
Aditya sudah terlihat segar setelah mandi untuk yang kedua kalinya karena akibat sebuah rasa cemburu dari sosok wanita yang saat ini tengah fokus menatap ke arah ponselnya ketika duduk di sofa. Sebenarnya ia bisa saja berpura-pura masuk ke kamar mandi tanpa perlu mandi.
Namun, ia mengerti bahwa sang istri merasa jijik jika ada bekas wanita lain di tangannya dan tentu saja, menurutnya hal itu adalah sesuatu yang sangat berlebihan. Akan tetapi, ia menyadari bahwa semua itu merupakan sebuah wujud rasa cemburu yang menandakan bahwa wanita yang telah mengandung benihnya itu sangat mencintainya. Sehingga ia mencoba untuk memahaminya.
"Sayang, aku sudah mandi dan wangi."
"Bagus." Queen masih menatap ke arah benda pipih di tangannya dan terlihat ia sangat serius.
Aditya mendekati Queen dan merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh sang istri yang tidak mau menatapnya dan malah sibuk sendiri melihat ke arah ponsel. "Sayang, kamu sedang melihat apa?"
Queen bisa mencium aroma wangi maskulin khas sang suami yang sudah terlihat sangat fresh di sebelahnya. Kemudian ia sibuk mengendus aroma Aditya dengan duduk semakin mendekat, "My hubbiy selalu wangi dan aku sangat menyukai aroma khas maskulin ini."
Aditya mengarahkan tangannya untuk memeluk erat pinggang ramping Queen yang sudah bersikap sangat manja padanya. Tidak seperti beberapa saat yang lalu ketika murka saat merasa cemburu.
"Sikapmu langsung berubah drastis setelah aku mandi, Sayang. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu beberapa menit yang lalu. Kamu tidak menjawab pertanyaanku, tetapi malah mengalihkan pembicaraan."
__ADS_1
Queen hanya bisa terkekeh mendengar keluhan dari Aditya, "Karena itulah jangan mengulangi kesalahan yang sama, My hubbiy!" Queen memegangi telapak tangan Aditya, "Aku tidak ingin tangan ini menyentuh wanita lain, hanya aku yang boleh menyentuhmu. Begitu juga sebaliknya, My hubbiy hanya boleh menyentuhku, bukan wanita lain. Mau wanita itu pingsan ataupun mati sekalipun, jangan pernah menyentuhnya, oke!"
"Astaghfirullah, kata-katamu itu sungguh tidak berperikemanusiaan, Sayang. Padahal kamu seorang dokter, bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu. Bagaimana jika ada wanita kecelakaan dan aku melihatnya? Apakah aku pun tidak boleh menolongnya?" tanya Aditya yang merenggangkan pelukannya dan mengamati reaksi dari sang istri, menunggu jawaban dari wanita yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Kecelakaan, ya?" Queen tengah memikirkan jawaban dari pertanyaan Aditya dengan menimbang-nimbang keputusannya, hingga sebuah gelengan kepala menjadi jawabannya.
Aditya membulatkan kedua matanya, "Apa, itu tidak boleh juga? Padahal itu adalah sebuah keadaan darurat, Sayang."
"Di dunia ini bukan hanya ada My hubbiy, ada banyak orang yang bisa menolong wanita lain. Jadi, jangan bersikap sok pahlawan. Ada beberapa pengawal yang akan mengikutimu, suruh saja mereka. Kenapa kamu harus repot-repot. Sudahlah, tidak perlu membahas hal ini lagi, aku bosan. Nih, lihat!" Queen menunjukkan ponselnya, di mana di sana ada gambar-gambar pakaian kantor terbaru yang di desain oleh designer terkenal.
Aditya lagi-lagi tidak bisa membantah keinginan dari sang istri, karena tidak ingin menambah rumit masalah sepele. "Pakaian kantor ini terlihat bagus-bagus sekali, Sayang. Apa kamu mau memenuhi lemari pakaian dengan semua ini? Bahkan aku baru memakai satu setel pakaian yang kamu belikan."
"Sayang, jangan suka menghambur-hamburkan uang. Itu tidak baik, lebih baik uangnya ditabung saja," ujar Aditya yang mencoba menghentikan sang istri yang terlihat sangat bersemangat saat membelikan sesuatu untuknya.
Bahkan semenjak ia menikah dengan nona muda, hidupnya berubah total dan sama sekali tidak bisa memilih apapun yang disukainya. Karena semua sudah diatur oleh sang istri, seolah untuk bernapas pun, sudah ditentukan oleh seorang nona muda yang tidak pernah mau mendengar sebuah penolakan
__ADS_1
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Queen begitu mendengar perkataan dari pria yang menurutnya adalah pria paling lugu sedunia. Sehingga saat ini ia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Apa, My hubbiy, menabung? Lihat nih, aku sudah bosan menabung. Bahkan penghasilanku lebih besar dari pengeluaran. Aku bingung untuk menguranginya karena uangku sudah meluber," ucap Queen yang sudah membuka saldo rekeningnya dan menunjukkan pada Aditya. "Bukankah aku belum pernah menunjukkan tabunganku padamu, My hubbiy."
Aditya refleks membulatkan kedua matanya begitu melihat nominal angka yang ada di sana. Bahkan ia bekerja seumur hidup pun, belum tentu mengumpulkan uang sebanyak itu. "Sayang, itu uang dari keluargamu? Aku bahkan merasa pusing melihat nominalnya."
"Iish ... enak saja, ini murni penghasilanku, My hubbiy. Bukan uang keluargaku, karena aku dulu sempat bekerja di New York selama 2 tahun, bahkan sebenarnya karirku sangat bagus di sana. Aku dulu berencana untuk menetap di sana karena daddy Azriel sudah menetap di New York. Jadi, aku berpikir bisa menaklukkan hatinya dengan setiap hari mengganggunya di kantor. Akan tetapi, daddy dan mommy mengancamku. Jika aku tidak kembali ke Jakarta, mereka akan memutuskan hubungan dan tidak menganggapku sebagai putrinya. Akhirnya aku terpaksa kembali ke Jakarta dan mereka menyuruhku bekerja di rumah sakit Raharja."
Aditya terlihat manggut-manggut dan bisa mulai mengerti tentang rahasia dari sang istri yang selama ini membuatnya merasa sangat penasaran, tetapi ia tidak ingin terlalu mengorek masa lalu Queen karena tidak ingin dianggap sebagai seorang yang kepo atau kurang kerjaan.
"Oh ... jadi begitu, ceritanya. Bahkan kamu sudah berpikir ingin menetap di New York, tetapi malah berakhir bersama seorang pria miskin sepertiku, Sayang. Malang sekali nasibmu."
Refleks Queen langsung mencubit perut berotot Aditya karena merasa kesal dan geram saat disindir dengan kalimat yang sangat tidak disukainya. "My hubbiy, apa-apaan sih. Bikin kesal saja. Nasibku bukan malang, tetapi sangat beruntung karena bertemu dengan pria sempurna sepertimu. Kamu adalah pria paling istimewa yang sanggup meluluhlantakkan dinding kokoh yang selama ini aku bangun. Jadi, jangan pernah menganggap kamu adalah pria biasa, karena bagiku, kamu adalah sosok suami luar biasa. Karena itulah aku akan menjagamu dari para keong racun yang mengincarmu."
Seulas senyuman terbit dari wajah Aditya begitu mendengar kalimat manis yang menyanjungnya hingga membuatnya menjadi pria paling sempurna saat menjadi suami dari wanita yang sudah memeluknya sangat erat. Ia pun mendaratkan sebuah ciuman di kening Queen.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih, Sayang. Di dekatmu, aku seolah berubah menjadi pria paling sempurna dan sangat dicintai. Aku tidak akan pernah mengeluh lagi saat memikirkan ibuku yang tidak menganggapku. Karena bagiku, cinta luar biasa yang kamu miliki ini sudah cukup mengalahkan segalanya. I love you nona muda Queen Aqila Wijaya Raharja."
TBC ...