Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Ada sesuatu yang harus kamu ketahui


__ADS_3

Queen buru-buru berjalan keluar dari ruangan kamar sang suami untuk segera menemui pengawal pribadi kepercayaannya yang baru saja tiba setelah cukup lama berada di luar dan diketahuinya sedang bersama dengan mantan kekasih dari pria yang sangat dicintainya.


Sedangkan Aditya hanya bisa mengekor istrinya karena tidak ingin berdebat, atau membuat suasana hati wanita yang saat ini tengah mengandung benihnya itu berubah buruk. "Mungkin aku akan membela Dave nanti jika istriku menyalahkannya saat menemani Sabrina untuk menghilangkan kesedihannya," gumam Aditya seraya mengarahkan tatapannya pada sosok pria yang sedang duduk di kursi yang berada di ruang tamu.


Queen menatap ke arah Dave dengan tatapan menyelidik, "Wah ... enak ya, yang baru berduaan dengan keong racun." Mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan pria yang terlihat hanya bersikap datar.


"Anda salah Nona, saya sama sekali tidak berduaan dengan Sabrina. Karena di Mall tadi banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami," jawab Dave yang terlihat sedikit menyunggingkan senyumannya. "Rasanya aku tidak bisa menyebut wanita bar-bar itu keong racun, aneh sekali rasanya."


"Oh ... bahkan kamu sudah fasih menyebut namanya ya? Sabrina?" Queen bersedekap di dada dan menatap menelisik ke arah pria di depannya yang masih terlihat sangat santai. "Ceritakan padaku, apa yang kamu lakukan dengan si keong racun itu seharian tadi hingga tidak pulang-pulang!"


Aditya yang saat ini tengah berdiri di sebelah wanita yang duduk di kursi kayu jati berwarna coklat tua yang sedang menginterogasi Dave, membuatnya menepuk pundak sang istri yang seperti sosok hakim itu. "Sayang, buat apa kamu menanyakan tentang privasi dari orang lain? Sudahlah, jangan mencampuri urusan pribadi Dave, biarkan dia menentukan sendiri masa depannya dan mau dengan siapa saja."


Perkataan dari suaminya yang seolah menentangnya, tentu saja membuat Queen merasa sangat kesal saat mendongak menatap wajah tampan pria yang sudah seperti memohon padanya. "Kamu sepertinya sangat mendukung hubungan dari Dave dan keong racun," selidik Queen.


"Bukan seperti itu Sayang, tapi aku hanya mencoba untuk mengingatkanmu soal menjodoh-jodohkan. Bukankah kamu pun dulu sangat tidak menyukai keputusan orang tua yang memaksamu untuk menikah dengan Rey ...." Aditya tidak melanjutkan perkataannya karena mengingat hubungannya dengan Reynaldi yang merupakan adik tirinya.


Queen bisa melihat ekspresi muram dari sang suami begitu membahas Reynaldi, refleks ia langsung menarik tangan pria yang berdiri menjulang di sebelahnya itu untuk duduk. "Duduklah dan jangan membahas adik tirimu yang tidak tahu diri itu, My hubbiy! Karena itu hanya akan membuatmu menjadi sedih dan murung begitu."


"Aku tidak apa-apa, Sayang." Aditya mendaratkan tubuhnya di samping wanita yang sudah menarik tangannya. "Akan tetapi, yang aku katakan itu benar bukan?"

__ADS_1


"Menurutmu benar, tapi kamu pun berusaha untuk menjodohkan Dave dengan si keong racun. Apakah kamu mau aku cubit, My hubbiy?" Queen mengarahkan tangannya untuk mencubit pinggang kokoh pria yang malah menahan tangannya.


"Jangan membuat Dave melihat tingkah nakalmu, Sayang!" Aditya masih menahan tangan Queen agar tidak memperlihatkan sikapnya yang menggemaskan pada Dave.


Karena sejujurnya ia sudah mengetahui bahwa Dave menyukai istrinya. Karena tentu saja sebagai sesama pria, ia bisa melihat tatapan tak biasa yang ditujukan Dave pada wanita yang 1 bulan ini sudah dinikahinya. Bukan tatapan seperti bawahan pada majikannya, tapi tatapan penuh kekaguman yang menyiratkan rasa cinta antara seorang pria kepada lawan jenis.


Sehingga ia berpikir akan bisa membuat Dave melupakan istrinya jika dekat dengan seorang wanita yang mempunyai karakter yang agak sama. Yaitu, sama-sama datar dan keras kepala. Sedangkan Dewi menurutnya terlalu lembut dan tidak membuat jiwa petualang dari Dave merasa tertantang. Karena ia tahu bahwa Dave lebih menyukai wanita yang keras seperti istrinya, sehingga ia memilih Sabrina yang lebih cocok.


Menurutnya, Sabrina tidak jauh berbeda dengan istrinya yang mempunyai sifat keras kepala dan tidak bisa menyembunyikan amarahnya saat marah. Terbukti saat mantan kekasihnya tersebut sama sekali tidak merasa takut saat berhadapan dengan sang nona muda arogan. 2 wanita keras kepala yang berbeda keberuntungan karena berasal dari keluarga konglomerat dan sederhana.


Aditya melirik sekilas ke arah pria yang berada di depannya sudah terlihat murung yang menandakan tengah cemburu. "Lebih baik kamu dan para pengawal kembali ke Mansion saja Dave! Kalian semua butuh istirahat, aku dan istriku akan menginap 1 malam di sini sebagai malam terakhir sebelum rumah kami dibongkar oleh nona mudamu ini."


"Baik Tuan muda, tapi tetap ada 2 pengawal yang akan tetap berjaga di sini." Dave bangkit dari kursi kayu tersebut seraya menatap ke arah Queen. "Nona muda tenang saja dan tidak perlu merasa khawatir, karena saya dan Sabrina tidak akan pernah bertemu lagi. Lagipula saya sama sekali tidak tertarik padanya. Kalau begitu saya permisi dulu, semoga hari Nona dan Tuan, indah."


"Kenapa sekarang My hubbiy yang mengambil alih perintah pada Dave? Padahal aku belum selesai berbicara padanya. Aku tadi ingin memberitahunya kalau Dewi akan datang ke Jakarta beberapa hari lagi dan bekerja di Perusahaan Raharja. Jadi, aku ingin membuatnya sering bertemu dan mungkin mereka lama-lama akan saling menemukan kecocokan," ucap Queen dengan penuh bersemangat.


"Menurutku tidak, Sayang," jawab Aditya dengan penuh keyakinan.


"Kenapa kamu bisa berpikir begitu My hubbiy?" Queen menahutkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin membicarakan hal penting padamu. Akan tetapi, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu."


"Tanya apa? Kenapa sepertinya sangat serius, My hubbiy? Bikin aku penasaran saja, cepat katakan padaku!"


"Apakah perusahaan tempat aku bekerja sudah benar-benar diambil alih oleh Perusahaan Raharja?"


"Kenapa? Apa My hubbiy mau bekerja di sana agar bisa berduaan dengan keong racun? Jangan harap bisa melakukannya," hardik Queen dengan bersungut-sungut.


"Astaghfirullah, bukan seperti itu Tuan putriku. Jawab saja pertanyaanku, karena ini berhubungan dengan apa yang akan aku ceritakan."


"Sebenarnya apa sih yang ingin My hubbiy bicarakan? Iya ... iya, bukanlah hal yang sulit untuk mengambil alih perusahaan kecil tempatmu bekerja. Mungkin saat ini daddy dan brother sudah mengurusnya. Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu bicarakan!" Masih dengan wajah penuh dengan sorot pertanyaan, Queen menatap intens sang suami.


"Bukankah aku besok sudah bekerja di Perusahaan Raharja?"


"Iya, lalu?"


"Itu berarti tidak ada orang dari Raharja Group yang memimpin perusahaan itu. Bagaimana jika Dave saja yang bekerja di sana?"


"Apaa? Apakah ini masih berhubungan dengan perjodohan antara Dave dan si keong racun?" sarkas Queen yang sudah membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, Sayang. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Sebenarnya ....."


TBC ...


__ADS_2