
Dave terlihat berjalan ke arah teras dan berniat mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di antara tanaman hias yang menghiasi teras rumah minimalis dari majikannya. Bisa dilihatnya wajah para pengawal yang terlihat tersenyum menyeringai ke arahnya saat melihatnya mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Apa kalian lihat-lihat? Apa kalian mau aku jadikan rempeyek?" sarkas Dave yang merasa sangat kesal.
"Jangan Bos, kejam amat. Harusnya Bos memberikan kami bonus karena sedang merasa senang setelah mendapatkan rejeki nomplok bisa berciuman dengan wanita cantik," ucap salah satu pengawal yang mewakili rekan-rekannya yang dari tadi tidak berkedip menatap bosnya mencium bibir wanita yang terlihat sangat marah tadi.
"Sialan, kalian melihatnya tadi?" rengut Dave dengan kesal.
"Iya Bos, kami tidak sengaja melihatnya. Sayang kalau dilewatkan," jawab pengawal dengan kulit sawo matang itu. "Apalagi ada adegan plus-plus dan kekerasan yang komplit dan menarik."
"Bagaimana rasanya Bos? Enak?" goda salah satu pengawal lain.
"Kamu mau mati?" sarkas Dave dengan tatapan tajam saat melihat para pengawal yang sudah asyik menggodanya.
"Ampun Bos." Para pengawal langsung mengarahkan tangannya ke atas agar tidak semakin menyulut amarah dari atasannya itu.
"Sudah sana, pergi ngopi di warung depan dan jangan menggangguku! Biar aku yang berada di sini menenangkan pikiran." Dave mengibaskan tangannya dan mulai menyandarkan tubuhnya di kursi seraya mengibaskan tangannya pada para pengawal.
"Siap Bos," jawab para pengawal dengan tersenyum menyeringai. "Oh ya Bos, jangan lupa bayangin bibir kenyal tadi saat menenangkan diri."
"Sialan," umpat Dave yang langsung menunduk untuk melepaskan sepatu pantofel miliknya dan berniat melemparkannya pada pengawal yang mengejeknya. Namun, suara dari pria yang baru saja datang menghampirinya, membuatnya tidak jadi melakukannya.
__ADS_1
"Dave, aku ingin bicara sebentar denganmu." Aditya menepuk pundak Dave saat baru saja tiba di teras rumahnya.
"Eh ... iya Tuan muda," sahut Dave yang berniat bangkit dari kursinya dan ditahan oleh majikannya tersebut.
"Tidak perlu berdiri, duduk saja! Aku hanya ingin bicara sebentar karena istriku sedang berada di toilet."
"Berbicara soal apa, Tuan muda?" Dave terlihat duduk tegak dan menatap intens wajah suami dari wanita yang ada di depannya.
"Bagaimana dengan keadaan dari Sabrina tadi? Apakah dia menangis? Ataukah dia bilang sesuatu padamu? Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Dia adalah seorang wanita yang lemah hati dan sangat sensitif, aku takut dia bunuh diri karena patah hati setelah mendengar kehamilan istriku." Aditya terlihat sangat khawatir karena wajahnya dipenuhi oleh sorot kecemasan yang tampak dari netra pekatnya.
Dave terlihat kebingungan begitu mendapat pertanyaan dari majikannya, ia sesekali terlihat menggaruk rambutnya yang tidak gatal dan bingung harus berkomentar apa. Karena tidak mungkin ia menceritakan tentang perbuatannya yang sangat kasar mencium mantan kekasih tuan mudanya.
"Dia tidak mengatakan apa-apa Tuan muda, hanya menangis sambil marah-marah tadi. Sepertinya dia tidak mungkin bunuh diri karena mantan Anda tadi terlihat sangat beringas. Jadi, Tuan muda tenang saja dan tidak perlu mencemaskan wanita kasar itu." Dave mencoba mengubah pola pikir dari majikannya yang masih diliputi oleh kecemasan.
"Aku minta tolong padamu, ajak Sabrina jalan-jalan dan belikan apa yang dia mau. Dia tidak akan pernah meminta macam-macam, mungkin hanya es krim dan main game di Mall. Aku masuk dulu, nanti nona mudamu murka jika mengetahuinya."
Dave yang merasa sangat kebingungan mendapat perintah dari majikannya yang tentu saja ia harus meminta maaf pada wanita yang tadi marah padanya. "Tuan muda, bagaimana kalau Nona muda mengetahui saya pergi dari sini untuk menemui Sabrina. Bukankah nanti akan murka?"
"Semoga saja Tuan muda tidak jadi menyuruhku, aku benar-benar muak jika harus berbicara dengan gadis kasar itu lagi," gumam Dave.
"Tenang saja, aku akan bilang pada istriku kalau kamu keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Sudah sana pergi, nanti nona mudamu keluar dari kamar mandi. Oh iya lupa, aku sudah mengirim nomor ponsel Sabrina tadi. Cek ponselmu." Aditya buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Dave tanpa menunggu jawabannya apakah setuju atau tidak.
__ADS_1
Dave terlihat menjambak frustasi rambutnya karena tidak bisa menolak perintah dari majikannya tersebut. "Sial, aku harus mencari gadis kasar itu dan menemaninya mencari hiburan. Astaga ... hari ini aku benar-benar sangat sial," batin Dave yang sudah berjalan keluar halaman rumah majikannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan dari wanita yang tadi diciumnya.
Sementara itu, Queen yang berada di dalam kamar mandi karena sakit perut, tidak berhenti menatap jijik toilet yang menurutnya sangat buruk karena jauh berbeda dengan kamar mandinya yang mempunyai desain elegan dan mewah dengan berbagai furniture berkualitas tinggi yang harganya tidak murah.
Ia mengamati ruangan sempit di depannya di mana hanya ada sebuah bak kecil tanpa bathtub seperti kamar mandinya. Dengan kaki yang berjinjit seolah jijik pada lantai kamar mandi, ia melangkah dengan sangat hati-hati seperti tingkah seorang pencuri yang mengendap-endap. Tatapan matanya mengarah menyusuri ruangan sempit itu dan bisa dilihatnya ada pakaian dalam dari mertuanya.
"Astaga, aku benar-benar gila jika sampai tinggal di gubuk reyot ini. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mengubah kandang ayam ini menjadi rumah mewah yang layak ditempati. Sehingga saat aku datang ke sini, aku tidak mual dan muntah."
Baru saja ia menyelesaikan umpatannya, perutnya langsung seperti diaduk-aduk dan membuatnya langsung mengeluarkan semua isi perutnya.
"Hoek ... hoeeek ...."
Queen langsung terlihat pucat dan lemas setelah muntah-muntah. "Aaaaarrrggghh ... rasanya aku tidak kuat untuk berjalan." Membersihkan bekas muntahannya dan berkumur-kumur beberapa kali. Kemudian ia dengan sangat lemas berjalan keluar dengan berpegangan pada dinding di sampingnya.
"My hubbiy," teriak Queen karena merasa pusing dan sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.
Aditya yang baru saja kembali setelah berbicara dengan Dave, langsung menyahut dan menghampiri istrinya. "Iya Sayang. Astaghfirullah, kamu pucat sekali Sayang." Langsung meraup tubuh istrinya dan menggendongnya ala bridal style. Kaki panjangnya mulai melangkah masuk ke arah kamarnya yang berada di bagian depan setelah ruang tamu.
Kemudian ia merebahkan tubuh wanita yang terlihat tengah memejamkan kedua matanya itu ke ranjang di kamarnya. "Kamu istirahat saja di sini, Sayang. Aku masak dulu, agar kamu bisa makan untuk mengganti semua isi makanan yang kamu muntahkan tadi."
Queen langsung membuka matanya begitu merasa tidak nyaman berbaring di ranjang. Ia bisa melihat ruangan sempit yang merupakan kamar suaminya yang hanya muat 1 ranjang berukuran sedang, serta lemari kayu yang sudah usang. Dan di sebelah kirinya ada kursi dan meja yang di atasnya ada perlengkapan suaminya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, jadi ruangan pribadi suamiku, ini. Bahkan ruangan ini tidak lebih besar dari kamar pelayan di Mansion. Mana ranjangnya sempit dan tidak empuk lagi. Baru bergerak sedikit saja sudah bunyi. Mungkin jika kami bercinta, ranjang ini akan berbunyi dan berisik yang malah akan bisa didengarkan oleh Ayah. Astaga, memalukan sekali. Aku benar-benar bisa berakhir gila jika lama berada di gubuk derita ini," gumam Queen.
TBC ...