Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
'Nila setitik, rusak susu sebelanga'


__ADS_3

Queen yang awalnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah untuk mencari tempat duduk, tidak sengaja melihat sosok wanita yang tengah menikmati makanannya. Ia sangat hafal dengan siluet dari wanita yang merupakan kaki tangan dari orang yang ingin menghancurkan keluarga Raharja.


"Dewi ... kebetulan sekali aku bertemu dengannya di sini. Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya langsung seperti ini," batin Queen yang langsung berjalan ke arah Dewi yang tidak menyadari kedatangannya karena sibuk menundukkan kepala saat menikmati makanannya.


Hingga saat berada tepat di hadapan Dewi, ia bersedekap dada dan tersenyum smirk. "Kebetulan sekali kita berjumpa di sini, Dewi." Mendaratkan tubuhnya di depan Dewi yang langsung mengangkat pandangannya.


Dewi yang saat ini tengah mengunyah makanan, refleks langsung tersedak begitu melihat sosok wanita yang sangat dihafalnya, memakai hijab berwarna merah, tengah duduk tepat di hadapannya. Rasa panas yang menjalar di tenggorokannya benar-benar sudah sangat menyiksanya, karena efek rasa pedas dari makanan tersebut.


Queen yang melihat wajah memerah karena tersedak makanan pedas, meraih gelas berisi teh hangat tersebut dan memberikannya pada Dewi. "Minumlah! Aku tidak tega melihatmu mati karena tersedak makanan."


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dewi buru-buru menerima teh hangat tersebut dan langsung meneguknya hingga separuh untuk menetralkan rasa panas di tenggorokannya. Begitu air berwarna coklat keemasan itu membasahi tenggorokannya yang panas, rasa panas di tenggorokannya agak sedikit berkurang.


Mendapatkan sebuah tatapan membunuh dari sosok wanita yang terlihat sangat elegan di depannya, benar-benar membuat Dewi tidak berkutik dan hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Astaga, mimpi apa aku semalam? Baru saja aku mendapat musibah bertemu dengan adik iparnya yang sangat gila itu. Lalu, aku dipecat dan sekarang aku malah bertemu dengan nona muda Queen. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahunya bahwa adiknya tadi mengancam akan menghancurkan hidupku? Akan tetapi, nona muda Queen pasti hanya akan bersorak mengejekku," gumam Dewi yang merasa sangat gelisah untuk mengambil sebuah keputusan.


Sementara itu, Aditya yang baru saja datang mendekati Queen dan melihat Dewi sangat pucat, merasa iba dan berniat untuk mengajak sang istri duduk di kursi lain dan tidak memperdulikan wanita yang dulu hampir menghancurkan keutuhan keluarganya.


"Sayang, ayo duduk di sebelah sana." Menunjuk ke arah kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh pembeli setelah selesai menikmati makanannya.


Queen menoleh ke arah samping kiri di mana Aditya saat ini menepuk pundaknya. "Kenapa harus duduk terpisah, My hubbiy. Bukankah kita mengenal baik wanita di depan kita ini? Tidak baik mengabaikan orang yang kita kenal dengan berpura-pura tidak mengenalnya, bukan?" Menepuk kursi kayu berwarna coklat itu, seolah memberikan sebuah kode agar pria yang masih berdiri menjulang di sebelahnya itu ikut duduk di sebelah.


Karena tidak ingin membuat keributan akibat kemarahan sang istri, akhirnya Aditya memilih mengalah dan duduk di sana, sekaligus untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Queen pada Dewi.


"Bagaimana kabarmu, Dewi?" tanya Queen masih dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Degup jantung yang tidak beraturan dari Dewi karena efek ketakutan saat berhadapan dengan sang nona muda yang terkenal sangat arogan itu. Dengan kasar, ia menelan salivanya.


"Kabar saya baik, Nona muda Queen."


"Jangan panggil aku nona muda, karena aku bukan majikanmu lagi. Bukankah posisi kita sama sekarang?" Queen mengamati penampilan Dewi saat mengungkapkan kalimat bernada sindiran.


Buru-buru, Dewi menggelengkan kepala, tidak membenarkan kata-kata tersebut. "Sama sekali tidak, Nona muda Queen. Saya hanya orang dari kasta rendahan yang sama sekali tidak sebanding dengan Anda. Maafkan saya, karena dulu belum sempat memohon maaf pada Nona."


Dewi sedikit membungkuk dengan menundukkan kepala karena tidak berani menatap wajah yang seolah ingin memangsanya itu.


Queen sama sekali tidak menanggapi permohonan maaf dari Dewi karena ia saat ini lebih tertarik dengan pria yang ada di sebelahnya.


"My hubbiy, sudah pesan seblak level 5, kan?"


Perhatian dari Aditya itu sudah diduga oleh Queen. Ia memang sengaja untuk memperlihatkan pada Dewi. "My hubbiy benar-benar so sweet." Beralih menatap ke arah wanita yang dari tadi seolah takut melihatnya karena asyik menundukkan kepala. "Kita akan menuai apa yang kita tanam."


"Hidup itu adalah sebuah pilihan dan saat salah memilih, terimalah akibat dari kesalahan itu." Queen yang baru saja menyelesaikan perkataannya, menoleh ke arah Aditya. "Bukankah begitu, Sayang?"


Sebenarnya, Aditya merasa iba pada keadaan Dewi. Namun, karena ia merasa bahwa sang istri saat ini sudah jauh lebih baik karena tidak lagi menanggapi semua hal dengan amarah, membuat ia membenarkan semua perkataan Queen dengan sebuah anggukan kepala.


"Iya, kamu benar, Sayang." Aditya menoleh pada penjual yang mengatakan bahwa pesanannya sudah siap. "Ayo, Sayang. Pesanan kita sudah siap." Menggeser kursi ke belakang setelah bangkit berdiri.


Queen pun mengikuti pergerakan dari Aditya. Namun, sebelum ia melangkah pergi, tatapan tajam masih diarahkannya pada Dewi. "Lanjutkan saja makannya, aku tidak akan menganggumu. Satu hal lagi, selamat membuka lembaran baru setelah kamu keluar dari keluarga Raharja. Semoga harimu indah."


Dewi benar-benar merasa tersindir dengan semua perkataan yang keluar dari bibir wanita yang sudah berjalan menjauh dari tempatnya. Ia sangat menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh nona muda itu benar adanya. Sehingga ia harus menjalani karma dari semua perbuatannya.

__ADS_1


"Seandainya saja, aku dulu langsung jujur pada nona muda Queen, apakah semua ini tidak akan terjadi padaku? Ataukah sama saja? Apakah aku tidak boleh bertaubat setelah melakukan sebuah dosa? Ataukah meskipun saat ini aku sudah berdosa, tetapi masih harus menerima hukuman dari perbuatanku?" gumam Dewi di dalam hati saat melihat ke arah pasangan suami istri yang baru saja menghilang di balik lapak pedagang kaki lima tersebut.


"Seharusnya aku tadi berbicara pada nona muda Queen bahwa Reynaldi masih belum berubah dan tetap jahat." Refleks Dewi buru-buru bangkit berdiri dan agak sedikit berlari untuk mengejar Queen dan Aditya.


Begitu melihat mobil mewah yang hendak berjalan tersebut, membuat ia berlari menghadang dengan cara berdiri dengan tangan membentang.


"Nona muda, tunggu!"


Queen langsung ber-sitatap dengan Aditya karena merasa heran dengan kegilaan Dewi yang menghalangi jalannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan, bodoh!" teriak Queen setelah membuka pintu mobilnya.


Dewi buru-buru berlari untuk mendekat ke arah Queen. "Nona muda Queen, saya harus memberitahu hal penting ini. Pasti Anda dan tuan muda sudah tahu, bukan, kalau tuan Reynaldi sudah keluar dari penjara? Pria itu masih jahat dan tidak berubah. Anda harus berhati-hati."


Awalnya Queen ingin menyembunyikan tentang perihal Reynaldi yang baru saja keluar dari penjara, tetapi Dewi malah menggagalkan upayanya dan hal itu membuatnya merasa murka.


"Pergilah, aku muak melihatmu!" Queen beralih menatap ke arah Aditya, "Jalan, My hubbiy."


Aditya yang awalnya masih ingin memastikan perkataan dari Dewi, tidak bisa melakukannya karena teriakan dari Queen. Sehingga ia langsung mengemudikan kendaraan dan meninggalkan sosok wanita yang masih terlihat mengenaskan di samping kiri mobilnya.


Sementara itu, Dewi kini masih berdir mematung saat tidak diperdulikan oleh pasangan suami istri yang sudah meninggalkannya.


"Sepertinya nona muda Queen sama sekali tidak mempercayai perkataanku. Karena satu keburukan yang pernah aku lakukan, sehingga membuatku tidak lagi dipercayai oleh mereka. 'Karena nila setitik, rusak susu sebelanga'," ucap Dewi yang sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2