Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Merasa ragu


__ADS_3

Queen menyerahkan ponsel yang dipegangnya pada pria yang masih duduk di tempatnya yang sama. "Nih ponselmu, aku sudah selesai. Aku mau mandi, karena tubuhku rasanya masih terasa panas. Oh ya, tolong pesankan aku makanan. Telfon saja para staf hotel untuk menyiapkan makanan kesukaanku, mereka sudah sangat hafal dengan menu favorit semua anggota keluarga Raharja."


"Mungkin sebentar lagi, mereka juga akan mulai menghafal makanan kesukaanmu. Jadi, kamu pesan sekalian saja. Bilang pada mereka, tidak boleh lebih dari 15 menit! Karena aku ingin makan setelah selesai mandi. Apakah kamu paham dengan perkataanku, Aditya?"


Aditya menganggukkan kepalanya dan mulai menjawab perkataan dari Queen. "Insyaallah aku paham Queen, aku akan memesan makanan untukmu. Kamu pergi saja mandi! Saat kamu selesai, makanan akan tersaji di sini!"


Queen langsung berjalan ke arah kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya. Tentu saja selama di dalam kamar mandi, ia tidak berhenti mengumpat dan merungut.


"Brother benar-benar saudara yang sangat brengsek, karena efek dari obat perangsang ini masih tersisa di tubuhku dan membuatku merasa panas dan gerah. Awas saja nanti saat dia mengantarkan ponsel baru, aku akan menjambak rambutnya sampai habis dan meninju perutnya."


"Oh ya, kenapa aku melupakan sesuatu hal yang sangat penting ya? Jika tadi daddy sudah bertemu dengan Aditya di rumahnya dan mau menyerahkan perusahaan Raharja padanya, apakah daddy juga mengetahui bahwa brother telah memberiku obat perangsang?"


"Lalu apa tanggapan daddy? Apakah daddy sama sekali tidak memarahi brother yang sudah kurang ajar itu? Jika memang benar demikian, itu namanya tidak adil. Seharusnya daddy menghukum brother, karena perbuatannya sudah benar-benar diluar batas. Lebih baik aku nanti bertanya pada Aditya saja."


Queen mulai menyalakan shower dan seketika suara gemericik air membasahi tubuhnya. Dengan memejamkan kedua matanya, Queen seolah ingin mendinginkan otak dan tubuhnya yang saat ini dirasakannya tidak seperti layaknya manusia normal.


Setelah sepuluh menit berlalu, ia telah selesai dengan ritual mandinya. Saat ini Queen terlihat tengah memakai kimono handuk berwarna pink yang merupakan warna kesukaannya. Meskipun ia terlihat sangat arogan, namun tidak membuat seleranya berbeda. Karena ia sangat menyukai semua hal yang berwarna pink.


Semua itu karena dari kecil ia di doktrin dengan warna pink oleh pria yang sangat dicintainya. Yang tentu saja malah berbanding terbalik dengan sang mommy yang sangat membenci warna pink.


"Para staf hotel memang sangat mengetahui apapun kesukaanku, sehingga semua barang yang ada di sini berwarna pink. Karena ini adalah warna favoritku. Dan semua barang pemberian dari my hot daddy berwarna pink. Warna yang menurutnya sangat feminim dan mewakili kelembutan seorang wanita."


"Bahkan sekarang aku memakai kimono, handuk kecil di rambutku dan alas kaki berwarna pink semua. Seandainya my hot daddy melihat penampilanku hari ini, dia pasti tidak berhenti mencubit pipiku seperti dulu."


Setelah puas berbicara sendiri di dalam kamar mandi, Queen mulai melangkahkan kakinya yang jenjang keluar kamar mandi. Tentu saja perutnya yang daritadi keroncongan menandakan cacing-cacing di perutnya itu meminta jatahnya.


Senyuman mengembang langsung terbit di wajahnya saat melihat makanan sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


"Wah ... melihat semua makanan ini, membuat air liurku langsung menetes. Karena aku sangat lapar. Akan tetapi, kenapa menu makanannya cuma ini? Memangnya kamu tadi tidak memesan makanan untukmu?" tanya Queen dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.


Aditya yang melihat sang istri berjalan semakin mendekat dengan memakai kimono handuk yang tentu saja menampilkan kesan seksi dan cantik dari sang nona muda Raharja itu. Untuk sesaat dirinya mulai mengagumi pahatan sempurna dari kuasa Tuhan yang menciptakan wanita secantik istrinya.


Subhanallah ... melihat istriku yang terlihat sangat segar dengan wajahnya yang tidak garang seperti biasanya, membuatku langsung terpesona padanya. Akan tetapi, aku tidak bisa memandang wajah cantiknya secara terang-terangan, karena itu akan membuatnya merasa curiga padaku. Jadi aku harus berpura-pura untuk tidak mengagumi keindahan darinya.


"Aku tadi sudah pesan dobel makanannya, Queen. Tidak mungkin kamu bisa menghabiskan semua makanan ini. Aku tidak ingin menyusahkan para chef di hotel ini dengan terlalu banyak memesan makanan. Lagipula aku bisa makan apa yang kamu makan. Duduklah Queen, kita nikmati makanannya bersama-sama!"


"Kamu tidak keberatan bukan, jika makan bersamaku?" tanya Aditya dengan tatapan intens pada Queen yang sudah mulai mengambil fried chicken yang sudah disiram saus keju kesuksesannya.


Queen yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa, terlihat tengah menggigit Kentucky dan mulai mengunyahnya. Seolah dirinya sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan dari pria yang duduk di sebelahnya.


Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat Queen sudah sibuk dengan makanannya dan tidak menjawab pertanyaan darinya. Dirinya hanya mengamati wanita yang berada di sebelahnya.


'Melihatmu seperti itu, kamu lebih terlihat seperti anak kecil, Queen. Sangat berbeda dengan Queen yang selama ini terlihat.' Gumam Aditya.


"Bukan seperti itu Queen, kamu terlihat seperti seorang anak kecil saja saat sedang makan. Dan satu lagi, kamu tidak terlihat seperti seorang Nona arogan seperti biasanya. Kalau seperti ini, semua lelaki pasti akan jatuh cinta padamu," ucap Aditya.


Queen hanya tersenyum sinis saat mendengar kalimat bernada pujian, namun tidak disukainya. "Aku tidak butuh semua lelaki menyukaiku. Aku hanya ingin satu lelaki saja, dan kamu sudah tahu orangnya, bukan? Kamu beneran mau membantuku untuk mendapatkan pria yang kucintai?"


Hanya anggukan kepala dari Aditya, sejujurnya dirinya sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan yang menyebut laki-laki lain saat sedang berdua. Namun, dirinya sadar bahwa ia tidak mampu menolak pertanyaan dari Queen.


Untuk mengalihkan pembicaraan, Aditya kini mulai berpura-pura mengambil fried chicken itu dan mulai menikmatinya dengan nasi. "Melihatmu makan, membuatku jadi merasa lapar. Kalau menurut adab makan dan minum, kita tidak boleh berbicara saat makan, Queen. Jadi, lebih baik kita nikmati makanannya tanpa bersuara! Tapi sebelum itu, kamu harus makan nasi, karena aku lihat daritadi kamu makan ayamnya saja. Kamu seorang dokter, pasti sudah tahu menjaga kesehatan tubuhmu sendiri kan?"


"Aku tahu, aku hanya sesekali makan makanan junk food seperti ini. Jadi, tidak masalah jika aku khusus malam ini tidak makan nasi. Sudahlah, bukankah tadi kamu bilang kita harus makan tanpa bersuara? Jadi biarkan aku makan dengan tenang," ucap Queen dengan bersungut-sungut.


"Baiklah, kita makan dengan tenang," jawab Aditya yang mulai menikmati makanannya.

__ADS_1


Kini keduanya sama-sama sibuk melakukan ritual makan mereka. Beberapa menit kemudian mereka telah menyelesaikan ritual makannya. Dan disaat yang bersamaan, terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Yang menandakan seruan untuk menunaikan kewajiban pada sang Maha pencipta.


Aditya yang baru saja selesai meneguk minumannya, kemudian bangkit berdiri dari sofa. "Saatnya melakukan kewajiban kita pada sang pencipta, Queen. Kamu tidak keberatan sholat denganku kan? Aku memang orang yang berlumur dosa, tapi disetiap aku menghadap-Nya, aku selalu berdoa agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi."


"Apakah kamu tidak keberatan aku menjadi imam saat memimpin sholat?" tanya Aditya yang saat ini tengah menatap wajah cantik wanita yang baru saja selesai menikmati makanannya.


Mendengar pertanyaan dari pria yang berdiri menjulang di depannya, membuatnya merasa sangat kebingungan untuk menjawab. Untuk beberapa saat dirinya sibuk berkutat dengan pikirannya.


Astaga ... Aditya mau menjadi imam dalam sholat? Memangnya nggak masalah? Aku memang tidak menguasai ilmu agama dengan baik, tapi aku tidak yakin seorang Gay boleh menjadi imam.


Aditya yang merasa memahami pikiran dari Queen yang meragukannya menjadi seorang imam, membuatnya langsung mengungkapkan hal yang diketahuinya.


"Aku tahu bahwa saat ini kamu tengah memikirkan apakah aku pantas untuk menjadi seorang imammu dalam sholat. Kalau untuk masalah itu, aku akan menerangkannya padamu tentang hal yang aku ketahui mengenai syarat menjadi seorang imam untukmu."


"Karena dari yang aku ketahui, syaratnya adalah beragama Islam, memiliki akal sehat, baligh, laki-laki, suci dari hadas kecil dan besar, paham bacaan dan rukun sholat, tidak sedang menjadi makmum. Insyaallah tidak masalah, Queen. Karena aku hanya mengimami wanita yang berstatus sebagai istriku."


"Rasanya mendengar seorang Gay berbicara seperti ini, membuatku merasa sangat aneh. Seumur-umur, baru kali ini aku mendengar ceramah dari seorang Gay. Lucu sekali, tapi baiklah. Aku tidak masalah menjadi makmum, karena setahuku, imamlah yang akan menanggung makmumnya? Akan tetapi, aku tidak mempunyai mukena."


"Aku sudah membelikannya untukmu Queen, as di dalam lemari kaca di walk in closet. Aku sengaja tidak memberikanmu mahar seperangkat alat sholat, karena tanggung jawab dari mahar itu sangat berat. Aku takut tidak bisa melakukan tanggung jawabku untuk membuatmu selalu melaksanakan perintah dari Allah dalam hal sholat lima waktu dan itu akan membuat dosaku yang sudah terlampau banyak menjadi lebih besar lagi."


"Karena itulah aku membelikanmu diluar mahar, jadi bisa kamu pakai saat sholat di sini bersamaku," ucap Aditya.


Queen masih sibuk menelaah perkataan dari Aditya dengan bergumam di dalam hatinya.


Apa aku harus menuruti perkataan dari seorang Gay? Rasanya otakku tidak bisa mencerna kata-kata darinya, karena aku merasa ragu dan tidak yakin.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2