Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Diselesaikan di atas ranjang


__ADS_3

Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap tengah sibuk di halaman rumah dengan menggendong anak laki-lakinya. Sedangkan sosok wanita yang terlihat sangat pucat, tengah bersandar di kursi kayu berwarna coklat yang ada di depan rumahnya. Sosok yang tak lain adalah Dave dan Sabrina, pagi-pagi sekali sudah bangun dan menghirup udara segar di depan rumah.


Sabrina yang paling awal bangun karena merasa sangat mual dan langsung muntah-muntah. Sehingga ia membangunkan sang suami dan menyuruhnya untuk mengusapkan minyak angin di sekujur tubuhnya agar merasa hangat dan membuatnya tidak mual lagi.


Dave yang masih merasa sangat mengantuk, tidak langsung bangun. Hingga suara tepukan cukup keras di lengannya, membuat ia refleks langsung membuka mata karena merasa sangat panas di sana dan terlihat tangannya mengusap bekas pukulan dari Dave.


Sehingga Dave sudah menuruti perintah dari sang istri dan begitu selesai, niatnya adalah ingin melanjutkan kembali tidurnya. Namun, baru saja ia menutup mata beberapa menit, suara tangisan dari putranya, membuat ia tidak bisa melanjutkan kembali tidurnya. Karena Sabrina tidak ada di kamar. Sehingga ia yang kini sibuk menenangkan putranya dengan mengajaknya keluar kamar dan melihat sang istri tengah menikmati susu hangat di dapur.


Sementara itu, asisten rumah tangga sudah sibuk memasak untuk sarapan. Dengan wajah kuyu efek bangun tidur, Dave berniat untuk menyerahkan putranya pada sang istri. Tentu saja agar ia bisa membersihkan diri terlebih dahulu ke kamar mandi.


"Sayang, kamu gendong Arya dulu."


"Memangnya kamu nggak lihat kalau aku dari tadi lemas? Bagaimana kalau aku tiba-tiba pingsan saat menggendong Arya?" Sabrina mm merasa sangat kesal karena kehamilannya kali ini membuatnya merasa lemas, pusing dan tidak bisa mengerjakan apa-apa.


Dave hanya menelan salivanya karena merasa kalah telak dengan perkataan dari wanita yang masih menikmati susu di tangannya sambil duduk di kursi yang ada di meja makan.


"Baiklah, aku tidak akan menyerahkan Arya padamu, Sayang. Aku akan ke kamar mandi bersama Arya dan membersihkan dia sekalian. Kamu nikmati saja susunya." Dave beralih berjalan meninggalkan Sabrina yang sama sekali tidak menanggapinya.

__ADS_1


Sementara itu, Sabrina yang baru saja menghabiskan susunya, menatap ke arah wanita paruh baya, tak jauh dari tempatnya. "Bik, tolong buatkan susu untuk Arya. Oh ya, aku akan ke depan untuk mencari udara segar. Nanti kasih ke suamiku saat dia kembali setelah membersihkan diri."


"Baik, Nyonya," jawab wanita paruh baya yang berdiri di depan kompor.


Sabrina yang sudah berjalan ke arah pintu depan, membukanya dan melangkahkan kaki jenjangnya ke arah halaman rumah dan menghirup udara pagi yang segar dan belum terkontaminasi oleh polusi.


Beberapa saat kemudian, Dave menggendong putranya, sudah berjalan menghampiri sang istri yang duduk di kursi yang berada di dekat pohon cemara depan rumahnya. "Sayang, kamu sudah baikan atau masih lemas?" Memegang pundak Sabrina.


"Aku masih lemas, karena itulah aku dari tadi diam di sini. Sepertinya aku butuh satu orang lagi untuk menjaga Arya sementara. Mungkin hanya sampai trimester pertama ini berakhir. Kalau menyuruh bibik, kasihan. Karena bibik sudah berumur dan tidak akan kuat jika mengikuti Arya yang sangat aktif. Kasihan juga mama jika harus ke sini setiap hari," ucap Sabrina yang menatap ke arah putranya tengah menikmati susunya.


Dave mengangguk perlahan, tanda menyetujui permintaan dari Sabrina. "Aku akan menghubungi agen tenaga kerja untuk mengirimkan baby sitter ke sini hari ini, Sayang. Lebih baik bukan hanya sampai kamu melewati trimester pertama. Karena kamu akan lebih kesusahan nanti saat memasuki hamil tua, bukan? Jadi, biarkan baby sitter yang membantu kita."


"Aku setuju, tetapi aku yang memilih sendiri siapa orangnya. Baby sitter-nya tidak boleh muda dan cantik. Bisa-bisa nanti kamu malah berselingkuh dengannya di belakangku."


Refleks Dave menepuk jidatnya begitu mendengar perkataan bernada konyol dari sang istri yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam. "Astaga, Sayang. Sampai kapan kamu berpikir aku adalah seorang pria berengsek yang suka main perempuan? Bukankah selama 3 tahun belakangan ini, aku sangat setia padamu?"


"Iya, tetapi aku hanya ingin berjaga-jaga. Bukankah lebih baik berhati-hati daripada kecolongan? Lagipula aku saat ini tengah mengandung dan perselingkuhan kebanyakan terjadi saat istri tengah hamil dan tidak bisa melayani kebutuhan biologis suami. Dan hal itu dimanfaatkan oleh pria untuk berselingkuh dengan alasan istri tidak bisa lagi melayaninya karena mual dan muntah." Sabrina mengungkapkan unek-unek yang mengganjal di dalam hatinya untuk menyadarkan sang suami agar tidak protes lagi.

__ADS_1


Sementara itu, Dave sebenarnya ingin membantah perkataan dari Sabrina yang menyamakannya dengan pria tidak jelas yang disebutkan. Namun, ia yang tahu bahwa saat ini perasaan Sabrina lebih sensitif semenjak kehamilannya, membuat ia merasa bahwa usahanya akan sia-sia. Sehingga ia mengiyakan saja semua keinginan dari sang istri.


"Baiklah, Sayang. Lakukan saja apapun yang kamu sukai. Aku akan menurut saja, karena itu semua demi kebaikan keluarga kita. Jadi, kamu pilih saja baby sitter sesuai dengan keinginanmu. Kamu sebagai nyonya rumah di sini berhak untuk mengatur semuanya.


Sabrina tersenyum puas begitu mendengar jawaban dari Dave. "Terima kasih, Sayang. Kemarilah!" Menepuk tempat di sebelahnya.


Dave pun ikut tersenyum karena berhasil membuat pikiran buruk sang istri sirna dan ia mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang sangat dicintai. "Kenapa? Apa kamu mau menciumku untuk berterima kasih?"


Sabrina hanya terkekeh dan mendaratkan ciuman pada putranya yang berada di pangkuan pria dengan paras tampan tersebut. "Mama ingin mencium Arya yang paling tampan dan juga papanya." Mencium pipi putih sang suami yang sangat dicintainya.


Sementara itu, bocah laki-laki berusia 2 tahun itu terlihat sangat senang saat melihat interaksi dari orang tuanya dan sudah bertepuk tangan dengan tersenyum ceria.


"Lihatlah, putra kita sangat senang saat melihat orang tuanya bahagia," ucap Dave dengan mencium pipi cabi Arya sebelah kanan.


Sabrina melakukan hal yang sama dengan mencium pipi sebelah kirinya. "Iya, anak Mama memang sangat pintar. Dia pasti sangat bahagia melihat orang tuanya bahagia." Mengusap lembut rambut hitam Arya dengan seulas senyuman.


"Iya, Arya pun akan sedih saat melihat kita bertengkar. Jadi, jangan marah-marah di depan putra kita, Sayang. Marahnya pas Arya tidur saja, ya!" Dave menatap ke arah Sabrina yang menatap menelisik ke arahnya. "Kenapa kamu memandangku seperti itu, Sayang?"

__ADS_1


"Kamu menyuruhku marah saat Arya tidur, biar kamu bisa menyelesaikannya di atas ranjang, bukan? Dasar mesum! Apa-apa selalu diselesaikan di atas ranjang." Mencubit gemas pipi putih sang suami yang sudah terkekeh saat diejeknya.


TBC ...


__ADS_2