Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Rencana


__ADS_3

Tentu saja Sabrina merasa semakin murka saat mendengar perkataan dari Dave yang saat ini sudah tersenyum menyeringai ke arahnya. Terlihat ia mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam wajah pria yang semakin lama membuatnya merasa muak. Dengan mata merah dan penuh kilatan amarah, Sabrina yang tengah berdiri di depan pintu ruangan presiden direktur itu langsung berjalan menghampiri Dave.


Dengan niat ingin berbicara berdua dengan pria tersebut untuk membahas hal gila, sekaligus konyol mengenai masa depannya. Sabrina menarik pergelangan tangan Dave, "Ikut aku?"


Dave yang masih bersikap sangat tenang, hanya menuruti perintah dari wanita yang sudah menarik tangan kirinya. Sekilas ia menatap ke arah pasangan suami istri di depannya, "Saya permisi sebentar, Tuan dan Nona muda. Calon istri saya sepertinya ingin berbicara 4 mata," ujar Dave dengan terkekeh.


"Pergilah. Aku beri waktu kalian 10 menit dan kembalilah ke sini lagi setelah selesai," jawab Queen dengan tegas.


"Siap, Nona muda," jawab Dave seraya sedikit mengeraskan volume suaranya, karena sudah ada di ambang pintu keluar.


Sedangkan Sabrina sama sekali tidak memperdulikan perkataan dari Queen dan fokus untuk berbicara 4 mata dengan Dave dengan keluar dari ruangan yang menurutnya seperti sebuah neraka.


Sementara itu, Aditya yang dari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, masih mengamati interaksi dari wanita yang pernah menjadi kekasihnya tersebut. Kemudian menoleh ke arah sang istri yang dari tadi tidak berhenti tersenyum. Seolah sedang menunjukkan sebuah kemenangan ketika berhasil dengan rencananya.


"Sayang ...."


Queen menatap wajah tampan pria yang sangat dipujanya, "Ada apa, My hubbiy? Mau marah sekarang? Katanya tadi mau marah di Mansion?" ujar Queen dengan terkekeh. Karena ia merasa perkataannya sangat konyol saat berbicara pada sang suami saat menanyakan tentang perihal marah.


"Mana ada marah yang di pending? Ini konyol sekali," tetapi aku sangat menyukai suamiku yang seperti ini," gumam Queen di dalam hati.

__ADS_1


"Sebenarnya apa maksudmu, Sayang? Perbuatanmu ini sangat keterlaluan, karena lagi-lagi kamu melakukan sebuah pemaksaan dan melanggar hak asasi manusia. Aku tadi ingin marah padamu, tetapi aku tidak bisa melakukannya di depan Dave dan Sabrina," jawab Aditya dengan wajah penuh ketegasan saat mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


Karena sejujurnya, ia merasa sangat kecewa pada sang istri yang selalu mengancam orang. Apalagi ini menyangkut masa depan dari seseorang. "Aku memang berencana untuk membuat Dave dan Sabrina semakin dekat, tetapi bukan dengan memakai ancaman seperti ini, Sayang. Perbuatanmu itu salah," ucap Aditya.


"Aku tahu kalau itu salah," jawab Queen dengan wajah datarnya dan wajahnya yang menunduk menatap ke arah kukunya yang lentik.


"Lalu?" sahut Aditya dengan menaikkan kedua alisnya. "Sudah tahu kalau itu salah, tetapi masih kamu lakukan juga?" Aditya menatap wajah cantik Queen dengan sesekali geleng-geleng kepala.


"Karena aku ingin membantu mereka agar tidak terus-menerus berbuat dosa, My hubbiy. Tadi, begitu aku melihat Dave dan Sabrina berciuman di dalam lift, aku benar-benar mual dan tidak ingin mereka mempermalukan keluarga Raharja. Karena bagiku, Dave sudah seperti saudaraku sendiri. Aku menganggapnya seorang kakak seperti brother. Bahkan daddy dan mommy pun sudah menganggap Dave seperti putranya sendiri," ujar Queen panjang lebar.


Kemudian melanjutkan perkataannya saat melihat sang suami masih terdiam, "Aku khawatir jika sampai mereka berdua khilaf dan melakukan hubungan intim sebelum menikah. Bukankah itu akan semakin membuat mereka berdosa? Apalagi jika sampai itu terjadi di kantor ini, aku tidak akan bisa membayangkannya. Pasti daddy akan sangat murka dan langsung menghajar Dave hingga babak belur," ucap Queen yang saat ini tengah menatap wajah tampan pria di sebelahnya.


Aditya masih sibuk mencerna perkataan dari wanita yang saat ini tengah menatapnya dengan intens. Sejujurnya di dalam hati, ia membenarkan semua perkataan dari istrinya. Akan tetapi, ia tidak ingin membuat Queen besar kepala dan merasa benar atas perbuatan salahnya.


"Lalu, apa perlu aku batalkan rencanaku? Dengan membatalkan rencana lamaran ini" tanya Queen yang sudah meraih ponsel pintar miliknya di dalam tas dan berniat untuk menghubungi seseorang. Yaitu, sang daddy yang mungkin sudah tiba di rumah Sabrina.


Sejujurnya, ia hanya ingin mengetes pria yang ada di sebelahnya. Kira-kira apa keputusan dari suaminya tersebut dan menekan tombol panggil pada daftar kontak, yakni daddy-nya.


Aditya yang melihat Queen sudah menghubungi mertuanya, refleks langsung merebut benda pipih di tangan sang istri dan mematikan sambungan telepon sebelum diangkat. "Jangan membuat masalah lagi, Sayang!" hardik Aditya dengan tegas. "Kamu sudah melangkah jauh dan ini tidak bisa dihentikan. Jadi, lebih baik dilanjutkan saja. Akan tetapi, lain kali kamu jangan mengulanginya lagi, oke!"

__ADS_1


Seulas senyuman terbit dari wajah Queen dan langsung mengarahkan tangannya untuk bergelayut di lengan kekar sang suami. "Iya, My hubbiy. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi," ucap Queen yang sudah mendongak menatap wajah tampan yang terlihat masam itu dan mengarahkan jari kelingkingnya.


Aditya menatap wajah cantik seputih susu dengan puppy eyes yang terlihat memohon kepadanya. Sehingga ia yang merasa tidak tega dan membalas mengaitkan jari kelingkingnya. "Baiklah, jangan mengulanginya lagi, Sayang. Kamu boleh melakukannya padaku, bukan berarti boleh melakukannya pada orang lain."


Queen langsung berbinar dan mengarahkan bibirnya untuk mencium pipi putih pria yang sudah kembali seperti biasanya. Yaitu, wajah kalem dan bercahaya karena terlihat seperti seorang pria suci tanpa dosa. "My hubbiy seperti malaikat. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu."


"Alhamdulillah," jawab Aditya yang sudah mengeratkan pelukannya pada sang istri. "Kira-kira Dave dan Sabrina bertengkar atau sedang membahas sebuah perjanjian seperti yang kamu lakukan dulu padaku, Sayang? Karena menurutku, Sabrina sudah tidak mungkin bisa mundur setelah orang tuanya menerima lamaran dari papa. Ia tipe wanita yang berbakti dan tidak akan pernah mengecewakan orang tuanya."


Queen yang masih asyik menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aditya, masih terus sibuk mengendus aroma wangi tubuh sang suami yang sudah menjadi candunya.


"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya, My hubbiy. Mau buat perjanjian di atas materai pun biarkan saja, karena itu tidak akan bertahan lama. Mereka pasti lama-kelamaan akan jatuh cinta dan menerima pernikahan ini," sahut Queen dengan santainya.


"Bagaimana kamu merasa yakin, Sayang? Apakah kamu mempunyai sebuah rencana lagi untuk mereka?" tanya Aditya yang melepaskan dekapannya dan memundurkan tubuhnya, agar bisa menatap ke arah sang istri.


Queen hanya terkekeh geli saat mendengar pertanyaan dari pria yang ia cintai, "My hubbiy, bagaimana kalau kita berikan obat perangsang pada minuman Dave dan Sabrina di malam pertamanya nanti? Kalau 1 orang, sepertinya akan gagal, tetapi kalau Dave dan Sabrina sama-sama minum, sepertinya masalah langsung clear."


"Astaghfirullah, lagi? Kenapa lagi-lagi harus melibatkan obat perangsang?" tanya Aditya dengan gelengan kepala.


"Karena itu adalah satu-satunya hal yang langsung menyelesaikan sebuah masalah. Mereka kan sudah menikah? Jadi, kita jauhkan pasangan suami istri itu dari sebuah dosa jika tidak saling memenuhi tanggung jawabnya." Queen menunjukkan ponselnya, di mana di sana ada sebuah pesan yang dikirimkan pada saudaranya untuk mengatur obat perangsang di malam pertama Dave dan Sabrina di hotel.

__ADS_1


Brother, tolong atur malam pertama di hotel Raharja untuk Dave dan Sabrina dengan memberikan obat perangsang di minuman mereka nanti."


TBC ...


__ADS_2