
Setelah 30 menit bercinta dengan penuh gairah, Dave dan Sabrina terlihat bergelung di bawah selimut tebal berwarna putih dengan posisi masih berpelukan erat. Seolah keduanya adalah pasangan yang dimabuk cinta. Lengan kekar Dave kini digunakan untuk Sabrina sebagai alas kepala.
Tidak lupa tangan satunya sudah sibuk mengusap punggung polos yang berada di bawah selimut tersebut. Sedangkan hidungnya sibuk mengendus aroma wangi rambut wanita yang berada pelukannya.
Sementara itu, Sabrina terlihat menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Dave dan tak lupa ia sibuk menghirup aroma khas maskulin dari pria yang dari pagi tadi ingin sekali diajaknya bercinta.
Sehingga seharian ia menahan gairah dan merasa sangat tersiksa. Bahkan ia sama sekali tidak mengerti kenapa hari ini sangat menginginkan bercinta dengan pria yang sudah memenuhi janjinya. Yaitu, tidak akan menyentuhnya saat ia tidak memintanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Dave? Aku dari tadi pagi setelah kamu pergi kerja, ingin melakukannya, tetapi kamu malah lembur. Buat kesal saja." Mengeratkan pelukannya pada pinggang kokoh pria yang sangat ia sukai aroma khas maskulinnya.
Seulas senyum terbit dari rahang tegasnya. Dave benar-benar merasa di atas angin begitu mendengar kalimat bernada kesal dari Sabrina. "Benarkah? Tahu begitu tadi aku tidak lembur dan langsung pulang. Kenapa tidak menelfon saja untuk menyuruhku pulang, Sayang?"
Sabrina menggeleng lemah, "Tidak, aku pikir bisa menahannya dengan cara tidur. Akan tetapi, tidak bisa. Aku bahkan seperti tidak mengenali diriku sendiri. Rasanya sangat aneh, bukankah kamu juga merasakan keanehan? Bukankah biasanya aku tidak seperti ini?"
Dave hanya mengendikkan bahu, "Aku tidak yakin karena merasa ragu padamu."
Sabrina melepaskan tangannya dan sedikit mundur ke belakang untuk mendongak menatap wajah Dave yang terkesan menatapnya penuh curiga. "Ragu padaku? Tentang apa?"
"Selama 1 bulan ini kamu menahan diri, kan? Maksudku adalah kamu pasti menahan nafsu sekuat tenaga, padahal sebenarnya kamu sangat merindukan momen indah kita di hotel. Bukankah begitu, Sayang?" tanya Dave yang sudah terkekeh geli.
Refleks Sabrina mengarahkan tangannya pada perut sixpack Dave yang sudah mentertawakannya. "Iish ... kamu semakin membuat aku kesal saja. Aku tidak seperti itu, karena dari dulu sama sekali tidak merindukan momen itu."
"Yakin? Lalu hari ini apa? Kamu bahkan terlihat lebih liar dari malam pertama kita dulu. Akan tetapi, aku sangat suka istriku yang seperti ini. Selamanya seperti ini juga aku tidak keberatan. Ternyata janjiku padamu berbuah manis, karena kamu yang mengajak duluan untuk bercinta. Rasanya sangat menyiksa saat menahan gairah selama 1 bulan ini," ujar Dave yang kembali memeluk erat tubuh polos wanita yang sangat dicintainya.
Awalnya Sabrina ingin menolak pelukan dari Dave karena merasa sangat malu, tetapi karena ia pun merasa sangat nyaman berada dalam dekapan tubuh kekar itu, membuatnya tidak jadi melakukannya. Sehingga kini posisi kulit yang saling bersentuhan, membuat tubuhnya meremang.
"Rasanya sangat aneh."
"Tidak perlu bilang aneh, karena inilah kekuatan cinta. The power of love," ucap Dave dengan tegas.
"Dasar lebay." Sabrina tersenyum tipis untuk mengungkapkan nada protes, tetapi sebenarnya jauh di dalam hati, ia sangat menyukai kalimat manis itu.
"Astaga, aku serius malah dibilang lebay. Aku sangatlah mencintaimu, Istriku. Bagaimana denganmu?"
Sabrina terdiam beberapa saat, karena merasa kebingungan harus bagaimana menanggapi perkataan dari Dave. "Memangnya aku harus bilang apa? Aku sendiri pun bingung."
Entah mengapa jawaban dari Sabrina berhasil membuatnya merasa sangat kesal sehingga Dave langsung melepaskan dekapannya dan berbalik badan untuk memunggungi sang istri. "Tidak perlu menjawabnya jika kamu merasa bingung. Sudahlah, lebih baik kita tidur dan menghentikan pembahasan ini."
Sabrina yang awalnya merasa sangat terkejut karena Dave tiba-tiba melepaskan dekapannya, membuat ia merasa bersalah karena telah mengecewakan pria yang saat ini membelakanginya. Sabrina menelan salivanya sebelum berbicara untuk menghentikan kesalahpahaman.
"Dave, bukan maksudku seperti itu."
__ADS_1
Aku mengantuk, jangan membahas masalah ini lagi karena aku sedang malas berbicara," sahut Dave dengan tegas.
Sabrina semakin kesal karena mendengar suara bariton dari Dave. "Tingkahmu seperti anak remaja saja, Dave. Baiklah ... baiklah, aku minta maaf. Berikan aku waktu untuk memahami hatiku, Dave. Kamu tahu kan kalau aku masih ...."
Dave refleks berbalik badan untuk menatap tajam Sabrina, "Masih mencintai tuan muda Aditya? Kamu mau bilang itu, kan? Kamu mencintainya, tetapi kamu sangat menikmati setiap sentuhanku. Bukankah itu munafik namanya?"
"Jadi, kamu menyebutku wanita munafik?" hardik Sabrina dengan tatapan tajam dan perasaan yang membuncah.
"Iya, kenapa? Kamu tidak terima? Bagaimana jika aku bilang padamu bahwa aku masih mencintai nona muda Queen? Sedangkan aku sangat menikmati setiap kita bercinta? Jawab aku, Sabrina!" hardik Dave yang sudah mengeraskan nada suaranya lebih tinggi.
Sabrina terdiam beberapa saat karena mulai bisa mengerti tentang hal yang ada di hatinya, "Tidak boleh! Kamu tidak boleh mencintai wanita itu, aku sangat membencinya."
Dave kini memijat pelipisnya begitu melihat reaksi dari Sabrina yang sudah berkaca-kaca. "Astaga, Sabrina, sebenarnya apa maumu? Bukankah ini menandakan kamu cemburu saat aku mengatakan itu?"
Sabrina menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu, Dave. Apakah benar aku cemburu?"
"Akuilah perasaanmu, jangan selalu melihat masa lalu. Apa kamu mau terpuruk selamanya dengan kenangan di masa lalu? Sedangkan kita hidup di masa depan, jadi lihatlah ke depan tanpa menoleh ke belakang agar hidup kita bahagia."
"Kita berdua bisa hidup berbahagia tanpa dibayangi masa lalu dengan cara membuka hati. Sadarlah, Sayang. Maafkan aku jika tadi membentakmu. Aku selalu seperti ini saat merasa marah, bukankah kamu sudah sangat hafal?" tanya Dave yang meraih jemari tangan kanan Sabrina dan mengecup punggung tangan itu.
Perkataan panjang lebar dari Dave berhasil membuka pikiran Sabrina yang awalnya penuh keraguan, berubah sedikit terbuka. "Semua kata-katamu memang benar, Dave. Sudah saatnya aku membuka lembaran baru dalam hidupku. Karena tidak mungkin juga pria yang sudah bahagia hidup bersama dengan istrinya akan kembali padaku. Apalagi mereka sebentar lagi punya anak."
"Kita juga sebentar lagi punya anak, Sayang. Bukankah kita sudah beberapa kali melakukannya. Mungkin saja kamu saat ini sudah hamil benihku. Kita pergi saja ke dokter untuk memeriksakan diri. Oh iya, aku tidak pernah melihatmu memakai perlengkapan untuk datang bulan setelah kita menikah. Biasanya kamu palang merah tanggal berapa?" Dave menatap intens wajah cantik Sabrina yang sudah terlihat memikirkan sesuatu.
Dave yang bisa mengerti arah pembicaraan dari Sabrina, refleks langsung memeluk erat tubuh Sabrina. "Hamil? Kamu saat ini pasti sudah mengandung benihku, Sayang. Sepertinya hari ini kamu bersikap aneh karena mengidam. Alhamdulillah, ternyata anakku yang telah menyadarkan ibunya. Terima kasih, Sayang, papa akan menjaga kalian berdua," ucap Dave saat mencium perut Sabrina.
"Benarkah aku sedang hamil?" tanya Sabrina yang saat ini merasa terharu melihat sikap Dave yang tengah mengungkapkan kasih sayang saat sibuk mencium perut datarnya.
"Iya, Sayang. Aku yakin kamu sekarang sudah hamil anakku. Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu."
Perasaan membuncah dirasakan oleh Sabrina melihat raut wajah penuh kebahagiaan yang diperlihatkan oleh Dave. "Akan tetapi, ini masih belum bisa dipastikan kebenarannya karena aku belum mengeceknya. Jadi, jangan senang dulu, Dave. Takutnya nanti kamu merasa kecewa jika ternyata aku tidak hamil."
Dave yang tadinya sibuk mengusap perut datar Sabrina, kini menghentikan perbuatannya. Ia menatap intens wajah cantik Sabrina yang penuh keragu-raguan.
"Aku sangat yakin bahwa kamu saat ini sudah hamil benihku, Sayang. Aku akan pergi untuk membeli alat tes kehamilan untukmu. Agar besok pagi kita bisa melihat hasilnya."
Sabrina hanya terdiam saat Dave keluar dari selimut dan turun dari ranjang untuk memakai kembali pakaiannya. "Kamu mau pergi sekarang?"
"Iya, kenapa?" tanya Dave seraya menatap ke arah Sabrina yang terlihat sangat gelisah.
"Besok saja belinya. Aku pun juga berpikir kalau aku sudah hamil, karena aku telat 2 minggu. Aku saja yang bodoh karena tidak menyadarinya. Jadi, tidak perlu pergi karena aku tidak mau sendiri di rumah." Sabrina menundukkan kepala untuk melihat perutnya yang datar dan mulai mengusap lembut perutnya. "Aku hamil, pantas saja hari ini aku merasa sangat aneh pada tubuhku."
__ADS_1
"Karena itulah kamu tadi muntah-muntah, Sayang. Bukankah itu adalah ciri-ciri dari orang hamil? Astaga, bagaimana mungkin kita berdua sama sekali tidak menyadarinya. Ini konyol sekali, apalagi kamu adalah seorang wanita." Dave yang tidak jadi memakai kaos casual miliknya, mendaratkan tubuhnya di samping badan Sabrina.
Sabrina hanya terkekeh geli karena menyadari kebodohannya yang tidak menyadari bahwa ia sudah telat datang bulan. "Aku yang bodoh, Dave karena tidak menyadarinya."
"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu bahagia saat mengetahui kenyataan bahwa kamu hamil anakku?" tanya Dave yang ingin memastikan sekali lagi tentang perasaan Sabrina.
Tanpa berpikir, Sabrina menganggukkan kepala. "Iya, aku bahagia. Ternyata seperti ini rasanya orang mengidam. Bahkan anak ini yang mempersatukan kita dan menghapus jarak di antara kita. Sepertinya anakku laki-laki karena nakal seperti bapaknya. Masa ibunya disuruh mengidam ingin bercinta."
Wajah Sabrina yang terlihat sangat polos, semakin membuat gemas Dave. Sehingga ia sudah tidak mampu lagi untuk menahannya. Karena ia sudah kembali meraup bibir sensual yang sudah mengerucut saat mengeluh. Tanpa membiarkan sang istri menolak, ia sudah mengabsen setiap sudut rongga dalam dengan melesakkan lidahnya.
Sementara itu, Sabrina yang merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Dave yang sudah menciumnya dengan brutal, membuatnya semakin kembali bergairah dan menginginkan lebih dari sekedar berciuman. Refleks ia mendorong dada bidang Dave agar melepaskan pagutannya. Usahanya pun berhasil karena sang suami sudah melepaskan bibirnya.
"Kenapa, Sayang?" keluh Dave yang merasa sangat kesal karena ciumannya terlepas.
"Aku ingin 2 ronde, anak ini yang memintanya. Jadi, jangan berpikir macam-macam padaku," ucap Sabrina dengan terkekeh karena menyadari bahwa perkataannya sangat konyol.
Begitu juga dengan reaksi dari Dave yang langsung mentertawakan perkataan dari Sabrina. "Mau 4 ronde pun aku tidak keberatan, Sayang. Aku pun tidak akan berpikir macam-macam padamu, karena hari ini aku merasa sangat bahagia. I love you."
"I love you too." Sabrina sudah mengalungkan tangannya ke belakang leher pria yang berada di depannya dan tidak lupa ia sudah meraup bibir tebal yang selalu membuatnya ingin menikmatinya.
Keduanya mulai asyik menikmati momen romantis mereka yang sudah lama tidak dilakukan. Seolah malam ini ingin memuaskan masing-masing dengan perasaan lega karena sudah bisa saling menerima pernikahan yang awalnya didasari oleh perjanjian itu.
Tentu saja ruangan kamar tidur yang awalnya hening itu sudah dipenuhi oleh suara desahan dan lenguhan yang mengungkapkan kepuasan saat melakukan momen penyatuan diri untuk kedua kalinya setelah 1 bulan sama-sama menahan hasrat.
******
🍃 7 bulan kemudian 🍃
Dewi dan Ririn terlihat baru saja keluar dari lobi perusahaan Raharja bersama dengan beberapa staf yang lain. Hari ini mereka baru saja menerima gaji dan ingin memanjakan mata dengan shopping barang-barang branded yang diincar cukup lama.
Dewi sudah berpesan pada supir untuk tidak menjemputnya dengan alasan ingin pergi bersama rekan-rekan kantornya. Sehingga saat ini, ia dan Ririn sudah masuk ke dalam mobil yang tadi dipesannya lewat aplikasi online.
Ririn yang sudah duduk sambil menghadap ke arah Dewi, mulai mengungkapkan semua yang direncanakan. "Sepertinya sudah saatnya aku melancarkan serangan pada sang tuan muda. Karena sebentar lagi adalah detik-detik sang nona muda Queen melahirkan. Itu adalah waktu yang sangat pas untuk membuat nona muda arogan itu salah paham pada suaminya."
Dewi menganggukkan kepala dan mengangkat 2 jempolnya. Rencanamu memang sangat brilian, Ririn. Nona muda arogan itu pasti akan berpikir bahwa suaminya selingkuh karena ia tidak bisa melayani kebutuhan biologis sesudah melahirkan. Momen ini memang paling pas dan usahamu pasti akan berhasil."
Ririn mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya, "Obat tidur ini yang akan membuat tuan muda Aditya tidak sadarkan diri. Setelah minum obat ini, dia tidak akan sadar apa yang sudah dilakukannya padaku. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk memperkosanya. Pasti sangat menyenangkan. Aku sudah tidak sabar melihat nona arogan yang angkuh itu menangis darah saat melihat suaminya tidur dengan wanita lain."
Dewi menatap botol kaca yang ada di tangan sahabatnya, "Aku tidak tahu kamu sudah membeli obat itu. Sekarang kita tinggal menyusun rencana untuk membuat tuan muda Aditya ke rumah."
"Tenang saja, aku sudah mempunyai rencana yang matang dan yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana. Tuan Aditya adalah pria paling baik hati dan suka menolong. Jadi, dia tidak akan tega membiarkan orang lain menderita." Ririn tersenyum tipis saat membayangkan bisa membuat pria yang sangat membuatnya terpesona itu jatuh ke dalam perangkapnya.
__ADS_1
"Semoga berhasil, aku akan mengatasi para pengawal yang mengekor di belakang tuan muda Aditya," ucap Dewi yang menepuk pundak sahabatnya.
TBC ...