
"Apa Mas, kamu mau menikah? Kamu mau menikah dengan Nona Muda dari keluarga Raharja?"
Sabrina menggelengkan kepalanya, "Nggak Mas Aditya, ini pasti hanyalah sebuah kebohongan. Kamu sedang berpura-pura bukan? Tidak mungkin, ini semuanya hanyalah sebuah kebohongan yang kamu rencanakan bukan? Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Katakan padaku yang sebenarnya!"
Sabrina saat ini benar-benar terlihat sangat gugup dan gelisah, bahkan suaranya yang gemetar terdengar jelas saat dirinya mulai bersuara.
Sementara itu Aditya yang merasa sangat tidak tega melihat raut wajah penuh kekecewaan dan kesedihan yang terpancar nyata di wajah cantik wanita yang sudah lama menempati tempat terdalam di hatinya itu hanya bisa terdiam karena ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Sabrina.
"Dik Sabrina, aku benar-benar minta maaf. Kamu sangat cantik dan pasti dengan sangat mudah mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku Dik. Aku bukanlah pria yang baik untukmu, maafkan aku karena telah memutuskan hubungan ini seenaknya."
"Nggak Mas, ini salah. Mas Aditya adalah laki-laki paling baik dan paling sempurna yang pernah aku kenal. Karena tidak ada pria lain yang lebih baik dari Mas Aditya. Aku tahu Mas Aditya adalah pria yang sangat baik, taat beribadah dan akan menjadi calon imam yang baik untukku. Aku sangat yakin itu."
Sabrina beralih menatap ke arah wanita yang tadi di pujinya habis-habisan. Tatapan mata yang awalnya penuh dengan kekaguman itu berubah menjadi tatapan mata penuh kebencian.
"Tolong jelaskan apa maksud semua ini Nona muda! Apa maksud Anda tiba-tiba datang dan meminta calon suami saya untuk menikahi Anda? Anda adalah seorang wanita yang sangat cantik, memiliki karir yang sukses, dan juga berasal dari keluarga berada. Apa maksud Anda mengincar seorang pria biasa yang bahkan telah memiliki seorang kekasih?"
"Anda bisa mendapatkan pria manapun sesukanya jika Anda mau, jadi tolong jauhi calon suami saya Nona Muda! Saya mohon pada Anda!"
Sabrina menyatukan kedua tangannya di depan wanita yang masih diam membisu dengan wajah datarnya.
Queen mengamati raut wajah yang sudah berubah penuh dengan kekecewaan itu, kemudian beralih menatap ke arah pria yang berada di sebelahnya.
"Sorry Sabrina, sepertinya aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Karena aku pun hanya menginginkan Aditya untuk menjadi suamiku. Kamu memang benar, aku memang bisa mendapatkan semua laki-laki yang aku inginkan. Akan tetapi, aku tidak menginginkan pria lain selain Aditya. Jadi lebih baik kamu mundur dan sadar diri! Sadarlah, pria ini sudah tidak menginginkanmu lagi."
"Jadi, aku harap kamu bisa mengerti dan bisa menerima kenyataan bahwa pria yang kamu puja ini sudah tidak menginginkan kamu lagi. Kamu tahu sendiri kan alasannya? Jadi aku tidak perlu menjelaskannya padamu bukan? Atau perlu aku belikan kamu sebuah cermin yang besar untuk bercermin?"
"Apa Anda ingin mengatakan bahwa aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Anda Nona Muda?"
"Nah, itu kamu pintar."
__ADS_1
"Aku sadar kalau aku memang tidak sebanding dengan seorang Nona Muda dari keluarga Raharja, tapi aku sangat yakin kalau pria yang aku cintai ini masih sangat mencintaiku. Karena cinta tidak akan semudah itu hilang begitu saja dari hati Mas Aditya."
Sabrina menatap ke arah pria yang saat ini tengah terdiam membisu dan sama sekali tidak mencoba menghiburnya. Tangannya beralih memegang pergelangan tangan dari pria yang sangat di cintainya.
"Mas Aditya, aku percaya padamu Mas. Aku sangat yakin bahwa Mas masih sangat mencintaiku. Jadi jangan mencoba untuk membohongiku! Ayo kita pergi dari sini Mas, kita bicara berdua! Aku akan mendengarkan penjelasan dari Mas."
Aditya menggelengkan kepalanya dan mencoba dengan lembut melepaskan tangannya dari genggaman Sabrina yang sudah menarik tangannya untuk berjalan meninggalkan Queen.
"Dik Sabrina, jangan begini! Ini salah, kita bukan muhrim. Jadi tolong lepaskan tanganmu!"
Sabrina sama sekali tidak memperdulikan penolakan dari pria yang sangat di cintainya tersebut.
"Aku tidak perduli Mas, kamu menolak aku menyentuhmu seperti ini. Akan tetapi, tadi kamu sama sekali tidak menolak saat Nona Muda Queen menepuk berkali-kali bahumu tadi. Kenapa kamu bisa berubah begini sih Mas hiks ... hiks ... hiks ...."
"Aku seperti tidak mengenalmu lagi Mas Aditya, apa benar yang ada di hadapanku ini kamu? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa Tuhan memberikan sebuah ujian berat pada cintaku hiks ... hiks ... hiks ...."
Air mata Sabrina seketika pecah saat itu juga, kini wajahnya sudah mulai di penuhi air mata yang membasahi pipinya yang putih. Dirinya mulai menangis tersedu-sedu karena merasa sangat terluka melihat kenyataan di depannya.
"Sayang, kita harus segera membeli cincin kawin untuk acara akad nikah besok. Daddy baru saja mengirimkan uang ke rekeningku."
Queen menunjukkan ponselnya dimana disana ada pesan masuk uang sudah masuk ke rekening miliknya.
"Ayo kita pergi dari sini!"
Queen menggandeng tangan Aditya dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam Mall.
Aditya mengarahkan pandangannya untuk menatap ke arah tangan Queen yang menggandengnya, dirinya berniat untuk mengatakan sesuatu.
"Queen, tidak perlu memegang tanganku. Kita bu ...."
__ADS_1
Queen yang daritadi sudah merasa kesal dan bosan melihat drama di depannya itu sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kemudian dirinya langsung memotong perkataan dari pria yang dirinya tahu akan bicara apa.
"Kita memang bukan muhrim, tapi beberapa jam ke depan, kita akan menikah. Dan aku bebas berbuat apa saja karena kamu akan menjadi suamiku. Ayo kita pergi! Aku sangat tidak suka kamu terlalu banyak bicara dengan wanita lain, karena aku adalah calon istrimu sekarang!"
Setelah mengomel pada pria yang masih di gandengnya tersebut, Queen beralih menatap ke arah wanita yang terlihat sudah berubah sembab wajahnya karena efek menangis tersedu-sedu.
"Sabrina, jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi semuanya ini. Karena suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan kebahagiaan. Akan tetapi, untuk sementara kamu harus menerima kenyataan pahit ini. Aku tidak akan meminta maaf berkali-kali padamu, karena disini aku sama sekali tidak merasa bersalah. Tapi takdir Tuhan lah yang membuat kita bertiga ada di posisi seperti sekarang ini."
.
"Jika kamu percaya pada Tuhan, maka kamu tidak akan menangis berlebihan. Anggap saja semua ini adalah cobaan untukmu. Kenapa sekarang aku malah berubah menjadi sok bijak dengan menasehatimu. Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Ingatlah pesanku ini, suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan kebahagiaan yang kamu cari."
"Ayo Sayang, kita pergi!"
Queen beralih menatap ke arah pria yang saat ini terdiam membisu saat menatap wanita yang masih terisak itu.
"Cepat Sayang!! Bukankah kamu harus kembali ke rumah sakit?"
Aditya refleks menganggukkan kepalanya begitu mengingat kondisi sang Ayah.
"Baiklah, ayo kita pergi! Sabrina, jaga dirimu baik-baik."
Sabrina menggelengkan kepalanya, "Nggak Mas Aditya, jangan pergi! Tunggu, siapa yang berada di rumah sakit?"
"Ayah semalam kecelakaan dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit Raharja," jawab Aditya.
"Apa ini alasanmu menikah dengan Nona Muda Queen?"
Queen seketika menoleh ke arah wanita yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan menelisik.
__ADS_1
Bersambung ...