen seperti putriku sendiri. Jadi, jangan pernah menyakitinya, karena aku dan Aby akan memberikan pelajaran padamu, jika sampai kamu melakukannya."
"Insya Allah aku tidak akan pernah menyakiti istriku, Anda tenang saja," jawab Aditya yang menyunggingkan senyumnya.
"Alhamdulillah. Baiklah, hanya itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sekarang lebih baik kita masuk ke dalam. Semua orang mungkin sudah lapar," seru Azriel yang berjalan ke arah pintu masuk setelah menepuk bahu Aditya.
"Tunggu!" seru Aditya pada pria yang sudah berdiri membelakanginya.
Azriel berbalik badan dan menatap intens wajah Aditya, "Kenapa? Apa ada yang ingin kamu tanyakan padaku?"
Aditya menganggukkan kepalanya, "Iya. Tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur."
"Baiklah," ujar Azriel dengan mengerutkan keningnya dan terlihat kedua alisnya saling menahut.
Sebelum mengeluarkan pertanyaannya, Aditya menelan salivanya terlebih dahulu untuk menormalkan kegugupannya. "Apakah Anda tidak pernah sedikit pun mempunyai rasa pada Queen? Maksudku, Anda tahu sendiri kan bahwa pesona istriku teramat luar biasa. Mungkin sebagai laki-laki normal, semuanya akan menyukai dia."
"Apakah kamu sangat mencintai Queen?" tanya Azriel dengan seulas senyum.
"Apa? Bukankah pertanyaan Anda sangat lucu, tentu saja aku sangat mencintai Queen," jawab Aditya merasa aneh dengan pertanyaan yang dianggapnya konyol itu. Karena bukannya menjawab, tetapi malah kembali bertanya padanya.
__ADS_1
"Itu adalah jawaban dari pertanyaanmu, anak muda. Di dunia ini memang banyak wanita cantik dan mempesona yang mungkin membuat para pria terpesona hingga meneteskan air liur. Akan tetapi, pria sejati hanya mencintai 1 wanita setelah menikah. Yakni, istri yang menjadi surganya. Bukankah begitu?" ujar Azriel dengan mengedipkan kedua matanya sesaat sebelum berlalu pergi.
"Terima kasih," teriak Aditya yang sudah bernapas lega begitu mendengar jawaban dari pria yang sudah menghilang di balik pintu. "Ternyata pria yang dicintai oleh istriku adalah pria yang luar biasa. Karena sangat mencintai istrinya meskipun ada wanita luar biasa yang mengejar-ngejarnya. Alhamdulillah, sekarang perasaanku sudah tenang setelah mendengar jawaban darinya."
Setelah mengungkapkan kelegaannya, Aditya berniat berjalan masuk ke dalam Mansion. Namun, netra pekat miliknya sudah menangkap siluet dari seorang wanita yang baru saja datang dan sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Queen yang merasa tidak sabar untuk menanyakan apa yang dibicarakan oleh 2 pria luar biasa yang berarti dalam hidupnya, membuatnya menghampiri sang suami yang masih berdiri di belakang sorot lampu dan membuat ia bisa melihat pesona dari sosok pria yang terlihat sangat bercahaya tersebut.
"My hubbiy, apa yang kalian bicarakan tadi? Daddy Azriel tidak mau menjawab pertanyaanku tadi, makanya aku ke sini."
"Itu adalah urusan sesama pria dewasa, Sayang. Jadi, wanita tidak boleh tahu," jawab Aditya yang sudah meraih pinggang ramping sang istri dan mengajaknya untuk berjalan masuk ke dalam Mansion.
Tentu saja karena merasa kesal tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, membuat Queen langsung mengarahkan tangannya untuk mencubit perut pria yang sudah menguasai tubuhnya.
"Issh ... bikin kesal saja. Aku tidak suka ya, ada rahasia di antara kita, My hubbiy. Cepat katakan!"
"Tidak boleh."
"Astaga, bandel sekali. Awas saja nanti, aku tidak akan kasih jatah nanti malam," rengut Queen yang sudah menampilkan wajah masam dan mengerucutkan bibirnya.
"Benarkah? Baiklah, kita lihat saja nanti siapa yang minta jatah dan tidak memberi jatah," jawab Aditya yang hanya mentertawakan perkataan dari sang istri yang sudah melepaskan tangannya dan berlalu pergi meninggalkannya menuju meja makan.
"Sayang, jangan marah lagi."
Karena suara Queen yang cukup keras, tentu saja semua orang bisa mendengar kekesalan dari Queen yang baru saja tiba di ruang makan dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang berada di balik meja makan berukuran panjang dengan aneka hidangan Indonesia dan Western. Karena ingin menyesuaikan dengan tamu, yang sudah menghabiskan waktu lama di luar negeri.
"Kenapa, Queen? Suamimu tidak mau menjawab pertanyaanmu yang tadi kamu ajukan kepadaku, ya. Kasihan," ejek Azriel yang sudah membantu sang istri mengambilkan makanan untuk putra putrinya.
Queen hanya tersenyum kecut dan menatap tajam pria yang baru saja duduk di sebelahnya. "Aku lagi malas berbicara, kalian berdua bikin kesal saja."
"Nona arogan yang malang," cetus Arthur yang sudah tertawa melihat tingkah kesal Queen.
Sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala dan sudah sibuk menikmati makanannya masing-masing. Begitu juga dengan Aditya, yang sama sekali tidak memperdulikan kemarahan dari sang istri.
*****
Hari paling bersejarah dan hari yang paling dinanti-nantikan oleh para pemburu berita yang selalu menanti kabar resepsi pernikahan paling termewah dan fenomenal dari seorang putri mahkota dari pengusaha terkenal yang sangat disegani dan dihormati oleh semua orang telah tiba. Acara resepsi pernikahan yang diadakan di Ballroom Hotel Raharja tersebut bisa menampung ribuan orang yang menjadi tamu undangan.
Setiap tamu undangan memiliki sebuah undangan yang khusus dan juga pintu masuk yang berbeda, tergantung dari jabatan atau status para tamu undangan. Hal itu sengaja dilakukan untuk membuat para tamu undangan merasa nyaman dan bisa berbaur dengan orang-orang yang dikenalnya dan tidak bercampur dengan orang asing.
Ballroom Hotel Raharja tersebut dibagi menjadi 5 jenis tamu undangan. Yakni, dimulai tamu pertama VVIP yang terdiri dari para pejabat-pejabat penting, tamu kedua, VIP yang terdiri dari para pengusaha konglomerat, tamu yang ketiga adalah pengusaha yang merupakan mitra bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan Raharja.
__ADS_1
Tamu yang keempat adalah dari kalangan artis, dan tamu yang terakhir adalah dari kalangan orang biasa yang mencakup dari semua kalangan.
Semua stasiun televisi telah menyiarkan secara langsung acara resepsi pernikahan dari sang muda muda dengan sosok pria sederhana yang digadang-gadang akan menjadi wakil presiden direktur dari perusahaan Raharja.
Banyaknya tamu undangan yang datang, tentu saja membuat para pekerja Hotel Raharja benar-benar sangat sibuk, seolah bernapas pun tidak bisa. Namun, semua pekerja juga ikut merasakan kebahagiaan dari eforia perhelatan akbar tersebut
Tentu saja semua orang ingin melihat secara langsung acara resepsi pernikahan dari seorang nona muda yang sekaligus merupakan dokter spesialis Podiatris terkenal di Jakarta yang sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang harganya mencapai ratusan juta karena merupakan gaun yang dirancang oleh desainer terkenal dengan hijab berwarna senada dan tak lupa ada mahkota berhiaskan berlian Swarovski yang tidak sembarangan orang mampu membelinya.
Sedangkan dekorasi pelaminan yang menjadi singgasana bagi raja dan ratu sehari itu, dihiasi dengan beraneka macam hiasan bunga segar yang sengaja diimport dari 2 negara. Yakni, Belanda yang menjadi tempat tinggal kakek dan nenek Queen dan New York, yang merupakan hadiah dari Azriel karena ingin membuat suasana di ruangan yang luas tersebut terlihat indah dengan bunga berwarna-warni yang segar.
Dimulai dari mawar yang mempunyai simbol dari hasrat, cinta sejati dan romansa yang terjalin antara sepasang kekasih, dalam dekorasi pernikahan, bunga mawar diharapkan mampu membawa kebahagiaan dan sikap saling menghargai dan menghormati antar suami istri.
Ada bunga peony yang harganya cukup mahal, karena harus didapatkan secara import yang menyimpan makna kebahagiaan, kesuburan, dan melambangkan keberuntungan. Bunga terakhir adalah Baby' Breath, yang merupakan bunga dengan kelopak kecil dan berwarna putih yang sangat digemari sebagai dekorasi pernikahan yang memberi kesan rustic yang kuat, bunga ini juga melambangkan kesucian yang membawa simbol dari cinta yang murni dan abadi dan masih banyak lagi bunga lainnya.
Aditya dan Queen terlihat seperti seorang raja dan ratu sehari, karena penampilan keduanya terlihat sama-sama sempurna. Wajah tampan Aditya semakin terlihat sangat sempurna saat mengenakan setelan jas berwarna putih yang selaras dan terlihat serasi dengan gaun pengantin sang istri.
Queen dari tadi hanya duduk di singgasana karena tidak kuat berdiri terlalu lama. Bahkan ia sudah sibuk menutup hidung karena indera penciumannya mencium berbagai bau parfum yang berbeda-beda dari para tamu undangan. Tentu saja ia merasa sangat mual jika mencium bau yang menurutnya sangat aneh semenjak ia hamil.
Sementara itu, di samping kanan singgasana, ada orang tua mempelai. Dan di samping kiri, ada kakek dan nenek mempelai yang merupakan sosok utama di balik nama Raharja Group. Semua orang terlihat sangat bahagia pada hari dimana resepsi pernikahan yang digadang-gadang menghabiskan biaya hampir 1 M tersebut.
Queen menarik pergelangan tangan pria yang berdiri menjulang di sebelahnya, "My hubbiy, duduk saja di sebelahku. Aku merasa mual ini. Mualku akan hilang jika mencium aroma tubuhmu, jadi kamu harus duduk menempel padaku terus. Tidak apa-apa bersalaman dengan para tamu undangan penting itu sambil duduk. Mereka pasti menyadarinya," ucap Queen yang sudah mengunci posisi lengan Aditya agar mau menuruti permintaannya.
Aditya yang tidak mampu menolak keinginan dari wanita yang sudah tidak melepaskannya, mau tidak mau menuruti semua keinginan Queen. "Baiklah, aku sangat tidak keberatan, Sayang. Lagipula aku juga capek berdiri terus dari tadi. Tamu-tamu penting itu kenapa tidak ada habisnya ya, keluargamu benar-benar sangat luar biasa. Bahkan para pejabat dan artis terkenal semuanya datang ke sini. Padahal aku dulu hanya bisa melihat mereka di tv, tetapi sekarang bisa melihatnya secara langsung."
Queen hanya terkekeh menanggapi perkataan sang suami yang menurutnya terlihat sangat polos tersebut. "Siap-siap saja nanti malam tanganmu serasa mau patah, karena dari tadi tidak berhenti bersalaman dengan orang-orang itu. Aku juga nanti mau dipijat, karena sekarang aku sudah merasakan sangat capek pada kaki dan pinggangku."
Aditya yang sudah sibuk mengusap lembut punggung tangan Queen hanya tersenyum tipis, "Baiklah, nanti aku akan memijatmu, Sayang. Oh ya, apakah nanti kita menginap di hotel?"
"Iya, kita honeymoon di hotel," jawab Queen dengan terkekeh. "Oh ya, aku lupa mengatakannya pada My hubbiy."
"Mengatakan apa?" tanya Aditya dengan raut wajah penasaran.
"Itu, Dave dan Sabrina nanti malam ada di sebelah kamar kita. Sebenarnya aku merasa penasaran dengan pertunjukan nanti malam, karena Brother sudah mengatur semuanya. Pokoknya Dave dan Sabrina akan habis malam ini." Queen menatap ke arah saudara laki-lakinya yang sedang sibuk berbincang dengan para rekan bisnis di depan singgasana. Tak lupa ada keluarga dari Arthur dan Azriel di sana.
Refleks Aditya menyentil kening wanita yang terlihat sangat cantik nan mempesona tersebut, "Dasar wanita nakal. Nanti kamu kena karmanya bagaimana? Mereka pasti saat ini sudah melakukan acara Ijab Kabul. Sayang sekali, keluarga Raharja tidak bisa menghadirinya karena rencanamu ini."
"Nanti malam juga ketemu di sini, My hubbiy. Tidak perlu lebay, lagipula keluargaku sudah membiayai seluruh biaya pernikahan mereka. Itu sudah cukup. Jangan bilang kalau My hubbiy ingin melihat Sabrina saat menikah," tanya Queen dengan tatapan menelisik.
"Kumat lagi cemburunya. Lebih baik kita hentikan pembahasan tentang mereka dan fokus dengan kebahagiaan kita, Sayang. Tidak perlu memikirkan malam pertama orang lain, fokus saja pada malam pertama kita setelah acara resepsi," lirih Aditya di dekat daun telinga sang istri.
"Akan tetapi, aku penasaran. Pasti akan ada perang di dalam kamar hotel nanti malam setelah mereka berdua tersadar," ucap Queen yang sudah tertawa terbahak-bahak karena membayangkan apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"Kamu memang sangat nakal, Sayang. Dave dan Sabrina sudah menjadi korban kenakalanmu," ucap Aditya dengan geleng-geleng kepala.
TBC ...