Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Janjiku padamu


__ADS_3

Saat Aditya merasa bingung dengan hal yang harus dilakukannya, suara dering ponsel yang ada di saku celana miliknya berdering dan membuat ia langsung meraih benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang tengah menghubungi. Begitu ponsel pintar keluaran terbaru tersebut ada di tangannya, ia mengerutkan kening saat melihat nomor asing yang tidak dikenal.


Bahkan Queen yang merasa penasaran dengan siapa yang menghubungi sang suami, membuatnya langsung merebut ponsel yang dipegang oleh Aditya. "Nomor tidak terdaftar. Siapa ini?" tanya Queen dengan menautkan kedua alisnya dan mulai menggeser tombol hijau ke atas, serta mengeluarkan suara.


"Halo, assalamualaikum."


Queen menunggu beberapa saat jawaban dari seberang, tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Sehingga ia melihat ke arah ponsel berwarna hitam tersebut dan masih melihat detik berjalan yang menandakan bahwa panggilan belum dimatikan oleh pihak penelfon.


"Siapa di sana? Jangan hanya diam seperti seorang pengecut!"


Queen berteriak karena merasa sangat kesal tidak ada suara dari orang yang menelfon. Beberapa saat kemudian, sambungan terputus tiba-tiba. Refleks ia menatap ke arah sang suami yang terlihat kebingungan saat tidak ada suara dari orang yang baru saja mematikan sambungan telepon. Queen menatap tajam ke arah suami yang ada di sampingnya.


"Kira-kira My hubbiy tahu nggak siapa yang menelfon barusan? Kenapa tidak bersuara setelah aku bertanya?" tanya Queen dengan tatapan penuh kecurigaan. "Itu bukan selingkuhanmu kan?"


"Astaghfirullah," ucap Aditya yang sudah geleng-geleng kepala. "Jangan suka menuduh sembarangan, Sayang. Tidak mungkin suamimu yang selalu berada di sampingmu selama 24 jam berselingkuh. Insya Allah aku akan selalu setia padamu hingga ajal menjemput."


"Iissh ... apa-apaan sih, jangan bawa-bawa ajal di sini karena aku tidak suka. Iya ... iya, aku percaya, tetapi kira-kira siapa yang menghubungimu tadi? Seharusnya dulu kamu pakai nomor baru, bukan yang lama. Pasti banyak orang yang mengetahuinya, salah satunya penelfon asing itu yang bisa saja seorang wanita," sahut Queen dengan sangat kesal.


Aditya masih diam, karena tidak ingin membuat amarah dari sang istri semakin meluap saat dibantah. Tentu saja ia sudah sangat memahami bagaimana watak dari sang istri yang tidak pernah bisa mengendalikan diri saat sedang marah.


Ia masih sibuk memikirkan siapa yang tadi menghubungi dan tidak mau berbicara. Hal yang ditakutinya adalah ada hal penting yang ingin disampaikan oleh si penelfon, tetapi tidak berani berbicara ketika mendengar suara dari istrinya.


"Kira-kira siapa ya? Mudah-mudahan bukanlah sesuatu hal yang penting," gumam Aditya di dalam hati.


Sementara itu, Sabrina merasa lega karena tidak jadi mengalami hal konyol. Yaitu, perintah dari sang nona muda yang beralasan sedang mengidam. Sehingga ia sudah menikmati makanannya tanpa memusingkan apa yang sedang dialami oleh pasangan suami istri tersebut. Meskipun sejujurnya ia sangat penasaran dengan siapa yang tadi menghubungi mantan kekasihnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Dave yang sudah merasa lapar dan menikmati makanannya seperti wanita yang duduk di sebelahnya. Saat ia menatap ke arah Sabrina, bisa dilihatnya ada sisa makanan di samping kiri bibir wanita yang asyik menikmati makanan. Refleks ia meraih sapu tangan yang ada di saku jas dan mengarahkannya pada bibir kiri Sabrina.


"Pelan-pelan makannya, tidak akan ada yang meminta makananmu," ucap Dave yang masih membersihkan sisa minyak di sekitar bibir Sabrina.


Sabrina yang dari tadi buru-buru makan, karena ingin cepat menghabiskan mie Aceh tersebut, sama sekali tidak menyangka jika ada sisa makanan di sekitar bibirnya dan membuat Dave sibuk membersihkan dengan sapu tangan. Refleks ia menatap tajam ke arah pria yang terdiam di depannya. Kemudian Sabrina merebut sapu tangan tersebut.


"Aku bisa sendiri," ujar Sabrina dengan wajah masam seraya bergumam di dalam hati. "Kenapa dia sok perhatian segala. Tingkahnya sudah seperti pria normal saja, padahal aslinya sangat datar dan arogan. Jika aku tidak buru-buru makannya, bisa-bisa majikanmu itu akan kembali memerintahkan hal konyol. Yaitu, menyuruhmu untuk menyuapiku. Dasar bodoh," jerit batin Sabrina.


"Baiklah, ambil sapu tangannya." Dave sudah menyerahkan barang pribadi miliknya pada Sabrina dan melanjutkan makannya.


Sementara itu, Queen sudah melupakan keinginannya untuk menyuruh Dave menyuapi Sabrina. Karena saat ini ia tengah fokus memikirkan sosok misterius yang baru saja menghubungi suaminya. Karena masih merasa penasaran, refleks ia memencet tombol panggil pada nomor tidak terdaftar tersebut dan menunggu hingga panggilannya diangkat.


Namun, meskipun sambungan telepon tersambung, tidak ada jawaban dari orang yang dihubunginya. Sehingga saat sambungan telepon mati, refleks ia mengeluarkan ponsel miliknya yang ada di dalam tas untuk menghubungi seseorang. Begitu sambungan telepon tersambung, ia langsung mengeluarkan titahnya.


"Halo, cepat kamu selidiki nomor yang baru saja aku kirimkan padamu. Cari tahu siapa pemilik nomor tersebut, karena aku ingin tahu siapa yang berani bermain-main denganku."


"Sayang, kenapa kamu sangat berlebihan? Kamu sedang menyuruh siapa? Mungkin tadi hanya orang salah sambung atau salah pencet saja. Lebih baik kita berpikir positif dan jangan selalu mencurigai orang," ucap Aditya yang berusaha memberikan pengertian pada Queen, agar tidak selalu suudzon pada orang lain.


"Aku bukanlah wanita yang bisa santai dan tenang saat melihat sebuah hal mencurigakan, My hubbiy. Seperti kata mommy yang selalu mengatakan kalau pelakor lebih kejam dari seorang penjahat. Karena tidak memperdulikan hal apapun, asalkan keinginannya terpenuhi. Sekarang 1 pelakor sudah berhasil aku bereskan." Queen melirik ke arah Sabrina yang tengah menikmati makanannya.


Aditya dan Dave pun refleks saling ber-sitatap begitu melihat sang nona muda menatap ke arah wanita yang sudah tersedak saat menikmati makanannya.


Sabrina yang asyik menikmati mie Aceh pedas tersebut langsung tersedak begitu mendengar kalimat menohok dari Queen yang saat ini tengah menatapnya.


"Uhuk ... uhuk." Memegangi tenggorokannya dan berniat untuk meraih air mineral yang ada di atas meja untuk meringankan rasa panas yang ada di tenggorokannya. Namun, bisa dilihatnya tangan kekar dari pria yang sudah menciumnya 2 kali itu terlihat menyerahkan botol minuman kemasan kepadanya.

__ADS_1


"Cepat minum!" sahut Dave yang merasa iba melihat wajah memerah dari Sabrina akibat tersedak makanan pedas.


"Terima kasih," jawab Sabrina langsung meneguk air mineral yang sudah dibuka penutupnya oleh Dave tadi. Rasa panas yang dirasakan tenggorokannya mulai sedikit berkurang. Kemudian ia menatap kesal ke arah wanita yang telah merebut kekasihnya.


"Jadi, kamu menganggapku adalah seorang pelakor yang akan merebut mas Aditya, begitu?"


"Kamu sadar diri ternyata," jawab Queen dengan terkekeh. "Maaf kalau kamu tersinggung, tetapi kamu harus jujur padaku. Bukankah kamu masih berharap bisa kembali pada suamiku? Jika kamu bilang tidak, aku tidak akan pernah percaya."


Sabrina lagi-lagi merasa tersindir saat mendengar kalimat menohok dari Queen yang memang benar adanya. Sehingga ia saat ini tengah menatap ke arah pria yang masih dicintainya. "Bukankah yang pantas disebut pelakor adalah kamu, Nona muda. Karena kamulah yang telah merebut mas Aditya dariku dulu."


"Sudah-sudah, jangan diteruskan perdebatan yang tidak berdasar ini," ujar Aditya dengan tegas.


"Kenapa, Mas Aditya tidak terima jika aku mengatakan bahwa dialah yang bersalah karena masuk ke dalam hubungan kita?" sarkas Sabrina dengan sangat marah.


"Kamu punya Tuhan, kan?" tanya Queen dengan tatapan mengejek pada Sabrina.


"Pertanyaan konyol apa itu," sahut Sabrina dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Jika kamu percaya adanya Tuhan, seharusnya kamu percaya tentang jodoh. Bukankah itu sudah diatur semenjak kita dalam kandungan? Jadi, jika kami menikah, itu berarti berjodoh dan itu bisa dijelaskan kalau kamu tidak berjodoh dengan My hubbiy."


"Terima saja nasibmu dan sepertinya jodohmu adalah Dave. Daripada kamu jadi perawan tua, karena menunggu suamiku yang tidak mungkin kembali padamu, lebih baik kamu menerima pria sebaik Dave. Aku jamin hidupmu akan bahagia, itu janjiku padamu," ucap Queen dengan tegas saat menatap Sabrina dan juga Dave.


Sedangkan Sabrina hanya bisa tersenyum masam saat mendengar penjelasan panjang lebar dari Queen seraya mengumpat di dalam hati.


"Nona muda arogan ini tidak pernah sekalipun membuat hidupku tenang. Karena semua kata-kata pedasnya seolah berhasil mengulitiku hidup-hidup dan mempermalukan aku," gumam Sabrina.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2