
Saat ini Abymana dan Qisya tengah duduk bersebelahan di sebuah restoran mewah yang menyediakan makanan lokal maupun internasional yang merupakan langganan keluarganya untuk makan di luar. Di hadapannya sudah tersaji makanan khas lokal yang merupakan menu favorit sang istri tercinta yang merupakan Ratu utama di Mansion keluarga Raharja, yakni rendang ayam dan berbagai macam aneka jenis makanan yang lainnya, tak lupa menu seafood kesukaannya.
Awalnya Abymana ingin memesan menu andalannya, yakni Steak, namun Qisya menolaknya. Karena mengingat yang di ajaknya adalah wanita yang berasal dari keluarga sederhana. Dan pastinya tidak menyukai menu makanan internasional yang menurutnya tidak membuatnya kenyang itu.
Qisya menatap ke arah Sabrina, "Makanlah Nak! Lebih baik kita makan dulu, baru nanti kita bicarakan hal yang ingin kami sampaikan padamu."
Sabrina yang melihat berbagai macam jenis makanan yang menggugah selera di atas meja itu hanya bisa menelan salivanya, namun dirinya merasa tidak nafsu makan saat memikirkan pria yang sangat di cintainya besok akan menikah dengan putri dari pasangan suami istri di depannya. Akhirnya dirinya memberanikan diri untuk menanyakan hal yang daritadi di tahannya.
"Nyonya Qisya, saya sedang tidak nafsu makan. Bukan karena makanan ini tidak lezat, tapi karena saya sedang memikirkan Mas Aditya yang akan terpaksa menikah. Maafkan saya, jika kata-kata saya tidak sopan."
Qisya menggelengkan kepalanya dan mengarahkan tangannya ke depan, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan kalimat yang di ucapkan oleh wanita muda yang duduk di depannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Nak, karena semua yang kamu katakan itu memanglah benar. Aditya memang terpaksa menikah dengan putriku, dan aku sama sekali tidak memungkiri kenyataan itu."
Sabrina yang merasa tidak habis pikir dengan pasangan suami istri di depannya itu hanya bisa merungut kesal dan ingin mengumpat dua orang di depannya, "Lalu kenapa Anda membiarkan pernikahan atas dasar paksaan ini terjadi Nyonya? Bukankah yang ada nanti malah akan menghancurkan perasaan mereka? Karena mereka tidak saling mencintai, bukankah nanti malah akan sangat memalukan jika sampai rumah tangga putri kesayangan Anda hancur berantakan?"
"Itu tidak akan pernah terjadi Nak, aku sangat yakin Aditya akan mampu mengubah putriku menjadi wanita yang lebih baik setelah menikah. Mereka berdua tidak akan bercerai, dan aku sangat yakin lama-kelamaan putriku akan mencintai suaminya."
"Sebenarnya keluarga Raharja sudah kena sebuah kutukan!"
Abymana yang saat ini tengah menikmati makanannya, refleks menoleh ke arah wanita yang baru saja mengatakan kalimat ambigunya.
Kutukan? Apa maksudnya mengatakan bahwa keluarga Raharja mendapatkan sebuah kutukan.
__ADS_1
Sabrina yang merasa tidak memahami dengan kalimat ambigu itu hanya bisa mengerutkan keningnya, "Maksud Nyonya? Kutukan yang bagaimana maksudnya?"
Qisya mulai menjelaskan apa yang ingin di utarakannya, "Sebuah kutukan merebut kekasih orang dan memaksa menikah orang yang tidak mencintainya, namun selalu berakhir bahagia. Semua bermula dari pria ini!" mengarahkan tangannya kepada pria yang duduk di sebelahnya.
Abymana yang daritadi memasang indera pendengarannya untuk mencari tahu tentang apa maksud dari Istrinya yang menyebutkan tentang keluarga Raharja mendapatkan sebuah kutukan, dan saat Istrinya berbicara dan mengarahkan tangannya ke arahnya, refleks membuatnya langsung tersedak makanan yang saat ini di kunyahnya.
"Uhuuuuuuk ... uhuuuuuuk ...."
Abymana meraih gelas berisi minuman yang ada di dekatnya, dan meneguknya hingga habis untuk menghilangkan rasa panas di tenggorokannya. Kemudian beralih menatap ke arah wanita yang saat ini tengah menatapnya dengan senyuman menyeringai, "Apa maksudmu menunjuk ke arah suamimu Cinta? Dan apa maksudmu dengan kutukan itu?"
Qisya langsung menjelaskan tentang apa yang saat ini ada di pikirannya, "Iya Sayang, menurutku keluarga Raharja telah mendapatkan sebuah kutukan perebut kekasih orang lain. Dan semua itu bermula dari perbuatanmu dulu yang merebutku dari kekasihku, lalu berlanjut pada putra kita Arthur yang merebut Salsabila dari kekasihnya, dan terakhir putri kita juga mengalami hal yang serupa. Bukankah itu sebuah kutukan namanya?"
Sontak saja Abymana memijat pelipisnya, "Astaghfirullah ... aku kira tadi kutukan apa, ternyata ini? Akan tetapi, kalau di pikir-pikir benar juga apa yang kamu katakan itu Cinta."
"Nah tepat sekali gadis kecil, seperti itulah yang kami maksud. Takdirmu adalah kekasihmu di rebut oleh putriku, dan kamu harus bisa merelakan Aditya. Karena Aditya tidak berjodoh denganmu, kamu tenang saja, karena aku akan mencarikan pria mapan nan baik hati untukmu. Aku mempunyai banyak kenalan, yang mempunyai putra tampan dan mapan."
"Nanti kamu bisa memilih salah satu dari mereka, dan juga aku akan memberikan rumah lengkap dengan isinya saat kamu nanti menikah dengan pria yang kamu pilih itu. Anggap saja ini adalah sebuah hadiah kecil dari keluarga Raharja, sekaligus permintaan maaf dari kami. Karena perbuatan putriku yang merebut Aditya darimu."
Tawaran dari pria yang berada di depannya itu terdengar sungguh sangat menggiurkan, dan membuat jiwa miskin Sabrina meronta-ronta.
Masya Allah ... jadi begini rasanya bertemu dengan seorang konglomerat yang mempunyai harta melimpah yang selalu di sebut-sebut tidak akan habis tujuh turunan sekalipun. Dengan mudahnya Tuan Aby bilang akan memberikan sebuah kado pernikahan rumah lengkap dengan segala perabotannya. Ya Allah, jiwa miskinku saat ini meronta-ronta. Akan tetapi, aku sangat mencintai Mas Aditya, bagiku semua harta di dunia ini tidak akan pernah sanggup menggantikannya.
"Sungguh sebuah tawaran yang sangat menggiurkan sekali Tuan Abymana, tapi sayangnya rasa cinta saya lebih besar dari kado istimewa yang Anda berikan. Saya akan tetap setia menunggu sampai Mas Aditya bercerai dengan putri Anda, kalau begitu terima kasih atas ajakan makan siang ini. Saya permisi dulu!" bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan orang paling tersohor itu.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah mendapatkan Aditya, gadis kecil. Karena dia akan mencintai putriku, karena seperti yang di katakan oleh Istriku tadi, meski kami menikah karena terpaksa, tapi kami bisa hidup berbahagia melebihi pasangan yang saling mencintai. Jadi menyerahlah, dan hiduplah dengan bahagia! Aku tidak ingin kamu menjadi perawan tua," ucap Abymana dengan suara baritonnya.
Sabrina yang seketika menghentikan langkahnya, mulai menanggapi perkataan dari Presdir Raharja Group tersebut, "Kita tidak pernah tahu takdir hidup kita Tuan, jadi saya akan melihatnya nanti," berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Abymana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari mantan kekasihnya calon menantunya, saat dirinya ingin berkomentar, suara dering ponselnya membuatnya tidak jadi mengeluarkan suaranya. Kemudian ia meraih ponsel yang berada di balik saku jasnya, dan melihat nama sang penelepon, "Queen? Ada apa dia menelfon? Apa ada yang tidak beres?"
"Cepat angkat saja Sayang, siapa tahu penting!" jawab Qisya.
Abymana mulai menganggukkan kepalanya dan mengarahkan tombol hijau pada ponselnya ke atas, menekan tombol loudspeaker agar sang Istri bisa mendengar suara dari putrinya.
"Halo, Sayang."
"Halo Dad, cepat ke rumah sakit Raharja sekarang juga. Ini gawat darurat!"
"Gawat darurat yang bagaimana Queen? Jelaskan pada Daddy, apa yang sebenarnya terjadi!"
"Ayah Aditya menentang keras pernikahan ini, dan tidak akan memberikan restunya."
"Apaaaaaaaaa?!! Baiklah, Daddy dan Mommy akan segera kesana!!"
"Oke Dad, aku tunggu."
Bersambung ...
__ADS_1