
"Daddy dan Mommy tidak percaya pada perkataanmu, sebelum kamu benar-benar menikah sayang! Jadi buktikan pada Daddy bahwa kamu sudah melupakan hot Daddy mu itu dengan menikah!"
Abymana beralih menatap ke arah Aditya, "Bagaimana anak muda? Apa kamu tidak keberatan menikah dengan putriku?"
Aditya menganggukkan kepalanya, " Insya Allah saya bersedia dan sama sekali tidak keberatan Om, Tante. Akan tetapi saya tidak bisa menikah sekarang!"
"Memangnya kenapa? Bukankah kamu bilang tadi serius dengan putriku?" Qisya sangat merasa kecewa mendengar perkataan dari Aditya yang menolak menikah secepatnya.
"Begini Om, Tante, saya tidak bisa menikah sekarang karena keadaan yang tidak memungkinkan. Karena saat ini Ayah saya sedang di rawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan semalam. Jadi saya tidak bisa menikah di saat Ayah saya masih sakit. Sepertinya saya harus menunggu sampai Ayah saya benar-benar sembuh."
Abymana langsung mengerti arah pembicaraan dari pria di depannya tersebut, "Oh ... jadi begitu ceritanya. Apa Ayahmu sedang di rawat di rumah sakit Raharja?"
Aditya langsung menganggukkan kepalanya, "Iya Om, Ayah saya memang sedang di rawat di rumah sakit Raharja."
"Dan karena itulah aku kemarin malam pergi lagi ke rumah sakit Dad! Karena aku menemaninya menunggu proses operasi dari Ayahnya. Jadi Daddy dan Mommy jangan memaksanya menikahiku, karena dia sedang mengalami musibah. Kita tunggu saja sampai Ayahnya sembuh," sahut Queen menimpali perkataan dari Aditya.
"Jadi begitu, aku pikir tadi kamu menolak menikahi putriku karena kamu hanya laki-laki suruhan dari gadis arogan ini."
Qisya menatap curiga ke arah putrinya dan beralih ke arah Aditya, seolah tatapannya tengah menelisik mencari kebenaran.
Deg ...
Jantung Queen dan Aditya saat ini sama-sama berdetak sangat kencang, karena merasa kebohongan yang mereka rencanakan mampu di baca oleh wanita yang sudah tidak lagi muda itu. Keduanya sama-sama saling bersitatap dan mencoba mengungkapkan kegelisahan mereka lewat sebuah tatapan.
Ampuni hambamu ini Tuhan, karena aku sudah membohongi dua orang yang berada di hadapanku ini. Tapi aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan sebuah ikatan suci pernikahan. Jika benar nanti aku akan menikah dengan Nona arogan ini, aku akan berusaha dengan ikhlas menjalaninya. Aku pun akan berusaha merubah Nona muda Queen menjadi seorang istri yang shalihah. Dan semoga dia bisa berubah menjadi seorang wanita yang lebih baik setelah menikah nanti.
"Jika memang Om dan Tante tidak percaya dengan niat baik saya, maka saya bersedia menikahi putri Om dan Tante besok. Akan tetapi saya meminta pernikahan di adakan di rumah sakit, di depan Ayah saya."
__ADS_1
Sontak saja perkataan dari Aditya membuat Queen langsung membulatkan kedua matanya, "A-apa kamu bilang sayang? Menikah besok di rumah sakit? Apa kamu sudah gila? Astaga ... hari ini aku benar-benar di buat gila oleh Daddy, Mommy dan terakhir kamu!"
"Ayo ikut aku sekarang, aku ingin berbicara sebentar denganmu!"
Queen bangkit dari sofa dan berniat pergi meninggalkan ruang tamu tersebut untuk berbicara empat mata dengan Aditya. Namun suara bariton dari sang Daddy, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Duduklah Queen! Apa kamu mau mengancam Aditya karena dia bersedia menikahimu? Daddy tidak akan membiarkanmu melakukan niatmu itu. Karena Aditya sudah bersedia untuk menikah, maka Daddy dan Mommy akan mempersiapkan semuanya. Kalian bersiap saja untuk acara besok!"
"Daddy benar Queen, lebih baik kalian berdua bersiap untuk acara akad nikah besok!" ucap Qisya.
Refleks Queen memijat pelipisnya, mendadak kepalanya terasa pusing begitu mendengar keputusan dari orang tuanya. Kemudian dirinya menatap tajam pria yang berada di depannya.
*Brengsek, gara-gara perkataan pria miskin nan bodoh inilah yang membuat kami jadi menikah. Aku sama sekali tidak berpikir akan secepat ini akan menjalani pernikahan palsu. Aku pikir Daddy dan Mommy akan memberikan waktu lebih lama lagi.
Ini benar-benar sangat keterlaluan, sepertinya Daddy dan Mommy memang tidak mempercayai perkataanku. Ternyata aku terlalu menganggap remeh orang tuaku. Ternyata mereka lebih cerdas dariku, IQ ku yang di atas rata-rata tidak mampu mengalahkan kecerdikan Daddy yang bisa membaca pikiran orang lain*.
"Bukankah begitu Sayang?" Queen beralih menatap ke arah pria yang masih terlihat sangat tenang tak jauh darinya.
"Insya Allah," jawab Aditya seraya tersenyum tipis pada Queen. Kemudian dirinya bangkit berdiri dari sofa, "Sepertinya saya mohon pamit dulu Om, Tante. Karena saya ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada Ayah saya. Dan ada sesuatu yang perlu saya selesaikan!"
Abymana langsung berdiri, "Baiklah, kamu bersiap saja! Tidak perlu mempersiapkan apapun, karena keluarga Raharja yang akan mengurusnya. Kamu hanya perlu mempersiapkan hatimu agar bisa mengucapkan ijab Qabul dengan lancar besok!"
"Aamiin ya rabbal alamin. Iya Om, saya akan mempersiapkan diri. Kalau begitu saya permisi dulu!"
Aditya berjalan mendekati orang tua dari wanita yang akan di nikahinya dan mencium punggung tangan mereka.
Queen yang saat ini merasakan amarah yang membakar jiwanya, berpura-pura menyembunyikan apa yang tengah di rasakannya. Karena saat ini dirinya bersikap semanis mungkin pada Aditya di depan orang tuanya.
__ADS_1
"Dad, Mom, aku antarkan dulu calon Suamiku ke depan!"
"Iya, antarkan Aditya ke depan dan belajarlah menjadi seorang istri yang baik," ucap Qisya pada putrinya.
"Iya Mom, aku mengerti."
Queen berjalan di sebelah Aditya, dirinya tidak ingin mengulangi kesalahannya yang tadi di tolak mentah-mentah oleh pria itu saat dirinya mau menggandeng tangannya.
Kini Aditya dan Queen sama-sama melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Selama berjalan, keduanya hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Aditya dengan pikirannya yang sudah mengambil keputusan besar dalam hidupnya, sedangkan Queen yang merasakan amarah yang teramat sangat akibat keputusan sepihak dari pria yang berada di sebelahnya. Dan begitu sampai di depan Mansion, Queen langsung meluapkan amarahnya. Namun dirinya marah-marah dengan suaranya yang lirih, karena tidak ingin di dengar oleh orang lain.
"Hei pria bodoh, kenapa kamu tadi mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya terlebih dahulu kepadaku? Aku membayarmu mahal agar kau bekerja dengan baik, bukan bekerja seenak jidatmu seperti ini. Aku memang bilang kita memang akan pura-pura menikah, tapi tidak secepat ini juga kali!!"
"Gara-gara keputusanmu itu, sehingga besok kita beneran jadi menikah. Rasanya saat ini aku ingin mengirimmu ke Benua Antartika saja."
"Maaf Nona, jika keputusan yang saya ambil ini membuat Nona merasa murka. Akan tetapi, saya melakukan ini karena orang tua Nona telah mencurigai saya. Apa Nona tidak menyadarinya? Dan jika saya sampai gagal meyakinkan orang tua Nona, bukankah nanti malah akan merugikan Nona. Dan jika sampai itu terjadi, mungkin Nona akan menuntut saya untuk mengembalikan uang yang telah Nona berikan."
Queen mencoba menelaah perkataan dari Aditya yang menurutnya memang benar adanya, akhirnya dirinya tidak melanjutkan kemarahannya.
"Kamu benar juga, memang orang tuaku benar-benar bisa membaca pikiran orang lain. Baiklah, aku akan menerimanya. Lebih baik aku menikah dengan pria yang aku bayar untuk bekerja denganku, daripada menikah dengan si Reynaldi yang sok kegantengan itu. Untung saja Daddy sudah bilang padanya untuk tidak datang ke Mansion, karena aku ingin mengenalkan calon suami."
"Oh ya, tadi kamu bilang ingin menyelesaikan sesuatu. Memangnya menyelesaikan apa?"
"Saya akan bertemu dengan calon istri saya yang asli Nona!" jawab Aditya seraya menatap ke arah wanita di depannya.
"A-apa kamu bilang? Jadi kamu ingin bilang kalau aku adalah calon istrimu yang palsu?"
__ADS_1
Bersambung ...