
"Apa, Ma? Resepsi pernikahan kami akan diadakan bersama dengan resepsi dari nona arogan itu? Gila apa," teriak Sabrina dengan wajah penuh dengan kemarahan.
Suara teriakan dari Sabrina benar-benar berhasil membuat Dave dan wanita paruh baya tersebut menutup kedua daun telinganya.
"Astaghfirullah, jangan berteriak begitu, Sayang," ucap wanita dengan tubuh agak gemuk tersebut seraya menatap tajam ke arah putrinya. "Jaga sikapmu di depan calon suamimu. Wanita itu harus bersikap lemah lembut di depan laki-laki. Jangan buat malu Mama di depan calon menantuku."
"Tidak masalah, Ma. Saya sudah terbiasa melihat Sabrina seperti itu. Jadi, saya sudah tidak merasa kaget lagi," sahut Dave yang mencoba untuk membuat calon mertuanya tidak merasa khawatir.
"Astaga, jadi semua keburukan dari putriku sudah kamu ketahui, menantu? Memalukan sekali." Beralih menatap ke arah putrinya yang mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa. "Gadis ini memang sangat bawel, tetapi dia baik, menantu. Jadi, jangan mengambil hati perkataan kasar darinya."
"Anda tenang saja, Ma. Tidak perlu merasa khawatir, karena saya lebih suka dengan sosok wanita apa adanya seperti Sabrina," jawab Dave dengan seulas senyuman di wajahnya ketika sekilas menatap ke arah wanita di sebelah kiri tempat duduknya.
Sabrina yang dari tadi mengerucutkan bibirnya karena merasa sangat frustasi, membuat ia menatap tajam ke arah Dave. "Cepat katakan pada Mama, kalau kita hanya ingin ijab kabul saja. Tidak perlu ada resepsi pernikahan yang hanya menghabiskan banyak uang. Lebih baik uangnya ditabung untuk membeli rumah," sarkas Sabrina untuk mengubah pendirian dari wanita yang telah melahirkannya.
"Baiklah." Dave berdehem sejenak untuk menormalkan nada suaranya sebelum berbicara pada wanita paruh baya yang duduk di sebelah kanannya. "Ehm ... begini, Ma ...."
"Tidak perlu membahasnya lagi karena semuanya sudah deal tadi, karena keluarga Raharja yang akan mengurus semuanya. Kita sama sekali tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan uang, Putriku. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan apapun. Kamu hanya perlu menyiapkan fisikmu saja. Lagipula tadi tuan Abymana dan nyonya Qisya bilang sudah menyiapkan rumah untuk kalian tinggal bersama setelah menikah," ucap mama Sabrina dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.
Lagi-lagi Sabrina membulatkan kedua matanya begitu mendengar semua penjelasan dari mamanya. "Apaa! Jadi, aku tidak berhak mengatur hidupku dan malah keluarga Raharja yang mengaturnya? Bukankah ini namanya tidak menghargai hak asasi manusia, Ma?"
Refleks mama Sabrina langsung bangkit dari sofa dan berjalan mendekati putri satu-satunya tersebut. Tanpa membuang waktu, ia sudah mengarahkan tangannya untuk menjewer telinga dari putrinya. "Dasar gadis nakal, bukannya bersyukur dan berterima kasih pada keluarga berada itu. Akan tetapi, kamu malah membahas tentang hal konyol. Apa tadi, hak asasi manusia. Kenapa kamu bisa sebodoh ini, Sayang." Semakin menguatkan tangannya untuk menjewer telinga Sabrina.
__ADS_1
Tentu saja Sabrina langsung meringis kesakitan dengan wajahnya yang sudah memerah, "Aarrh ... sakit, Ma. Lepasin Ma, apa-apaan sih, main jewer-jewer saja." Mengusap daun telinga saat merasakan panas di sana begitu tangan sang mama terlepas.
"Biar kamu menyadari kesalahanmu. Kalau tidak begitu, kamu tidak akan pernah sadar. Cepat buatkan minum untuk calon suamimu. Mama mau bicara 4 mata dengan calon menantu. Cepat pergi." Mengibaskan tangannya untuk mengusir putri satu-satunya.
"Iya ... iya, memangnya mau ngomongin apa lagi sih," jawab Sabrina dengan sangat kesal. Namun, ia tidak bisa membantah perintah dari sang mama yang sudah menatap tajam ke arahnya.
"Aaarrh ... sebel ... sebel ... sebel! Kenapa nasibku jadi begini setelah nona muda arogan itu hadir dalam kehidupanku. Bahkan aku tidak mempunyai hak sama sekali atas hidupku sendiri. Bahkan orang tuaku sudah dibeli oleh keluarganya. Menyedihkan sekali, aku benci nona arogan itu," batin Sabrina yang sudah masuk ke ruangan dapur.
Bisa dilihatnya sosok pelayan yang baru saja masuk ke dapur. Sehingga senyumannya langsung mengembang begitu ada ide di kepalanya.
"Bik, buatin minum untuk tamu di depan. Aku mau naik ke atas dulu. Oh ya, bilang saja pada mama nanti kalau menanyakan aku."
"Bilang saja aku sakit perut," sahut Sabrina yang sudah berlalu pergi meninggalkan wanita paruh baya tersebut.
Sabrina berjalan menaiki anak tangga yang ada di sebelah kanan dapur menuju ke kamarnya. Dengan sesekali merengut dan mengumpat, ia tidak berhenti untuk merutuki nasibnya yang sangat tragis. Tangan kanannya mulai membuka kenop pintu dan refleks matanya membulat sempurna seperti mau melompat dari tempatnya begitu melihat pemandangan di depan matanya.
"Subhanallah, apakah ini adalah seserahan saat lamaran tadi? Sebanyak ini?" Sabrina berjalan masuk ke dalam kamar dan mengamati satu-persatu hantaran yang dikemas sedemikian apik dan sangat indah tersebut. Di mulai dari sepatu, pakaian, perhiasan, kosmetik, mukena, aksesoris dan berbagai macam makanan kering dan juga parcel buah-buahan lengkap, sudah memenuhi ruangan kamarnya. Bahkan ia agak kesusahan saat berjalan karena banyaknya hantaran lamaran tersebut.
"Cuma lamaran palsu saja pakai hantaran sebanyak ini, bagaimana jika nanti pas menikah. Bisa-bisa rumah penuh dengan semua barang-barang dari keluarga Raharja. Aku tadi ingin beristirahat di atas ranjang, tetapi malah ada banyak barang di sana. Lebih baik aku mandi dulu."
Sabrina berjalan masuk ke arah kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri setelah pulang dari kantor. Rutinitas hariannya yang selalu mandi setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor. Bahkan seringnya ia berendam untuk menghilangkan rasa penat yang dirasakan.
__ADS_1
Namun, hari ini ia tidak mungkin bisa berendam karena ada Dave di ruang tamu bersama mamanya. Sehingga ia tidak bisa berlama-lama mandi.
Sementara itu, di ruang tamu, Dave sudah ditanya panjang kali lebar oleh wanita yang tak lain adalah calon mertuanya. Bahkan ia merasa sangat kebingungan saat menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari mama Sabrina.
"Sudah berapa lama kalian berdua berpacaran? Kenapa tidak pernah sekalipun datang ke rumah? Akan tetapi, Mama sangat salut padamu, karena serius dengan putriku dan langsung melamar. Apalagi tadi para pengawal membawa banyak hantaran lamaran."
"Ehm ... sebenarnya belum lama, Ma. Akan tetapi, saya tidak mau terlalu lama pacaran dan berpikir untuk serius membina hubungan rumah tangga agar tidak terjerat dalam kemaksiatan. Itu yang ditekankan oleh majikan saya. Karena itulah, mereka sangat bersemangat untuk mengurus segalanya. Maaf jika hari ini membuat Anda merasa sangat terkejut," ujar Dave dengan tersenyum tipis seraya menggaruk tengkuknya.
"Tidak masalah, Mama malah senang karena Sabrina akhirnya bisa menemukan pengganti dari Aditya. Sebenarnya dulu kami sangat khawatir saat melihat putri satu-satunya sudah patah hati saat ditinggal menikah oleh pria yang sangat dicintainya. Bahkan kami sudah berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa laki-laki yang merupakan putra dari teman kantor papanya, tetapi Sabrina selalu menolaknya mentah-mentah."
"Mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ma. Doakan saja saya dan Sabrina akan selamanya hidup berbahagia," jawab Dave dengan seulas senyum.
"Kata-kataku seperti orang yang bijak saja. Jika Sabrina sampai mendengarnya, pasti dia akan mual dan muntah," gumam Dave di dalam hati.
Senyuman mengembang tampak jelas di wajah mama Sabrina begitu mendengar perkataan dari calon menantunya. "Tentu saja kami akan mendoakan kalian agar hidup berbahagia dan juga cepat dikaruniai momongan. Karena papa dan mama sudah tidak sabar untuk menggendong seorang cucu. Ingat pesan Mama baik-baik ya menantu, jangan menunda untuk memiliki anak. Kamu harus membuat putriku segera hamil, oke!" ucap wanita paruh baya tersebut dengan tegas.
Sedangkan Dave yang terlihat sangat kebingungan dengan perintah dari calon mertuanya itu baru saja ingin membuka mulutnya, tetapi suara lengkingan dari wanita yang sangat dihafalnya, membuat ia langsung menolehkan kepala untuk melihat Sabrina yang sudah berjalan ke arahnya.
"Mama apa-apaan sih. Buat apa membahas hal konyol dengan Dave. Malu-maluin saja," geram Sabrina yang merasa sangat malu bercampur kesal pada perkataan mamanya.
TBC ...
__ADS_1